Scent Of The Devil
CHAPTER 07
Tawa cekikikan itu menggema di seluruh ruangan kamar yang berukuran besar dan megah, pemilik tawa berambut merah itu tidak bisa menahan dirinya ketika menceritakan hasil ketika dia mengintip kejadian di ruang tamu.
“Apa kalian percaya itu?” Oiryz masih tertawa, sungguh ucapan gadis beraroma harum itu menghiburnya sampai-sampai perutnya tegang karena dia terus tertawa.
“Apakah manusia memang sepolos itu?” timpal Crenoa. Di antara ketiga orang itu, Crenoa adalah iblis termuda. Usianya kira-kira masih tiga ratus tahun, dia ikut ke tempat ini awalnya karena terpikat oleh ketampanan Tahvi. Namun, Tahvi tidak pernah tertarik dengan iblis muda seperti Crenoa. Sehingga Crenoa hanya bisa b******a dengan iblis lain seperti Gideon atau pun manusia pria yang tergoda oleh kecantikannya.
Tiga iblis yang terbilang muda itu adalah bawahan Tahvi, di dunia manusia ini mereka memiliki peran masing-masing. Kali ini pun sama, Mazen memiliki perusahaan raksasa yang telah dia bangun beberapa ratus tahun lalu. Perusahaan yang selalu dijalankan Tahvi dengan identitas berbeda. Mereka menguasai kartel obat-obatan terlarang, kasino, hotel, minuman keras, dan industri persenjataan. Semuanya diurus oleh Tahvi dan tiga iblis bawahannya ini. sehingga mereka hidup layaknya konglomerat di dunia manusia.
“Tidak … gadis itu tidak tahu apa yang dia hadapi,” balas Gideon dengan muram. Wajahnya selalu tak bersahabat tiap kali para Succubus di hadapannya ini membahas tentang Maara. Masih terasa remuk di tubuhnya setelah Tahvi mendorongnya hingga ia terbentur tembok karena hampir saja dia kehilangan kendali.
“Apa kau masih memikirkan masalah itu?”
“Tidak!” Gideon membalas tegas. “Mengapa aku harus memikirkannya? Gadis itu memang mampu menggoyahkanku untuk sesaat … tapi aku tak akan berani.” Gideon sungguh-sungguh. Teringat olehnya bagaimana Tahvi menatapnya tajam dan dia tahu jika saat itu Tahvi marah besar dan hampir membunuhnya hanya dengan tatapan itu.
“Menurutmu mengapa Tuan tidak segera mengambil jantungnya?” Crenoa bertanya dengan tatapan yang dilanda rasa penasaran. Oiryz dan Gideon saling menatap, keduanya pun sama-sama tidak mengerti alasan Mazen tidak segera mengambil jantungnya padahal sasarannya telah ada di depan mata.
“Mungkin Tuan ingin bermain-main?” balas Oiryz tidak yakin sembari memasukkan butiran anggur ke dalam mulutnya. Tidak lupa dia memberikan sesuap pada Gideon, pemuda itu membuka mulutnya, tidak hanya memasukkan buah anggur tapi juga memasukkan jari Oiryz dengan gerakan yang sangat s*****l.
“Itu masuk akal … gadis itu, dia bertubuh murni. Siapapun yang mendapatkan energi dari tubuh murni maka kekuatan mereka pasti akan meningkat, mungkin itu alasannya.” Gideon menjawab disela-sela kegiatannya mengecupi jari-jari lentik Oiryz. Bagi para Incubus dan Succubus, b******a bukan hanya menebar benih melainkan cara untuk menghisap energi manusia agar mereka memiliki kekuatan lebih dan bertahan melalui keabadian. Energi manusia pula yang membuat mereka terlihat semakin menawan setiap kali selesai b******a. Jika manusia itu ‘beruntung’, mereka akan memiliki anak dari hubungannya dengan para incubus.
Seperti halnya ibu Mazen, setelah kegiatan panasnya dengan incubus terkuat di kaumnya. Ibu Mazen mengandung selama tiga belas bulan dan melahirkan anak setengah iblis yang diberi nama Mazen. Anak yang akhirnya dibawa ke dunia bawah saat usianya masih sangat belia dan harus berpisah dengan sang ibu. Seandainya saja ayah Mazen bukanlah Raja dari para Incubus, maka Mazen tidak akan pernah berpisah dengan ibunya, dia akan hidup sebagai seorang penyihir di tengah-tengah manusia seperti manusia setengah incubus lainnya.
“Kalian tidak perlu mengkhawatirkan Tuan, urus saja masalah lain yang lebih penting.” Suara Tahvi menyeruak membuat terkejut tiga orang itu. Namun, mereka tidak beranjak dari tempat bersantai. Para Succubus berusaha untuk membuat gerakan yang menggoda, mengangkat gaun hingga menunjukkan paha mulus mereka, berusaha untuk menggoda Tahvi.
Sebagai incubus yang tidak menikmati indahnya tubuh wanita beberapa malam ini, Tahvi menerjang Oiryz begitu saja. Gairah yang memuncak membuatnya tidak sabar ingin melucuti semua pakaian Oiryz yang sebenarnya hanya sehelai kain saja. Tahvi menciumi ceruk leher Oiryz, membuat gadis itu mendesah penuh kenikmatan dengan mata terpejam. Tak bisa dipungkiri lagi, Tahvi begitu hebat dalam mempermainkan bibir dan lidahnya.
Kecupan-kecupan manja di leher Oiryz terpaksa harus berhenti saat Tahvi menyadari jika Crenoa dan juga Gideon masih ada di kamar tersebut. Tahvi menoleh pada mereka dengan tatapan yang sudah jelas sekali mengusir mereka.
“Kalian ingin menjadi penonton? Aku tidak keberatan.” Tahvi menyindir, sedetik kemudian dua pasang iblis itu menghilang tanpa jejak. Tahvi melanjutkan aktifitasnya yang penuh dengan gairah itu.
*
“Bagaimana dengan sekolah?” suara Mazen itu bagaikan air sejuk yang membahasi gurun gersang. Maara bahkan tak bisa menarik bibirnya menjadi datar sepanjang malam karena mengagumi pelindungnya membuatnya terus tersenyum. Ketika Mazen bertanya padanya, dia terkesiap, berusaha menyembunyikan kekagumannya, tapi itu hanya sia-sia belaka. Siapapun akan tahu jika Maara telah terperangkap dalam pesona Mazen sebagai ‘Iblis pelindungnya’.
Tidak ada lagi rasa curiga dan tatapan penuh selidik yang biasanya tersorot dari mata emerald Maara itu. Tak ada lagi ratapan hati sebagai anak dengan kehidupan sial dalam hatinya. Kini semuanya seolah berubah delapan puluh derajat, Maara merasa jika hidupnya sangatlah beruntung karena mendapatkan seorang pelindung.
“Jika ada yang mempersulitmu, kau bisa katakan padaku atau pada Tahvi.”
“Dengan senang hati,” balas Maara dalam hatinya, sementara bibirnya itu tidak mengatakan apapun, hanya tersenyum sambil mengangguk pelan.
“Ini makanlah, kau adalah manusia … ah,maksudku kau sedang berada dalam masa pertumbuhan. Kau harus makan dengan baik.” Mazen mengambil seiris daging salmon segar yang diletakkan di atas piring Maara. Tanpa ragu gadis itu memakannya dengan lahap, kapan lagi dia bisa makan makanan yang bergizi, ‘kan? Apalagi ini adalah pemberian Iblis Pelindungnya, sedikit saja dia tidak akan menyia-nyiakannya.
“Pelan-pelan saja makannya, tidak akan ada yang mencurinya darimu.”
Maara tahu di rumah semegah ini tidak akan ada yang mencurinya, bahkan tidak ada yang peduli untuk makan malam atau tidak. Bisa terlihat dari kosongnya ruang makan ini meski makanan yang tersaji sangat berlimpah ruah. Maara tak bisa menyia-nyiakannya, dia akan makan dengan lahap.
Di ujung meja makan, senyum Mazen terukir samar di wajahnya, melihat Maara makan dengan sangat lahap dan nikmat membuatnya merasa terhibus. Mazen sengaja menyiapkan semua makanan ini karena teringat jika Maara selalu menyukai makanan sejak dirinya kecil, yang paling disukai oleh gadis itu adalah daging sapi. Setiap kali Ibunya membawakannya daging ayam, hari yang tadinya mendung akan menjadi cerah karena kebahagiaan Maara terpancar kuat.
“Tuan Mazen … mengapa anda tidak mengatakannya padaku jika anda adalah pelindungku?”
Mazen terkesiap, tidak menduga pertanyaan ini akan terlontar di atas meja makan dengan mulut penanyanya penuh dengan makanan. Bibir Mazen akan terbuka tapi Maara menyelanya tepat ketika Mazen akan bersuara.
“Jika kau mengatakannya mungkin aku tidak akan salah paham denganmu, kau bahkan melukai saudaramu.”
Teringat akan kejadian tempo hari membuat Mazen mengepalkan tangannya. Semua iblis kaumnya mengetahui jika dirinya meminjamkan jantungnya untuk seorang manusia, begitu pula dengan Lokra. Selain itu hubungan Mazen dan kakaknya itu sama sekali tidak mendekati ‘baik’. Lokra selalu menganggap Mazen adalah penghalang terbesarnya untuk menggantikan sang ayah memimpin para Iblis karena meski Mazen setengah manusia dia memiliki kemampuan yang setara dengan Iblis sejati, bahkan beberapa kesempatan menunjukkan jika kemampuan Mazen jauh lebih unggul dibanding Lokra. Jadi, bukan hanya karena Lokra ingin mengungkapkan siapa Mazen sebenarnya pada Maara hingga dia membuat Lokra hampir terluka, melainkan karena Mazen tidak ingin Lokra berada di dekat jantungnya. Sekali Lokra mengetahui cara mengambil jantung itu dia tidak akan berhenti.
“Tidak perlu merisaukan itu, sekarang kau sudah mengetahui kebenarannya,” balasnya dengan lembut sembari mengulurkan tangan untuk menyentuh rambut halus Maara.
Deg
Deg
Deg
Jantung ke gadis itu mendadak berdebar dengan kencang, membuat hawa panas yang mendadak menjalar ke wajah Maara dan membuatnya tersipu. Sementara Mazen seketika menarik kembali tangannya saat dia melihat wajah Maara yang memerah. “Apa kau sakit?” tanyanya dengan tatapan cemas yang berlebih. Mazen kembali mengulurkan tangannya untuk memeriksa suhu tubuh Maara. Kepalanya meneleng, menilai apakah suhu tersebut normal untuk seorang manusia.
“Aku … aku baik-baik saja!” balas Maara dengan gugup dan seketika itu juga menampik pelan tangan Mazen dari keningnya. Wajahnya semakin merah saja menahan rasa malu karena jantungnya berdebar sangat kencang setiap kali tubuhnya tersentuh oleh kulit Mazen. “Aneh sekali, kenapa jantungku bereaksi seperti ini? Ini bukan apa-apa! Dia hanya pelindungmu Maara! Sadarlah!”
“Benarkah? Apa kau yakin?” Mazen masih ragu karena wajah Maara tidak juga kembali ke kulit aslinya.
“Ya, seratus satu persen aku yakin.” Maara mengangguk dengan kuat.
“Baiklah kalau begitu, setelah makan kau bisa kembali ke kamarmu untuk istirahat.”
“Sebelum itu … mmmm.” Maara tampak ragu-ragu, apakah dia harus menanyakannya atau menyimpannya sampai mati. Matanya melirik pada lengannya yang tidak tertutup dengan pakaian. Terlihat sekali tanda yang muncul beberapa hari lalu sama sekali tidak memudar.
“Apa? Apakah ada sesuatu yang ingin kau ketahui?” Mazen menatapnya dengan penuh perhatian, menanti Maara dengan sabar walau dirinya tahu apa yang sedang dipikirkan oleh gadis itu.
“Tanda ini ….” Maara menjulurkan lengannya ke depan, memperlihatkan bagaimana tanda itu masih ada di sana terlihat seperti memerangkap Maara. “Mengapa tanda ini muncul?”
Kening Mazen berkerut cukup dalam, pikirannya berkutat dengan semua jawaban yang dikiranya paling masuk akal. Tatapannya tajam masih mengarah pada tanda itu, selain itu Mazen bertanya-tanya, akankah jawabannya ini akan dipercaya oleh Maara. Ataukah Maara akan mencari jawabannya sendiri seperti yang telah dilaporkan oleh Tahvi padanya.
“Nona tidak perlu cemas,” ujar suara Hogaz yang serak, pria tua itu masuk ke dalam meja makan sembari membawa makanan penutup yang tadinya sempat dipesan oleh Mazen. Sebuah kue vanila kesukaan Maara.
“Ini kue kesukaanku!” seru Maara dengan ceria ketika kue itu tersaji di depannya. Seolah-olah keberadaan kue itu menghapus habis rasa ingin tahunya tentang tanda di lengannya. “Boleh aku makan?” tanya Maara dengan bahagia.
“Tentu saja, makanlah sepuasmu.”
“Tapi jawab dulu pertanyaanku.” Rupanya Maara belum melupakannya, dia masih bersikukuh untuk mengetahui alasan dibalik tanda aneh yang menjalar sepanjang lengan kiri hingga d**a itu. Maara tahu itu ada kaitannya dengan perjanjian dengan iblis tersebut, tapi mengapa harus muncul sekarang? Mengapa saat dirinya berada di rumah Mazen dan masih salah paham dengannya? Mengapa begitu?
“Tanda itu menunjukkan jika waktu telah berlalu selama lima belas tahun dari jantung Iblis itu ditempatkan pada tubuh Nona.” Hogaz menyahut sambil duduk di sisi kanan Mazen dan ikut menikmati makanan penutup yang dibuat olehnya sendiri. “Tanda itu akan semakin luas jika waktu terus berlalu dan iblis pemilik jantung itu belum mengambilnya.” Sebenarnya Hogaz berbohong mengenai ‘waktu’, hanya karena dia menghargai keputusan Mazen untuk membiarkan jantungnya berada di tubuh Maara lebih lama membuatnya berbohong seperti itu.
Nyatanya, tanda itu muncul karena Maara berkontak dengan sangat dekat dengan pemilik jantungnya, Mazen. Semakin tubuh mereka dekat, maka tanda itu akan semakin menjerat Maara, menandakan jika Maara adalah seseorang yang telah melakukan dengan Iblis.
“Apa yang terjadi jika jantung ini semakin lama ada di dalam tubuhku?” tanya Maara dengan polos.
Mazen menoleh pada Maara, terlihat jika gadis itu memang sangat polos. Sangat mudah bagi Mazen ataupun yang lainnya untuk mengisi kepolosan pikiran Maara dengan hal-hal yang tidak seharusnya seperti, kebohongan yang diucapkan oleh Hogas, atau hasutan seperti yang dilakukan oleh Lokra. Helaan nafas pun keluar dari bibir Mazen, sebelumnya Hogaz telah berbohong. Tampaknya menambah sedikit bumbu pada kebohongan Hogaz akan sangat menarik.
“Kau akan menjadi iblis,”
—Next to chapter 08—