Setelah Liburan

1228 Words
Kembali ke Sekolah: Tugas Mengarang Pengalaman Liburan (Kelas 5 SD, Teman Baru) Beberapa hari setelah masuk sekolah, Bu Guru memberikan tugas mengarang tentang pengalaman liburan. Bay yang sekarang sudah kelas 5 SD, merasa senang karena punya banyak cerita menarik untuk ditulis. Ia pun mulai menyusun kata-kata di benaknya. "Anak-anak, minggu depan Ibu mau kalian mengumpulkan karangan tentang pengalaman liburan kalian. Tuliskan pengalaman yang paling berkesan dan menarik," kata Bu Guru di depan kelas. Bay langsung bersemangat. Ia teringat semua kejadian seru selama libur Lebaran di kampung halaman. Mulai dari perjalanan naik bis, bertemu keluarga besar, bermain dengan Rohma, hingga suasana haru saat berpamitan. Saat jam istirahat, Joko dan Adi menghampiri Bay. "Lo mau nulis tentang apa, Bay?" tanya Adi. "Gue mau nulis tentang pengalaman gue di kampung halaman. Banyak banget kejadian seru di sana," jawab Bay. "Wah, sama dong! Gue juga mau nulis tentang liburan gue di pantai," kata Joko. "Kalo gue bingung nih, mau nulis tentang apa. Liburan gue biasa-biasa aja," kata Adi dengan nada lesu. "Kenapa nggak lo tulis aja tentang pengalaman lo main game online selama liburan?" saran Bay sambil tertawa. "Ah, nggak seru ah. Nggak ada yang menarik," jawab Adi. "Ya udah, lo ikut aja ide gue. Tulis tentang pengalaman lo di kampung halaman," kata Bay. "Boleh juga tuh. Tapi, gue nggak tau mau mulai dari mana," kata Adi. "Tenang aja, nanti gue bantuin. Kita bikin karangan bareng-bareng," kata Bay. "Nah, gitu dong! Baru temen!" seru Joko sambil menepuk pundak Bay. Setelah bel masuk berbunyi, Bay mulai menulis karangannya. Ia menceritakan semua pengalamannya di kampung halaman dengan detail dan bahasa yang sederhana. Ia juga menambahkan beberapa gambar agar karangannya terlihat lebih menarik. Beberapa hari kemudian, Bay mengumpulkan karangannya kepada Bu Guru. Ia merasa bangga dengan hasil karyanya dan berharap Bu Guru akan menyukainya. "Wah, karangan kamu bagus sekali, Bay. Ibu suka dengan cerita kamu tentang kampung halaman dan keluarga besar kamu," kata Bu Guru sambil tersenyum. Bay merasa senang dan bangga dengan pujian dari Bu Guru. Ia semakin termotivasi untuk terus belajar dan menulis dengan lebih baik lagi. Persahabatan di Kelas 5: Bay, Joko, dan Adi Sejak saat itu, Bay, Joko, dan Adi semakin akrab. Mereka sering belajar bersama, bermain bersama, dan saling membantu dalam segala hal. Persahabatan mereka semakin erat dan mewarnai hari-hari mereka di kelas 5 SD. Suatu hari, Bu Guru mengumumkan akan diadakan lomba cerdas cermat antar kelas. Bay, Joko, dan Adi langsung bersemangat untuk mengikuti lomba tersebut. "Kita harus ikut lomba cerdas cermat ini! Kita pasti bisa menang!" kata Bay dengan penuh semangat. "Iya, kita harus latihan yang rajin. Biar bisa ngalahin kelas lain," timpal Joko. "Tapi, gue kan nggak terlalu pintar. Gue takut malah jadi beban buat kalian," kata Adi dengan nada khawatir. "Jangan gitu dong, Di. Kita kan teman. Kita harus saling mendukung. Lo punya kelebihan di bidang lain. Nanti lo bantu kita di bagian itu," kata Bay sambil menepuk pundak Adi. "Iya, Di. Lo kan jago gambar. Nanti lo bikin poster penyemangat buat kita," tambah Joko. Adi tersenyum. Ia merasa senang karena memiliki teman-teman yang selalu mendukungnya. Mereka pun mulai berlatih dengan giat. Bay yang pintar dalam pelajaran matematika dan IPA, membantu Joko dan Adi dalam memahami materi-materi tersebut. Joko yang memiliki ingatan kuat, membantu mereka menghafal rumus-rumus dan istilah-istilah penting. Sementara Adi yang kreatif, membuat poster-poster penyemangat yang membuat mereka semakin termotivasi. Tibalah hari lomba cerdas cermat. Bay, Joko, dan Adi merasa gugup, tetapi mereka tetap berusaha untuk tampil sebaik mungkin. Mereka menjawab semua pertanyaan dengan tepat dan cepat. Di akhir lomba, diumumkan bahwa kelas mereka berhasil meraih juara pertama. Bay, Joko, dan Adi bersorak kegirangan. Mereka saling berpelukan dan mengucapkan selamat satu sama lain. "Kita berhasil! Kita berhasil!" seru mereka dengan gembira. "Ini semua berkat kerja sama kita. Kalau kita nggak saling membantu, kita nggak mungkin bisa menang," kata Bay. "Iya, persahabatan kita memang yang terbaik!" timpal Joko. "Gue bangga punya teman-teman seperti kalian," kata Adi dengan mata berkaca-kaca. Sejak saat itu, persahabatan Bay, Joko, dan Adi semakin erat. Mereka berjanji akan selalu saling mendukung dan membantu dalam segala hal. Mereka tahu bahwa persahabatan adalah harta yang paling berharga dalam hidup mereka. Persahabatan di Kelas 5: Bay, Joko, dan Adi (dengan Konflik) Sejak saat itu, Bay, Joko, dan Adi semakin akrab. Mereka sering belajar bersama, bermain bersama, dan saling membantu dalam segala hal. Persahabatan mereka semakin erat dan mewarnai hari-hari mereka di kelas 5 SD. Suatu hari, Bu Guru mengumumkan akan diadakan lomba cerdas cermat antar kelas. Bay, Joko, dan Adi langsung bersemangat untuk mengikuti lomba tersebut. "Kita harus ikut lomba cerdas cermat ini! Kita pasti bisa menang!" kata Bay dengan penuh semangat. "Iya, kita harus latihan yang rajin. Biar bisa ngalahin kelas lain," timpal Joko. "Tapi, gue kan nggak terlalu pintar. Gue takut malah jadi beban buat kalian," kata Adi dengan nada khawatir. "Jangan gitu dong, Di. Kita kan teman. Kita harus saling mendukung. Lo punya kelebihan di bidang lain. Nanti lo bantu kita di bagian itu," kata Bay sambil menepuk pundak Adi. "Iya, Di. Lo kan jago gambar. Nanti lo bikin poster penyemangat buat kita," tambah Joko. Adi tersenyum. Ia merasa senang karena memiliki teman-teman yang selalu mendukungnya. Mereka pun mulai berlatih dengan giat. Namun, semakin dekat dengan hari lomba, Bay semakin terlihat ambisius. Ia selalu ingin menjadi yang terbaik dan menguasai semua materi. Hal ini membuat Joko dan Adi merasa tertekan. "Bay, lo nggak usah terlalu serius gitu dong. Kita kan cuma ikut lomba buat senang-senang aja," kata Joko suatu hari. "Iya, Bay. Lo bikin kita jadi nggak nyaman," timpal Adi. "Gue cuma pengen kita menang. Emang salah?" jawab Bay dengan nada tinggi. "Salah, karena lo jadi egois dan nggak peduli sama kita," kata Joko. "Iya, lo cuma mikirin diri lo sendiri," tambah Adi. Bay terdiam. Ia merasa bersalah karena telah membuat teman-temannya merasa tidak nyaman. "Maaf, guys. Gue nggak bermaksud gitu. Gue cuma terlalu bersemangat," kata Bay dengan nada menyesal. "Ya udah, kita maafin lo. Tapi, lo harus janji, lo nggak akan egois lagi," kata Joko. "Iya, gue janji," jawab Bay. Namun, masalah tidak berhenti sampai di situ. Saat hari lomba, Bay melakukan kesalahan yang fatal. Ia salah menjawab pertanyaan yang seharusnya bisa dijawab dengan mudah. Hal ini membuat tim mereka kehilangan poin penting. Joko dan Adi merasa kecewa dengan kesalahan Bay. Mereka saling menyalahkan satu sama lain. "Gara-gara lo sih, Bay. Kita jadi kalah!" kata Joko dengan nada marah. "Iya, lo terlalu percaya diri," timpal Adi. Bay merasa sangat bersalah dan sedih. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Apakah Bay, Joko, dan Adi bisa menyelesaikan konflik ini dan kembali bersahabat? Persahabatan di Kelas 5: Bay, Joko, dan Adi (Saling Memaafkan) Setelah lomba cerdas cermat yang penuh dengan konflik, suasana di antara Bay, Joko, dan Adi menjadi canggung. Mereka saling menjauhi dan enggan berbicara satu sama lain. Bay merasa sangat bersalah atas kesalahannya yang membuat tim mereka kalah. Joko dan Adi juga merasa kecewa dan marah kepada Bay. Suatu sore, Bay memberanikan diri untuk menemui Joko dan Adi di taman dekat rumah mereka. Ia ingin meminta maaf dan memperbaiki hubungan persahabatan mereka. "Guys, gue minta maaf atas kesalahan gue waktu lomba cerdas cermat. Gue tau gue udah bikin kalian kecewa," kata Bay dengan nada menyesal. Joko dan Adi terdiam. Mereka masih merasa marah dan kecewa kepada Bay. "Gue juga minta maaf karena udah egois dan nggak peduli sama kalian. Gue janji, gue nggak akan ngulangin kesalahan yang sama lagi," lanjut Bay.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD