Vanya semakin cemas, ketika sang Aktor tersebut menarik tangannya masuk ke dalam kamar hotel tersebut.
Vanya yang saat itu berusaha untuk lepas dari tangan Arjun ternyata hanya sia-sia saja, tenaganya tak sebanding dengan tenaga Arjun.
Sreeeet..
tubuh mungil Kinza langsung tertarik ke dalam kamar tersebut dengan satu kali tarikan.
Vanya kemudian di dudukkan di pinggir ranjang.
tubuh Vanya langsung gemetar, ketika Arjun mulai menutup pintu kamarnya, pikirannyapun kini mulai kemana-mana.
"Tuan mau apa?" tanya Vanya dengan menarik selimut dan menggenggamnya.
Arjun menyipitkan kedua matanya, melihat tingkah laku aneh dari Vanya.
"Aku mau melepas pakaianku," jawabnya santai dengan melepaskan kemeja yang dia pakai saat ini.
Deg..
jantung Vanya langsung berdegub dengan kencang, ketika mendengar sang Aktor akan melepaskan pakaiannya.
"Buat apa Tuan Arjun, melepas pakaian Tuan? ini tidak benar, Tuan mau melecehkan saya?" ucap Vanya dengan suara bergetar.
Arjun menghentikan melepas kancing pakaian yang dia kenakan. ia kemudian mendekati Vanya dan menatap penuh ke arahnya.
"Maksud kamu apa?" tanya Arjun dengan menyilangkan kedua tangannya ke depen dadanya.
"kenapa Tuan membawa saya masuk ke dalam hotel dan melepaskan pakaian Tuan, kalau Tuan Arjun tidak ingin melecehkan saya," sahutnya dengan memegang erat selimut yang dia tarik tadi.
Arjun lalu mengulum senyumannya, terlihat dia kini mulai membungkukkan badannya dan mensejajarkan wajahnya dengan wajah Vanya.
"Sepertinya kamu mengalami trauma saat melihatku berada di kamar Hotel ini bersama denganmu, apakah itu artinya..." ucapan Arjun terpotong
"Maksud Tuan apa? jangan pernah berpikir jika saya adalah wanita yang Tuan maksud itu," jawanya dengan nada mulai marah.
Arjun lalu mengulum senyumannya, ditatapnya wajah Vanya yang sudah terlihat sangat gugup di buatnya.
"Mungkin saat itu memang aku salah mengiramu, karena aku secara tidak langsung menemukan karyu identitas karyawan Club malam yang saat itu tertinggal di kamar hotelku, kau tau siapa yang ada di kartu identitas tersebut? photonya mirip sekali denganmu dan namanya adalah Vanya Pricilia," terang Arjun dengan wajah santainya.
Gleg..
Vanya terlihat menelan ludahnya susah payah, ia mulai terlihat sangat gugup ketika Arjun mengatakan hal itu kepadanya.
Vanya terdiam dan tak sedikitpun memberikan sebuah jawaban atas ucapannya.
Arjun sekilas menatap wajah Vanya yang sudah merasa cemas, cukup aneh jika Arjun menilai gadis yang ada di depannya saat ini, di saat ada yang berusaha untuk membuat Arjun jatuh dalam perangkap wanita, akan tetapi berbeda dengan Vanya, di saat Arjun terperangkap pada perangkap gadis tersebut, ia tidak memanfaatkan situasi yang terjadi antara dirinya dan Arjun malam itu, dia lebih memilih melepaskan perangkapnya dari pada menangkap perangkapnya.
Arjun yang benar-benar dibuat penasaran dengan gadis yang ada si depannya saat ini, membuat dirinya harus bekerja keras untuk mencari cara lain, agar dirinya bisa membuat Vanya mengaku, bahwa wanita yang terjebak dalam cinta satu malam di hotel bersamanya saat itu adalah dirinya.
"Kenapa kamu terdiam? katakanlah Vanya, jika itu adalah kamu. aku hanya ingin kamu mengakui saja, bahwa kita pernah terjebak dalam cinta satu malam. di Hotel, beberapa bulan yang lalu."
Vanya lalu mendongak ke arah Arjun, terlihat jelas, bahwa diwajah Arjun terlihat sebuah rasa penyesalan, ketika dirinya secara tidak sengaja, mengambil kegadisan Vanya, tanpa sadar bahwa saat itu dirinya terinyata salah orang.
Vanya kembali terdiam dan tak sedikitpun dia berbicara atau berusaha untuk mengelak dirinya.
Arjun lalu berjongkok menatap wajahnya yang saat itu tiba-tiba tertunduk dan seperti menyembunyikan sesuatu di sana.
"Kenapa kamu tidak mau mengaku? apa yang kamu takutkan? aku hanya ingin meminta maaf saja kepadamu, berbulan-bukan aku mencarimu yang pergi secara tiba-tiba meninggalkan temanmu. mengapa kamu menghindari diriku?" Arjun mulai mencecar Vanya dengan berbagai pertanyaan.
Vanya hanya terdiam dan tak mengatakan apapun kepada Arjun. air matanya yang tiba-tiba jatuh, mulai dia usap dengan cepat, wajahnya kini ia palningkan ke arah lain, berharap Arjun saat itu tak melihat kesedihan yang dua rasakan.
Arjun yang saat itu sudah paham dengan apa di rasakan oleh Vanya, langsung berhenti untuk bertanya lagi kepada Vanya.
ia kemudian berdiri dan membiarkan Vanya larut dalam kesedihannya.
Arjun kemudian menuju ke lemari pakaiannya, segera dia mengeluarkan pakaian yang ada di dalam lemsrinya tersebut.
perlahan-lahan dia mulai melepaskan kemeja yang dia kenakan saat ini, lalu mengganti kemehanya dengan kaos.setelah selesai, Arjun mulai memakai jaket kulit yang menambah penampilannya kini semakin terlihat cool.
beberapa saat kemudian, Arjun mendapatkan sebuah telpon dari Asisten kepercayaanya Tio, yang mengatakan bahwa mobil sudah siap di lobby hotel.
segera Arjun bersiap untuk ke bawah.
"Vanya, apa kamu masih mau tetap di sini saja? mobil jemputan sudah menunggu di bawah," tutur Arjun menatap wajah Vanya yang masih melamun.
mendengar ucapan dari Arjun, Vanya kemudian mendongak dan membuyarkan lamumannya.
"Tuan mau kemana?" tanya Vanya dengan nada polosnya.
"kenapa? kami curiga jika saya akan menculikmu?" tanya Arjun dengan wajah heran.
"Ehmm..bukan begitu, jadi kita di sini tadi...?"
"Kau yang berpikiran m***m kepadaku, aku mengajakmu ke dalam kamar hotel untuk mengganti pakaianku, harusnya ini menjadi tugasmu untuk memilihkan pakaian yang cocok untuk aku kenakan, berhubung karena kamu masih bersedih, aku bisa memakluminya untuk tidak mempersiapkan pakain untuk diriku."
Vanya terlihat tertunduk malu saat itu, Karena sudah salah menilai Arjun saat itu.
"Mafkan saya Tuan, tadi saya...saya..."
"Tidak apa-apa, aku tau kalau kamu saat itu sedang mengalami trauma akn sesuatu. cepat bersiaplah, kita akan turun sebentar lagi," Jawab Arjun.
Vanya kemudian bersiap untuk mempersiapkan beberapa pakaian untuk Arjun yang saat ini akan pergi ke beberapa tempat, untuk acara on air yang ada di beberapa stasiun televisi.
setelah semuanya telah selesai, Arjun segera meminta Vanya untuk mengekori dirinya di belakangnya. terlihat jelas bahwa saat itu ada yang berbeda dari penampilan Arjun.
Arjun benar-benar sangat tampan ketika memakai pakaian yang dia kenakan saat ini, lebih santai dan terlihat jauh lebih muda dari biasanya.
Beberapa saat kemudian, Arjun dan Vanya kini mulai masuk ke dalam lift tersebut.
keduanya tampak tak saling berbjcara dan berjarak cikup jauh saat itu.
Arjun yang kala itu memakai masker, topi dan kaca mata, membuat beberapa orang yang saat itu, masuk ke dalam liftnya, tidak mengenali dirinya.
pada awalnya lift tersebut hanya di isi beberapa orang saja, hingga akhirnya terlihat lift tersebut mulai dipenuhi oleh orang-orang yang saat itu mulai masuk ke dalam.
Arjun yang saat itu posisinya mulai bergeser ke belakang berdampingan dengan Vanya. langsung terkejut ketika melihat beberapa orang masuk lagi, hingga membuat lift tersebut semakin lama semakin penuh.
saat itu ia melihat Vanya yang sudah terhimpit oleh seorang pria, langsung berusaha melindungi Vanya dari lelaki itu, yang sepertinya ingin melecehkan Vanya.
lelaki yang saat itu tiba-tiba hendak mendekati Vanya, dengan segera Arjun langsung mendekap tubuhnya dengan cepat.
lelaki itu tampak mengumpat, ketika Arjun tak membiarkan dirinya sedikitpun mendekati tubuh Vanya.
"Berani kamu mendekat lagi, aku akan membuat kakimu patah."
Bersambung