Bab 28

1548 Words
Malam turun dengan pelan, seperti sehelai kain tipis yang menutupi langit. Di dalam pondok kecil yang dikelilingi cahaya lilin lembut, kelima orang itu duduk mengelilingi pola yang mereka gambar ulang di lantai kayu. Batu biru masih berada di tengah, diam, tapi terasa hidup. Tak ada yang bicara. Tak ada yang perlu dibicarakan. Semua sudah hadir dalam diam. Saat jarum jam hampir menyentuh tengah malam, sesuatu berubah. Sebuah cahaya lembut muncul dari batu biru itu. Bukan terang. Hanya cukup untuk menghapus bayangan paling tipis di antara mereka. Cahaya itu tidak menyilaukan. Tapi menenangkan. Seolah menepuk-nepuk pelan bahu mereka, mengajak mereka untuk tidak takut. Kael adalah yang pertama menyentuh cahaya itu. Ia tidak memegang batu, hanya menempatkan tangannya di atasnya, mengikuti alur cahaya yang bergerak seperti aliran air. Dan saat ia melakukannya, matanya tertutup pelan. Nafasnya lebih dalam. Ia melihat sesuatu. “Sebuah ruangan...” bisiknya, “...dengan dinding dari suara, bukan batu. Dan di dalamnya, ada banyak cahaya... seperti potongan-potongan kenangan.” Mira menyentuh pundaknya. “Kau melihat masa depan?” Kael membuka mata. “Atau masa lalu yang belum selesai.” Elya maju dan menempatkan kedua tangannya di atas pola lingkaran. Saat itu, cahaya dari batu biru merambat ke garis-garis simbol di lantai. Mereka bersinar perlahan, satu per satu, seolah diaktifkan oleh sesuatu yang tak kasatmata. Udara menjadi lebih dingin, tapi menenangkan. Seperti pelukan seseorang yang sudah lama mereka rindukan. “Dengarkan,” ucap Elya lirih. Dan mereka mendengarnya. Bukan suara. Tapi rasa. Seperti kenangan yang berbisik dari ujung waktu. Seperti ada yang mengingat mereka. --- Di tempat lain—yang tak bisa dijangkau dengan langkah biasa—angin berputar dalam lingkaran yang lebih kecil. Di sebuah ruangan yang terbuat dari benang-benang cahaya dan bayangan, seorang gadis duduk. Tubuhnya tampak muda, tapi matanya seperti danau yang pernah menyimpan ribuan musim. Di pangkuannya, ada batu serupa, hanya saja warnanya lebih dalam, hampir hitam. Ia membuka matanya saat batu itu menyala. “Kau temukan mereka,” bisiknya lembut. Dari bayangan di sekelilingnya, bentuk-bentuk samar muncul. Mereka bukan manusia. Tapi bukan juga makhluk asing. Mereka seperti refleksi. Seperti bayangan dari hati yang belum sempat bersuara. “Apakah kau akan memanggil mereka?” tanya salah satu sosok. Gadis itu menatap ke atas, ke langit yang penuh bintang mati. “Tidak. Aku akan membuka pintunya. Jika mereka ingin datang, biarlah mereka datang karena pilihan, bukan panggilan.” Lalu ia menutup matanya kembali, dan batu hitam itu bersinar—seperti balasan dari batu biru yang ada di dunia seberang. --- Di pondok, suara lonceng kembali terdengar. Tapi kali ini bukan dari luar. Suara itu muncul dari dalam mereka sendiri. Dari jantung. Dari memori. Dari tempat yang tak pernah mereka kunjungi, tapi selalu mereka rindukan. Ren menatap Noct. “Kau dengar?” Noct mengangguk. “Tapi bukan dengan telinga.” Simbol di lantai kini bersinar perlahan. Batu biru mengambang sedikit dari permukaan tanah, dan satu per satu, garis cahaya muncul di sekitarnya. Bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk memandu. Elya berdiri paling dulu. Ia melangkah ke tengah lingkaran, lalu menoleh ke mereka. “Kalau ini jalan pulang... aku ingin tahu siapa yang akan menyambut kita di ujungnya.” Mira mengikutinya. “Kalau ini tentang sesuatu yang dulu hilang... mungkin sekarang saatnya kita menemukannya.” Ren, Kael, dan Noct saling bertukar pandang, lalu melangkah menyusul. Lima tubuh berdiri dalam cahaya yang semakin padat. Lantai di bawah mereka mulai berubah tekstur—dari kayu menjadi semacam kabut padat yang berdenyut pelan. Dan saat batu biru menyala lebih terang, cahaya di sekeliling mereka menjadi jendela. Jendela ke tempat lain. Bukan dunia yang mereka kenal. Tapi dunia yang telah lama menunggu mereka kembali. --- Apa yang mereka lihat bukan pemandangan biasa. Mereka berdiri di atas jembatan cahaya, di atas langit yang tidak memiliki warna pasti. Di kejauhan, tampak bayangan-bayangan kota yang terbuat dari ingatan. Gunung yang membentuk wajah-wajah dari masa lalu. Dan sungai yang mengalirkan suara-suara yang pernah hilang dalam tidur. Mira menggenggam tangan Elya. “Ini... tempat yang tak pernah kita kunjungi. Tapi aku merasa kita pernah tinggal di sini.” Kael menunduk. “Atau tempat yang kita bangun di dalam hati, dan lupa caranya pulang.” Ren menarik nafas panjang. “Tapi sekarang kita di sini.” Noct tersenyum tipis. “Bukan karena ajaib. Tapi karena kita percaya sesuatu sedang menunggu.” Dari kejauhan, langkah terdengar. Langkah ringan. Pelan. Tapi penuh makna. Dan dari ujung jembatan cahaya itu, sosok mulai muncul. Seorang gadis. Dengan rambut panjang seperti malam. Dan mata yang membawa kehangatan rumah. Ia tidak berkata apa-apa. Tapi mereka semua tahu siapa dia. Bukan karena pernah bertemu. Tapi karena pernah kehilangan. Dan sekarang, dunia memberi satu kesempatan lagi. Bukan untuk kembali ke masa lalu. Tapi untuk menyambung yang pernah terputus. Mereka berdiri di ambang. Tak satu pun bergerak, seolah takut bahwa satu langkah saja bisa membuat semuanya menghilang. Tapi gadis itu terus mendekat. Langkahnya ringan, tapi setiap jejak seakan menyalakan kembali sesuatu dalam diri mereka—kenangan, rasa kehilangan, dan sesuatu yang belum sempat mereka beri nama. Gadis itu berhenti di hadapan mereka. Wajahnya tak asing, tapi juga tak bisa diingat dengan jelas. Ia seperti perasaan yang pernah singgah, lalu pergi sebelum sempat dikenali. “Namaku...” Suaranya lembut, seperti embun jatuh ke kaca. “...dulu pernah kalian bisikkan dalam mimpi.” Elya melangkah maju. “Aku tahu perasaan ini. Tapi bukan dari dunia ini.” Gadis itu mengangguk. “Karena aku bukan dari dunia yang kalian tinggalkan. Aku dari yang tak pernah kalian kunjungi... tapi pernah kalian ciptakan.” Kael memejamkan mata. Tiba-tiba teringat pada sesuatu—bukan kejadian, tapi rasa. Saat ia kecil dan sering menggambar peta khayalan di balik buku catatannya. Saat ia membayangkan dunia di mana ia tidak perlu menjelaskan siapa dirinya. Dunia yang hanya butuh diterima. “Apa ini...” bisik Kael, “...tempat itu?” Gadis itu mengangkat tangannya, lalu menunjuk ke kejauhan. Di sana, bayangan kota perlahan menjadi lebih nyata. Menara-menara bercahaya tumbuh dari kabut, jalanan berliku dihiasi bunga yang tak pernah layu. Dan di antara bangunan-bangunan itu, terdapat jendela yang menghadap ke mimpi-mimpi mereka dulu. “Tempat ini adalah serpihan dari kalian,” kata sang gadis. “Dibentuk dari potongan harapan yang tak sempat diucap, dari luka yang tak pernah sembuh, dan dari cinta yang kalian simpan diam-diam.” Mira menggenggam tangan Elya lebih erat. “Lalu kenapa sekarang kami bisa berada di sini?” “Karena tempat ini... mulai hancur.” Suasana seketika berubah. Langit yang semula tenang mulai menunjukkan retakan samar. Seperti kaca yang mulai merekah dari satu titik tak terlihat. Angin berubah arah. Cahaya melemah. “Tempat seperti ini,” lanjut sang gadis, “tidak bisa bertahan tanpa ingatan. Tanpa seseorang yang percaya padanya. Kalian... adalah lima cahaya terakhir yang masih terhubung dengan dunia ini.” Ren menatap batu biru yang masih menggantung di tengah jembatan cahaya. Batu itu mulai redup perlahan, seakan kehabisan tenaga. “Jadi kami harus memilih?” tanya Noct. “Tinggal... atau kembali?” Sang gadis tersenyum sedih. “Bukan tinggal atau kembali. Tapi memberi atau melepaskan.” Kael mengernyit. “Apa bedanya?” “Jika kalian memberi—tempat ini akan hidup. Tapi kalian akan kehilangan sebagian dari diri kalian. Bukan ingatan. Tapi sebagian cahaya yang membuat kalian... kalian.” “Dan kalau kami melepaskan?” “Tempat ini akan hilang. Tapi kalian akan pulang tanpa luka baru. Dan kalian... tidak akan ingat pernah berdiri di sini.” Sunyi. Lama. Tak ada yang bicara. Karena pilihan itu bukan tentang benar atau salah. Tapi tentang keberanian untuk kehilangan. Atau menerima bahwa tidak semua hal harus diselamatkan. Akhirnya, Elya menatap ke empat temannya. Satu per satu. “Kalau aku memilih memberi,” katanya, “aku tahu yang akan hilang dariku. Tapi aku juga tahu... apa yang akan tetap tinggal.” Kael tersenyum. “Kalau kita bisa menyelamatkan tempat yang lahir dari hati kita sendiri, kenapa tidak?” Mira menunduk. “Aku selalu ingin tahu seperti apa bentuk harapanku. Dan sekarang aku tahu—aku tidak ingin membiarkannya mati.” Noct menghela napas. “Kadang... musik yang paling jujur bukan untuk didengar, tapi untuk dihidupi.” Ren menatap batu biru itu. Lalu menatap langit. “Kalau ini semua hanya ilusi... biarlah jadi ilusi yang kita perjuangkan.” Gadis itu tersenyum. Perlahan, ia membuka kedua tangannya. Cahaya dari tubuhnya menyebar, melingkupi kelima orang itu. Batu biru menyala kembali. Tapi kali ini, bukan biru pucat. Melainkan biru dalam—penuh. Mereka semua melangkah ke tengah jembatan. Berdiri di lingkaran kecil di mana semua simbol berkumpul. Dan saat mereka menyentuhkan tangan satu sama lain, dunia di sekeliling mereka mulai berubah. Bayangan kota menjadi nyata. Warna kembali mengalir ke udara. Langit memperbaiki retaknya sendiri. Dan dari kejauhan, terdengar suara tawa anak-anak. Suara musik. Suara kehidupan. Gadis itu perlahan memudar. Tapi senyumnya tetap tinggal. “Kalian telah memilih,” bisiknya. “Dan dunia ini akan mengingat kalian... bahkan jika kalian lupa suatu hari nanti.” --- Di pondok tua itu, lilin-lilin padam satu per satu. Batu biru yang tadinya berada di atas meja, kini tidak ada. Tapi di sudut ruangan, tergambar peta di dinding—dengan simbol-simbol yang lebih terang dari sebelumnya. Di luar, lonceng tua bergoyang pelan. Tidak karena angin. Tapi karena ada sesuatu yang kini menjaga. Sesuatu yang tidak lagi mencari jawaban. Tapi telah menjadi bagian dari dunia. Dunia yang pernah tertidur. Kini terjaga. Dan hidup kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD