"Maksudnya apaan Sarka? Kenapa nama Metta dan Arial tertulis di buku lo itu? Dan kenapa ... Tulisan itu baunya kayak darah?" Pertanyaan dari bibir Edo membuat Sarka tidak bisa menjawab. Jangankan Edo, Sarka sebagai pemilik buku itu juga tidak tahu apa maksudnya. Sarka menggeleng berulang kali. Ia memeluk lututnya. Edo mendekat ke arah Sarka. Ia memegang kedua pundak sahabatnya itu. "Sar ... Bisa lo ngomong sesuatu sama gue? Itu apaan yang tertulis di sana? Gue butuh jawaban dari lo." Sarka masih saja diam. Bibirnya bergetar semakin kencang, wajah Sarka juga terlihat lebih pucat lagi. Ia menggeleng keras. Tubuhnya semakin dipenuhi oleh keringat. Edo dapat merasakan tubuh Sarka sangat dingin. Benar-benar ada yang tidak beres di sini. "Sar, lo kenapa? Kenapa sejak tadi lo diam aja ali

