Scent Of The Devil
CHAPTER 04
“Maara….” Sebuah panggilan mengusik lamunan Maara.
Gadis itu sedang melamun menatap dirinya di cermin sedang mencoba pakaian baru yang diberikan oleh Tahvi semalam setelah percakapannya dengan Mazen. Pikirannya kembali pada percakapan mereka yang berakhir membuatnya tak bisa tidur barang sejenak. Jelas sekali Mazen mengatakan bahwa dirinya adalah seorang iblis, akan tetapi jawaban itu begitu mengusik pikiran Maara sampai dia tak bisa tidur. Dan sekarang, pria itu berdiri di belakangnya. Maara masih tak bisa percaya, tidak mungkin seseorang seperti itu adalah seorang iblis. Dalam bayangan Maara seorang iblis itu memiliki tanduk, atau memiliki kepala kambing, atau bertaring. Tapi Mazen? Pria itu begitu tampan, menawan, dan ... mungkinkah Iblis itu sebutannya sebagai seorang manusia yang kejam? Apakah Mazen kejam? Pria tampan itu kejam?
Maara menggelengkan kepalanya perlahan, mencoba mengenyahkan pikiran anehnya tentang Mazen. “Ada apa denganku? Kenapa aku memikirkannya seperti ini!”
“Tahvi memberikan ini padaku tadi pagi, ini milikmu?”
Maara menatap melalui cermin, melihat Mazen yang berdiri di ambang pintu terlihat sangat … sangat menggoda, mengapa pria itu berdiri di depan pintu kamarnya tanpa menggunakan atasan dan menampilkan tubuhnya yang sangat ideal itu, ototnya terlihat seperti dipahat dengan sempurna, apalagi lekukan indah pada perutnya itu sungguh … menggoda. Maara memejamkan matanya, tak ingin membiarkan keindahan tubuh Mazen meracuni pikirannya. Tak berapa lama kemudian Maara kembali membuka matanya dan mencoba fokus pada kotak yang dipegang oleh Mazen, itu adalah kotak peninggalan ibunya. Kotak yang diberikan oleh pamannya setelah dia berhasil membujuk Maara menjadi jaminan hutangnya pada Tahvi.
“Itu ….” Maara berbalik seketika, dia pikir telah kehilangan kotak itu setelah kecelakaan yang meninmpanya. “Ibuku memberikan kotak itu padaku.” Tak tahu mengapa harus mengatakan itu pada Mazen yang tampak acuh tak acuh begitu.
Maara berjalan mendekat pada Mazen yang mengulurkan kotak itu padanya. Dia mengambil kotak tesebut dan tak sengaja melihat sebuah tanda di d**a kiri Mazen. Gadis itu tampak takjub dengan tanda yang mirip seperti sebuah tato bergambar simbol rumit berbentuk lingkaran itu.
“Apa itu tato?” tanya Maara.
“Apakah hubungan kita mengharuskan aku menjawab semuanya?” tanya Mazen dengan suara datar sambil menyerahkan kotak itu ke tangan Maara.
“Menyebalkan! Aku juga tidak mau memiliki hubungan dengan dia.” Maara menggerutu dalam hatinya.
“Bukankah kau seharusnya pergi sekolah?”
Maara menatap Mazen tak percaya, bagaimana bisa Mazen menanyakan pertanyaan seperti itu sementara orangnya telah membeli Maara dan membuat gadis itu berakhir di sini, di tempat yang begitu asing ini. Apakah mereka masih berada di negara yang sama saja Maara tidak tahu.
“Pria itu, Tahvi, dia sudah membeliku, bagaimana bisa aku pergi ke sekolah, lagipula beasiswaku telah dicabut.”
“Pergilah sekolah, Tahvi akan bertanggung jawab untuk sekolahmu.” Mazen mengatakannya sambil berbalik. Maara yang tak mengerti maksud Mazen pun buru-buru menghadang langkah Mazen, mengulurkan tangannya dan tanpa sengaja menyentuh tanda di d**a Mazen. Sebuah sengata mengalir dari ujung jari Maara, menyebar ke seluruh tubuhnya sampai tubuhnya jatuh ke lantai dalam keadaan berlutut. Sengatan itu tak hanya mempengaruhi Maara saja, tanda di tubuh Mazen itu menyala merah seperti terbakar.
“Errgh, saaakiit.” Maara mengerang kesakitan di lantai, sementara Mazen segera berlutut untuk merengkuh bahu Maara.
“Maara, apa kau baik-baik saja?” Kini wajah tampan pria itu berubah cemas.
“A-apa yang terjadi?” ujarnya tergagap. Sesuatu yang aneh kemudian terjadi pada tubuh Maara, sebuah tanda muncul di sepanjang tangan kiri yang terasa bagai tersengat, tanda berwarna hitam seperti ranting berduri yang menjalar. “A-apa ini?” Mata emerald itu melebar, antara takjub dan ngeri terpancar dari sorot matanya.
“Bangunlah, mari.” Mazen membantu Maara berdiri, dia sendiri pun tak mengerti mengapa hal itu terjadi. “Aku akan panggil Hogaz untuk memeriksamu,” ujar Mazen dengan suara yang terdengar cemas. Setelah membantu Maara duduk di atas ranjangnya, Mazen pergi memanggil Hogaz.
Mata Maara tak bisa lepas dari tangan kirinya yang sekarang tampak seperti bertato, tentunya tato yang tak dia inginkan. Mengapa itu terjadi pun Maara tak mengerti, sejak datang ke tempat ini Maara selalu mengalami hal-hal yang sangat aneh. Orang-orang yang terlihat selalu b*******h dan hampir tak mengenakan pakaian, ingatan aneh yang muncul di kepalanya, lalu manusia yang terlihat terus awet muda, kemudian tanda aneh di tangannya ini.
“Coba kau periksa dia Hogaz!” Suara Mazen menyeruak ke kamar Maara. Gadis itu menoleh dan mendapati Mazen datang dengan pakaian lengkap dan Hogaz.
“Kenapa dia repot-repot menggunakan baju?” pikir Maara.
Hogaz melakukan tugasnya, dia mengambil tangan Maara dan memeriksa tanda itu, keningnya berkerut begitu dalam saat dia melihat tanda itu tak berhenti hanya di lengan Maara saja.
“Ini adalah ….” Hogaz menghentikan ucapannya setelah sadar jika ada Maara yang mendengarkan. Hogaz menatap Mazen penuh arti tapi perbuatannya itu membuat Maara menjadi curiga.
“Apa yang terjadi, Paman?” tanya Maara, dia tak sabar ingin mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi pada dirinya.
“Apa lagi, tentu saja itu adalah segel.” Suara lain tiba-tiba terdengar. Mazen seketika menoleh melihat ke arah pintu masuk. Tubuh Mazen menegang ketika melihat Lokra berdiri sambil menyeringai padanya.
“Segel?” Maara menatap Lokra, semakin tak mengerti dengan kebingungan yang melanda pikirannya selama ini. rasanya tak cukup kehidupannya sudah begitu menyedihkan, sekarang dia harus menghadapi peristiwa aneh.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Mazen tajam. Diam-diam Mazen merasa heran karena tak menyadari kehadiran Lokra, padahal aroma tubuh Lokra akan mudah tercium oleh penciuman Mazen. Akan tetapi rasa cemasnya pada Maara seolah memblokir indera penciumannya hingga tak menyadari kedatangan Lokra di saat yang tidak tepat ini.
“Jadi adikku yang hina ini tak memberitahumu?” Lokra begitu cepat telah berada di samping Maara, mendorong Hogaz menjauh dari gadis itu dan menggantikannya memegang tangan Maara yang dipenuhi oleh tanda itu. Lokra mencium tangan Maara, mengendus aroma gadis itu yang sangat harum.
“Adik?” Maara semakin bingung, “Ah itu tidak penting, katakan padaku sebenarnya apa yang terjadi, apa kau mengetahuinya?” tanya Maara, dia begitu berharap akan mendapatkan jawaban dari Lokra karena Mazen tak pernah memuaskan rasa ingin tahunya yang tinggi.
“Jangan ganggu dia!” Mazen bergerak cepat meraih leher Lokra lalu di hempaskan ke dinding.
“Hahaha, lihatlah!” Lokra menyentuh lehernya, dia tertawa tapi tatapannya menatap Maara yang terlihat ngeri setelah menyaksikan amarah Mazen. “Dia akan terus menutupi kebenarannya darimu, sayang.”
“Tuan, tolong tenangkan dirimu.” Hogaz memperingatkan.
“Aku sudah memperingatkanmu, Lokra, sebaiknya kau pergi dari sini!” Mazen benar-benar berada di puncak amarahnya, jika Lokra sedetik lebih lama di sini dia tidak bisa menjamin apa yang bisa dia lakukan pada kakaknya itu.
Lokra mengedipkan matanya ke arah Mazen, merasa hari ini adalah hari kemenangannya karena dia bisa mengganggu Mazen dengan mainan kecilnya yang tampak sangat ingin mengetahui sesuatu itu.
“Mazen, Mazen, kenapa kau tidak merasa kasihan pada gadis kecil ini, kau telah menipunya selama …,” Lokra tampak berpikir, “Lima belas tahun ya? Kau menipunya selama itu dan membiarkan dia bingung, lihatlah gadis malang ini.”
“DIAM KAU LOKRA!” Mazen berjalan mendekati Lokra, tangannya sudah terulur untuk mencengkram leher Lokra akan tetapi tangannya terhenti saat Maara berdiri di antara dia dan Lokra.
“Kau yang diam, Tuan Mazen!” Mata Maara menyala marah, cukup baginya tak mendapatkan jawaban jujur atas kebingungannya, sekarang saat ada seseorang yang ingin mengatakan kebenaran padanya, Maara tak akan diam saja.
“Maara, kau tidak bisa mempercayainya.” Mazen berujar lebih lembut hingga terdengar seperti sebuah permohonan.
“Lalu katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku memiliki ingatan tentangmu, kenapa aku mendapatkan tanda aneh ini?” Maara mengulurkan tangannya, menunjukkan tanda itu pada Mazen.
Namun, Mazen terdiam beberapa saat. Tak mungkin dia mengtakan yang sebenarnya.
“Dia tidak akan bisa mengatakannya, tapi aku bisa.” Lokra menyahut, dia menyentuh bahu Maara yang membuat Mazen menegang di tempatnya. “Semua jawabannya ada pada kotak yang diberikan oleh ibumu, Maara.”
Maara berjalan kembali ke ranjang, mengambil kotak itu, dia tidak memiliki kunci dari kotak tersebut hanya bisa memandanginya. “Aku tak bisa membukanya, tidak ada kunci untuk membuka kotak ini.”
“Itu perkara yang mudah.” Lokra berjalan melewati Mazen, mengambil kotak yang dipegang oleh Maara. Dengan sentuhan kecil dia berhasil merusak gembok kecil yang mengunci kotak itu lalu menyerahkannya pada Maara.
Di dalam kotak tersebut ada sebuah kertas yang dilipat, Maara mengambilnya dan membuka kertas tersebut. Rupanya terdapat sebuah patahan lempengan logam dengan simbol di atasnya.
“Baca surat itu Maara,” ujar Lokra.
Dengan jantung yang berpacu kencang, Maara mulai membaca kata demi kata dari surat yang telah ditulis oleh ibunya. Kenangan tentang sang ibu pun mulai memenuhi benaknya, hingga tak sadar airmatanya mulai menetes.
“Apa isi suratnya?” tanya Lokra dengan senyum samar penuh kelicikan terpatri di wajahnya.
Tangan Mazen terkepal di kedua sisi tubuhnya, rasanya ingin sekali menyeret Lokra keluar dari kamar Maara, namun kepercayaan Maara pada Lokra menghentikan niatnya. Di sisi lain, Maara menyerahkan surat iu pada Lokra dan membiarkannya untuk membaca sendiri. Seperti mendapat sebuah kesempatan, Lokra pun membaca surat itu keras-keras.
“Dear Maara anakku,” Lokra memberi jeda sambil mengerlingkan matanya pada Maara, dia sangat menikmati drama yang dibuatnya sendiri ini. “Jika kau membaca surat ini, berarti ibu sudah tak lagi ada di dunia ini. Maafkan ibu karena membiarkanmu sendirian menghadapi dunia ini, Maara. Selama hidup ibu juga tidak memberikan apapun padamu kecuali penderitaan, kau harus terus melarikan diri dari iblis itu, semua karena ibu. Maara, maafkan ibu karena membuatmu terlibat pada sesuatu yang tidak seharusnya, Ibu telah berbuat salah melakukan perjanjian dengan iblis agar kau tetap hidup. Saat kau berumur tiga tahun, kau menderita penyakit langka, jantungmu berhenti berdetak dan yang bisa ibu lakukan hanya pergi dan melakukan perjanjian dengan iblis, memintanya untuk meminjamkan jantungnya padamu. Maara, kau harus pergi jangan sampai dia menemukanmu, separuh token ini adalah kunci agar iblis itu tidak bisa mendapatkan lagi jantungmu, pergilah, sembunyilah, jangan sampai iblis itu mendapatkan separuh token ini, jika iblis itu menemukanmu dia akan berusaha keras mengambil kembali jantungmu.” Lokra berhenti di akhir kata, matanya menatap Maara tapi entah apa artinya. Apakah dia bersimpati, atau sebenarnya sedang mentertawakan Maara yang menjadi semakin bingung.
Namun sebenarnya, Maara sedang menyatukan kepingan-kepingan ingatan menjadi sebuah asumsi. Dalam ingatannya, dia melihat Mazen datang pertama kali saat dia berusia tiga tahun, lalu setiap tiga tahun kemudian dia selalu melihat Mazen setelah sebuah kecelakaan atau kejadian buruk lainnya. Dia pun sampai pada sebuah kesimpulan sambil menatap Mazen.
“Apa kau adalah iblis itu?” tanya Maara dengan suara yang lirih. Tubuhnya mulai gemetar, teringat pada pesan terakhir ibunya. Siapapun iblis itu, dia akan mengambil nyawanya. Sementara hatinya begitu cemas, Mazen hanya diam mematung seolah membenarkan semua dugaan Maara.
“Heeei, bagaimana mungkin adikku yang hina ini melakukannya, walau dia adalah adikku tapi darah manusia mengalir di dalam tubuhnya, dia tidak akan mampu membuat perjanjian seperti iblis sejati.” Suara Lokra memecah keheningan.
“Ja-jadi, kau, tunggu, aku semakin tidak mengerti, kalian ini sebenarnya apa?”
“Si bodoh ini tak memberitahumu apapun rupanya, kau benar-benar malang sekali.”
“Lokra,” Mazen menahan kekesalannya.
“Apa? Maara kau ingin tahu ‘kan? katakan padanya kalau kau ingin tahu semuanya.”
Maara menatap Mazen lekat-lekat, dia hanya ingin mengetahui segalanya, hanya itu. bagaimana pun dia telah terikat pada iblis yang meminjamkan jantung itu padanya. Maara hanya ingin tahu, apa yang bisa dia lakukan selain terus berlari dan bersembunyi dari sang iblis.
“Kalau kau ingin mengetahuinya, aku bisa memberitahumu segalanya.”
“Tapi kau sudah berbohong padaku.” Ucapan Maara begitu menohok perasaan Mazen, menatap mata gadis itu tak lagi ada kepercayaan di sana.
“Hanya ada satu cara agar kau mengetahui segalanya, ini ….” Lokra menyerahkan sebuah cermin berbentuk bulat yang memantulkan bias cahaya beragam warna itu pada Maara.
“Lookraaaa, di mana kau?” samar-samar terdengar suara seseorang memanggil. Mendengar hal tersebut, Lokra tiba-tiba saja bangkit.
“Sial, aku harus pergi, sampai jumpa Maara!” katanya lalu dia berbalik, dan menghilang dengan cepat. Mata Maara menatap takjub pada udara kosong bekas Lokra berada.
“Aku pasti sudah gila, ini semua pasti hanya imajinasiku karena aku hampir mati,” batin Maara.
Sesaat kemudian seorang wanita cantik, sangat cantik dengan bibir begitu merah dan rambut cokelat yang berombak sampai sebatas pinggang masuk ke dalam kamar itu. Wanita itu berhenti dengan tatapan mata birunya terpatri pada Mazen, ada gairah yang terlihat jelas di mata biru itu.
“Mazen.” Suaranya begitu lembut, menggoda.
“Euloza, Apa yang kau lakukan di sini?”
“Mengikuti Lokra, tapi siapa sangka aku malah menemukanmu, aku sangat merindukanmu, Mazen.” Wanita itu berjalan gemulai mendekati Mazen, jemarin lentiknya terulur pada tubuh Mazen, menyusuri setiap jengkal tubuh Mazen yang mematung.
“Eh … aroma harum apa ini?” Euloza berhenti, matanya beralih pada sosok Maara yang menatapnya dengan mulut terbuka itu. “Manusia?” Euloza beranjak mendekati Maara, akan tetapi tangannya di tahan oleh Mazen.
“Kau bilang merindukanku, kita pergi ke tempatku, manusia itu tidak pantas mendapatkan perhatianmu.” Mazen menarik Euloza dan pergi dari kamar Maara, meninggalkan gadis itu dengan sejuta tanya. Bagaimana seorang wanita mencari dan mengikuti seorang pria dan ketika bertemu pria lain langsung berpaling begitu saja.
Maara kembali menatap surat pemberian ibunya, kemudian beralih pada tanda yang ada di lengan kirinya. Maara menghela nafasnya, kebingungannya bukan semakin terurai tapi malah membuat kepalanya semakin pusing. Kesialan apa yang lebih besar daripada terikat perjanjian dengan seorang iblis?
“Sialan, di kehidupan sebelumnya aku pasti seorang pemberontak negara sampai hidupku yang sekarang begitu sial!”
“Aku bisa memberi tahumu sesuatu jika kau menginginkannya.” Sebuah suara yang begitu dalam sedikit genit itu mengejutkan Maara hingga membuatnya terperanjat. Entah bagaimana Gideon tiba-tiba ada di depannya, wajahnya begitu dekat sampai Maara bisa merasakan hembusan nafas Gideon yang hangat menerpa.
“Be-benarkah?”
Gideon memundurkan tubuhnya lalu mengangguk, “Semuanya.”
“Tapi bukankah kau dan Tuan Mazen?”
Gideon menyeringai, “Tentu saja ini tidak gratis,”
“Semua ornag di dunia ini hanya menginginkan uang,” gerutu Maara.
“Aku tidak menginginkan uang, Nona kecil, tapi ….” Gidoen mencondongkan tubuhnya ke depan, dengan cepat kepalanya sudah berada di ceruk leher Maara, mengendus aroma tubuh Maara yang sangat harum memabukkan ini.
“A-ap-apa yang kau lakukan?!” Maara berusaha mendorong Gideon. Kekuatan Gideon bukanlah lawannya, sementara pemuda itu terus mendorong tubuh Maara sampai terlentang di atas ranjang. Gideon terus mengendus aroma tubuh Maara, tangannya mencengkram pergelangan tangan Maara agar tidak memberontak, dia menjulurkan lidahnya dan menjilat sepanjang ceruk leher Maara sampai gadis itu bergetar tubuhnya karena sensasi yang aneh menjalar ke seluruh tubuh.
“Lepaskan, jangan lakukan ini!”
Bruakk!
Tubuh Gideon terpelanting dengan sangat keras sampai dinding kamar itu retak. Maara menegakkan tubuhnya, menatap Tahvi yang berdiri di sampingnya dengan mata menyala penuh amarah.
“Tu-Tuan Tahvi.”
“Jika kau berani meletakkan tanganmu di tubuhnya lagi, aku tidak akan segan membuangmu ke neraka.”
Gideon yang ketakutan tiba-tiba menghilang, Maara memutar matanya kesal. Hari ini sungguh melelahkah, dan entah kapan dia akan terbiasa dengan orang-orang yang bisa menghilang begitu saja ini.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Tahvi.
“Seperti kau tidak pernah melakukannya padaku saja,” balas Maara sambil memalingkan wajahnya. “Tapi terima kasih,”
“Jangan mudah percaya pada siapapun, kami bukan makhluk yang jujur.”
“Begitu juga dengan Tuanmu.”
“Begitu juga dengan Pangeran Lokra,” sahut Tahvi dengan cepat.
“Dia seorang pangeran? Sebenarnya kalian ini apa, kenapa semua orang enggan memberitahuku?” tuntut Maara, dia hampir mencapai batas kesabarannya.
“Aku tahu kau gadis yang pintar, kau bisa mencari tahu sendiri.” Tahvi beranjak pergi, namun dengan cepat Maara melompat dari ranjangnya dan menghadang langkah Tahvi. Kening Tahvi berkerut, dia harus menahan nafasnya lebih lama lagi agar tak menghirup aroma tubuh Maara yang begitu harum dan menggoda.
“Kau harus bertanggung jawab!” seru Maara.
“Apa maksudnya, aku tidak berhutang apapun padamu!”
“Tapi kau yang membawaku kemari, karena kau aku jadi terlibat dengan hal-hal yang aneh! Jika kau tidak bertanggung jawab, maka aku akan ….” Kalimat itu tergantung di udara begitu saja. Maara tampak berpikir sejenak.
“Apa yang akan kau lakukan?”
“Aku akan terus menempel padamu sampai kau tidak tahan lagi dengan aromaku,” ancam Maara dengan sungguh-sungguh. Dia tahu, sepertinya dia memiliki aroma tubuh yang membuat orang-orang di tempat ini tertarik padanya.
“Itu bukan masalah besar, pertahananku paling baik di antara yang lain.” Tahvi tampak percaya diri dengan kemampuannya menahan diri. Tentu saja, jika tidak maka dia sudah menghilangkan kesucian Maara sejak pertama kali bertemu.
“Kalau begitu mungkin aku akan melompat dari jendela itu.”
Tahvi menghela nafasnya, jika Mazen tahu dia membuat Maara kembali meregang nyawa, maka jiwanya sendiri yang akan terancam. Tahvi ingin meremas kepala kecil Maara, bagaimana gadis ini selalu berpikir untuk membunuh dirinya sendiri terus menerus.
“Dengan satu syarat.” Akhirnya Tahvi tak memiliki pilihan lain, sedikit informasi tak akan membuat keberadaan kaumnya terancam.
“Apapun. Kecuali ….” Maara segera menutupi lehernya.
“Kau sendiri mengancamku dengan aroma tubuhmu, sekarang kau yang ketakutan aku akan mengendusmu lagi? Konyol!”
“Kalian tidak bisa dipercaya!”
“Cepat sekali kau beradaptasi,” ujar Tahvi, “Jangan beritahu Tuan Mazen jika aku membantumu? Mengerti?”
Maara hanya mengangguk perlahan, syarat itu tidak sulit. Jika Mazen bisa menyembunyikan kebenaran padanya maka dia juka bisa melakukan hal yang sama.
“Sepakat!”
*** Next To The Chapter 05 ***