Chapter 08

1797 Words
Scent of The Devil Chapter 08   “Hallo … Maara!” Seseorang memanggil Maara begitu lembut hingga Maara merinding dibuatnya. Ia sedang berada di depan gerbang sekolahnya menunggu seseorang menjemput, yang tidak lain adalah Tahvi.   Beberapa hari setelah insiden gerejanya tempo hari, Tahvi yang bertugas untuk mengantar dan menjemput Maara ke sekolah. Tidak hanya itu, Tahvi bahkan membuat teman sekelas yang sering membullynya tidak berani menatap matanya kini. Michael Zurich, pemuda yang selalu saja usil terhadap Maara kini bahkan memanggil namanya saja tidak berani. Tersebar kabar di sekolah jika Maara telah diadopsi oleh pemilik yayasan sekolah ini. Gara-gara itu pula, kini bukan hanya Laiz yang selalu berusaha untuk dekat dengan Maara, murid lain yang ingin mencari muka pun mulai berbaik hati padanya. Maara tak ingin ambil pusing dengan perubahan di sekoalahnya, dia tetap menjadi dirinya sendiri yang lebih suka menyendiri daripada harus bersosialisasi.   “Kau?” Maara melebarkan matanya ketika melihat sosok Lokra di hadapannya dengan senyum sumringah. Maara celingukan mencari keberadaan Tahvi, tapi tidak ada siapapun di sana kecuali teman-temannya yang memandanginya dengan takjub ketika berjalan melewatinya.   “Senang sekali berjumpa denganmu,” ujar Lokra sembari berjalan mendekat pada Maara.   Entah mengapa Maara reflek dan berjalan mundur untuk menjaga jarak antara dirinya dan Lokra agar tetap jauh. Maara ingat bagaimana Mazen mencengkram leher Lokra tempo hari, dia tidak ingin melihat hal mengerikan itu lagi. Melihat reaksi Maara seolah takut dengannya membuat Lokra pun akhirnya menghentikan kakinya, menjaga jaraknya tetap jauh. Meski sebenarnya jika mau dia bisa saja bergerak secepat kilat dan mengunci Maara di bawah tubuhnya yang jauh lebih besar dari gadis mungil itu.   “Tapi sepertinya kau tidak senang berjumpa denganku, mengapa apa kau takut?” tanya Lokra lagi tanpa berusaha untuk mendekat.   “Takut? Apa dia bermimpi?! Untuk apa aku takut dengannya?” pikir Maara sambil menatap datar pada Lokra. “Aku hanya tidak ingin Tuan Mazen mencekikmu seperti tempo hari.” Balasan Maara cukup membuat harga diri Lokra terluka. Waktu dia sengaja membuat Mazen menyerangnya, ingin menunjukkan pada Maara siapa sebenarya sosok Mazen, alih-alih berhasil dan membuat Maara tahu siapa sejatinya Mazen dia malah terpojok karena cengkrama di lehernya yang masih dia bisa rasakan sakitnya hingga saat ini.   Lokra menekan bibirnya membentuk segaris tipis, menahan gejolak amarahnya yang telah sampai di puncak kepalanya menunggu sebuah pemicu untuk meledak. Lokra ingin bermain cantik, dia tidak ingin membuat permainan yang bisa langsung dia menangkan. Menurutnya tidak menarik jika permainan ini selesai begitu saja, dia ingin mempermainkan adiknya itu dan menunjukkan padanya siapa yang berkuasa.   “Ya, dia memang sekuat itu, ‘kan?”   Tanpa sadar Maara mengangguk samar menyepakati ucapan Lokra. Seseorang yang telah melindunginya selama ini memang orang yang hebat, itu sebabnya Maara tidak ragu pada kekuatan Mazen.   “Sayang sekali, tapi dia tidak bisa melindungimu lebih lama lagi.”   Perkataan Lokra berhasil menurunkan kewaspadaan Maara, dia tampak terkejut dengan hal itu. Bagaimana bisa, tidak, mengapa Mazen tidak bisa melindunginya lebih lama? Tidak mungkin karena bosan ‘kan? atau karena lelah … atau … Maara tidak bisa memikirkan alasan yang lebih tepat. Memahami manusia saja sudah sulit, bagaimana dia akan memahami seorang Iblis.   “Sepertinya kau tidak tertarik, sebaiknya aku pergi.” Lokra membalikkan tubuhnya, tidak benar-benar ingin pergi. Hanya ingin menguji Maara, sejauh mana dia peduli. Dalam hatinya Lokra menghitung hingga hitungan ke sepuluh dan setelah itu dia merasakan seseorang menahan lengannya. Senyum Lokra pun mengembang, dia tahu pikiran manusia itu lemah. Sebelum berbalik, Lokra menarik lengkungan bibirnya menjadi garis datar. Kemudian berbalik menatap Maara yang kini telah diliputi oleh besarnya rasa penasaran.   “Mengapa dia tidak bisa melindungiku?”   “Mengapa? Karena dia semakin lemah ….”   “Tidak mungkin.”   “Biar kutunjukkan sesuatu.” Lokra tidak menunggu persetujuan Maara. Tangan besarnya menarik tubuh Maara supaya masuk dalam dekapannya, satu tangannya lagi dia menutup mata gadis itu.   Sesaat kemudian, sayap iblis milik Lokra mengembang, warnanya merah pekat dengan tanduk sayap yang lancip. Dengan sayap itu dia melingkupi tubuhnya dan Maara, sesaat kemudian mereka menghilang dan hanya menyisakan asap tebal berwarna abu-abu.   *   Suasana sekolah telah sepi ketika Tahvi baru saja sampai di sana, dia pun keluar untuk memastikan jika tidak ada lagi murid yang masih berada di sekolah ini. Tahvi bahkan masuk untuk bertanya pada security untuk menanyai keberadaan Maara, tapi jawaban yang dia dapatkan tidak bisa memuaskannya. Tahvi mengeluarkan ponsel miliknya, raut wajahnya terlihat kesal. Dia tidak tahu harus menghubungi siapa, tidak tahu apakah Maara memiliki ponsel atau tidak. Tapi di era saat ini orang mana yang tidak menggunakan ponsel? Bahkan seorang iblis sepertinya pun harus menggunakannya.   “Sepertinya aku harus memastikan apakah gadis itu sudah pulang atau belum ….” Tahvi terdiam sesaat. Tidak mungkin dia menghubungi Mazen, yang ada dia hanya akan menjadi bahan amukan tuannya itu. “Lebih baik aku menghubungi Hogaz.”   Tahvi mencari nomor ponsel Hogaz, tepat ketika akan menekan tombol ‘panggil’ jarinya berhenti. Keraguan membuatnya terdiam untuk sesaat. “Jika aku meneleponnya sekarang, kemungkinan Tuan pasti akan mengetahui … ah, tapi bukankah Tuan selalu tahu? Baiklah, tidak masalah, aku hanya memastikan keberadaan gadis merepotkan itu,” gerutunya lalu dia pun menekan tombol panggil.   Terdengar nada sambung dan tak lama kemudian panggilan itu pun diangkat oleh si pemilik ponsel. Suara serak Hogaz pun terdengar, Tahvi segera menanyakan padanya apakah Maara sudah berada di rumah. Ada jeda sebentar sebelum akhirnya Hogaz memberi jawaban.   “Belum, nona belum kembali.”   “Apa?!” Tahvi memekik, bagaimana mungkin Maara tidak ada di rumah? Apakah dia masih ada dalam perjalanan? Sebelumnya Maara tidak pernah pulang sendiri. Jadi sedikit mustahil jika Maara berjalan pulang sendiri ke rumah Mazen yang jaraknya cukup jauh itu. Selain itu, Tahvi tidak mencium aroma tubuh Maara selain di sekitar sekolah. Tidak mungkin jika dia pergi dari sekolah tapi jejaknya hanya ada di sekolah, kecuali … Tahvi tidak ingin memikirkan sesuatu yang buruk.   “Ada apa? Kenapa kau terdengar panik?” Hogaz menyela lamunan Tahvi. Seketika itu juga, Tahvi segera menutup ponselnya. Jika Maara hilang, Mazen yang akan marah. Bahu Tahvi merosot, Mazen pasti sudah mengetahuinya. Hanya tinggal menunggu waktu hingga tuannya itu mematahkan lehernya.   Tahvi memutuskan untuk menelusuri seluruh sekolah, tapi tak menemukan keberadaan Maara di mana pun. Bertemu dengan kepala sekolah pun tidak membantu banyak, tampaknya Maara benar-benar tidak ada di sekolah ini. Hanya satu pertanyaan Tahvi, jika jejaknya tidak keluar dari sekolah ini, bagaimana dia pergi?   “Gadis merepotkan ini, pergi ke mana kau sebenarnya!”   “Tidak perlu mencarinya,” ujar sebuah suara yang sontak membuat Tahvi terperanjat. “Dia tidak ada di dunia ini.”   Tahvi berbalik, melihat Mazen telah berdiri dengan gagah dan wajah datar khasnya. Tahvi mengerutkan keningnya, jika Maara tidak ada di dunia ini lalu di manakah dia? Diam-diam, Tahvi pun menghela nafasnya, Mazen sepertinya dalam keadaan emosi yang stabil.   “Ba-bagaimana anda tahu?”   “Aku hanya menebak saja, aroma tubuhnya hanya berhenti di depan gerbang sekolah. Selain itu ada jejak lainnya.” Mazen menatap lurus ke samping gerbang sekolah. Keningnya berkerut dalam, tangannya terkepal dengan erat. “Dia ada di Dunia Bawah.”   “Dunia Bawah?” Tahvi terkejut bukan main, jika Maara berada di dunia bawah bukankah itu berarti dia mati? Lantas, mengapa jika Maara mati, Mazen masih terlihat masih baik-baik saja. “Apa maksud anda adalah?”   “Lokra membawanya ….” Penciuman Mazen yang sangat kuat bisa mengetahui jika Lokra baru saja datang ke tempat ini dan kemudian membawa Maara. Hanya itu yang bisa disimpulkan oleh Mazen karena jejak aroma tubuh Maara hanya ada di sekolah, dia pun tidak bisa melacaknya di mana-mana setelah mendapatkan informasi dari Hogaz sebelumnya. Maka kesimpulan yang paling mendekati adalah, Lokra membawa Maara pergi ke Dunia Bawah.   “Kalau begitu anda harus segera menyusulnya, Tuan … bagaimana jika Pangeran Lokra mengambil kesempatan?”   “Mengambil kesempatan apa, Tahvi?” Suara lain itu berhasil menarik perhatian Mazen dan juga Tahvi. Ke-duanya bahkan langsung menoleh ke belakang. Sosok Lokra berdiri di hadapan mereka kini, yang menarik perhatian Mazen adalah tubuh Maara yang tidak sadarkan diri dalam gendongannya.   Melihat itu seketika Mazen melangkah mendekat untuk mengambil alih Maara dari tangan Lokra. Namun, Lokra melangkah mundur memperingatkan Mazen untuk tidak melangkah lebih dekat lagi.   “Apa yang kau lakukan?! Lepaskan dia!”   “Tenanglah, Makhluk hina!” Lokra memperingatkan Mazen. Tatapan mata Lokra turun memandangi wajah menawan Maara yang terlihat damai ketika matanya terpejam seperti itu. “Dia sama sekali tidak cocok berada di istanaku.”     Tangan Mazen terkepal, ingin rasanya dia meninju mulut Lokra itu agar berhenti bicara dan mengambil alih tubuh Maara. Tidak ada gunanya mendengarkan omong kosong Lokra yang hanya membuat emosi Mazen terbakar. Itulah tujuan Lokra, membuat Mazen tersulut emosinya dan akhirnya menampakan jati dirinya yang asli.   “Kami hanya bermain sedikit tapi dia sudah tidak sadarkan diri. Kau harus berterimakasih padaku, jika aku tidak cepat membawanya kembali maka jiwa dan raganya akan lebur.”   “Pangeran, berhentilah bicara omong kosong. Lepaskan Maara dan selamatkan lehermu!” Tahvi tahu ini akan menyulut emosi Lokra, Iblis yang satu itu sangat tidak suka jika hal yang membuatnya merasa malu harus diungkit.   “Kenapa? Kalian takut jika aku mengambil jantungnya?” Lokra berusaha mengancam, senyuman licik terukir di wajahnya yang tampan. “Sayangnya aku tidak tertarik dengan jantungnya … aku hanya tertarik dengan kemurniannya.” Lokra menurunkan kepalanya, menjulurkan lidah panjangnya dan menjilati tubuh bagian depan milik Maara.   Kobaran api amarah telah membakar akal sehat Mazen ketika ujung lidah Lokra menyentuh kulit mulus Maara, matanya berkilat penuh aura gelap, hasrat membunuhnya pun timbul. Tangannya terkepal dengan nafas memburu yang tertahan. “Lokra … lepaskan dia!” perintah Mazen, kali ini  dia tidak menunggu tanggapan Lokra. Gerakan cepatnya, terlalu cepat hingga tak disadari oleh Lokra. Tubuh Maara telah berpindah tangan ke dekapan Mazen, sementara Lokra harus terjungkal hingga membuat sebuah pohon tumbang karena tubuhnya terpelanting setelah ditendang oleh Mazen.   “Uhhhok! Kekuatanmu tampaknya mulai pulih …,” racau Lokra sembari memegangi dadanya yang baru saja disentuh oleh kaki Mazen. “Berada dekat dengan jantungmu pasti membuat kekuatanmu pulih benar, ‘kan?” Lokra berusaha bangkit, namun tubuhnya harus terpelanting lagi ketika Mazen kembali dan menendangnya.   “Kembali saja ke duniamu!” tegasnya.   Setelah itu Mazen pun pergi dengan Maara dalam gendongannya. Sampainya di rumah amarahnya mulai mereda, dia kemudian memanggil Hogaz untuk memeriksa keadaan Maara yang tidak sadarkan diri.   “Dia baru pergi ke dunia bawah, coba periksa dia.”   Hogaz terkejut mendengarnya, dia tahu pasti ini adalah ulah Lokra yang tidak puas selalu membuat Mazen menderita. Selama ini Mazen telah mengalah pada Lokra, hampir tidak pernah Mazen membalas perbuatan Lokra, tapi sebuah batu jika terus menerus terkena tetesan air di tempat yang sama bukankah batu itu akan berlubang? Begitu pula dengan kesabaran Mazen. Melihat raut wajah Mazen hari ini, Hogaz tahu jika Mazen telah berada di ujung batas kesabarannya.     —Next to chapter 09—        
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD