Sampai di Kampung: Bertemu Rohma yang Ternyata Lebih Muda dan Panggilan "Mas"
Setelah perjalanan panjang dan melelahkan di dalam bis, akhirnya kami sampai juga di kampung halaman Bapak. Begitu turun dari bis, suasana langsung terasa berbeda. Udara segar, suara jangkrik, dan senyum ramah keluarga besar menyambut kedatangan kami.
Kakek dan Nenek sudah menunggu di depan rumah. Mereka langsung memeluk kami satu per satu. "Wah, cucu-cucu Mbah sudah pada gede ya," kata Nenek sambil mencubit pipi Bayu gemas.
Setelah bersalaman dan berpelukan dengan semua keluarga, Bayu mencari-cari sosok Rohma. Bapaknya menyadari kebingungan Bayu.
"Rohma lagi main di depan rumah sama teman-temannya. Coba kamu samperin ke sana," kata Bapak sambil menunjuk ke arah sekelompok anak yang sedang bermain di halaman.
Bayu berjalan mendekat ke arah anak-anak itu. Dari kejauhan, ia melihat seorang gadis kecil berambut panjang sedang tertawa riang. Bapaknya bilang Rohma seumuran dengannya, tapi kok gadis itu terlihat lebih kecil?
"Rohma!" panggil salah seorang anak.
Bayu tertegun. Jadi, gadis kecil itu Rohma?
Rohma menoleh ke arah Bayu. Matanya membulat, lalu ia tersenyum malu-malu. "Mas Bayu ya?" tanyanya dengan suara pelan.
Bayu tersenyum. "Iya, aku Bayu," jawab Bayu sambil mengangguk. "Kamu Rohma?"
Rohma mengangguk. "Maaf ya, Mas. Aku kira Mas Bayu nggak dateng."
"Nggak apa-apa. Aku juga baru sampai kok," kata Bayu. "Tapi, Bapak bilang kamu seumuran aku?"
Rohma terkekeh. "Nggak kok, Mas. Aku masih kelas 2 SD. Mas Bayu kan udah kelas 4."
Bayu sedikit terkejut. Ternyata Rohma dua tahun lebih muda darinya. Panggilan "Mas" dari Rohma membuatnya merasa sedikit lebih dewasa. Tapi, ia tidak mempermasalahkannya. Yang penting, ia sudah bertemu dengan Rohma dan bisa menghabiskan waktu liburan bersamanya.
"Ya udah, nggak apa-apa. Mau main apa sekarang?" tanya Bayu.
Mata Rohma berbinar. "Mau main petak umpet! Mas Bayu mau ikut?"
"Boleh aja," jawab Bayu.
Mereka pun bergabung dengan anak-anak lainnya dan bermain petak umpet di halaman rumah. Meskipun Rohma lebih muda darinya dan memanggilnya "Mas", Bayu tetap merasa senang bisa bermain bersamanya. Ia merasa seperti memiliki adik perempuan yang selama ini ia idam-idamkan.
Seminggu Berlalu: Saatnya Kembali ke Jakarta dan Rutinitas Sekolah
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Libur Lebaran di kampung halaman Bapak sudah berjalan selama seminggu. Rasanya baru kemarin Bayu tiba dan bertemu dengan keluarga besarnya, bermain bersama Rohma, dan menikmati suasana pedesaan yang tenang. Namun, kini saatnya untuk kembali ke Jakarta dan menjalani rutinitas sekolah seperti biasa.
Pagi itu, suasana haru menyelimuti rumah Kakek dan Nenek. Bayu dan keluarganya bersiap-siap untuk berpamitan. Kakek dan Nenek memeluk Bayu erat-erat, memberikan nasihat dan pesan agar Bayu rajin belajar dan menjadi anak yang berbakti.
"Jangan lupa sering-sering main ke sini ya, Yu," kata Nenek dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, Mbah. Nanti kalau libur lagi, aku pasti main ke sini," jawab Bayu sambil memeluk Nenek erat.
Rohma juga ikut mengantar Bayu sampai ke depan rumah. Ia terlihat sedih karena harus berpisah dengan Mas Bayu yang sudah menjadi teman bermainnya selama seminggu terakhir.
"Mas Bayu, jangan lupa ya sama aku," kata Rohma dengan suara pelan.
"Nggak akan lupa kok, Rohma. Kamu juga jangan lupa belajar yang rajin ya," pesan Bayu sambil mengacak-acak rambut Rohma.
Setelah berpamitan dengan semua keluarga, Bayu dan keluarganya naik ke dalam bis yang sudah menunggu. Bis mulai melaju meninggalkan kampung halaman Bapak. Bayu melambaikan tangan ke arah Rohma dan keluarganya yang masih berdiri di depan rumah.
Selama perjalanan kembali ke Jakarta, Bayu merenungkan semua pengalaman yang telah ia dapatkan selama libur Lebaran di kampung halaman. Ia merasa sangat senang bisa bertemu dengan keluarga besarnya, mengenal Rohma lebih dekat, dan merasakan kehangatan suasana pedesaan.
Namun, di sisi lain, Bayu juga merasa sedikit sedih karena harus berpisah dengan Rohma dan keluarganya. Ia berharap bisa segera kembali ke kampung halaman dan bertemu dengan mereka lagi.
Akhirnya, bis tiba di terminal Jakarta. Bayu dan keluarganya turun dari bis dan langsung menuju ke rumah mereka. Sesampainya di rumah, Bayu merasa sedikit kaget karena suasana Jakarta sangat berbeda dengan suasana di kampung halaman.
Jakarta terasa lebih ramai, bising, dan penuh dengan polusi. Bayu merindukan suasana tenang dan damai di kampung halaman.
Keesokan harinya, Bayu mulai masuk sekolah seperti biasa. Ia bertemu dengan teman-temannya dan menceritakan semua pengalaman yang telah ia dapatkan selama libur Lebaran di kampung halaman.
Meskipun sudah kembali ke rutinitas sekolah, Bayu tidak pernah melupakan Rohma dan keluarganya di kampung halaman. Ia berjanji akan selalu menjaga hubungan baik dengan mereka dan sering-sering berkunjung ke kampung halaman Bapak.
Oke, siap! Kita tambahkan dialog antara Bayu dan teman-temannya di Jakarta setelah ia kembali dari kampung halaman:
Kembali ke Jakarta: Bertemu Teman dan Cerita Mudik Lebaran
Keesokan harinya, Bayu sudah kembali ke sekolah. Ia sedikit gugup karena sudah seminggu tidak bertemu dengan teman-temannya. Begitu sampai di kelas, ia langsung disambut dengan sorakan gembira.
"Bayuuuu! Akhirnya dateng juga lo!" seru Joko sambil berlari menghampiri Bayu.
"Gimana Lebaran di kampung, Yu? Seru nggak?" tanya Adi dengan nada penasaran.
Bayu tersenyum lebar. "Seru banget! Gue ketemu sama keluarga besar di sana. Terus, gue juga punya temen baru, namanya Rohma," jawab Bayu dengan semangat.
"Rohma? Siapa tuh?" tanya Joko sambil mengerutkan kening.
"Dia sepupu gue. Umurnya dua tahun di bawah gue. Orangnya asik banget, kita main bareng terus selama di kampung," jelas Bayu.
"Wah, asik banget kedengerannya. Lo ngapain aja di sana?" tanya Adi lagi.
"Banyak banget! Kita main petak umpet, layangan, terus mandi di sungai juga," cerita Bayu.
"Mandi di sungai? Wah, berani banget lo! Airnya nggak dingin?" tanya Joko dengan nada khawatir.
"Dingin sih, tapi seru banget! Airnya jernih banget, kita bisa liat ikan-ikan kecil berenang," jawab Bayu.
"Gue jadi pengen ikut mudik ke kampung lo deh," kata Adi sambil tertawa.
"Kapan-kapan ikut aja sama gue. Dijamin seru!" ajak Bayu.
"Eh, lo dapet THR berapa, Yu?" tanya Joko dengan nada penasaran.
Bayu terkekeh. "Lumayan lah. Bisa buat beli mainan baru," jawab Bayu sambil mengedipkan mata.
"Pelit banget sih lo! Nggak mau cerita," kata Joko sambil mencibir.
"Hehehe... Nanti gue traktir deh di kantin," kata Bayu.
"Nah, gitu dong! Baru temen!" seru Adi sambil menepuk pundak Bayu.
Bel masuk berbunyi. Bayu dan teman-temannya segera kembali ke tempat duduk masing-masing. Meskipun sudah kembali ke rutinitas sekolah, Bayu tetap merasa senang karena bisa berbagi cerita tentang libur Lebarannya dengan teman-temannya. Ia merasa semakin dekat dengan mereka dan semakin bersemangat untuk menjalani hari-hari di sekolah.