Scent of The Devil
Chapter 09
Diamnya Maara membuat tiga orang itu—Mazen, Tahvi, dan Hogaz—merasa bingung. Sejak gadis itu bangun setelah tidak sadarkan diri karena memasuki Dunia Bawah tanpa persiapan tidak ada satu pun patah kata yang keluar dari bibirnya yang ranum. Saat sarapan dia hanya akan makan dengan tenang kemudian pergi ke sekolah bersama Mazen—karena Mazen tidak ingin Lokra tiba-tiba muncul jadi dia sendiri yang mengantar dan menjemput Maara—dengan tenang pula. Ketika pulang dengan patuh dia menunggu di depan sekolah, selalu seperti itu hingga beberapa hari telah berlalu.
Mazen ingin tahu apa yang sebenarnya telah dilakukan oleh Lokra hingga membuat gadis yang biasanya penuh rasa ingin tahu menjadi diam seribu bahasa. Tatapan mata penuh kekagumannya itu berubah menjadi kesedihan, Mazen ingin mengetahuinya tapi jika Maara tidak membuka mulutnya bagaimana dia akan tahu. Tidak mungkin Mazen pergi ke Dunia Bawah dan menanyakan itu pada Lokra, bukan hanya menjadi bahan tertawaan tapi juga menunjukkan pada Lokra jika Mazen termakan umpannya.
Yang dilakukan oleh Lokra itu pasti sebuah permainan licik, Mazen tahu itu karena Lokra adalah kakaknya. Lokra terlahir dengan pikiran licik dan suka mempermainkan, tidak satu pun yang luput dari permainan Lokra. Mazen hanya tak ingin mengikuti alurnya, dia tidak ingin mengalah pada Lokra kali ini.
“Minum ini, Tuan.” Hogaz memberikan sebuah elixir berwarna keemasan pada Mazen. Cairan itu telah membantu Mazen mengurangi rasa sakit dan pembusukan akibat ketiadaan jantungnya. Seandainya saja, Mazen memiliki tubuh iblis sejati dia tidak harus menderita seperti ini. Selain itu, Mazen adalah makhluk setengah iblis yang meminjamkan jantungnya. Seolah-olah dirinya adalah iblis sejati.
Elixir itu diminum sampai habis oleh Mazen, hingga beberapa tetesnya keluar dari bibir. Segera Mazen mengusap ujung bibirnya supaya tak ada tetesan yang terbuang. “Terima kasih, Hogaz.”
“Ini sudah menjadi tugasku, Tuan … Bagaimana perkembangannya dengan nona?” tanya Hogaz yang turut prihatin dengan situasi saat ini. Hogaz mengakui, keberadaan Maara di rumah ini sedikit membawa perubahan pada sosok Mazen. Pertama kali setelah puluhan ribu tahun hidupnya dia melihat Mazen bersikap begitu baik dan lembut pada seseorang dan itu hanya kepada Maara. Apakah karena Maara merupakan wadah bagi jantungnya atau yang lain, Hogas tak mengetahuinya, hanya saja hal baik tetap hal baik.
“Kurasa tidak ada yang berubah,” balas Mazen datar. Pria itu menghela nafasnya rupanya melihat Maara yang begitu pendiam itu sangat buruk efeknya bagi Mazen.
“Mengapa anda tidak mengawasinya seperti sebelum-sebelumnya, cari tahu apa yang sebenarnya terjadi?” usul Hogaz. Mata Mazen melebar, mengapa dia tidak terpikirkan hal itu. Selama ini hingga gadis itu berulang tahun yang ke delapan belas dia selalu mengawasinya, namun belakangan karena Maara tinggal di rumahnya dia tidak pernah melakukan itu lagi.
“Kau benar. Mengapa kau pintar sekali?” Mazen mencubit pipi Hogaz, dia kemudian bergegas—menghilang—untuk mengawasi Maara, sekaligus mencari tahu apa yang telah terjadi, bisa jadi Maara akan menceritakannya pada salah seorang temannya.
Hogaz menyentuh bekas cubitan Mazen di pipinya, mengusapnya perlahan untuk menghapus jejaknya sambil menggerutu, “Apa dia pikir aku ini bayi yang menggemaskan?”
*
“Maara! Maara!” Laiz berseru sambil melambaikan tangannya ke arah Maara, dia berjalan mendekati gadis itu setelah mengambil makan siangnya. Seperti biasanya, Maara duduk sendiri di meja tempatnya makan. Meski banyak yang menawarinya untuk duduk bersama, Maara sungguh merasa tidak nyaman jika harus duduk bersama orang-orang yang dulu sering menghina dirinya. Tanpa meminta izin, Laiz pun duduk di hadapan Maara, dia memberikan salah satu dari dua s**u yang diambilnya ke tempat makan Maara.
“Ambillah, kau paling suka s**u vanilla … hanya tinggal satu di sana,” kata Laiz dengan senyum lebarnya.
“Aku sudah ambil,” ujar Maara lirih.
“Sudah ambil saja, ngomong-ngomong bagaimana hasil pertemuanmu dengan Pastor Mendez?”
“Uhhuk-Uhhuk!” Maara tersedak sosis yang baru saja akan dia telan. Laiz segera membantunya dengan menyodorkan minuman sembari menepuk punggung Maara.
“Pelan-pelan, tidak ada yang akan mencuri makanannya darimu.”
Maara semakin terbatuk mendengar kalimat Laiz karena membuatnya jadi teringat pada Mazen—Iblis Pelindungnya. Setelah batuknya mulai reda, Maara minum air untuk melegakan tenggorokannya. Maara menatap Laiz datar, pemuda itu meninggalkannya di gereja, setelah itu tidak muncul beberapa hari di sekolahnya sejak saat itu, ketika muncul pertanyaan pertama yang terlontar dari mulutnya mengenai Pastor Mendez.
“Mengapa kau sangat ingin tahu?”
“Tentu saja! Aku ‘kan temanmu,” sahutnya dengan cepat lalu memasukkan potongan telur ke dalam mulut dan mengunyahnya. “Apa kau marah karena aku pergi waktu itu?”
“Tidak, mengapa aku harus?”
Laiz menyamarkan senyumannya dengan potongan sosis yang disumpalkannya ke mulutnya sendiri. Ucapan Maara itu diartikan sebaliknya oleh Laiz. Sesaat setelah makanan di mulutnya itu mulai tertelan, Laiz mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan menyodorkan itu pada Maara.
“Apa ini?” tanya Maara yang terlihat cukup penasaran, sampul buku tersebut terlihat jika buku itu sangat kuno. Bahasanya pun tidak dimengerti oleh Maara.
“Ini adalah—” ucapan Laiz terhenti ketika seseorang tiba-tiba saja mengambil buku tersebut dari atas meja. Maara dan Laiz menoleh, melihat Michael Zurich sedang memegang buku tersebut dan membuka halaman-halaman buku yang tampak usang. Bocah itu tidak sendirian, di samping kanan, kiri, dan belakangnya berdiri anak-anak yang selalu mengekor ke mana pun Michael pergi, bisa dikatakan mereka itu satu geng di sekolah.
Maara berpikir jika Michael telah berhenti mengusiknya, beberapa hari setelah seluruh sekolah mengetahui jika dirinya diangkat oleh keluarga pemilik yayasan Michael tidak pernah lagi mengganggunya. Entah apa yang membuat bocah itu berubah pikiran sekarang ini.
“Kembalikan.” Maara meminta dengan baik-baik meski nada suaranya begitu datar. Dia paling tidak suka jika waktu makannya harus terganggu. Michael seolah tidak mendengar permintaan Maara, dia membuka buku tersebut dengan kening berkerut.
“Sepertinya kau memiliki ketertarikan dengan Iblis, apa kau penyembah sekte sesat?” tanya Michael pada Maara dengan nada mengejek.
“Kembalikan.” Maara bangkit dari tempat duduknya dengan perlahan, dia sama sekali tidak ingin menyia-nyiakan tenaganya hanya untuk anak-anak seperti Michael dan teman-temannya yang arogan dan suka sekali membully anak lain.
“Oooo … apa kau marah? Apa kau berani? Ah! Aku lupa, sekarang kau sudah menjadi bagian dari keluarga kaya raya … tapi aku penasaran, bagaimana kau bisa menjadi bagian keluarga mereka? Kau menjual tubuhmu?” Terdengar tawa mencemooh di sekitar mereka.
Maara berusaha untuk mengabaikan ucapan Michael, mengabaikan tawa penuh ejekan dan cemoohan disekitarnya, dia berusaha untuk mengambil buku yang dipegang oleh Michael. Tangan Michael terangkat menghindari Maara yang berusaha untuk mengambilnya, hingga membuat Maara harus melompat-lompat untuk mengambilnya.
“Maara, sudah tidak perlu pedulikan dia.” Laiz berusaha untuk menarik Maara supaya tidak terlibat dengan Michael dan gengnya. Seseorang bertubuh kekar menghalangi Laiz supaya tidak mendekat pada Maara dan Michael yang masih memperebutkan buku.
“Jangan bertingkat mata empat, atau kau harus mengganti kacamatamu lagi.”
“Jangan mengganggunya!” Maara berseru ketika Laiz diganggu, dia kehilangan fokus untuk mengambil buku. Ketika akan berbalik tangannya ditahan oleh Michael sehingga tak bisa membela Laiz.
“Maara … kau adalah gadis kecil yang merepotkan! Bagaimana kalau kita buat kesepakatan?” Michael memandangi Maara dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan liciknya. “Kau bisa gunakan tubuhmu sebagai jaminan kesepakatan kita, bagaimana?”
“Dalam mimpimu, Michael!”
“Kenapa kau sombong sekali, tidak perlu jual mahal padaku.” Michael mencengkram lengan Maara hingga gadis itu meringis kesakitan. Michael merasa dipermalukan, tidak ada orang yang pernah menolaknya seperti yang dilakukan oleh Maara padanya.
“Kau sudah dengar yang dia ucapkan ….” Sebuah tangan mencengkram tangan Michael yang digunakan untuk mencengkram lengan Maara. Genggaman itu sangat kuat hingga Michael pun melepaskan lengan Maara dan meringis kesakitan. Kini seluruh perhatian tertuju pada sosok pria berjas rapi dan terlihat sangat menawan itu. Di sisi lain, Maara tak berani membuka mulutnya meski dia sangat terkejut dengan kehadiran Mazen dan ingin tahu apa yang dilakukan pria itu di sekolahnya karena tidak ingin perhatian yang sudah beralih pada Mazen berpindah padanya.
“Kepala sekolah, apakah begini sekolah ini dijalankan?” Mazen bertanya dengan nada datar dan tatapan tajam yang tidak berpindah dari Michael.
“Ti-tidak Tuan … Ini … ini tidak biasanya terjadi hal memalukan seperti ini.” Kepala sekolah gemetar di tempatnya. “Kami akan menindaklanjuti kejadian ini.” Para guru terlihat bimbang, di sisi lain Mazen adalah keluarga pemilik yayasan, di sisi lainnya para murid dengan orang tua yang berkantong tebal dan berkuasa. Meski begitu pada akhirnya para guru tetap berpihak pada Mazen, keluarga Mazen terkenal sangat berkuasa di belahan dunia ini.
“Tidak perlu … aku akan menutup sekolah ini.” Mazen melepaskan cengkraman tangannya dari Michael. Ucapannya membuat kepala sekolah dan para guru menjadi ketakutan, bekerja di yayasan ini bagaikan menggali tambang emas yang berlimpah, jika sekola ditutup mereka akan kehilangan emas mereka tentunya, begitu juga para murid lain yang amat terkejut mendengarnya.
“Tuan ada baiknya kita bicarakan masalah ini di kantor.”
“Tentu saja, panggil juga wakil ketua yayasan untuk menghadapku.” Mazen hendak pergi bersama dengan rombongan kepala sekolah dan beberapa guru.
“Anda memanggil ayahku?” Michael mendadak ketakutan, dia pun menghadang jalannya Mazen bersama dengan rombongan.
Tatapan Mazen datar dan tampak menilai sosok Michael yang sedang menghadang jalannya dengan raut wajah gelisah dan ketakutan. Semua arogansinya lenyap begitu saja setelah Mazen menyebutkan jika akan memanggil wakil kepala yayasan yang tidak lain adalah ayah dari Michael.
“Tentu … apakah ada masalah?” tanya Mazen dengan tenang.
“Mengapa anda memanggilnya, aku yang bersalah di sini, hukum saja aku tapi jangan panggil ayahku.” Michael memohon.
“Akan aku pertimbangkan.” Mazen berkata dengan tegas, dia berjalan melewati Michael dan mengabaikan wajah melas bocah itu dengan tangan terkepal menahan gejolak amarah yang sebenarnya telah bergumul di dalam hatinya.
*
“Apa dia selalu mengganggumu seperti itu?” Pertanyaan Mazen menarik Maara kembali pada kenyataan. Masih terpikirkan olehnya bagaimana Mazen begitu tegasnya mengatakan akan menutup sekolahnya, pria itu terlihat sangat berkuasa sekali.
“Bukankah kau adalah Iblis Pelindungku, harusnya kau tahu.” Maara memalingkan wajahnya ke luar jendela mobil, menyaksikan pepohonan yang terlihat samar karena cepatnya laju mobil.
“Ada apa dengan nada bicara itu?” tanya Mazen mengabaikan seluruhnya apa yang menjadi inti dari pernyataan Maara.
Maara menghela nafas dengan berat, seolah dia memiliki beban hidup yang jauh lebih berat dari dunia dan seisinya. Maara memutar tubuhnya dan menatap Mazen lekat-lekat. Dari samping begini, Mazen terlihat begitu menawan. Maara menggelengkan kepalanya, mengenyahkan pikiran mengenai betapa tampannya Iblis Pelindungnya ini. “Kenapa kau menyembunyikannya dariku?”
Adam’s apple Mazen naik turun berusaha menelan salivanya, gugup mendapat pertanyaan semacam itu dengan tiba-tiba. Jari-jari tangannya mengepal, perlahan-lahan Mazen menoleh pada Maara, menatap mata emerald milik gadis itu dengan sungguh-sungguh.
“Apa yang kusembunyikan?” tanyanya dengan hati yang bergemuruh hebat.
Ditatap seperti itu oleh Mazen membuat wajah Maara memerah, seketika itu juga dia pun memalingkan wajahnya kembali menatap ke luar jendela mobil, berharap perjalanan akan lebih cepat dan dia bisa melarikan diri ke kamarnya. Entah mengapa dia ingin bersembunyi, namun setelah apa yang diperlihatkan oleh Lokra waktu itu, Maara merasa tak bisa menghadapi Mazen. “Aku sudah tahu semuanya, aku tidak menyangka … kau menyembunyikan hal sebesar ini dariku.”
“Lokra yang memberitahumu?”
“Tidak peduli siapapun itu, yang terpenting adalah fakta jika kau menyembunyikan itu dariku.” Maara mengepalkan tangannya, dia ingin bertekad jika hari ini semua kegundahan dalam hatinya akan berakhir.
Mazen mengambil nafas dalam-dalam, dia menoleh pada Maara yang memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil. Dari kaca jendela itu Mazen bisa melihat ada kesedihan yang besar di mata indah Maara, tampaknya Mazen tak bisa menyembunyikan kebenaran itu lebih lama bagaimana pun juga dirinya dan Maara memiliki ikatan nahas yang tak akan pernah bisa dipungkiri. Maara berhak tahu, dan dari siapapun itu dia masih tetap berhak untuk mengetahuinya.
“Aku tidak pernah berniat untuk menyembunyikannya, aku ….”
“Aku bisa memahaminya,” ujar Maara tiba-tiba memotong ucapan Mazen.
Kening Mazen pun berkerut dalam. Tidak memahami apa maksud ucapan Maara sebenarnya yang sepertinya berbeda dengan pemahamannya sebelum ini. Namun, Mazen berusaha untuk memakluminya. Lagipula bagaimana Maara akan memahaminya? Memahami jika Mazen bukanlah Iblis pelindungnya tapi adalah Iblis pemilik jantungnya, begitu? Manusia mana pun hanya akan membenci Mazen jika berada di posisi Maara saat ini.
“Semua yang kau lakukan adalah untuk diriku, ‘kan?”
Mazen mengedipkan matanya dua kali, dia benar-benar bingung kali ini. Kini Maara memutar tubuhnya kembali, menatap Mazen dengan tatapan yang … bagaimana Mazen harus mengartikannya. Yang jelas tatapan Maara penuh dengan emosi yang tak bisa diterjamahkan secara terpisah.
“Sekarang biar aku yang akan melindungimu.”
.
.
.
.
.
—Next to Chapter 10—