Sebuah Kesepakatan

1304 Words
Ariana coba menghampiri pria aneh yang saat ini tengah berteriak di depan rumahnya. Abimanyu kini tengah dipegangi oleh kedua orang penjaga, dengan Syahima yang berusaha untuk membujuknya. “Maaf, apa yang kalian lakukan di sini?” Ariana bertanya pada mereka semua. Mendengar suara Ariana, Abimanyu langsung menoleh dan melihatnya dengan mata berbinar. Pria itu melepaskan pegangannya dari kedua penjaga dan kemudian berjalan menghampiri Ariana lalu memeluknya. “Arabella, kau dari mana saja, Sayang. Aku sudah bilang, jangan tinggalkan aku.” Abimanyu memeluknya dengan sangat erat, hingga Ariana kesulitan untuk bernafas. “Hei … aku tidak bisa bernafas!” Ariana memu-kul punggung Abimanyu dengan tangannya. Abimanyu pun melepaskan Ariana, tatapannya kembali sedih saat melihatnya, “Sayang, kenapa kau memu-kulku? Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?” ‘Memangnya sejak kapan aku mencintaimu?’ Ariana bergumam dalam hatinya. “Ariana, maaf …tadi saat Abi bangun dia langsung mencarimu. Dia mengamuk dan ingin bertemu denganmu.” ucap Syahima, jujur saja ia merasa tidak enak karena telah mengganggu kenyamanan Ariana. Wajahnya yang sangat mirip dengan Arabella ternyata telah menarik perhatian Abimanyu dan menjadikannya seperti ini. “Arabella.” panggil Abimanyu. “Maaf Mas Abi, tapi aku ada urusan makanya aku harus pergi.” “Kemana?” “Ke rumah sakit.” jawab Ariana. “Apa? Apa kau sakit lagi, mana yang sakit katakan padaku?” tanya sambil membolak-balikan tubuh Ariana. “Haisshh … aku bukan boneka Anabelle, jangan kau memegang aku seperti itu!” Ariana jelas marah, karena Abiamayu menyentuhnya seperti sedang memegang boneka saja. Ariana mengerti kalau ia memang agak gila. Akan tetapi, bukan berarti ia tak bisa membedakan manusia dan juga boneka, bukan? Astaga, Ariana lupa kalau otak Abimanyu ada sedikit gangguan. Apalagi saat ini pikiran Ariana sedang kacau, ia harus mencari uang yang sangat banyak untuk ibunya, karena besok harus dioperasi. Tapi malam ini ia bahkan belum memiliki uang, bahkan hanya untuk uang mukanya saja. Uang yang tadi ia dapatkan dari hasil penjualan bunga, hanya tinggal separuhnya saja, karena sebagian uangnya sudah ia gunakan untuk membayar biaya rumah sakit. “Maaf … “ ucap Abimanyu sambil menundukan kepala, hal itu malah membuat Ariana merasa bersalah. “S-udahlah, tidak apa-apa. Maafkan aku juga, saat ini aku tengah banyak pikiran.” jawabnya lalu menghela nafas panjang, “Maaf Nyonya, bolehkah aku masuk ke dalam. Aku ingin beristirahat.” “Kau jangan pergi!” seru Abimanyu tiba-tiba. “Aku tidak akan pergi, aku hanya ingin tidur … aku lelah.” ucap Ariana, meski mulutnya berkata demikian, tapi sesungguhnya malam ini Ariana yakin kalau ia tidak akan bisa tidur. Bagaimana ia bisa tidur kalau ibunya sendiri saat ini tengah berjuang antara hidup dan mati. “Ariana, bisa kau menamani Abimanyu sampai ia tidur? Aku akan membayarmu kalau perlu.” ucap Syahima, karena ia tahu kalau mengurus orang seperti Abimanyu akan membuat lelah mental dan fisik. Dan Syahima tidak akan menyia-nyiakan tenaga dan usaha Ariana untuk menolongnya. “Maaf, Nyonya. Tapi aku sedang dalam masalah aku tidak bisa membantumu.” akhirnya Ariana mengusap air matanya, sejak di rumah sakit ia sudah berusaha untuk menahannya. Tapi ternyata, air matanya luluh juga. Ariana tidak sekuat yang ia bayangkan. “Maaf … aku egois telah membawamu ke dalam masalahku. Aku hanya memikirkan aku dan juga putraku, maafkan aku Ariana.” ucap Syahima tulus. “Tidak apa-apa.” Ariana mencoba menghapus air matanya. Ia pun kemudian duduk di bangku yang ada di depan rumah yang menyatu dengan tokonya itu. “Arabella, kenapa kau menangis, Sayang?” Abimanyu berjongkok lalu mengusap air mata Ariana. “Ibuku sedang sakit, jadi aku sedih.” Ariana menjawab pertanyaan Abimanyu, meski sebenarnya ia enggan untuk berbicara dengannya. “Ibumu sakit?” Syahima pun ikut duduk bersama dengan Ariana. Arina mengangguk, “Ibuku sakit, dan harus dioperasi besok. Tapi aku … aku … bahkan aku belum memiliki uang untuk membayar biayanya. Dan jika sampai ibuku telah mati operasi maka ia akan kehilangan nyawanya. Entah apa yang harus aku lakukan, aku pulang karena aku ingin menjual rumah dan juga toko ini. Tapi aku bingung harus kemana aku menjualnya kan aku tahu jika tidak mudah untuk menjual rumah ini.” ungkap Ariana sambil menangis. “Kau perlu uang? Aku akan memberikanmu uang yang banyak.” ucap Abimanyu. “Terima kasih.” jawab Ariana, meskipun pria ini gila. Setidaknya ia mengerti kalau Arina sedang sangat membutuhkan uang. “Ariana … maafkan aku sebelumnya. Tapi aku punya penawaran untukmu.” Ariana menatap ke arah Syahima, “ Penawaran? Apa anda mau membeli rumahku?” tanya Ariana antusias. Syahima menggeleng kepalanya, “Tidak, Ariana … aku tidak akan membeli rumahmu. Tapi aku aku memiliki penawaran untukmu. Bagaimana kalau kau bekerja denganku untuk menjaga Abimanyu, aku lihat dia sangat bergantung padamu. Dan sebagai gantinya aku akan membiayai seluruh pengobatan ibumu sampai di sembuh. “A-apa? T-tapi …” “Kau tidak punya banyak waktu untuk berpikir, Ariana. Nyawa ibuku dipertaruhkan di sini.” ucap Syahima. Benar apa yang dikatakan oleh Syahima, jika ia tidak memiliki banyak waktu untuk berpikir. Nyawa ibunya sedang dalam bahaya, yang utama sekarang adalah keselamatan ibunya. “Baiklah, aku bersedia untuk menjaga Abimanyu.” Syahima tersenyum senang, akhirnya ada orang yang bisa membantunya untuk mengurusi Abimanyu. Karena sejujurnya selama ini ia pun hampir kewalahan karena mengurusnya. “Di rumah sakit mana ibumu berada?” — Setelah mengatakan dimana keberadaan ibunya, Syahima pun menyuruh orang untuk menyelesaikan semua Administrasi biaya pengobatan rumah sakit ibunya Ariana. Dan jika terjadi sesuatu maka orang itu harus menghubungi Syahima. Dan malam ini juga Ariana langsung dibawa ke kediaman keluarga Bimantara. Dimana selama ini Abimanyu tinggal. Sepanjang perjalanan Abimanyu tak mau lepas dari Ariana. Ia terus memegangi tangan Ariana, seolah takut kehilangannya. Sesampainya di rumah, pelayan pun mengantarkan Ariana ke kamar barunya. Dimana ia akan tidur selama ia tinggal di rumah itu. Ariana membawa tas yang berisi pakaian ganti untuknya. Ia ingin segera mandi dan membersihkan tubuhnya. Setelah seharian beraktivitas membuat Ariana tak nyaman dengan tubuh yang belum tersentuh air. Saat Ariana masuk, Abimanyu pun ikut masuk ke dalam kamarnya. Dan pria itu malah duduk di atas ranjang Ariana. “Eh ya ampun, sedang apa dia di sini?” gumam Ariana, ia lalu mendekat dan mencoba berbicara padanya dari otak ke hati. Karena otak Abimanyu sedang kurang berfungsi. “Mas Abi sedang apa di sini?” “Aku mau tidur denganmu.” “Apaaaaa???? Hei … hei, aku kemari untuk menjadi pelayan bukan untuk menjadi teman tidurmu!” seru Ariana terkejut dan panik, karena ada orang kurang waras yang mengajaknya untuk tidur bersama. “Aku rindu padamu.” ucapnya lagi. Ariana berusaha untuk menetralkan nafasnya, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Mencoba mengumpulkan kesabaran, dan berusaha untuk tenang, agar ia sadar kalau orang yang sedang ia hadapi adalah orang yang sedang mengalami depresi. “Tapi aku mau mandi dulu.” ucap Ariana mencoba untuk membujuknya. Agar ia keluar dari kamar. Tak lupa senyuman ia sematkan di wajah cantiknya. “Mandilah aku akan menunggu.” ‘Oh Tuhan, Bagaimana aku bisa mandi jika di kamarku ada seorang lelaki????’ “Tapi … keluarlah sebentar ya.” bujuk Ariana lagi. Abimanyu menggelengkan kepalanya, “Nanti kau pergi lagi.” sepertinya ia memang sangat takut kalau Ariana akan pergi meninggalkannya. “Tidak akan, aku tidak akan pergi. Oh Tuhan, kenapa ada makhluk seperti ini di dunia ini?” bahkan belum sehari ia bekerja tapi ia hampir dibuat gila. Sepertinya akan percuma dan sia-sia bicara dengan Abimanyu. Lebih baik ia mandi dan membawa baju ganti, lalu mengunci kamar mandi agar pria depresi ini tidak mengejarnya. “Baiklah, kalau begitu aku akan mandi dan kau jangan mengintip, kau mengerti?” Abimanyu mengangguk. “Bagus, ingat … jangan mengintip!” seru Ariana lalu berlari ke kamar mandi. Namun, sebelum ia menutup pintunya Ariana kembali mengingatkan Abimanyu untuk tidak mengintipnya yang akan mandi. “Jangan mengintip, duduk manis dan diamlah! Kalau kau berani mengintip kau akan berubah menjadi sapi, mengerti!!!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD