Jay Dan Rasa Cintanya

1058 Words
Jay mengusap pelan tangan Renata, memberikan kecupan-kecupan ringan penuh kasih sayang.  “Berhenti ya? Biar seseorang membawamu pergi dari sini, tapi bukan saya. Saya tidak bisa berbuat banyak, karena status yang saya sandang saat ini.”    Renata meremas untuk menghentikan pergerakan tangan Jay. Wanita itu menoleh ke belakang untuk melihat ke arah sang pria. “Aku butuh duit banyak, Tuan Jay. Mari permudah pekerjaanku, agar aku bisa segera menemu klienku selanjutnya.”    Jay menarik Renata, ia dekatkan tepat di depan wajahnya. “Berapa? Berapa banyak uang yang kamu butuh kan hari ini? Aku transfer sekarang juga, aku sudah bilang berapa kali padamu. Jangan pernah bersama dengan orang lain!”    Renata mencengkeram tengkuk Jay hingga kukku jarinya mungkin saja melukai kulit pria itu. “Aku, hanya akan menerima uang dari jasa yang aku tawarkan. Tolong banget, jangan mempersulit pekerjaanku. Jika kamu tidak punya kerjaan, kamu bisa pulang dan urusi istrimu di rumah yang mungkin saja kesepian.”    “Okay fine. Aku bawa kamu seharian, 20 juta cukup? Kurang? 30 juta?” tawar Jay dengan nada yang sedikit meninggi.    Renata menundukkan pandangan, menyembunyikan netranya yang mulai berkaca-kaca. “Aku butuh 7 juta, tanya Mami untuk negosiasi harga. Berapa lama aku harus menemanimu, agar kamu tidak merasa rugi.”    Jay mengusap wajahnya kasar, ia frustrasi. Jujur saja, Jay tidak pernah memandang Renata sebagai pekerja kotor seperti itu. Awalnya ia memang datang untuk menghibur diri, memenuhi segala fantasi yang tidak ingin dia lakukan pada sang istri.    Namun kini tujuannya berubah, ia tulus mencintai Renata. Tapi, respons Renata sangat berbanding terbalik dengan rasa cinta yang dia berikan. Wanita itu tak memberikan sedikit pun celah untuk membiarkan sang pria masuk ke dalam hidupnya.    “Kenapa, kamu selalu menolak eksistensi saya? Apa yang harus saya lakukan, agar kamu mau sedikit saja memberikan afeksimu kepada saya?” tanya Jay.    Renata berdecih, “Tuan, kamu sadar dengan apa yang kamu tanyakan? Jawabannya sangat mudah kamu temukan, kamu memiliki istri. Tolong sadarkan dirimu, aku kasihan dengannya.”    Jay mencengkeram rahang Renata, tidak begitu kuta namun mampu membuat wanita itu mendesis lirih. “Tahu apa kamu, tentang kehidupan saya bersama dengan istri saya? Kamu sama sekali tidak mengerti, Ren!”    “Aku juga nggak ingin ngerti, kehidupan orang kaya raya seperti kalian bukan urusanku. Tolong, berhenti mempersulit pekerjaanku. Aku butuh uang, Tuan!” jelas Renata.    “Ren, please jangan panggil saya Tuan. Call me Jay, just Jay. Pindah ke apartemen yang saya belikan untukmu ya?” bujuk pria itu tanpa kenal lelah.    Renata menggeleng, ia muak terus saja ditawari hal-hal seperti itu. “Enggak Jay, please. Aku mohon, hentikan semua ini. Aku capek, hidupku sudah sangat berantakan. Jangan ditambah lagi, kalau istrimu tahu, gimana nasibku dan kedua adikku?”    Jay menangkup kedua pipi Renata dengan kedua telapak tangannya. “Saya akan selalu melindungimu, jangan takut akan hal apa pun. Istri saya tidak akan pernah tahu tentangmu juga kedua adikmu. Percaya padaku, okay?”    “Kamu nggak ngerti, Jay. Kalian orang kaya nggak bakalan ngerti!” isak Renata.    Wanita itu menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, ia lelah jadi tidak ada salahnya jika ia menangis untuk saat ini.    Jay tidak bisa berbuat apa pun kecuali berusaha menenangkan Renata. Ia tidak mengerti, apa yang sedang wanita itu pikirkan. Jay merengkuh tubuh mungil yang tampak rapuh dan bergetar. Membawanya dalam pelukan hangat di sela tubuh besarnya.    “Jangan memendam semuanya sendiri. Saya di sini, Ren.”    Renata mengangkat wajahnya, ia hanya perlu bersandar sebentar. Setelahnya, ia akan kembali baik-baik saja. Mungkin.    “Ayo Jay,” ucap Renata.    Jay menatap Renata bingung, “Ke mana? Kamu ingin pergi ke suatu tempat?” tanyanya.    Renata menggeleng, “Kamu sudah membayar mahal, jadi ayo lakukan. Aku harus cepat pulang, uangnya harus segera dinbayarkan.”    Jay tersenyum, ibu jarinya mengusap pelan bibir Renata. “Saya, sedang tidak ingin melakukan itu. Ayo, saya bawa kamu ke suatu tempat yang bagus.”    “No! Enggak Jay, aku dibayar bukan untuk itu.”    “Ren!” panggil Jay dengan nada yang tidak bersahabat.    “Okay, terserahmu!”    ***    “Bagus Ren, kamu suka?” tanya Jay, pria itu menumpukkan dagunya pada bahu Renata.    Mereka berdua duduk di rumput yang tampak hijau dan segar. Suasana malam membuatnya terasa sangat romantis, setidaknya itu yang Jay rasakan.    “Bagus, hawanya segar. Orang sesibuk kamu, kenapa bisa tahu tempat seperti ini?” tanya Renata.    Jay merebahkan tubuhnya di atas rumput yang mungkin saja bisa membuat tubuhnya gatal juga kulitnya gatal. Namun, pria itu memilih untuk tidak peduli, kehadiran Renata membuatnya bahagia hari ini.    Segala resah yang pria itu rasakan sehari-hari sedikit hilang. “Ren, kemari.” Jay membawa tubuh mungil Renata untuk ia rebahkan di sebelahnya dengan lengan sang pria menjadi bantalannya.    “Mendung Jay, kalo hujan gimana?” tanya Renata lirih, air mata wanita itu sudah mengalir ke mana-mana.    Jay menoleh sebentar, sebelum tangan kirinya mengusap rambut Renata yang basah. “Kenapa? Apa, ada sesuatu yang mengusik hatimu?”    “Bisakah mendengar keluh kesahku sebentar? Untuk kerugianmu, akan aku ganti di hari berikutnya.” Renata memiringkan tubuhnya. Untuk pertama kalinya selama mereka saling mengenal, Renata mau memeluknya.    “Kenapa, kenapa hidup Gue seberantakan ini? Gue terlalu kotor, gimana kalo adik-adik Gue tahu. Apa, yang harus Gue lakuin?” isaknya tanpa sadar.    “Hey Ren, look at me. Lihat saya, kamu tidak kotor. Kamu kakak yang baik, kamu mengorbankan hidupmu untuk mereka. Kamu pahlawan mereka, okay?” ucap Jay sembari mengusap air mata yang terus mengalir di pipi sang wanita.    Jay mengecup kedua mata Renata bergantian. “Menikahlah dengan saya?”    Renata memukul bahu Jay keras, “Kamu punya istri!”    “Juga, tidak ada pria baik yang akan dengan suka rela menikahiku. Stop menawarkan hal konyol macam itu. Aku muak!” lanjut Renata.    “Saya bukan pria baik. Kita sama, bedanya saya pecundang dan kamu bukan. Saya bersembunyi di balik kasta, sedangkan kamu dengan percaya diri mampu melawan dunia.”  “Mari, kita lawan dunia bersama-sama. Bantu saya,” lanjut Jay.    Renata mendorong tubuh Jay, walau pun tidak cukup membuat sang pria bergeser sama sekali. “Stp Jay, aku benci mendengar bualan seperti itu. Aku muak, aku tidak mau menjalin hubungan apa pun dan juga dengan siapa pun!”    “Baiklah, tenangkan dirimu dulu. Ayo saya antarkan kamu pulang.”    Renata berjalan terlebih dahulu, meninggalkan Jay dengan seluruh rasa kecewa yang selalu ia rasakan setiap kali mendengar penolakan dari orang yang sama. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD