Malam itu, langit di kota kenangan tidak menurunkan hujan. Namun di tempat Aren berjalan, tanah basah oleh embun cahaya yang tak kasat mata. Udara menghangat saat langkahnya bergerak mengikuti anak itu, melewati jalanan yang tampak dibangun bukan dari batu, tetapi dari potongan mimpi yang pernah terlupakan. Di kanan kirinya, rumah-rumah muncul perlahan seperti mengingat bentuknya kembali. Ada jendela yang terbuka sendiri, tirai yang menari tanpa angin, dan bayangan samar di dalamnya yang menatap balik. Tapi tak satu pun menakutkan. Hanya terasa... sepi. Sepi yang menyimpan banyak nama. “Kenapa aku?” Aren bertanya, suaranya hampir tidak terdengar. Ia bahkan tak yakin kepada siapa ia bertanya. Tapi dunia ini mendengar. Anak kecil itu berhenti dan menoleh. “Karena kau mendengarkan.” Aren

