BAB 1
Bab 1: Pertanda yang Diabaikan
Kalau ada yang tanya kapan semuanya dimulai, aku selalu bingung mau jawab apa. Bukan karena aku lupa. Justru karena aku ingat terlalu banyak hal kecil yang belakangan baru terasa penting, padahal waktu itu nggak ada satupun yang kelihatan seperti awal dari apa-apa.
Pagi itu aku bangun sebelum azan Subuh selesai, seperti biasa, karena Emak selalu bilang air sungai paling bersih kalau diambil waktu langit masih abu-abu. Aku jalan sendirian lewat pematang, sarung timba dingin di tanganku, kabut masih menggantung rendah di atas sawah Pak Darto sampai batang-batang padinya kelihatan kayak berdiri di atas asap. Aku suka jam segini. Nggak ada yang nyapa, nggak ada yang nanya-nanya, cuma suara katak yang pelan-pelan diam satu-satu begitu langit mulai terang, dan suara sandalku sendiri yang nginjek tanah becek di pinggir pematang.
Kadang aku berhenti sebentar di jembatan bambu sebelum sungai, cuma buat liatin kabut itu geser pelan-pelan kayak air yang dituang. Aku nggak pernah cerita ke siapa-siapa soal kebiasaan ini, karena kedengarannya aneh kalau diomongin keras-keras. Tapi buat aku, lima menit itu adalah satu-satunya waktu dalam sehari yang beneran punyaku sendiri, sebelum jadi anaknya Emak Marni, muridnya Bu Yuni, atau temennya Tini.
Umurku lima belas waktu itu, kelas tiga SMP, dan aku pikir aku tahu persis bentuk hidupku ke depan: lulus, mungkin lanjut ke SMA di kecamatan kalau Emak sanggup, atau bantu-bantu jualan kalau nggak. Kalantara bukan tempat yang ngasih banyak pilihan, tapi aku nggak pernah merasa itu masalah besar. Orang-orang di sini hidup dengan ritme yang sama dari dulu, tanam, panen, pasar Kliwon tiap lima hari sekali, dan omongan yang muter-muter dari rumah ke rumah kayak angin yang nggak pernah benar-benar berhenti.
Aku pulang bawa dua timba penuh, lengan kanan pegal duluan seperti biasa, dan Emak sudah nunggu di depan tungku, ngipas-ngipas bara pakai kipas bambu yang pinggirnya udah mulai kelupas anyamannya.
"Lama," katanya, nggak nengok.
"Kabutnya tebal, Mak."
"Alesan aja kamu ini." Tapi dia senyum pas ngomong gitu, jadi aku tahu itu bukan beneran marah.
Aku duduk di dekat tungku sambil nunggu air panas buat nyeduh teh, dan Emak masukin kayu bakar satu-satu, tangannya udah hafal jarak dan ritme tanpa perlu liat. Aku suka pagi-pagi kayak gini, cuma berdua, sebelum rumah rame sama suara ayam dan tetangga yang mulai buka pintu. Bapak udah dua tahun ini kerja di kota, jadi kuli bangunan katanya, dan pulangnya nggak menentu, kadang lebaran, kadang malah kelewat lebaran kalau proyeknya lagi banyak. Aku udah biasa. Rumah ini isinya cuma aku dan Emak sebagian besar waktu, dan aku nggak pernah merasa itu kurang.
"Nanti pulang sekolah bantuin jemur cabe, ya," kata Emak, sambil nuang air panas ke gelas.
"Iya, Mak."
"Jangan lupa bawa buku PR-mu juga. Kemarin katanya ada ulangan."
"Udah aku bawa dari kemarin."
Emak nengok, agak kaget. "Rajin banget."
"Ya kadang-kadang aja, Mak." Aku ketawa, dan dia juga ketawa, dan itu jadi salah satu pagi biasa yang aku nggak pernah nyangka bakal aku kangenin banget belakangan.
Hari itu hari Selasa, dan Selasa artinya aku harus ke sekolah lebih pagi karena ada kerja bakti bersihin halaman sebelum upacara. Aku jalan bareng Tini dari simpang tiga, kayak biasa, dia cerita soal kakaknya yang baru pulang dari kota bawa oleh-oleh sepatu, dan aku dengerin sambil sesekali nyeletuk, meski separuh perhatianku masih di jalanan berbatu yang bikin aku harus liat langkah biar nggak kepeleset.
Matahari jam tujuh pagi udah nggak main-main di Kalantara. Bukan yang lembut, tapi yang langsung nempel di kulit kayak disetrika pelan-pelan. Aku sama beberapa anak lain nyapu di lapangan, deket pohon flamboyan yang bunganya udah mulai rontok duluan sebelum musim, warnanya oranye kemerahan berserakan di tanah kayak abis ada yang numpahin cat.
"Kirana, sini bagian sana aja," kata Pak Yatno, guru olahraga yang juga sering jadi komandan kerja bakti dadakan. Aku pindah, nyapu deket pagar, sendirian karena anak-anak lain lagi ngumpul di sisi yang lebih teduh.
Aku inget aku ngerasa aneh siang itu, tapi bukan aneh yang bikin panik. Lebih ke capek yang nggak masuk akal. Aku cuma nyapu, bukan angkat batu atau lari, tapi kepala berat kayak abis nyeberang sawah tiga kali bolak-balik. Pandanganku sempat buram sebentar, kayak ada kabut tipis yang lewat di depan mata, terus ilang lagi. Aku berhenti sebentar, pegangan sapu, dan Tini, temen sebangku yang mulutnya paling ember di kelas, nengok dari sisi lapangan yang teduh.
"Kamu kenapa? Pucet."
"Nggak apa-apa. Cuma laper kayaknya."
Aku bilang gitu karena itu jawaban paling gampang, dan waktu itu aku beneran percaya itu jawabannya. Aku duduk sebentar di bawah pohon flamboyan, minum air dari botol yang aku bawa dari rumah, dan setelah lima menit rasanya udah biasa lagi. Tini duduk sebentar di sampingku, nawarin separuh rotinya yang dibungkus daun pisang.
"Nih, makan. Biar nggak lemes lagi."
Aku ambil, gigit sedikit, dan bilang makasih. Rasanya biasa aja, roti tawar isi coklat yang dijual Bu Painten di depan sekolah, tapi entah kenapa aku masih inget rasa itu sampai sekarang. Aku lupain kejadian pusingnya begitu aja setelah itu. Anak seumuranku emang gampang laper, gampang capek, itu normal, nggak ada yang aneh soal itu.
Bel istirahat bunyi jam sepuluh, dan aku sama Tini duduk di kantin sekolah yang cuma bangunan seng tanpa dinding, mejanya kayu panjang bekas dipakai berpuluh tahun sampai permukaannya licin kena keringat tangan ribuan anak. Aku beli es teh, Tini beli gorengan, dan kami ngobrolin ulangan Bahasa Indonesia yang bakal ada minggu depan.
"Kamu udah baca novelnya belum? Yang disuruh Bu Yuni itu."
"Baru separuh," jawabku. "Tapi seru sih, ceritanya."
"Kamu tuh emang doyan baca-baca gitu. Aku mah males."
Aku ketawa. Aku emang suka baca, meski buku di rumah cuma yang aku pinjem dari perpustakaan sekolah atau yang dikasih Bu Yuni kalau ada sisa. Aku sering ngebayangin nulis cerita sendiri suatu hari, meski aku belum pernah bilang itu ke siapa-siapa, bahkan ke Emak sekalipun. Rasanya terlalu muluk buat anak kampung kayak aku, tapi aku tetep suka ngebayanginnya diem-diem, terutama pas lagi jalan sendirian ke sungai pagi-pagi.
Setelah istirahat, kelas berjalan biasa. Bu Yuni ngajar IPA soal sistem pencernaan, dan aku nyatet seadanya sambil sesekali ngelirik ke luar jendela, ke arah pohon flamboyan yang tadi pagi jadi tempat aku duduk. Nggak ada yang beda dari hari-hari biasanya. Aku pulang jam satu siang, jalan bareng Tini sampai simpang tiga lagi, terus misah, dia ke arah rumahnya yang deket pasar, aku lurus ke arah rumah yang lebih dekat sawah.
Sore harinya aku bantuin Emak jemur cabai di halaman, duduk di dipan bambu sambil ngebolak-balik cabai biar keringnya rata. Bau cabai kering yang nyengat bercampur bau tanah abis kena panas seharian, dan aku udah hafal banget baunya, karena musim jemur kayak gini terjadi berkali-kali dalam setahun. Aku ngerasa pipi kiriku gatal. Aku garuk pelan, nggak mikir apa-apa, sampai Emak nyeletuk sambil masukin cabai ke karung.
"Kamu abis kena apa itu? Merah-merah."
Aku pegang pipiku. Nggak sakit, cuma anget, kayak abis kejemur lama. "Mungkin kena matahari, Mak. Tadi siang di lapangan lama."
Emak berhenti sebentar, natap mukaku lebih lama dari biasanya, terus lanjut kerja lagi. "Ya udah, nanti malem pake bedak dingin. Biar adem."
Aku ngangguk, lanjut ngebolak-balik cabai, sambil sesekali ngeliatin langit yang mulai jingga di ujung sawah. Kami kerja sampai matahari nyaris tenggelam, terus angkut cabai satu-satu ke dalam rumah sebelum embun malam bikin lembab lagi. Malam itu makan malamnya cuma nasi sama sambel terasi, tapi rasanya cukup, kayak selalu.
Aku nggak mikirin itu lagi malam itu. Aku pake bedak dingin yang Emak bilang, pipi rasanya lebih enak, dan pas aku ngaca sebelum tidur, merahnya emang udah nyaris ilang, cuma sisa samar di pipi kiri sama sedikit di pangkal hidung, kayak bentuk kupu-kupu yang kepotong setengah. Aku pikir itu emang cuma kena panas. Orang-orang di sini kulitnya gitu semua kalau kelamaan di luar. Kirana yang waktu itu nggak tahu apa-apa cuma mikir besok pagi ilang sendiri.
Yang aku juga nggak sadar penting waktu itu, meski sekarang aku ingat jelas, adalah Pak Slamet, mantri desa, yang kebetulan lewat depan rumah kami sore itu, mau pulang dari rumah Bu Haji yang lagi demam. Dia orangnya kurus, selalu bawa tas kulit hitam yang udah pudar warnanya, dan kalau jalan suka agak nunduk kayak mikirin sesuatu. Dia berhenti sebentar liat aku duduk di dipan, terus manggil Emak ke pinggir pagar.
Aku nggak denger semua yang mereka omongin, cuma potongan-potongan, karena aku masih sibuk masukin cabai ke dalam rumah. Ada kata "...kalau kelamaan, bawa aja ke Puskesmas kecamatan, cek dulu..." dan aku sempet nengok karena kata "Puskesmas" itu kedengaran serius buat anak seumuranku. Terus Emak jawab sesuatu yang aku nggak denger jelas, mungkin cuma "iya, iya, nanti kalau masih gitu," karena itu jawaban yang biasa dipake orang dewasa buat nutup obrolan yang belum mau diselesein sekarang juga.
Aku nggak tahu kenapa aku masih inget itu. Waktu itu rasanya nggak penting sama sekali. Cuma obrolan orang dewasa yang lewat kayak angin, kayak semua obrolan orang dewasa lainnya yang aku dengerin setengah-setengah sambil mikirin hal lain, kayak PR yang belum aku kerjain atau novel yang belum aku selesein baca.
Aku tidur malam itu kayak biasa. Atau, hampir kayak biasa. Ada satu hal yang beda, meski aku baru ngerti belakangan itu juga bagian dari semuanya: aku bangun tengah malam, bukan karena mimpi buruk atau suara apa, tapi karena badanku berat banget buat digerakin, kayak abis kerja seharian penuh padahal aku cuma tidur. Aku coba angkat tangan buat narik selimut yang jatuh, dan butuh waktu lebih lama dari biasanya buat itu kejadian, kayak ada jeda aneh antara aku mikir mau gerak sama badanku beneran gerak.
Aku diemin aja, mikir itu efek capek dari kerja bakti pagi, terus merem lagi. Suara jangkrik di luar masih terdengar sama kayak malam-malam lainnya, dan angin dari celah jendela bambu masih dingin kayak biasa. Nggak ada yang kelihatan beda dari luar.
Besok paginya semua kerasa normal. Pipi udah nggak merah. Badan udah nggak berat. Aku ke sungai lagi kayak biasa, sekolah kayak biasa, dan hari itu lewat begitu aja tanpa ninggalin bekas apa-apa di kepalaku, selain satu hal kecil yang baru aku sadar belakangan: aku mulai lebih sering ngitung berapa lama aku bisa jalan sebelum kaki mulai kerasa aneh, tanpa aku sadar aku lagi ngitung itu.
Kalau ada yang tanya kapan semuanya dimulai, mungkin ini jawabannya: bukan satu hari besar dengan tanda yang jelas, tapi kumpulan hal-hal kecil yang masing-masing gampang banget dijelasin sendiri-sendiri. Capek karena kurang makan. Merah karena kepanasan. Berat badan karena kecapekan. Semuanya masuk akal kalau dilihat satu-satu.
Nggak ada yang nyangka kalau nanti, satu-satu hal kecil itu bakal numpuk jadi sesuatu yang nggak ada lagi yang bisa jelasin dengan gampang.