“Arabella,” panggil seorang pria pada seorang gadis di sebuah toko bunga.
Gadis cantik yang sedang menata bunga itu pun menoleh, “Maaf, Tuan. Tapi namaku Ariana.” jawab gadis itu dengan ramah.
“Tidak, kau Arabella. Kau kekasihku, kau calon istriku. Ayo, Sayang kita menikah … sudah lama sekali aku menunggumu.” ucap pria itu lagi sambil memegang tangan Ariana dengan agak menariknya.
Gadis yang bernama Ariana itu pun mulai takut, dan mencoba melepaskan pegangan tangan yang tidak ia kenal itu. Jujur saja, meski penampilannya tampak sangat rapi dan sepertinya di bukan orang sembarangan. Namun, pria itu terlihat menakutkan karena ia terus memaksa Ariana untuk pergi bersama dengannya.
“Maaf, Tuan. Anda pasti salah orang, namaku Ariana dan bukan Arabella.” tukasnya.
“Kau Arabella, kau adalah Arabella-ku. Kau adalah kekasihku, ayo Sayang… kita pulang!” serunya sembari terus memaksanya.
“Oh ya ampun, kau orang gil4 ya!” seru Ariana sambil terus memaksa mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman pria tak dikenal itu.
“Ayo kita pulang!”
“Aku tidak mau ikut denganmu!” seru Ariana lalu mengambil alat penyiram bunga, dan memu-kulkannya pada kepala pria itu.
Dughh …
“Aarrghhh …” pria itu memekik kesakitan.
“Lain kali jika kau kurang a-jar lagi, aku tidak akan segan-segan untuk memu-kul kepalamu itu!”
“Tuan muda!” seseorang berlari menuju pria itu dan kemudian menatap Ariana dengan tajam. “Apa yang kau lakukan pada Tuan muda kami?”
“Hanya memu-kulnya dengan ini.” jawab Ariana sambil memperlihatkan penyiram bunga yang masih ia pegang. Untuk berjaga-jaga, kalau pria ini kembali menariknya. Maka Ariana akan kembali melancarkan serangannya.
“Apa kau tahu, jika Tuan muda kami ini sangat berharga! Tidak seharusnya kau bersikap seperti itu!” bentaknya pada Ariana.
Bughhhh …
Pria itu pun kemudian malah balik memu-kul orang yang barusan memanggilnya Tuan muda.
“Berani sekali kau berbuat kasar pada kekasihku!” kini giliran pria aneh itu yang berteriak marah.
“Tapi Tuan muda …”
Pria itu tidak memperdulikannya, fokusnya kembali pada Ariana. Gadis yang membuat hatinya senang, dan juga merasa hangat dan nyaman. Setelah sekian lama pria itu seolah kehilangan kebahagiaan. Dan kini, ia mendapatkan kebahagiaannya kembali setelah melihat Ariana.
“Sayang, kau tidak apa-apa?” tanyanya pada Ariana.
Ariana pun menggeleng, “A-ku tidak apa-apa, sebaiknya kau pergi saja. Janganlah mengganggu orang sedang mengais rejeki, aku sedang mengumpulkan banyak uang untuk biaya pengobatan ibuku. Dan aku harap kau pergi, dan jangan menggangguku.”
“Kau butuh uang? Berapa? Akan aku berikan untukmu sekarang juga.” ucapnya.
Ariana mengibaskan tangannya menolak, “Tidak terima kasih, sebaiknya kau pergi, Tuan. Kecuali kau mau membeli semua bungaku. Maka aku akan melayanimu!”
Ariana yang kesal pun kemudian hendak pergi meninggalkannya. Namun, pria itu malah kembali menarik tangan Ariana.
“Aku akan membeli semua bungamu, tapi kau harus mengantarnya ke rumahku.”
“Haaaahhh … kau bercanda?”
Pria itu menggelengkan, lalu meminta pria yang tadi bersamanya untuk membayar semua bunga yang ada di toko bunga milik Ariana.
Pria itu pun kemudian menoleh pada pelayan yang menjaganya, “Bayar semua bunga ini.”
“Baik, Tuan muda.” jawabnya sambil menganggukkan kepala, “Nona, berikan nomor rekeningmu padaku, aku akan membayar semua bunga-bunga ini.” ucapnya tanpa berpikir dulu dan langsung akan membayarnya. Siapa sebenarnya orang-orang ini.
“A-apa? K-kau yakin?” tanya Ariana tak percaya.
Pria itu pun kemudian mengangguk, “Iya, apapun untuk keinginan Tuan muda.”
Antara percaya dan tak percaya, Ariana menggelengkan kepala. Apa ini adalah sebuah rejeki atau bagaimana, yang jelas jika semua bunganya dibeli maka ia sungguh sangat senang.
“Sebentar aku hitung dulu.” jawab Ariana, lalu gadis itu pun mulai menghitung bunga-bunga yang ada di tokonya. Bunga yang ada cukup banyak dan juga memiliki banyak ragam jenis. Membutuhkan waktu untuk menghitung semua itu.
Sambil menunggu Ariana menghitung bunga-bunganya, Ariana pun membuatkan kopi untuk kedua pria itu.
Dan Ariana mulai kembali menghitung semua bunga yang ada di tokonya. Sambil sesekali ia mengintip ke arah pria aneh itu, Ariana kembali mencatat. “Astaga … sejak tadi dia terus saja melihatku, apa dia gila?” gumam Ariana, “Dia bahkan lebih menyeramkan dibanding tuyul.”
Hingga hampir satu jam, akhirnya semua bunga sudah dihitung. Bahkan sudah dinaikkan ke atas mobil, dibantu oleh salah satu pedagang di samping toko Ariana, yang memang memiliki mobil pengangkut. Beruntung, tetangganya yang sesama penjual itu mau membantu Ariana. Dengan mendapatkan upah tentunya.
Pria tadi juga sudah membayar semua bunga-bunga yang ada di toko Ariana. “Baiklah, terima kasih, Nona. Maaf sudah membuat anda tidak nyaman.”
“Tidak apa-apa,” jawab Ariana, lagi pula kalau direpotkan dak akhirnya ia mendapatkan keuntungan maka ia pun tak akan menolak, bukankah begitu?
“Arabella, ayo ikut pulang bersamaku.” ajak pria aneh itu.
“A-apa? A-ku kan harus menjaga toko.”
“Tapi daganganmu sudah habis, ikutlah pulang denganku.”ucapnya sambil mengulurkan tangan.
Ariana menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Bagaimana ini.”
Pria yang merupakan pelayan pria aneh itu pun kemudian berbisik, “Nona, anda ikut saja dulu. Nanti, aku akan membantumu untuk bisa pergi.”
“Kau yakin?” tanya Ariana ragu.
“Tetanggamu juga ikut, kan?”
Benar juga tetangganya juga ikut, akhirnya Ariana pun setuju ikut dengan pergi dengan pria aneh itu. Namun, saat ia akan ikut naik mobil bersama dengan mobil yang mengantarkan barang. Pria aneh itu malah menarik Ariana masuk ke dalam mobilnya.
“Eh tunggu dulu!” pekik Ariana.
“Sayang, jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu.” ucapnya dengan sangat sedih, membuat Ariana tak tega dibuatnya.
“Baiklah, tapi kau jangan macam-macam! Jangan menyen-tuhku!”
“Baik.” jawab pria itu menurut.
Sepanjang perjalanan, si pria aneh tak berhenti untuk menatapnya. Terkadang matanya terlihat ceria, terkadang menatapnya dengan tatapan sayu,terkadang juga tampak sangat bersedih. Aneh sekali…
“ Apa di orang gila atau memang dia tidak waras? Kenapa dia terus bersikap aneh? Ya Tuhan, lindungilah hamba-Mu ini. Aku ini orang baik ,Tuhan. Jagalah aku dari serangan orang aneh ini.”
Ariana hanya mampu membatin, sampai akhirnya. Mereka pun sampai di sebuah rumah mewah. Rumah yang sangat besar dan memiliki halaman yang sangat luas. Bahkan jarak dari gerbang menuju rumah pun, jaraknya cukup jauh dan pasti akan melelahkan kalau harus bolak-balik jalan kaki.
“Pantas saja dia membeli bunga yang banyak, halamannya luas begini.” gumam Ariana.
Setelah berada di depan rumah, Ariana pun ikut turun dan akan ikut membantu menurunkan bunga-bunga itu. Namun, tangannya kembali ditarik oleh si pria, untuk masuk ke dalam rumah.
“Hei … kau mau membawaku kemana?”
Pria aneh itu terus mencengkram tangan Ariana, sampai mereka masuk ke dalam rumah. Dan di dalam rumah itu tampak seorang wanita yang jika dilihat usianya tak berbeda jauh dengan ibunya Ariana. Wanita itu terlihat begitu cantik dan Elegan. Ia terbangun saat melihat Ariana digandeng oleh tangan si pria.
Sama halnya seperti si pria aneh, wanita itupun memanggil Ariana dengan sebutan …
“Arabella, kau …”
“Kenapa orang-orang ini memanggilku dengan nama itu? Siapa Arabella? Aku Ariana …!!!”