Harus Bagaimana?

1243 Words
“Maaf Nyonya, tapi namaku Ariana, bukan Arabella.” Ariana berusaha untuk bersikap sopan, setidaknya wanita ini terlihat normal tidak seperti pria yang saat ini tengah menggenggam tangannya sejak tadi. Wanita itu semakin berjalan mendekat ke arah Ariana, tatapan wajahnya terlihat penuh tanya. “Kau sangat mirip dengan Arabella.” ucapnya kemudian, setelah dilihat lagi Ariana memiliki mata berwarna hitam terang dan tampak indah. Sedangkan Arabella memiliki mata berwarna coklat yang cantik. “Kalian sangat mirip.” “Nyonya, aku …” Ariana memberikan kode pada wanita itu, kalau ia ingin terlepas dari pegangan pria aneh ini. Wanita itu mengerti, seraya mengulas senyumannya ia berbicara dengan lembut pada sang pria, “Abi … boleh Mama bicara sebentar dengannya?” tunjuknya pada Ariana. Pria yang dipanggil Abi itu langsung menggelengkan kepalanya, “Aku tidak bisa, aku tidak mau melepaskan Bella lagi. Kalau Bella terluka bagaimana? Aku tidak bisa … aku tidak bisa …” pria itu lantas terus menggelengkan kepala. “Baiklah, baik … Mama tidak akan memaksamu.” wanita itu pun kemudian mengajak mereka untuk duduk, dan meminta Ariana untuk bersabar sejenak. Arina yang mulai merasa ada kejanggalan pun akhirnya mengerti, kalau ada sesuatu dengan pria ini. Ia bukan pria normal pada umumnya. Entah apa yang terjadi, dan entah kenapa ia bersikap bersikap aneh. Apa memang bawaan lahir, ataukah ada sesuatu yang membuatnya hingga menjadi seperti ini. “Abi, kau harus minum obat sekarang.” “Aku tidak mau minum obat.” tolaknya. “Tapi kau harus minum obat, Nak.” bujuk sang ibu. “Tidak.” Wanita itu kemudian menatap Ariana, berharap agar ia mau membantunya membujuk Abi minum obat. “Emmm, Tu … Eh, maksudku Mas Abi, ayo minum obat.” ucap Ariana dengan lembut. Abi pun menoleh ke arah Ariana, “Minum obat?” “I-iya, minum obat supaya sehat.” jawab Ariana, tidak mungkin ia mengatakan kalau minum obat agar sembuh. Karena pria ini tampak sehat, kecuali otaknya. “Kau mau menemaniku minum obat?” tanya Abi. Ariana pun menatap ibunya Abi, dan wanita itu pun menganggukan kepala. “Aah, baiklah … aku temani.” jawabnya. “Baiklah kalau begitu, aku mau minum obat. Asal kau mau menemaniku.” “Tentu.” jawab Ariana. Wanita cantik yang bernama Syahima itu pun mengajak Ariana beserta Abi untuk pergi ke kamar. Di sana Abi minum obat, dengan bujukan Ariana tentunya. Dan tak lama setelah Abi minum obat, akhirnya ia pun tertidur dengan lelap. Dan Syahima pun mengajak Ariana untuk berbicara sebentar, di ruang tamu. Disana kedua wanita itu duduk saling berhadapan. “Boleh kita bicara sebentar?” “Tapi …” “Kau tidak perlu khawatir, aku akan meminta sopir untuk mengantarmu pulang.’ “Begini, sebenarnya ibuku sedang sakit. Aku harus segera pulang untuk melihat keadaannya, jujur saja aku cemas.” ungkap Ariana. “Aku mengerti,” jawab Syahima, “Siapa namamu?” “Ariana.” “Nama yang cantik.” “Terima kasih.” “Ariana, aku hanya ingin minta maaf padamu atas sikap putraku. Maaf … aku tahu kau pasti merasa aneh dengan sikapnya kan?” Ariana mengangguk, “Sejujurnya, iya …” Syahima lantas tersenyum, “Nama putraku adalah Abimanyu, dulu dia tidak begitu. Namun, setelah kekasihnya kecelakaan ia menjadi seperti ini.” “Apa maksud Nyonya, gadis yang bernama Arabella?” “Benar, dia sangat mirip denganmu. Wajah kalian bahkan sama, hanya mata kalian yang berbeda.” jawabnya. “Sangat kebetulan ya?” “Benar.” sebenarnya Syahima agak merasa aneh, dan penasaran dengan Ariana. Ia ingin bertanya banyak, akan tetapi barusan ia berkata kalau ibunya sedang sakit, jadi ia menahannya dan akan mencari tahu sendiri nanti, “Abimanyu putraku, dia mengalami depresi karena merasa bersalah atas kecelakaan yang menimpa Arabella. Setiap hari ia menyalahkan dirinya, karena telah membuat Arabella terluka.parah Dia sangat tertekan.” Ariana mengerti sekarang, kenapa pria itu bersikap aneh. Dan memanggilnya dengan sebutan Arabella. “Lalu … bagaimana dengan keadaan Arabella?” tanya Ariana penasaran. Dan jangan katakan kalau gadis itu meninggal. “Arabella mengalami koma, dan bahkan sejak lama hampir satu tahun lamanya.” “Apa?” Ariana pun terkejut mendengarnya. Syahima menghela nafas berat, “Kejadian buruk ini menekan mental Abimanyu. Ia depresi karena dihantui rasa bersalah. Setiap hari ia akan pergi keluar untuk mencari Arabella.” “Tapi Nyonya, bukankah Arabella mengalami koma. Tuan Abimanyu masih bisa menemuinya dan mengobati rasa rindunya.” ucap Ariana. Syahima menggelengkan kepala, “Setelah kejadian itu, keluarga Arabella mengecam dan menyalahkan Abimanyu atas apa yang terjadi padanya. Bahkan mereka pun memutuskan sepihak pertunangan antara Abimanyu dan juga Arabella. Karena Abimanyu dianggap sebagai penjahat yang telah melukai putri mereka.” “Aah, ini hubungan yang rumit.” gumam Ariana. Setelah berbincang sebentar Ariana pun berpamitan pulang, ia cemas karena harus meninggalkan ibunya yang sedang sakit di rumah sendirian. — Ariana pulang dengan diantar oleh supir sampai ke rumah, hari ini adalah hari yang aneh untuknya. Namun, ia senang karena jualannya habis dan bisa mendapatkan keuntungan. Mungkin besok ia akan pergi untuk berbelanja dan mengisi tokonya lagi. Namun, sekarang yang terpenting adalah ia membawa ibunya berobat dulu. Sesampainya di rumah, Ariana melihat ibunya tengah meringis kesakitan. Dan dengan setengah berlari Ariana menghampiri ibunya. “Bu …” panggilnya, ia merasa bersalah karena telah meninggalkan ibunya. “Ar …” panggilnya dengan nafas tersengal. “Kita ke rumah sakit sekarang!” serunya lalu dengan cepat Ariana membawa ibunya ke rumah sakit. — Sesampainya disana ibunya Ariana langsung diperiksa, dan dengan perasaan panik Ariana hanya bisa menunggu keputusan dokter tentang bagaimana keadaan ibunya. Cukup lama ia menunggu ibunya diperiksa, dokter pun kemudian keluar untuk memberitahukan bagaimana kondisinya saat ini. “Dokter, bagaimana keadaan Ibuku? Dia baik-baik saja kan?” tanya Ariana dengan panik. Dokter membuka masker yang ia kenakan, lalu mengajak Ariana untuk bicara di ruangannya. Setelah berada di ruangan dokter, Ariana duduk dan bersiap mendengarkan penjelasan dokter. Meski sebenarnya hatinya tak tenang dan firasat buruk tengah menerpanya saat ini. “Dokter …” “Operasi harus segera dilakukan, ginjal pasien sudah terinfeksi parah. Dan transplantasi harus segera dilakukan.” “A-apa?” seketika tubuhnya lemas mendengar kabar buruk ini. “Jika tidak dilakukan dengan cepat, maka nyawanya akan terancam.” “Tapi …” “Kami sudah mendapatkan donornya, Nona hanya tinggal mengurus administrasinya saja.” Ariana hanya mengangguk, ia bahkan bingung harus melakukan apa. Sebab, uang yang ia miliki masih kurang untuk membiayai pengobatan ibunya. Apa ia harus menjual rumah dan juga tokonya? Tapi menjual rumah tidak akan semudah itu, dan kalau ia menjual tokonya bagaimana ia akan mencari nafkah nantinya. Ya Tuhan, apa yang harus ia lakukan sekarang? Dengan langkah gontai Ariana berjalan menuju bagian administrasi. Dan betapa terkejutnya saat ia melihat nominal uang yang harus didapatkan dengan hanya satu malam. “Ya Tuhan, ini bukan negeri dongeng bagaimana bisa aku mendapatkan uang sebanyak ini hanya dalam satu malam.” gumamnya sambil berjalan menuju keluar untuk pulang. Ariana pun pulang menuju rumah, tak ada jalan lain ia harus menjual rumah dan juga tokonya. Tapi pada siapa? Tidak mudah menjual rumah. Dengan naik kendaraan roda dua yang ia pesan di aplikasi, Ariana dengan segera menuju ke rumah. Berharap ada benda yang bisa dijual dengan cepat, agar ia bisa mengumpulkan uang untuk operasi ibunya. Namun, baru saja ia sampai di depan rumah yang satu bangunan dengan tokonya itu. Ia melihat pria aneh yang ia temui tadi siang. kini tengah berteriak di depan rumahnya. “Sedang apa dia?” “Arabella, buka pintunya!!! Aku mau bertemu denganmu!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD