Malam Pertama Menjadi Pengasuh

1098 Words
Sesuai yang Ariana minta, Abimanyu duduk dan menunggu sampai Ariana selesai mandi. Ia duduk dengan posisi yang sama, bahkan posisi duduknya sama sekali tidak berubah. Masih dengan duduk tegak dan pandangan lurus kedepan. “Ya ampun, sepertinya dia benar-benar takut menjadi sapi.” gumam Ariana, lalu ia berjalan menuju tas kecil yang selalu ia bawa. Di dalam ada beberapa alat kosmetik miliknya. Ariana tidak berniat merias wajahnya, apalagi ia tak terlalu pandai merias diri. Namun, ia mengambil tas itu hanya untuk mengambil lipbalm miliknya. Pandangan Abimanyu terus tertuju pada Ariana, apapun yang Ariana lakukan, ia terus saja menatapnya. “Haissshh, ada apa dengan orang ini?” gumam Ariana, ia pun kembali memasukan lipbalmnya kedalam tas kecil itu. “Bersabarlah Ariana, ini adalah salah satu perjuangan untuk ibumu. Ibumu harus selamat. Dan selama orang ini tidak macan padamu, maka kau harus menjaganya dengan baik. Meskipun sebenarnya aku takut.” Ariana kembali melirik Abimanyu dengan ujung matanya, “Dia masih melihatku rupanya. “Arabella.” panggilnya. “Ya …” jawab Ariana, untuk sementara akan ia biarkan Abimanyu memanggilnya dengan nama itu. “Ayo tidur.” “T-tidur?” tanya Ariana kembali gugup. Abimanyu pun mengangguk, “Tidur … ganti baju.” ucapnya lagi. “Oh Tuhan, apa maksud semua ini. Apa ini artinya aku harus membantunya ganti baju, dan mengeloninya seperti bayi besar?” “Ayo …” ajaknya, lalu bangun dan mengajak Ariana untuk pergi ke kamarnya. Meski sebenarnya ia takut, tapi Ariana mengikuti kemana Abimanyu pergi. Dan saat pintu terbuka, ternyata di depan pintu kamarnya sudah ada beberapa pengawal yang berjaga. Saat melihat Ariana dan Abimanyu, mereka semua menunduk hormat. Lalu salah satu dari mereka pun kemudian berkata, “Kami diperintahkan oleh Nyonya untuk berjaga, jadi Nona tidak usah takut.” Demi apapun, Ariana senang mendengarnya. Merasa lega, karena ia tidak dibiarkan sendiri untuk mengurus Abimanyu. Mereka pasti berjaga, karena bisa saja sewaktu-waktu ia bisa saja mengamuk, bukan? “Baik, terima kasih.” jawab Ariana. Abimanyu menggandeng tangan Ariana lalu kemudian mengajaknya untuk pergi ke kamar. Para penjaga pun ikut serta di belakang mereka berdua, hingga Ariana pun menjadi tenang. Setidaknya jika Abimanyu marah atau terjadi sesuatu, akan ada orang yang menolongnya. Sesampainya di kamar, Abimanyu berbalik pada Ariana dan kemudian berkata. “Aku mau mandi.” “Mandi?” Oh Tuhan … semoga dia bisa mandi sendiri, harap Ariana. “K-kau bisa mandi sendiri ‘kan?” “Mandi.” ulangnya. “Aah baiklah … baiklah, kau mau mandi ‘kan?” Ariana pun membantu Abimanyu untuk membuka pakaiannya. Pertama jasnya, dilanjut dengan kemejanya. Dengan tangan gemetar Ariana membuka kancing kemeja pria ini satu persatu. Matanya setengah terbuka, sebab ia tidak berani melihatnya dari dekat. “Astaga … padahal dia kurang satu ons, tapi kenapa tubuhnya bagus sekali.” gumamnya saat ia dihadapkan dengan tubuh atletis Abimanyu. “S-sudah … sana mandi.” Ariana tersenyum seraya menunjuk ke arah kamar mandi. “Celana …” “Haaaahhh …? Kau juga mau aku yang membuka celanamu? Kau tidak malu? Astaga … aku lupa kalau dia agak gila, orang gila mana punya malu.” Ariana hanya bisa menggerutu kesal, apalagi para penjaga itu hanya diam dan tak melakukan apapun. Saat Abimanyu meminta Ariana untuk membuka celananya. “Fungsi mereka apa sih sebenarnya?” gerutu Ariana kesal. Ariana pun membantu Abimanyu untuk membuka celananya, kali ini ia memalingkan wajahnya takut kalau ada sesuatu yang tak boleh ia lihat akan menampakkan diri. “Sudah … cepat sana mandi.” Abimanyu lalu menarik Ariana dan kemudian membawanya ke kamar mandi. “Hei … aku mau dibawa kemana?” pekiknya terkejut. Abimanyu pun meminta Ariana untuk menyiapkan air karena ia ingin berendam air hangat. Ariana pun melakukan apa yang Abimanyu inginkan, ia menyiapkan air hangat, memasukkan aroma terapi dan juga sabun-sabun yang ada di sana. “Aku tidak tahu cara mandi orang kaya, apa yang harus aku masukan? Aah .. aku masukan saja semuanya.” Selesai menyiapkan air, Ariana berbalik lalu untuk mempersilahkan Abimanyu untuk mandi. Namun, Abimanyu malah melakukan hal yang seharusnya ia lakukan saat Ariana pergi keluar. “Aaaarkkhhh … apa yang kau lakukan? Astaga … kenapa tidak nanti saja buka celananya, huwaaaaaaaaa … mataku ternoda!” Ariana menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Dadanya berdegup kencang kala melihat Abimanyu bertingkah polos seperti bayi, ia berdiri di belakang Ariana tanpa mengenakan sehelai benang pun untuk menutupi tubuhnya. Namun, Abimanyu tidak memperdulikan pekikan Ariana. Ia malah masuk ke dalam bathtub dan berendam di sana. “Ibu, perjuangan untukmu sungguh luar biasa.” Ariana pun keluar dari kamar mandi dan memilih untuk menunggu Abimanyu di luar kamar. “Jangan katakan kalau dia tidak bisa mandi? Aku tidak mau memandikannya.” Ariana pun duduk di atas ranjang Abimanyu yang luas dan sangat empuk. Ia berdecak kagum saat melihat kamar Abimanyu yang begitu mewah. “Dia memang benar-benar orang kaya, sayang sekali … kenapa pikirannya harus terganggu. Dia pasti sangat tertekan.” Hampir lima belas menit Ariana menunggu, ia pun kembali ke kamar mandi untuk memastikan kalau Abimanyu telah selesai. Namun, baru saja ia akan masuk, Abimanyu muncul dengan keadaan seperti tadi, polos dan tidak mengenakan apapun. “Aaaarkkhhh, astaga … kenapa dia suka sekali memamerkan burung perkututnya! Ya Tuhan … lama-lama aku bisa gila, jika terus begini!” seru Ariana, lalu ia pergi mengambil handuk untuk menutupi tubuh Abimanyu. “Abi … kau harus menutupi tubuhmu. Kalau burungmu kabur nanti bagaimana?” ucap Ariana, lalu ia pun menuntun Abimanyu dan membantunya untuk berpakaian. Lebih baik ia membantunya, daripada ia harus melihat Abimanyu yang senang memperlakukan senjata pamungkasnya. Setelah semuanya selesai, Ariana meminta Abimanyu untuk tidur. Jujur saja ia sangat kelelahan hari ini, akan tetapi hatinya cukup lega setelah mengetahui kalau ibunya akan dioperasi besok. Semoga semuanya diberikan kelancaran, dan ibunya bisa sembuh seperti sedia kala. Meskipun ia harus membayarnya dengan cara mengurusi pria depresi. “Arabella, ayo tidur.” ajaknya. Ariana menggelengkan kepala, “Kau tidur duluan, aku belum mengantuk.” bohong Ariana, padahal sejak tadi ia terus menguap dan matanya berair saking menahan rasa kantuknya. “Tidurlah …” Abimanyu menepuk-nepuk sisi kasurnya yang kosong. “Kita tidak boleh tidur bersama, kita bukan suami istri.” tolak Ariana. Namun, Abimanyu tidak mau mendengarkan penolakan Ariana. Ia pun langsung menarik Ariana agar tidur di sampingnya. “Aaarkhh … !” Ariana hendak bangun, tapi tubuh Abimanyu malah menghimpitnya hingga Ariana kesulitan untuk bergerak. “Jangan begini! Aku mau tidur sendiri!” seru Ariana, tapi rupanya Abimanyu tetap tidak peduli. Ia malah membawa Ariana dalam pelukannya. “Lepaskan aku!” “Tidurlah.” “Tapi …” “Arabella … maafkan aku …” bisiknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD