Bab 29

1226 Words

Beberapa musim telah berlalu. Pondok itu kini tertutup sebagian oleh tumbuhan rambat yang menjalar dari tanah, menyentuh atapnya yang mulai menghitam oleh waktu. Tapi dinding-dindingnya tetap berdiri kokoh. Bukan karena kayunya kuat, melainkan karena ada sesuatu yang tidak membiarkannya runtuh. Di dalamnya, udara tak pernah dingin. Dan lilin-lilin selalu menyala tepat saat senja datang, meski tak ada yang menyalakannya. Di atas meja tua itu, bukan lagi batu biru yang menjadi pusat. Kini ada lima benda kecil yang tersusun melingkar: sepotong pita, serpihan kaca, daun kering, sebuah nada yang tertulis di kertas, dan tetesan lilin yang membeku dalam bentuk bintang. Dan tepat di tengahnya tergambar simbol baru. Sebuah mata yang terpejam. Namun jika dilihat cukup lama, mata itu akan tampa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD