Chapter 05

1931 Words
Scent  Of  The  Devil CHAPTER FIVE   “Kau beruntung sekali ada dermawan yang mensponsori sekolahmu, jadi kau bisa mengikuti ujian akhir,” ucap Madam Vogh. Ucapan yang hanya terdengar oleh telinga kanan dan keluar begitu saja melalui telinga kiri Maara. Segala ucapan setelah itu, tentang sikap Maara di sekolah yang harus diperbaiki, tentang nilainya, dan tentang hal lain yang tidak ada kaitannya dengan sekolah hanya menjadi angin lalu untuk gadis itu.   Pikiran Maara terus tertaut pada buku yang telah dirinya baca sepanjang malam tadi. Semuanya gara-gara Tahvi. Seandainya Tahvi tak memberitahunya untuk mencari tahu kebenaran tentang Mazen, tentang tanda yang tidak hilang di lengannya, semuanya. Namun, apa yang dia temukan? Buku yang dia baca berisi mengenai sejarah-sejarah manusia yang membuat perjanjian dengan iblis. Maara mengetahui jika ibunya pernah melakukan hal yang serupa demi menyelamatkan nyawanya. Dia pun mengetahui jika perjanjian itu berkaitan dengan jantung Maara juga dengan separuh token miliknya. Jadi Maara tidak begitu banyak mendapat informasi tentang semua hal yang ingin dia ketahui.   “Maara!” Ini merupakan panggilan ke-tiga dari Madam Vogh. Menyadari jika Maara tidak memperhatikan segala ucapannya sejak beberapa detik lalu, wanita paruh baya yang berperangai galak itu memutuskan untuk mengusir Maara dari ruangannya.   “Ya, Madam Vogh?” Maara terkesiap setelah panggilan yang lebih keras itu memaksa untuk membuatnya sadar dari lamunannya.   “Kau boleh pergi!”   “Ah, terima kasih.” Tidak membuang waktunya, Maara segera bangkit dari kursi dan berjalan keluar ruangan itu.   “Gadis yang beruntung,” desah Madam Vogh seperginya Maara.   Pada malam sebelumnya, di tengah malam mendadak Madam Vogh mendapatkan panggilan dari kepala yayasan tempat sekolah Maara bernaung. Kepala yayasan itu memarahi Madam Vogh habis-habis karena mengeluarkan Maara tanpa berkoordinasi dengan pihak yayasan. Mereka mengatakan jika Maara memiliki seorang sponsor yang merupakan pemilik yayasan tersebut. Madam Vogh tidak mengira jika gadis itu sangat beruntung.   Berbeda dengan Maara, gadis itu tidak berpikir jika hidupnya beruntung. Jika dia seorang gadis yang beruntung maka ibunya tidak harus melakukan perjanjian dengan Iblis, mereka tidak harus berlari dari satu daerah ke daerah yang lain untuk menghindari kejaran-kejaran Iblis yang mengincar jantung Maara, kemudian Ibunya harus meregang nyawa dan membiarkan Maara hidup bersama keluarga pamannya yang tidak menyayanginya sama sekali malah menyerahkannya pada seseorang yang membuat hidup Maara semakin terlihat menyedihkan dan suram.   “Di mana aku harus mencari tahu,” gumamnya sembari berjalan gontai menuju kelasnya.   “Maara!” sebuah tepukan mengejutkan Maara yang melamun sepanjang jalan. Seorang bocah lelaki seusia Maara berdiri di sampingnya, pemuda berkacamata, dan tersenyum lebar seperti seorang anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan. Melihatnya Maara menghela nafasnya, enggan berada di sekitar bocah lelaki itu. Meski bocah itu adalah satu-satunya teman yang Maara miliki, hanya dia yang peduli terhadap Maara.   “Maara, aku dengar kau dikeluarkan. Mereka pasti berbohong, buktinya kau ada di sini!” Bocah lelaki itu bicara dengan cepat, sesekali membetulkan letak kacamatanya.   “Bukan urusanmu, Laiz.” Maara berjalan acuh tak acuh mendahului Laiz. Tidak ingin membahas lagi tentang beasiswanya yang sempat dicabut dengan tidak masuk akal, kini dia kembali sekolah dengan alasan jika ada seorang dermawan yang berbaik hati membantunya. Maara tahu siapa si dermawan baik hati itu yang tak lain adalah Mazen.   “Siapa sebenarnya orang itu,” batin Maara benar-benar kesal karena tidak menemukan siapa Mazen sesungguhnya. Mengapa pria itu ada dalam ingatan yang mendadak muncul dalam benaknya? Mengapa tanda ini muncul di lengannya?   “Laiz ….” Maraa mendadak berhenti, membuat Laiz yang mengekor dibelakangnya pun harus mengerem kakinya. Laiz menunggu Maara untuk mengatakan sesuatu. Melihat wajah gadis itu dia pun tahu jika Maara sedang menyimpan suatu hal.   “Laiz, mungkinkan seorang Iblis memiliki wujud seperti manusia?”   Alis Laiz terangkat mendengar pertanyaan Maara, setelahnya dia menyentuh kening Maara memastikan jika gadis itu tidak sedang demam karena bicara melantur.   “Aku tidak sedang sakit!” Maara menyingkirkan tangan Laiz dari keningnya.   “Lalu? Mengapa kau tiba-tiba menanyakan tentang Iblis? Apakah ada Iblis yang mendekatimu? Apakah dia tampan? Kaya?”   “Ya, dia tampan … dia juga kaya.” Maara benar-benar hanyut dan akhirnya membuat pikirannya melantur ke mana-mana. Lekas dia buang jauh pikiran tentang betapa tampan dan sempurnanya Mazen di matanya.   “Bagaimana jika dia memang Iblis? Apakah mungkin dia iblis yang membuat perjanjian dengan ibuku? Tapi mengapa dia tidak mengambil jantungnya jika dia memang iblis itu?” Maara tak bisa memusatkan pikirannya untuk memikirkan tentang sekolahnya. Rasa penasarannya begitu besar mengalahkan segala hal lainnya.   “Lupakan pertanyaanku tadi,” dengus Maara kemudian melangkah pergi dengan hati dongkol.   “Hei, apa kau marah padaku?” Laiz tetap mengekor Maara, gelisah karena raut wajah Maara mengisyaratkan jika dia sedang dalam suasana hati yang buruk. Tidak ada jawaban dari Maara membuat Laiz frustrasi, Maara adalah satu-satunya teman yang dia miliki di sekolah ini, lebih tepatnya Laiz hanya memilih Maara sebagai temannya. Di mata Laiz, Maara begitu berbeda dengan teman sekolahnya yang berasal dari keluarga kaya dan berpengaruh di kota ini. Maara begitu apa adanya dan tidak munafik seperti kebanyakan anak-anak orang kaya itu.   Jika Maara marah Laiz tidak akan tahan, walau sikap Maara padanya begitu acuh tak acuh dia tahu jika sebenarnya Maara adalah sosok yang perhatian. Laiz meraih lengan Maara dan menahannya supaya tak melangkah lebih jauh. Gadis itu dengan malas memutar tubuhnya, menatap Laiz penuh tanda tanya.   “Mengapa tidak tanyakan saja pada pastor tempatmu berdoa itu?”   “Pastor?”   *   Tubuh Tahvi hanya bisa mematung setelah mendapatkan panggilan dari Mazen. Ada perasaan takut kalau-kalau Tuannya itu akan marah dan memisahkan kepala dengan tubuhnya dan menguburnya di tempat terpisah. Susah payah Tahvi menelan salivanya ketika bayangan itu masih menempel lekat dalam kepalanya. Lebih dari siapapun dia tahu telah membuat sebuah kesalahan, memberitahu Maara mengenai sebuah buku yang berisi tentang perjanjian-perjanjian Iblis, buku kuno yang masih disimpan oleh Mazen sebagai sebuah koleksi.   “Tidak perlu takut.” Suara Mazen rendah terdengar sangat mengancam walau hanya menghimbau untuk tidak perlu takut. Tahvi tidak bisa untuk tidak takut setelah semua yang dia perbuat. Memanipulasi pikiran paman Maara supaya menyerahkan keponakannya sendiri sebagai jaminan hutang judinya. Itu adalah salah satu kelebihan Tahvi dan hampir semua Iblis Incubus rendah sepertinya. Mereka hanya bisa memanipulasi pikiran para manusia untuk mengelabuhi manusia supaya menurut pada kemauan mereka.   “Jika aku ingin memenggal kepalamu, sudah kulakukan saat pertama kali kau menginjakkan kaki di rumah Paman Maara.”   Tahvi sangat terkejut, dia mendongakkan kepalanya menatap percaya tak percaya pada Tuannya yang telah dia ikuti puluhan ribu tahun lamanya itu. “Anda tahu, Tuan?”   “Tidak.”   Tahvi terlihat bingung, jika Tuannya tidak mengetahui rencananya mengapa mengatakan hal seperti itu. Terdengar suara buku yang sedari tadi menjadi pusat perhatian Mazen itu tertutup, sebuah buku tebal ketika ditutup menimbulkan suara yang keras. Mazen menoleh pada Tahvi, sorot matanya tak menunjukkan ada tanda-tanda marah. Jika dipikir-pikir lagi sebenarnya Tuannya itu hampir tidak pernah menunjukkan sebuah amarah. Tahvi bisa menghitung selama puluhan ribu pengabdiannya, Mazen terlihat marah dan marah besar hanya …tiga kali. Pertama ketika Lokra mengolok ibu manusia Mazen. Kedua, saat barang satu-satunya milik ibu Mazen dicuri. Ketiga, ketika Maara hampir kehilangan nyawanya setelah menjatuhkan diri dari mobil.   “Kau pikir aku siapa hingga tidak mengetahui apa yang kau lakukan?”   Tanpa sadar Tahvi menggaruk telinganya, merasa malu atas perbuatannya sendiri. Namun, dia bersikukuh jika semuanya dia lakukan karena sangat mencemaskan Tuannya. Tahvi mengetahui tentang perjanjian itu. sekitar lima belas tahun lalu ketika Mazen berkelana untuk mencari tempat tinggal baru, tak sengaja mendengar doa penuh tangis seorang ibu yang meminta anaknya yang tengah sekarat untuk diberi kehidupan. Mazen begitu memahami perasaan seorang ibu karena dia sendiri mengalami hal yang serupa, ketika ibunya sekarat di depannya tapi tak bisa menolongnya. Kala itu Mazen muncul dengan wujud Incubusnya yang tidak jauh beda dengan penampilannya sebagai manusia. Menawarkan sebuah perjanjian yang langsung diterima begitu saja oleh wanita tersebut. Perjanjian itu hanya memberi waktu pada bocah kecil itu tambahan waktu tiga tahun, bukan tanpa alasan karena jika lebih dari itu sebagai manusia setengah iblis hal itu akan membuat kekuatan Mazen melemah dan dia tidak lagi immortal.   Pada tiga tahun pertama ketika Mazen datang mengunjungi tubuh yang kini menjadi wadah untuk jantungnya, Mazen terkesima pada tawa renyah bocah berusia enam tahun hingga Mazen menjadi enggan untuk mengambil jantungnya, kehidupan gadis kecil itu seolah-olah membuat hari-harinya yang telah lama menjadi lebih berwarna. Dia pun menyadari jika tubuh itu memiliki aroma yang luar biasa harum dan memikat. Menurut Hogaz, dikarenakan gadis itu masih anak-anak dan memiliki kesucian maka aroma asli tubuhnya sebagai manusia ditambah dengan keberadaan jantung Mazen di dalam tubuhnya membuat aroma tubuh gadis itu begitu semerbak. Sayangnya, keharuman itu tidak hanya dirasakan oleh Mazen. Melainkan iblis-iblis lain juga dapat mencium aroma harum itu.   