Scent Of The Devil
CHAPTER SIX
Maara begitu khidmat mendengarkan penuturan Pastor Mendez mengenai Iblis dan perjanjiannya. Dijelaskan pula jika Iblis pun memiliki kemampuan untuk merubah bentuknya selayaknya manusia biasa dan berbaur dengan manusia lainnya. Berkat penjelasan itu kini dia yakin jika Mazen tidak berbohong padanya, dia memang seorang Iblis. Lantas jika Mazen adalah seorang Iblis, bagaimana dengan yang lainnya? Oiryz? Crenoa? Gideon? Paman Hogaz? Tuan Tahvi? Apakah mereka semua adalah Iblis? Maara tak bisa berpikir dengan benar, informasi ini terlalu dini untuk disimpulkan. Maara hanya harus menyelediki kebenarannya, mengapa dirinya terkait dengan pria itu—Mazen—sejak usianya enam tahun?
“Jika saya bertemu dengan mereka, apakah yang harus saya lakukan, Bapa?” tanya Maara.
Pertanyaan itu agaknya mengusik Pastor Mendez, bukan pertanyaan biasa dari gadis muda seperti Maara. Sebuah pertanyaan berkutat dalam benak Pastor, mungkinkan gadis ini diganggu oleh Iblis? Pastor mengamati Maara lekat-lekat, mencari jejak gangguan Iblis pada wajah rupawan gadis itu. sayangnya, Pastor Mendez tidak menemukan apapun dan tidak bisa berasumsi lebih jauh karena dia tidak memiliki wewenang dalam excorsisme.
“Apakah ada yang mengganggumu?” tanya Pastor Mendez dengan hati-hati. Memperhatikan raut wajah Maara dengan lebih teliti. Gadis itu berpikir sejenak, pertanyaan Pastor Mendez itu ia ulangi dalam benaknya.
“Apakah ada yang menggangguku?” tanyanya dalam hati. Maara memutar kembali pemutar kenangan dalam otak kecilnya itu. Dia hampir selalu diganggu oleh sesosok manusia dengan tampilan mengerikan, hampir terlihat seperti monster. Setiap kali itu terjadi pasti ada seseorang yang menolongnya. Bahkan beberapa hari lalu ketika ada orang jahat yang berusaha untuk mencelakainya dia pun ingat telah ditolong oleh seseorang. “Seseorang, ya?” Maara berusaha menjernihkan ingatannya, dan mengetahui jika penolong itu adalah Mazen. Ya, Mazen lah yang selalu datang menolongnya.
“Dia tidak menggangguku … dia menolongku dan menyelamatkan nyawaku dari orang-orang jahat itu.” Maara berkata dengan pandangannya yang mengarah pada sepatu. “Aku pasti sangat sial, sampai-sampai orang yang menolongku adalah seorang iblis.”
“Apakah kau selalu diganggu oleh orang-orang jahat?”
Maara menegakkan kepalanya, menatap Pastor Mendez dengan seksama. Menyadari jika dirinya telah mengungkapkan sesuatu yang tidak seharusnya dia katakan pada orang lain. Maara bahkan baru ingat jika dia pernah mengalami kejadian-kejadian seperti itu, selama ini dia pikir itu hanyalah mimpi buruk saja. Rupanya itu benar ingatan yang dia miliki.
“Bukan itu inti masalahnya, Bapa.” Maara berusaha untuk mengubah topiknya. “Intinya, bagaimana semisal aku bertemu dengan seorang Iblis? Apa yang kuharuskan untuk menyelamatkan diriku sendiri?”
Pastor Mendez tertegun untuk sesaat, ingin rasanya dia memaksa Maara untuk mengatakan yang sebenarnya. Mengapa dia sangat ingin menyelamatkan dirinya dari Iblis. Tidak semua manusia bisa bertemu dengan Iblis yang tempatnya berada di dunia bawah. Tentu ada sesuatu yang tidak diceritakan oleh Maara padanya. Namun, Pastor Mendez benar-benar tidak bisa memaksanya.
“Aku bisa memanggilkan pastor yang bisa melakukan eksorsisme jika kau bersedia.”
Maara menggeleng dengan kuat, dia tidak ingin masalah ibunya yang memiliki perjanjian dengan Iblis diketahui oleh orang lain. Orang-orang hanya akan menghujat mendiang ibunya jika mengetahui tentang hal tersebut.
“Bapa … adakah buku atau apapun yang bisa aku pelajari untuk menyelamatkan diriku dari Iblis?”
“Kau yakin tidak membutuhkan pertolongan gereja?” tanya Pastor Mendez untuk memastikan.
“Dia tidak membutuhkannya, Bapa.” Suara maskulin itu memasuki gereja, menggema ke seluruh ruangan hingga membuat Pastor Mendez dan juga Maara menoleh ke arah pintu masuk yang telah terbuka itu.
“Tuan Tahvi, anda tidak memberitahu saya bila akan berkunjung.”
Maara terkejut melihat Pastor Mendez yang mengenali Tahvi, bahkan kelihatannya mereka cukup akrab karena saling berhubungan. Maara semakin tidak mengerti mengapa ini terjadi, jika Tahvi adalah seorang iblis juga, bagaimana bisa dia memiliki hubungan dengan Pastor gereja. Bahkan Pastor Mendez menyambutnya dengan senyuman hangat.
“Saya tidak berniat untuk datang, hanya saja aku mengetahui jika saudariku sedang berdoa di sini. Jadi aku datang untuk menjemputnya.”
Seketika itu kepala Pastor Mendez berputar ke arah Maara, menatapnya antara heran dan takjub dan penuh dengan pertanyaan. Maara hanya tersenyum canggung, dia tidak tahu harus berbuat apa di saat seperti ini, terlebih lagi Tahvi menyebutnya sebagai saudari, sungguh aneh terdengar di telinga.
“Maara adalah anggota baru keluarga kami, Bapa. Aku belum sempat mengenalkannya padamu.” Tahvi mendekat, dia meraih tangan Maara dan menariknya supaya gadis itu lebih dekat dengannya.
“Begitu rupanya, syukurlah karena dia berada di keluarga yang tepat saat ini. Setidaknya ini membuat saya tenang.” Pastor Mendez bicara dengan senyuman yang begitu lebar. Seolah-olah pria paruh baya itu tidak bicara atas kehendaknya sendiri.
“Keluarga yang tepat? Ironis sekali hidupku!” batin Maara.
“Baiklah kalau begitu, kami harus undur diri dulu, Bapa. Terima kasih telah membantunya untuk berdoa.” Setelah itu Tahvi menggandengan tangan Maara berjalan keluar dari gereja tersebut.
Di luar gereja, Maara menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sosok Liaz. Sayangnya, pemuda bodohh yang selalu mengikutinya itu tidak nampak batang hidungnya. Padahal Liaz yang mengusulkan ide untuk menemui Pastor Mendez dan menemani Maara ke gereja meski Liaz tidak ikut masuk ke dalam. Sekarang pemuda itu pergi begitu saja tanpa berpamitan pada Maara.
“Bocah yang kau cari itu … aku sudah mengusirnya.” Tahvi mengatakannya seolah dia mengerti apa yang ada di dalam pikiran Maara.
“Aku tidak peduli,” balasnya acuh tak acuh sembari berjalan mendahului Tahvi menuju ke dalam mobil. Tahvi tersenyum samar, mulai mengerti perangai Maara. Gadis itu mungkin saja tampilannya seperti seseorang yang sangat tidak peduli, tapi sebenarnya dia sangat perhatian. Secepat Tahvi mulai memahami Maara, secepat itu pula senyum yang sempat tersemat di wajahnya itu lenyap. Tak bisa dia berpikir seperti itu tentang manusia. Bagi Tahvi, manusia semua sama—lemah.
Tanpa disadar oleh ke-dua orang itu, terlihat seseorang yang sedang mengamati mereka dari balik pohon oak tua. Matanya tidak lepas dari sosok Tahvi dan juga Maara hingga mereka masuk ke dalam mobil dan mobil itu melaju pergi.
“Rupanya dia memilih untuk menjaga gadis itu tetap di sisinya.” Pemuda berkacamata itu bergumam lirih, ia membetulkan letak kacamatanya. “Menarik,” gumamnya kemudian berbalik dan melangkah pergi.
*
Mata emerald Maara itu mengunci Tahvi, memerangkapnya dalam pesona manusia berusia delapan belas tahun. Sedetik kemudian Tahvi membuang mukanya sembari menghembuskan nafas kasar, berharap dengan begitu aroma tubuh Maara akan turut terbuang oleh nafasnya.
“Mengapa kau tidak bisa diam saja dan menerima yang Tuan berikan padamu,”
“Memangnya apa yang dia berikan? Ingatan-ingatan aneh? Tanda di tanganku ini?” Maara menggulung lengan seragam sekolahnya hingga ke siku dan menunjukkan tanda yang mirip dengan ranting rambat berduri di sepanjang lengannya. “Atau beasiswa sekolah? Ya, aku tahu dia memberikan semua itu … karena itulah ….” Maara menghela nafasnya dengan berat kemudian menyandarkan punggungnya pada jok mobil yang terasa begitu nyaman.
“Dia telah memberimu kehidupan! Gadis d***u!” dengus Tahvi dalam hatinya, dia tidak bisa mengatakannya keras-keras. Bisa jadi Maara akan melakukan percobaan untuk menghilangkan nyawanya lagi jika mengetahui jika Mazen adalah makhluk yang meminjamkan jantung padanya.
“Aku ingin tahu siapa Tuan Mazen itu, jadi aku tahu bagaimana aku harus bersikap padanya.” Maara mengatakannya sembari memandangi Tahvi dengan tatapan memelas, berusaha membuat pria itu iba padanya. “Atau aku harus bersembunyi darinya! Aku tidak ingin menyerahkan apa yang berusaha ibuku lindungi diambil oleh iblis itu.”
“Tuan Tahvi …,” panggil Maara.
“Tahvi saja.”
“Terserah … aku ingin bertanya padamu,” ucap Maara sembari menegakkan punggungnya, mendekatkan tubuhnya condong ke Tahvi. Membuat pria itu harus menelan ludahnya dengan susah payah, aroma tubuh Maara begitu menggodanya. “Apakah ada cara untuk lari dari Iblis yang memiliki perjanjian dengan Ibuku?”
Mata Tahvi terbelalak, dugaannya ternyata benar. Jika gadis itu tahu bahwa Mazen adalah pemilik jantungnya maka dia akan berusaha untuk lari.
“Apa kau masih ingin mati?”
Kini giliran mata Maara yang terbelalak lebar, tidak menyangka jika Tahvi akan melontarkan pertanyaan dengan nada pedas seperti itu. Maara kembali bersandar, kini melipat tangan di depan tubuhnya dengan wajah muram.
“Tidak … maksudku, jika kau masih ingin melakukannya itu bisa jadi salah satu cara untuk menghindari iblis yang meminjamkan jantungnya padamu.”
“Aku tidak ingin mati.” Maara akhirnya mengakui. Awalnya dia sempat berpikir ingin mengakhiri hidupnya setelah beasiswanya dicabut ditambah dengan kelicikan pamannya membuatnya jadi jaminan hutang. Namun, setelah membaca surat ibunya, dia tahu alasannya mengapa mereka harus hidup berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Maara ingin menjaga apa yang telah ibunya perjuangkan.
“Berubah pikiran? Waktu itu kau tidak ragu melompat dari mobil.”
Maara terdiam. Waktu itu pikirannya sangat kalut dan dirinya sama sekali tidak takut jika harus segera menemui malaikat maut. Sekarang dia ingin hidup dengan baik.
“Itu tidak akan terjadi lagi.”
“Benar, kau tidak boleh melakukannya lagi. Kau harus berterimakasih seumur hidupmu pada Tuan Mazen yang telah menyelamatkanmu.”
“Hmmm,” Maara sangat tidak bersemangat. Dia ingin mengetahui siapa sebenarnya orang-orang ini, hutang pamannya pun rasanya hanya seperti sebuah rekayasa. Dan mengapa dirinya? Ah! Itu dia, pertanyaan itu belum sempat Maara tanyakan pada Tahvi. “Tuan Tahvi, eh … Tahvi … apakah alasannya Tuan Mazen melindungiku selama ini karena aku memiliki jantung iblis itu? Apakah dia berusaha untuk melindungiku dari sang iblis?”
“Ya, berpikirlah semaumu, begitu juga boleh.”
“Aku serius!”
Mobil berhenti dan kepala sopir yang melongok ke belakang untuk memberitahu jika mereka telah sampai di rumah besar Tuan Mazen itu menginterupsi percakapan Tahvi dan Maara. Terpaksa Maara turun karena Tahvi pun turun sebelum menjawab pertanyaannya. Maara tak ingin menyerah, dia terus mengekor pada Tahvi untuk mendapatkan sebuah jawaban.
“Apa yang ingin kau ketahui?” Suara bariton lembut milik Mazen menghentikan langkah Tahvi dan Maara yang baru saja memasuki ruang utama rumah tersebut. Terlihat Mazen berdiri di balkon lantai dua rumah tersebut hanya dengan kemeja satin berwarna krem tanpa dikancingkan. Pesonanya benar-benar luar biasa, hingga mata Maara tak berkedip untuk menikmati pemandangan itu.
“Sepertinya hidupku tidak benar-benar sial … seseorang yang memiliki pelindung setampan itu tidak mungkin orang yang sial, ‘kan?” Maara begitu takjub hingga memuji Mazen dalam hatinya.
“Apa yang ingin kau tahu, Maara.” Hembusan nafas dingin membelai daun telinga Maara, membuat gadis itu bergidik di tempatnya. Ketika menyadari jika Mazen telah berdiri tepat di belakangnya dengan kepala menunduk dan bibir menempel di telinganya seketika membuat Maara terperanjat dan menjauh.
“Ba-bagaimana bisa kau?”
“Sudah kukatakan sebelumnya, apa kau lupa?” tanya Mazen dengan suara lembut.
Maara menggelengkan kepalanya pelan, tatapannya pada Mazen kini menjadi tatapan penuh puja dan takjub. Pria setampan itu, segagah itu, menjadi pelindungnya.
“Aku tidak lupa … dan aku tahu.”
“Kau tahu?”
Maara menganggukkan kepalanya dengan penuh keyakinan jika instingnya benar, Mazen adalah pelindungnya. Meski dia adalah seorang iblis, tapi Mazen adalah pelindungnya, Iblis pelindung. Maara tersenyum sendiri karena memiliki sebutan yang aneh itu untuk Mazen. Sementara di sisi lainnya, Mazen yang tak memahami maksud ucapan Maara pun menoleh pada Tahvi. Bawahannya itu hanya mengendikkan bahunya, tak tahu menahu apa maksud gadis belia itu.
“Ya, aku tahu … kau adalah Iblis Pelindungku.”
—Next to chapter 07—