Ting! Baru saja Renata ingin memejamkan mata untuk segera mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sangat lelah, namun ternyata bunyi ponsel membuatnya penasaran.
Renata membuka sebuah pesan yang baru saja masuk, wanita itu mengernyit saat mendapati nomor asing yang muncul di layar ponselnya.
[Adik manis, baru pulang kerja ya? Tadi Kak Lucas liat kamu turun dari bus.]
Renata menghela nafas lelah, sungguh ia tidak mengharapkan adanya gangguan dari teman adiknya itu. Wanita itu mengetikkan balasan untuk dikirimkan kepada nomor asing yang mengaku sebagai Lucas itu.
[Yang sopan kamu! Aku bukan adikmu, dan ingat, aku lebih tua darimu asal kamu tahu. Jangan mengirimiku pesan lagi!]
Renata mematikan ponselnya lalu meletakkannya di nakas, wanita itu memutuskan untuk tidur agar keesokan harinya ia bisa bekerja dengan baik seperti biasanya. Dalam tidurnya, wanita itu sering merasa tidak tenang.
Sesekali ia akan terbangun karena bermimpi buruk, mimpi tentang dirinya di masa lalu. Renata remaja yang hampir setiap hari mendapatkan caci maki dan pukulan dari ayahnya, walau pun adiknya yang salah tetapi Renata yang tetap harus menanggung amukan sang ayah.
Masa remajanya dipenuhi rasa ketakutan. Hampir tidak pernah ia merasakan kenyamanan dan kasih sayang yang utuh. Dan hal itulah yang membuat Renata rela melakukan apa saja untuk membahagiakan kedua adiknya. Ia sampai melupakan dirinya sendiri yang juga butuh untuk dibahagiakan.
Banyak pikiran membuatnya merasa lebih lelah, wanita itu kini tertidur. Akhirnya, segala beban berat di pundaknya dapat terangkat selama beberapa jam saat terlelap.
***
Renata harus menahan kekesalannya saat melihat Lucas berada di sekitarnya. Sedari pagi buta, pria itu sudah berada di kediaman wanita cantik itu. Alasannya, ingin menanyakan tugas kuliah pada Cecylia. Namun berakhir mengganggu hari cerah Renata.
“Lo, bisa pergi nggak?” ucap Renata geram.
Lucas menghentikan kegiatannya. Pria itu menaruh kembali, piring yang sudah ia bersihkan. “Ya ampun, permisi dulu kek kalo mau ngomong. Kak Lucas kaget, ini!”
Renata mengusap kasar wajahnya. Emosi, hanya itu yang ia rasakan saat ini. Di tempat kerja, sudah cukup Jay yang selalu mengganggunya. Kini, di rumah jangan lagi.
“Lo, mau ada perlu sama adek Gue kan? Sana, cari dia!” seru Renata.
Lucas mendekat, pria itu semakin mempersempit jarak di antara dirinya sendiri dan juga kakak dari sahabatnya. Pria itu menjulurkan tangan, ibu jarinya mendarat tepat di atas sudut bibir Renata dengan tidak tahu malunya.
“Jangan kasar, sayang banget kalo mulut semanis ini dibuat ngomong kasar. Panggil Kak Lucas dulu, coba?” Pria itu tersenyum ramah, raut wajahnya tampak biasa saja. Tidak tersinggung sama sekali dengan nada bicara Renata yang sama sekali tak bersahabat.
“Nggak sudi! Pergi, aku nggak suka liat wajahmu!” teriak Renata jengkel. Wanita itu sesungguhnya tahu, untuk apa Lucas bersikeras mendekatinya. Semua lelaki yang mendekati dirinya tentu saja karena menginginkan tubuhnya. Memangnya apalagi? Setidaknya, itulah yang Renata pikirkan.
Lucas menarik kedua pipi Renata dengan gemas. “Gemes, galak. Bener-bener seleraku, sampai jumpa besok Dek Rena!”
Pria itu berlari dengan cepat. Karena jika tidak, Renata sudah pasti akan mengomel dan berteriak padanya.
“Laki-laki gila!” teriak Renata frustrasi.
Wanita itu segera berlari menuju ke kamar sang adik, ia ingin menumpahkan seluruh kekesalannya di pagi hari akibat pria yang bernama Lucas. “Cecyl, teman kamu itu ngeselin banget deh. Usir dia kalo berani datang lagi, aku kesel!” keluhnya.
Cecylia terkekeh, “Coba saja, temenan sama dia Kak. Dia sebenernya asyik kok, nggak nyebelin seperti yang Kakak kira. Kak, coba buka hati buat temenan sama laki-laki?” ujar Cecylia penuh harap.
“Kamu mah, Kakak nggak suka sama dia. Lagi pula, Kakak punya teman kok!” sangkal Renata.
Cecylia meraih kedua bahu sang kakak. Menatap dalam tepat di netra kelam wanita yang sudah bersusah payah menggantikan peran orang tua untuknya. “Kak, kakak nggak pernah dekat sama laki-laki mana pun. Setiap ada yang mau deketin, pasti Kakak tolak. Sebenernya, Kakak kenapa?”
Renata terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa. Wanita itu menarik nafasnya perlahan, sebelum mulai membuka mulutnya. “Kakak, nggak kayak begitu. Kakak punya pacar kok, iya punya.”
Cecylia memicing curiga, “Serius? Coba bawa kemari. Biar Cecyl dan Sergio bisa kenalan.”
Renata gugup, tentu saja ia kebingungan. Siapa pria yang akan ia kenalkan kepada adik-adiknya, dia memang tidak mempunyai kenalan satu pun. Hanya ada Jay Marques, jika ia mengenalkan pria itu, tentu saja adiknya akan tahu. Wajah Jay terpampang di surat kabar dan juga televisi di mana-mana, juga jangan lupakan jika pria itu sudah beristri.
“Nanti, kan Kakak sibuk kerja.”
Alasan, selalu seperti itu yang Renata katakan. Cecylia menggelengkan kepalanya perlahan, ia tidak mengerti dengan jalan pikiran kakak kandungnya itu.
“Kak, kapan Kakak mau nikah? Setidaknya, biar ada yang bantu Kakak menanggung beban selama ini. Aku tahu, Kakak pasti capek berjuang sendirian. Iya kan?” tanya Cecylia.
Renata menundukkan pandangannya. Dengan siapa ia akan menikah? Tidak akan ada pria waras yang mau dengan dirinya yang penuh dengan dosa. Tidak akan ada pria baik-baik yang akan susah payah mendekati wanita seperti dirinya. Seburuk apa pun lelaki, mereka pasti akan memilih calon pendamping yang baik sesuai versi mereka.
“Kakak, masih ingin sama kalian. Jangan paksa Kakak menikah, seakan-akan kamu nggak mau hidup bareng Kakak lebih lama dari ini. Kakak nyebelin ya? Makanya kamu bosen hidup bareng Kakak?” ucap Renata dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya yang tirus.
Cecylia kalah, pada akhirnya akan selalu begitu. Gadis itu memilih untuk merengkuh tubuh mungil sang kakak, tidak pernah sedikit pun terlintas di pikirannya untuk bosan dengan tingkah lakunya. Cecylia hanya ingin Renata juga merasakan kebahagiaan untuk dirinya sendiri. Hanya itu.
“Maaf ya, kalau perkataan Cecyl nyakitin hati Kakak. Kakak tahu sendiri kan, Cecyl dan Sergio sangat menyayangi Kakak. Nggak mungkin kami bosen, walau pun Kakak cerewet.” Gadis cantik mencubit kedua pipi kakaknya gemas.
Sedangkan Renata, wanita itu mencubit lengan adiknya yang sudah kurang ajar meremas pipinya. “Lepasin! Kenapa sih, kalian suka banget narik-narik pipi aku!” teriaknya.
“Siapa? Bukannya, cuma aku dan Sergio?” tanya Cecylia sembari memiringkan kepalanya.
“Temen kamu tadi, dia juga sama kayak kalian. Ngeselin banget!” jawab Renata sembari berlari kecil ke arah Sergio, adik terkecilnya.
Cecylia tersenyum, kadang ia merasa sangat gemas kepada sang kakak. Pasalnya, wanita itu sering tidak menyadari jika tingkahnya membuat orang ingin menjahilinya karena terlihat lucu tanpa Renata sadari.