Setiap kali ada kesempatan maka para iblis lain akan berusaha mendekati Maara untuk mendekatinya dan mengambil jantung iblis dari tubuh gadis itu. Konon katanya, di kalangan para iblis, jantung iblis bisa meningkatkan kekuatan mereka. Dan aroma tubuh Maara seolah menjadi sebuah penunjuk jalan ke mana mereka bisa menemukannya.   “Aku pun tahu, kau memberinya buku kuno itu.” Kalimat Mazen menggugah Tahvi dari lamunannya. Tidak ada yang luput dari pengamatan Mazen di dalam rumah ini. Itu adalah salah satu keahliannya selain dapat menggunakan sihir dalam kesehariannya, kadang-kadang Mazen bisa melihat apa yang telah terjadi, atau sedang terjadi, dan yang akan terjadi. Namun, seiring dengan menurunnya kekuatannya kemampuannya pun mulai tidak berguna.   “Itu … Itu ….” Tahvi menghela nafasnya di bawah tatapan Mazen yang sebenarnya tak menyiratkan apapun. “Tuan … mengapa kau tidak mengambil jantungmu? Dia ada di sini, kau hanya perlu mengambilnya dan semua masalah anda akan selesai.” Sepertinya Tahvi telah habis kesabarannya. Beberapa tahun ini, kekuatan Mazen benar-benar melemah. Perlahan tubuh manusianya membusuk dari dalam, semakin hari semakin buruk. Seringkali jika sudah mencapai batasnya, Mazen akan muntah darah lalu tidak sadarkan diri. Beruntung sekali Hogaz mengikuti Mazen sehingga dia bisa membuatkan obat untuk menunda pembusukan tubuh Mazen. Namun sampai kapan? Sampai kapan, Mazen akan menahannya?   “Tuan, apa alasannya? Mengapa anda mempertaruhkan nyawa anda hanya untuk gadis itu?”   Mazen kemudian berdiri, melangkah mendekati jendela besar ruang kerjanya. Melihat ke sekeliling rumah besar mewahnya yang ditumbuhi banyak pepohonan. Pertanyaan Tahvi itu pun tidak bisa dia jawab, Mazen tidak pernah tahu alasannya mengapa dirinya sendiri tidak ingin mengambil jantung tersebut meski sudah lewat dua belas tahun lamanya. Apakah karena Maara telah membawa warna baru dalam hidupnya yang hitam dan putih? Apakah karena dia sudah enggan hidup terlalu lama di dunia ini?   “Aku terlalu lama hidup di dunia ini, memberikan sedikit kehidupan pada manusia bukankah tidak akan masalah.”   Ingin rasanya Tahvi berteriak, mengatakan jika itu bukan hal sepele dan tidak akan baik-baik saja dampaknya pada tubuh Mazen. Namun, semua itu hanya berputar saja di dalam otaknya, Tahvi tak membalas Mazen dengan satu patah kata pun. Hanya sebuah dengusan halus keluar dari hidungnya.   “Ya, anda memang sangat dermawan sekali.”   “Benar, aku memang dermawan.” Mazen tak malu-malu mengakui kedermawanannya. Hidup lama dan berkelana di dunia manusia membuat Mazen hidup dengan identitas berbeda sepanjang waktu. Satu yang tidak pernah dia lupakan, Mazen selalu membuat sebuah yayasan atau program bantuan untuk para manusia. Menurutnya, manusia lebih membutuhkan semua harta yang dia miliki daripada dirinya.   “Tapi tetap saja, jika anda tidak bisa hidup lama bagaimana anda akan menjadi seorang dermawan selamanya?”   “Tahvi ….” Suara rendah Mazen itu adalah sebuah peringatan supaya Tahvi tidak bicara lebih banyak. “Daripada mengurus masalahku, bagaimana jika kau pergi untuk menjemput Maara?”   “Tuan!”   “Aku sibuk harus mencari keberadaannya.”   “Dia siapa, Tuan?”   “Pemimpin Iblis buangan.”     —Next to Chapter 06—
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD