Antara Jay Dan Lucas

1084 Words
“Kak, Kakak punya hutang?” tanya Cecylia kepada sang kakak.    Renata memiringkan kepalanya bingung. Wanita itu mencoba mengingat, apakah dia memiliki hutang. Karena ia tidak merasa, namun ia takut lupa.    “Kenapa, tanya Kakak gitu?” Cecylia menarik pergelangan tangan kakaknya, menunjuk ke arah seorang pria dengan setelan jas hitam dan celana bahan mewah.    Renata melebarkan matanya, ia sangat terkejut saat mengenali sosok yang sedang ditunjuk oleh adiknya. Sekarang ia harus mencari alasan apa untuk membohongi sang adik. Ia takut jika sampai Cecylia mengetahui ada hubungan apa antara dirinya dan Jay, pria yang sedang berdiri tepat di depan rumahnya.    “Mm, biar Kakak lihat ya. Kamu, masuk aja. Liat, Sergio lagi ngapain,” ucap Renata.    Cecylia tampak tidak yakin dengan permintaan sang kakak. Tentu saja gadis itu takut jika sampai pria yang berada di depan sampai melukai kakaknya. “Kak, you okay?” tanyanya.    Renata mengangguk dengan cepat, “Sana.”    Cecylia kembali membalikkan tubuhnya, menghadap Renata dan menatap tepat di bola mata bulatnya. “Kak, dia Jay Marques kan? Berapa?”    Renata terkejut mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh adiknya. “Berapa? Maksud kamu?”    “Hutang Kakak, berapa? Kalau sampai orang sepenting dia dateng kemari, pasti utang Kakak banyak banget?” ucap Cecylia.    “Masuk dulu, ya. Biar Kakak yang urus, jangan khawatir. Okay?” ucap Renata menenangkan adiknya.    Cecylia mengangguk, lantas berjalan masuk meninggalkan Renata sendirian yang diam-diam menghela nafasnya lega. Wanita itu berjalan dengan langkah terburu, ia harus secepatnya menanyakan apa maksud Jay mendatangi kediamannya.    “Jay, ngapain?” tanya Renata dengan suara yang teramat pelan, ia takut jika di dalam sana kedua adinya sampai mendengar.    Jay sudah berancang-ancang ingin memeluk Renata, namun wanita itu segera menepisnya. “Jangan macem-macem kamu, apa kamu kemari?” tanyanya lagi.    “Kamu tidak bisa saya hubungi, Ren. Kamu--”    “Pelankan suaramu!” sela Renata geram.    Jay mengangkat kedua telapak tangannya ke udara, “Okay, saya kesusahan menghubungi kamu. Pesan, telepon, video call, semuanya tidak ada satu pun yang kamu respons. kamu ke mana? Apa, kamu sedang berada dalam masalah?”    Renata menghela nafas lelah, wanita itu menatap tajam ke arah tampan yang masih setia menatapnya dengan raut wajah khawatir.    “Masalah yang aku hadapi itu kamu, Tuan Jay. Sekarang, aku pasti sudah menjadi bahan gunjingan tetangga. Demi apa pun, kamu sudah punya istri Jay. Tolong banget, jangan kayak gini!” ucap Reanta kesal.    Jay mengulurkan tangan, ingin menggenggam lengan Renata. Namun, ia mengurungkannya.  “Ren, maaf. Saya tidak bermaksud seperti itu. Saya akan pergi, tapi saya mohon jangan mengabaikan saya.”    “Cukup Tuan, kamu sudah punya istri. Please, jangan bikin aku--”    “No, tapi saya mau kamu. Saya, mau kamu. Saya tidak peduli apa pun!” ucap Jay penuh penekanan sebelum pergi begitu saja meninggalkan Renata.    “Argh!” geram Renata sembari mengacak-acak rambutnya.    Wanita itu menaikkan pandangannya saat melihat sepasang kaki dengan balutan sepatu berwarna putih sedang berdiri di hadapannya. Tentu saja ia yakin jika itu bukanlah Jay, pria itu selalu berpakaian formal tidak seperti seseorang yang berada di depannya saat ini.    Renata menghela nafas lelah saat tahu siapa yang datang. “Sebenernya, sesial apa sih hidup Gue. Masalah satu pergi, yang lebih parah muncul. Gue bisa gila, kalo kayak gini!” batinnya.    Senyuman konyol khas Lucas memenuhi netra sang wanita, Renata semakin muak dibuatnya. “Mau apa, Lo?”    “Mau ngunjungin calon pacar, sekaligus mau kasih ini buat adik ipar. By the way, pria tadi siapa? Cowok kamu?” tanya Lucas penasaran.    Renata menatap Lucas lamat, sepertinya ia memiliki cara agar lelaki konyol itu berhenti mengganggunya. “Iya, jadi jangan menggangguku lagi!”    “Dia adiknya Ayahku, jangan bohong. Lagian, dia sudah nikah.” Lucas menjawab dengan penuh percaya diri.    “Terus, kalo Lo sudah tahu ngapain nanya?” ketus Renata, ia tidak menyangka jika dunianya sempit sekali.    “Kakak masuk, ya?” ucap Lucas dengan percaya diri.    Renata memijat keningnya, menghela nafas sebentar sebelum masuk meninggalkan Lucas sendirian yang tengah berdiri seperti gelandangan.    Cecylia tertawa lebar tanpa suara, wanita itu menertawakan Lucas sepuasnya. “Mirip orang buangan Lo!”    Lucas memutar bola matanya, malas sekali meladeni ocehan calon adik iparnya. “Diem Lo! Kalo Gue udah jadian sama kakak Lo, Lo orang pertama yang bakal Gue tampol!”    “Nyenyenye, muka Lo Cas, sumpah mengenaskan hahaha!”    Lucas menggeser tubuh Cecylia, “Minggir Lo. Gue mau nemuin bidadari, calon istri.” Dengan percaya diri lelaki itu memasuki rumah Renata.    “Adik manis, kamu di mana?” teriak Lucas.    Renata langsung berlari ke arah kamar Sergio, karena ruangan itulah yang paling dekat dengan dapur. Wanita itu merebahkan diri di samping adik kesayangannya.    “Sergio, tolongin Kakak dong!” pinta Renata setengah berbisik.    “Kenapa Kak?” tanya Sergio, anak itu mengikuti nada bicara sang kakak.    Renata menyatukan kedua telapak tangannya, “Di depan, ada Om Lucas. Tolong ajak dia pergi, Kakak takut banget sama dia.”    Sergio tertawa kecil melihat kakaknya memohon seperti anak kecil. “Om Lucas itu, baik Kak. Kakak nggak perlu takut.”    Renata menggeleng ribut, “Nggak! Nggak mau. Usir dia, please. Badan dia kan gede banget, Kakak takut.” Renata mengedip-ngedipkan kedua matanya, agar sang adik mau menuruti keinginannya.    Sergio menurunkan kedua bahunya, ia menyerah. “Okay, Sergio ajak Om Lucas main saja ya? Kalo diusir, kasihan.”    Renata tersenyum lebar sembari mengangguk semangat. “Makasih Ganteng.”    ***    Renata mengetikkan pesan pada ponselnya. [Tuan, hari ini aku open. Kamu membutuhkanku atau tidak?]    Ting! Dengan cepat balasan ia dapatkan. [Tunggu saya, jangan pergi tanpa saya.]    Renata segera bersiap, ia membutuhkan uang banyak kali ini. Satu kali bermain dengan kliennya ia mendapatkan upah 3 juta, belum dipotong uang untuk ‘Mami’. Jika ia membutuhkan uang 5 juta, maka hari ini ia harus membuat janji dengan 2 orang.    Renata berdiri, berhadapan dengan Vina sahabatnya. Seseorang tempat ia mengeluarkan keluh kesah juga suka dukanya.    Saat sedang asyiknya bercerita, tiba-tiba sepasang tangan kekar dibalut kemeja putih yang tergulung sampai siku memeluknya dari belakang dengan mesra. Menumpukkan kepala pada bahu sempit Renata, tanpa menoleh pun wanita itu tahu. Siapa pria yang memiliki aroma khas parfum mahal seperti ini.    Hampir semua pasang mata menatap ke arah Renata dan juga Jay. Beberapa tatapan iri didapatkannya, siapa yang tidak ingin seperti Renata. Dicintai seorang Jay Maqrques, tak dibayar pun mereka dengan suka rela menjatuhkan diri ke dalam pelukan pria itu.    “Ayo Sayang, temani saya makan.” Dengan suara berbisik, Jay mengutarakan keinginannya.    Renata mendengus pelan, “Aku sedang butuh uang. Jika hanya menemanimu makan, itu nggak akan cukup.” 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD