bc

Di Antara Tugas Maut dan Hati Sang Penguasa

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
dark
love-triangle
family
HE
age gap
badboy
goodgirl
mafia
gangster
heir/heiress
drama
sweet
bxg
lighthearted
city
office/work place
childhood crush
like
intro-logo
Blurb

Titah gagal membunuh Afgansyah Reza dan kabur setelah meninggalkan ponselnya. Empat tahun kemudian, Afgan menemukannya kembali. Kini, pemburu dan buruan bertemu dalam permainan yang mematikan.

chap-preview
Free preview
Bab 1 - Sasaran yang Berbalik Menjadi Penjaring
Titah menatap lekat jalanan yang sunyi senyap di hadapannya. Pandangannya beralir ke kiri dan ke kanan, raut cemas tak bisa ia sembunyikan di wajah cantiknya. Di tangannya, sebuah senjata api rakitannya sendiri sudah siap digunakan. Berulang kali ia menurunkan dan menaikkan kaca mobil, memastikan tak ada satu pun mata yang mencurigai keberadaannya. "Sial! Kenapa lama sekali?" gerutunya kasar sambil menepuk kemudi. Matanya melirik jam di pergelangan tangan. Sudah pukul sepuluh malam. Mengapa target yang ia tunggu tak kunjung muncul? Langit di atasnya kini tertutup awan hitam pekat. Tak ada bintang yang bersinar, hanya guruh yang sesekali menggelegar memecah keheningan. "Sebentar lagi hujan akan turun. Aku harus menyelesaikan ini secepatnya," gumamnya pelan. Ia segera turun dari mobil. Dengan tenang, ia menyembunyikan senjatanya ke dalam saku blazer, lalu membuka kap mobil seolah sedang memeriksa kerusakan. Di luar ia tampak tenang, namun di dalam d**a, jantungnya berdegup kencang karena takut dan gelisah. "Jika misi ini gagal, bukan hanya pekerjaanku yang hilang. Nyawaku pun menjadi taruhannya," batinnya dengan wajah yang perlahan memucat. Tak lama kemudian, dari arah berlawanan tampak sebuah mobil sport mewah melaju kencang. Titah mengamati kendaraan itu saksama, hingga akhirnya senyum kemenangan terukir di bibirnya. Rasa takutnya seketika lenyap berganti tekad bulat. Ia membungkuk, pura-pura sibuk mengutak-atik bagian mesin. Pria yang mengemudikan mobil itu—seorang lelaki tampan bermata cokelat indah—perlahan menurunkan kecepatannya. Ia melihat sosok gadis yang tampak kebingungan di pinggir jalan sepi itu. "Gadis apa yang berani berada di tempat seperti ini malam-malam begini? Bukankah daerah ini dikenal rawan perampokan?" batinnya heran. Rasa penasaran membuatnya berhenti. Ia turun dan menghampiri gadis berblazer hitam itu. "Permisi, Nona. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya ramah. Titah menoleh seketika. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat sosok di hadapannya. Ia menelan ludah dengan susah payah. Inikah orang yang ditunggunya? "Siapa kamu?" tanyanya sambil mundur selangkah. "Saya hanya kebetulan lewat. Saya melihat Nona tampak kesulitan. Apakah ada kerusakan? Boleh saya bantu?" tawarnya lagi. "Tidak perlu," jawab Titah ketus. Pria itu justru tersenyum tipis. Ia mendekat ke arah kap mobil dan melihat sekilas. "Sepertinya ada kabel yang lepas, Nona. Biar saya perbaiki. Sambil menunggu, lebih baik Nona berdiri di dekat sini. Tempat ini sepi dan berbahaya jika Nona menjauh," ujarnya sambil mulai bekerja. "Baiklah," sahut Titah singkat, namun di sudut bibirnya terukir senyum yang aneh. Beberapa menit berlalu, mesin mobil pun berhasil dihidupkan kembali. "Selesai sudah," katanya sambil menepuk-nepuk debu di tangannya. "Terima kasih," jawab Titah masih dengan senyum itu. Perlahan ia memasukkan tangannya ke dalam saku blazer. "Eh, tidak usah dibayar. Saya menolong dengan ikhlas," tolak pria itu sopan. "Sekali lagi terima kasih... Tapi ini adalah bayaran yang paling pas untukmu." Setelah mengucap itu, tangan Titah meraih sesuatu dari dalam saku. Dor! Dor! Dor! Dor! Hembusan napas panjang keluar dari bibirnya. Titah meniup ujung laras pistol dengan senyum penuh kemenangan. Empat kali pelatuk ditarik, dan kini pria di hadapannya tergeletak bersimbah darah. Ia menembak tepat di kepala dan perut pria yang baru saja menolongnya itu. Afgansyah Reza—pria yang tampak berusia sekitar tiga puluh tujuh tahun—menatapnya dengan pandangan sayu. Tubuhnya yang lemah berusaha merangkak, tangannya gemetar meraih ujung pakaian Titah. "A... Apa yang ka...mu lakukan..." suaranya tersendat, nyaris tak terdengar di antara rintihan kesakitan. Dengan senyum getir, Titah berjongkok tepat di hadapan wajah pria yang mulai memucat itu. "Maafkan aku, Tuan Afgansyah Reza. Aku hanya menjalankan tugasku," bisiknya dingin. Mata Afgan terbelalak lebar. Namun ia hanya mampu mengerang pelan, menahan rasa sakit yang seolah meremukkan seluruh tulangnya. "Si... Siapa yang me...nyu...ruhmu?" tanyanya lagi dengan sisa tenaga yang ada. "Tentu saja salah satu musuh besarmu," jawab Titah santai sambil tersenyum miring. Keterkejutan kembali terpancar dari wajah Afgan. Tak lama kemudian, langit seolah ikut menangis. Hujan turun dengan deras, membasahi tubuh mereka berdua dan mulai menyapu darah di aspal. Tiba-tiba, suara sirine terdengar dari kejauhan. Wajah Titah seketika berubah pucat. Ia menoleh dan melihat Afgan justru menyunggingkan senyum tipis yang aneh ke arahnya. "Kurang ajar!" desis Titah marah saat suara itu semakin mendekat. Tak ingin tertangkap, ia segera bangkit dan berlari menuju mobilnya. Namun sebelum ia sempat melangkah jauh, tangan besar Afgan dengan kekuatan terakhirnya mencengkeram pergelangan tangannya. "Lepaskan!" pekik Titah memberontak. Namun cengkeraman itu tak terlepas. Sirine kini terdengar semakin nyaring dan dekat. Titah merasa dijebak. Tanpa pikir panjang, ia menendang tangan Afgan sekuat tenaga hingga pria itu meringis kesakitan dan melepaskan pegangannya. Ia bergegas membuka pintu mobil, namun sialnya ponselnya terlepas dan jatuh menggelinding ke jalanan yang mulai becek. "Sialan!" umpatnya panik. Ia sempat membungkuk hendak mengambilnya, namun deru kendaraan dan lampu sorot sudah terlihat tak jauh di belakangnya. Mobil polisi dan ambulans datang bersamaan. "Sial! Sudah terlambat!" Tanpa pilihan lain, Titah segera masuk ke dalam mobil dan melajukannya secepat kilat membelah rintik hujan di jalanan yang sepi. Hatinya mendidih menahan amarah. Ia memukul kemudi berkali-kali. "Semoga kau mati di sana, Afgansyah Reza!" * * Beberapa jam kemudian, Titah tiba di depan apartemen mewahnya. Dengan tangan gemetar ia mengetikkan sandi, lalu mendorong pintu hingga terbuka lebar. Ia melirik ke kiri dan kanan dengan waspada, lalu masuk dan membanting pintu kembali dengan kasar. Tempat ini adalah buah dari kerja kerasnya selama bertahun-tahun. Menjadi bagian dari jaringan gelap memberinya kemewahan yang tak bisa didapatkan orang biasa. Biasanya, ia merasa sangat aman di sini. Namun malam ini, suasana mewah itu justru terasa mencekam baginya. Dengan napas yang masih memburu, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Pikirannya berkecamuk tak karuan. Bayangan kejadian tadi terus berputar di kepalanya. Ia melepas blazer yang dikenakannya dan melemparnya sembarangan ke sudut ruangan. "Apakah dia benar-benar mati? Atau polisi berhasil menyelamatkannya? Bagaimana nasibnya sekarang? Arghh... Semoga saja Afgansyah Reza benar-benar binasa!" gerutunya gusar. Keragu-raguan itu terus menghantui benaknya. "Pria itu benar-benar menyusahkan hidupku," gumamnya seraya merogoh saku rok untuk mengambil ponsel. Ia berniat menghubungi pemimpin kelompoknya—yang tak lain adalah kakak sepupunya sendiri. Namun seketika wajahnya berubah pucat pasi. Tubuhnya lemas seketika, keringat dingin membasahi pelipisnya. "Ponselku... Di mana ponselku?" cicitnya panik. Ia teringat jelas. Benda itu terjatuh tepat di samping tubuh Afgan saat ia melarikan diri. "Ya Tuhan... Apa yang harus kulakukan?" isaknya tak berdaya. "Semua dataku ada di sana. Identitas, tugas, dan jejak pergerakanku. Bagaimana jika benda itu jatuh ke tangan polisi?" Rasa takut kini merayap memenuhi dadanya. "Aku harus pergi. Segera. Sebelum semuanya terlambat!" tekadnya bulat. Tanpa membuang waktu, ia segera mengemasi barang-barangnya ke dalam koper. Setelah memastikan tak ada satu pun jejak yang tertinggal, ia menyelinap keluar dari apartemen. Tujuannya kini hanya satu: Bandara Internasional. Ia harus meninggalkan negeri ini secepatnya. Dengan langkah tergesa ia masuk ke dalam mobil, lalu menginjak gas dalam-dalam. Ia melesat membelah jalanan Ibu Kota yang masih padat meski waktu sudah menunjukkan larut malam. Tak ada satu pun yang ia pikirkan saat ini selain keinginan untuk pergi sejauh mungkin. Ke mana ia akan mengarahkan langkahnya nanti, belum ia tentukan. Yang terpenting sekarang adalah menjauh dari sini—sebelum terlambat. Empat tahun kemudian... Tok... Tok... Tok... "Permisi, Tuan." Seorang pria melangkah masuk ke ruangan kerja yang luas itu. "Masuk," suara berat menjawab singkat dari balik meja besar. Pria berkemeja putih itu duduk di hadapan sang pimpinan, lalu menyodorkan sebuah map tebal beserta tumpukan dokumen. "Ini seluruh data yang Anda minta, Tuan." "Semuanya?" Mata sang pemimpin menatap tajam. "Benar, Tuan. Tak ada yang terlewat." Pria berjas rapi itu meraih map tersebut. Ia membolak-balik isinya perlahan, senyum penuh arti mulai terukir di bibirnya. Setelah menutup berkas itu, ia mengepalkan kedua tangannya erat. "Bagaimana, Tuan Afgansyah Reza? Apakah tugas saya sudah selesai?" tanya si asisten. "Hmm, sudah, Dimas. Kamu boleh pergi. Jika aku butuh sesuatu, aku akan memanggilmu," jawab Afgan tenang. "Baiklah, Tuan. Saya permisi." Dimas pun beranjak keluar. Setelah pintu tertutup rapat, Afgan kembali membuka map itu. Di lembar terakhir, terpampang jelas foto seorang gadis cantik. Gadis bermata sipit, hidung mancung, dengan tahi lalat kecil di alis kanan. Dalam foto itu, ia seolah menatap lurus tepat ke dalam mata Afgan. "Cantik... Sungguh cantik," bisik Afgan seraya mengusap permukaan foto itu lembut. Ia lalu membuka laci meja, mengeluarkan dua benda yang sudah lama ia simpan: sebuah jam tangan wanita dan sebuah ponsel yang sudah tak lagi baru. "Kini milikmu ada di tanganku. Tak lama lagi, kamupun akan berada di genggamanku," gumamnya dengan senyum sinis yang mencekam. Afgan bangkit berdiri, menatap ponsel di tangannya sambil menyeringai misterius. "Aku takkan berhenti sampai menemukanmu, Titah Kesumawardani." Ia melangkah keluar menuju lift, lalu turun ke lantai dasar menuju parkiran khusus eksekutif. Di sana menanti mobil sport hitam kesayangannya. Sebelum masuk, ia meraih ponselnya sendiri dan menekan satu nomor. "Halo, Satria... Atur semuanya. Aku segera ke sana. Baiklah." Sambungan terputus. Wajah tampannya bersinar penuh keyakinan. Ia masuk ke dalam mobil dan melajukannya menuju tujuan. "Kita akan segera bertemu, sayang..." Tiga puluh menit kemudian, ia tiba di sebuah restoran mewah. Para pelayan langsung membungkuk hormat saat melihatnya. "Selamat siang, Tuan Afgansyah Reza." "Hm," jawabnya singkat tanpa menoleh. Pandangannya menyapu seluruh ruangan, hingga akhirnya terhenti di satu sudut. Di sana, duduk seorang gadis berkacamata coklat yang sedang mengaduk minumannya sendirian. Afgan tersenyum lebar, lalu berjalan perlahan mendekatinya. Ia merapikan dasi sejenak, menarik napas dalam untuk menahan debaran yang tak biasa. "Ehm... Selamat siang, Titah." Gadis itu tersentak, menoleh perlahan. Matanya terbelalak tak percaya. Ia segera berdiri tegak, namun kakinya mendadak lemas. Mulutnya ternganga, tubuhnya gemetar hebat. Ia menunjuk ke arah pria itu dengan tangan gemetar, matanya memancarkan campuran rasa kaget, takut, dan kebencian yang mendalam. "Kamu...?!"

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
770.6K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.9M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
995.7K
bc

A Warrior's Second Chance

read
369.0K
bc

Not just, the Beta

read
353.7K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook