Aren tidak bisa menjawab. Bukan karena tak tahu, tapi karena mulutnya terasa terkunci. Lidahnya kelu, dan pikirannya menggali dalam-dalam, mencoba menemukan satu nama yang terasa sangat dekat... namun terkubur dalam kabut yang padat. Suara dari balik pintu itu terdengar lembut, tapi menyimpan kesedihan yang menusuk. Pintu di depannya bergetar pelan. Gagang pintunya berdenyut seperti nadi yang menunggu keputusan. “Aku... aku tidak tahu...” bisik Aren. Kata-kata itu keluar seperti permintaan maaf yang terlambat. Tangan dari balik pintu tetap menggenggam gagangnya, tidak melemah. Justru terasa semakin kuat. Pintu itu terbuka sedikit. Hanya cukup untuk memperlihatkan sepasang mata dari celahnya. Mata itu menangis. Yang membuat Aren terdiam bukan tangisannya. Tapi karena ia mengenali mata

