Bab 8 Berawal dari Kecerobohan Vanya

1052 Words
Lelaki itu terlihat sangat marah, wajahnya sudah terlihat sangat gugup, ketika Arjun mulai menatap dirinya dengan tatapan penuh intimidasi. perlahan-lahan Pria itu memundurkan langkah kakinya menjauhi Arjun dan Vanya. saat itu Vanya menatap Arjun, terpesona. Vanya tentunya tidak akan menyangka, jika Arjun akan melindunginya dari lelaki hidung belang seperti itu. beberapa menit kemudian, pintu lift tersebut terbuka, beberapa orang teah turun dari lift tersebut, dan menyisakan beberapa orang saja di salam lift tersebut. Vanya dan Arjun kini berdiri berdekatan, terlihat jelas, jika saat ini Arjun sedang menatap wajahnya, entah apa yang dia pikirkan saat itu kepada Vanya. Tak selang beberapa lama kemudian, pintu lift terbuka kembali, segera Arjun dan juga Vanya keluar dari lift tersebut. Beberapa orang kini sudah berada di depan pintu lift, menunggu Arjun yang saat itu sudah turun dari atas kamar hotelnya. "Tuan Arjun, mobilnya sudah siap di depan," ucap lelaki tersebut kepada Arjun. "Hmm, cepat kalian siap-siap, aku akan segera masuk ke dalam, pastikan jangan ada paparazi yang akan mengambil gambarku," jawab Arjun setengah berbisik. "Baik Tuan." "Tolong kalian bawa Asistenku masuk terlebih dahulu ke dalam mobilku jangan sampai ada satu orang pun yang tau." "Baik Tuan, mari Nona ikut kami," ucap lelaki yang seperti bodyguard itu kepada Vanya. Vanya tersenyum dan mengangguk, segera dia berjalan terlebih dahulu dengan salah satu bodyguard Arjun, menuju ke arah mobilnya. Sementara itu, Arjun kini perlahan-lahan mulai berjalan menuju kw arah mobilnya setelah Vanya masuk terlebih dahulu di dalam mobilnya. saat itulah, Arjun segera meminta sang sopir, untuk segera melajukan mobilnya meninggalkan area hotel terdebut. "Cepat lajukan mobilnya dengan segera, sebelum paparazi akan datang." "Baik Tuan Arjun," jawab sopir tersebut dan langsung segera menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya dengan cepat. *** "Vanya.." panggil Arjun dengan meligat gawainya. "Iya Pak, ada apa?" tanya Vanya dengan menoleh ke arah Arjun. "Selama aku sedang berada si lokasi Syuting, pastikan segala keperluanku sudah kamu persiapkan semuanya." terang Arjun ditengah kesibukannya. "Baik Tuan, sudah saya siapkan segala sesuatunya dan sudah tercatat di agenda." "Hmmm.." Vanya yang belum mengerti jam kerja dan situasi kerjanya, jika bekerja menjadi seorang asisten Arjun. "Maaf pak, saya mau tanya, jam kerja saya sampai jam berapa?" tanya Vanya dengan menggigit bibir bawahnya. Arjun yang sejak tadi sibuk dengan gawainya, langsung menghentikan aktivitasnya. ia kembali menaruh attensinya ke arah wajah Vanya. terlihat Ajun sedang menarik bibir kananya dan melipatkan kedua tangannya ke depan. "jam kerjamu ditentukan dengan jam kerjaku, Vanya," jawab Arjun dengan menatap tajam ke arah wajah Vanya. "Maksud Tuan Arjun?" tanya Vanya menatap penuh ke arahnya. "Kamu belum paham dengan jam kerja menjadi asisten seorang aktor?" tanya Arjun dengan menatap tajam ke arahnya. Vanya menggelengkan kepalanya dengan polosnya, ia benar-benar belum paham dengan jam kerja menjadi seorang asisten seorang aktor terkenal seperti Arjun. "Apa kamu belum membaca surat perjanjian kotrak kerjamu yang di berikan oleh Rio, asistenku?" tanya Arjun dengan tatapan penuh menelisik. "Maaf Pak, tadi saya belum membaca isi surat kontrak kerja saya," jawab Vanya dnegan nada penuh penyesalan. "Apa Rio tidak memintamu untuk membaca terlebih dahulu isi surat kontrak kerja kamu?". "Tadi Pak Rio sudah meminta saya untuk membaca terlebih dahulu, tetapi saya tidak mau membaca surat kontrak itu terlebih dahulu," sesal Vanya dengan menekuk wajahnya. "Kamu terlalu ceroboh Vanya, sekarang kamu harus mengikuti semua peraturan kontrak kerja tersebut atas dasar kesepakatan bersama, mau tidak mau, kamu harus tetap melakukannya," Tandas Arjun lalu mengambil surat kontrak kerja itu di dalam laci mobilnya dan memberikan surat kontrak itu kepada Vanya. "Bacalah kembali poin-point penting yang ada di surat perjanjian tersebut Vanya." Vanya lalu menerima surat kontrak kerja yang saat itu diberikan oleh Arjun kepada dirinya. perlahan-lahan ia mulai membaca isi surat kontrak perjanjian kerjanya tersebut. Vanya terkejut, setelah membaca beberapa point penting yang ada di surat perjanjian tersebut. "Saya harus ikut kemanapun Tuan pergi? apa itu artinya saya harus ikut menginap di rumah Tuan?" tanya Vanya dengan tangan mulai bergetar. "Tentu saja, jadwal syutingku sangat padat dan aku tidak ingin setiap kali aku harus bekerja tiap malam, aku harus menghubungimu dan menunggumu datang ke sini, itu akan membuang waktuku," desis Arjun menatap Vanya. Vanya hanya terdiam saja, dia merutuki semua kebodohannya sendiri. "Baiklah Tuan, saya mengerti. tapi bisakah Tuan menjelaskan tentang point ini, saya harus mengikuti semua peraturan dan perjanjian baru yang Tuan Arjun buat setiap waktu," Vanya membaca dengan nada mulai curiga. "Artinya setiap apa yang aku buat, kamu harus mengikuti semuanya, Vanya." Deg.. tiba-tiba saja Vanya mulai merasakan sesuatu yang membuat dirinya menjadi tidak enak. "mengapa perasaanku mendadak tidak enak ya?" tanya Vanya dalam hati. Arjun yang saat itu melihat gelagat aneh pada Vanya, mulai menegurnya. "Vanya, kau kenapa?" tanya Arjun menatap wajah Vanya bingung. Vanya lalu merespon, terlihat dia menatap wajah Arjun dan langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak ada apa-apa, aku baik-baik saja," kata Vanya. "Hemm, kita akan pulang larut malam, untuk itu kamu akan tinggal bersama denganku nanti malam." Deg.. jantung Vanya kembali mencelos, ketika Arjun mengatakan hal tersebut. "Apa? tinggal bersama Tuan? tapi Tuan...," ucapan Vanya langsung di potong olehnya. "Kenapa kamu terkejut? bukankah aku sudah menjelaskan tadi?" terang Arjun "Saya tau, akan tetapi saat ini saya belum memberitahukan kepada bibi saya, bagaimana kalau dia mencemaskan saya, jika saat ini saya tidak pulang ke rumah?" "Telepon bibimu sekarang," pungkas Arjun dengan memberikan handphone miliknya. Vanya tertegun ia menatap handphone milik Arjun yang berada di genggamannya. Vanya sedikit ragu, bilamana harus menghubungi bibinya sekarang dan mengatakan bahwa dia sudah diterima bekerja menjadi asisten Arjun. Bibinya pasti tidak akan mempercayai, jika Vanya bekerja sesuai jam syuting Arjun. Arjun menatap wajah Vanya bingung, i melihat wajah Vanya yang saat ini sedang mencemaskan sesuatu. "Kenapa kamu hanya diam saja? cepat kamu telpon bibimu!" Arjun meminta Vanya untuk segera menelpon bibinya. "Saya takut Tuan," jawabnya dengan bibir bergetar. "Takut kenapa?" tanya Arjun bingung. "Bibi tidak akan percaya dengan pekerjaan saya," jawabnya dengan tertunduk lesu. "Berikan nomer ponsel bibimu, aku yang akan menelpon dirinya." Vanya langsung terkejut, ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Arjun. "Buat apa Tuan?" tanya Vanya cemas. "Tentu saja menelpon bibimu dan menjelaskan sendiri tentang pekerjaanmu saat ini," jawab Arjun menatap Vanya yang sedang bingung. "Tidak perlu Tuan, biar saya yang akan menjelaskan sendiri," tolak Vanya. "Kalau begitu, cepat kamu telpon dia sekarang!" titah Arjun kemudian. sedikit ragu, Kinza menghubungi bibinya saat ini. Namun ketika melihat Arjun yang sedang menatap penuh ke arahnya, ia pun bergegas menelpon bibinya. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD