Lorong Sendu

1358 Words
Waktu menunjukan jam 15.30 terlihat di dinding depan kantor guru, terdengar suara bel istirahat meraung kencang.  Itu adalah tanda bagi siswa untuk  beristirahat. Suara riuh keluar dari kelas masing-masing, muka-muka kusut siswa berubah menjadi ceria.  Beberapa dari mereka tergopoh menuju WC yang ada di samping ruang Tata Usaha, nampaknya mereka sejak tadi di dalam kelas sudah kebelet. Beberapa siswi keluar kelas dengan membawa mukena di tangannya, nampaknya selain beristirahat mereka juga akan menjalankan salat Asar. Biasanya mereka ada yang menjalankan salat dulu baru beristirahat  ada juga yang melakukan kebalikannya. Terlihat Aldi berjalan mengikuti langkah kakak kelasnya, Rifal dan Nina yang bersisian. Bersama mereka juga ada Lukman yang berjalan di samping Aldi. Dia adalah teman sekelas Rifal dan Nina yang juga merupakan anggota paskibra Panca Asas. “Kak Lukman,” ujar seorang siswi yang berdiri di depan kelas yang ada di belakang ring basket. Siswi itu berbadan agak gemuk dan tidak terlalu tinggi badannya, nampaknya dia sejak tadi memang menunggu Lukman lewat samping kelasnya. Lukman menoleh ke arah suara yang memanggil namanya tersebut, sebuah senyuman menyambutnya yang tersemat di wajah siswi itu. “Ciyeee,” ujar Rifal dan Nina hampir bersamaan. Mereka tertawa melihat adik kelasnya itu digoda oleh penggemarnya, Talisa siswi kelas 10 IPA. “Ciyeee, Kak Lukman tuh istrinya manggil.” Aldi menimpali seloroh kakak kelasnya itu. Yang digoda tersenyum kecut, terlihat gurat malu dan jengah di wajahnya. “Kak Lukman?” ujar Talisa lagi kali ini dengan nada agak tinggi. Lukman tidak hirau dengan panggilan itu, dia mempercepat langkahnya. Siswa anggota Paskibra Panca Asas itu  meninggalkan ketiga temannya yang tadi berjalan beriringan bersamanya. Sekarang hanya tinggal Aldi, Rifal dan Nina yang berjalan bersama, meneruskan langkah menaiki anak tangga. Mereka menuju lorong yang tembus ke lapangan tengah. Lorong itu ada di samping gedung dua, menghubungkan antara lapangan tengah dan lapangan belakang yang ada di komplek gedung tiga. Lapangan tengah berdekatan dengan kantin sekolah di mana biasanya siswa menghabiskan waktu istirahatnya di sana setelah salat Asar. Walaupun beberapa dari mereka sepertinya sengaja tidak mengerjakan salah satu kewajiban lima waktunya. Aldi berjalan di belakang mengikuti kedua kakak kelasnya itu Mereka berpapasan dengan dua orang siswi di lorong tersebut, Ayu dan Dina. Nampaknya mereka baru saja membeli makanan di kantin, terlihat di tangan Dina yang membawa gorengan dan air mineral dingin yang dibawa di kantong plastik.  “Al,” sapa Ayu sambil merayapi wajah Aldi dengan kedua matanya. Danton paskibra itu berhenti, dia diam menatap sosok yang memanggilnya itu. Aldi menunggu kata apa yang akan meluncur selanjutnya. Rifal dan Nina menunggu adik kelasnya itu, apakah dia akan beristirahat bareng atau memilih untuk sedikit bercakap dengan siswi yang memanggil namanya tersebut. “Kak Rifal, Kak Nina duluan aja, nggak apa-apa,” ujar Aldi. Dia merasa tidak enak membiarkan dua sejoli itu menunggu, dirinya yang juga sedang menunggu Ayu untuk bercakap dengannya atau tidak. “Oke deh kalau begitu, kita duluan ya, Al,” ujar Rifal yang lalu mengajak Nina untuk berlalu dari sana. Sekarang hanya tersisa Aldi, Ayu dan Dina di lorong itu. Suasana hening sesaat, Ayu memang ada yang akan disampaikan untuk Danton Paskibra itu yang berdiri di hadapannya, namun dia merasa tidak nyaman dengan masih adanya Dina yag ada di dekatnya. Dina melihat gelagat dari sahabat baiknya itu, dia tidak mau mengganggu momen yang mungkin saja sudah dinantikan oleh mereka sejak lama.  “Ayu, kayaknya gue duluan aja ya? Kalian sepertinya butuh waktu yang agak privasi,” ujar Dina seraya menatap sahabatnya itu.  “Sampai ketemu di kelas ya entar, Din,” ujar Ayu. Dia melambaikan tangannya ke arah Dina yang hanya menyisakan punggungnya pergi menjauh. Sekarang tersisa dua orang siswa di lorong, Ayu mendekati Aldi yang masih berdiri mematung satu meter di depannya. Setelah hanya berjarak  setengah meter Ayu menghentikan langkahnya, dia lalu bersandar ke tembok berwarna hijau lumut itu. Aldi pun melakukan hal yang sama. “Al,” ujar Ayu sambil menoleh ke pemuda yang ada di sebelahnya. Aldi menatap makhluk berwajah bulat di sampingnya, mulutnya tidak berkata sepatah katapun, hanya matanya saja menatap tajam. Ayu menelan ludah saat matanya tak sengaja beradu dengan siswa beralis tebal itu. “Al, please. Sampai kapan kamu akan membisu seperti ini? I miss you so much,” ujar Ayu lagi. Sosok di sampingnya masih diam, matanya masih menatap lekat.” Sampai kapan kamu akan membisu seperti ini?” Aldi tetap membisu, tidak ada satu hurufpun yang keluar dari mulutnya untuk menanggapi kalimat yang diucapkan oleh siswi berwajah bulat itu.  Lima orang siswi melewati lorong di mana dua insan itu sedang bersandar,  di tangan mereka terlihat membawa makanan dari kantin, suara cekikikan bahkan terdengar sebelum melewati lorong. Mereka  adalah siswa kelas 12 IPA, sekelas dengan Rifal dan Nina namun hanya beda tongkrongan.  “Kak, ” sapa Aldi ke arah mereka, dia mengangguk sopan ke arah Kakak-kakak kelasnya itu. Sapaan itu dijawab senyuman oleh salah satu dari mereka, sisanya tidak peduli. Salah satu dari mereka yang bertubuh lebih tinggi dari teman-temannya, melihat Ayu dengan sudut matanya dengan sinis. Ayu menunduk, menunggu kelima kakak kelasnya itu melewati lorong. “Yang baru datang disapa, Al. Sedangkan aku, yang ada di sini menunggu kamu berucap sepatah kata diabaikan sejak tadi,” ujar Ayu pelan seraya menghela napas panjang. Siswi itu beranjak dari tempatnya berdiri, lalu melangkahkan kakinya menuju ujung lorong yang menuju ke kelas. Mungkin dia berpikir percuma berharap lebih dari Aldi selain hanya kebisuan yang dia sajikan. “Ay ....” Terdengar suara Aldi memanggil, Ayu menghentikan langkahnya, tanpa membalikkan badannya dia menunggu kata apa lagi yang akan didengarnya.  Tapi penantiannya percuma, tidak terdengar kata selanjutnya yang menyusul dari mulut Aldi. Ayu membalikkan badannya, terlihat sosok yang ditunggu bersuara itu masih bersandar di tembok lorong dengan wajah tertunduk. Dia memutuskan untuk mendekati lagi siswa yang sejak tadi ingin sekali diajaknya bercengkerama. “Al, aku lebih senang kamu bersuara walaupun kalimat itu akan menusuk dan menyayat. Dari pada kamu membisu seperti ini, bicaralah. Aku tahu kamu benci aku, aku tahu mungkin kamu jijik dengan apa yang sudah terjadi. Tapi yang kamu bayangkan terlalu jauh. Aku membutuhkan kamu untuk tetap bisa menyemangati, berhentilah membisu.” Ayu lebih mendekat lagi, lalu dia menyandarkan badannya ke tembok tepat di mana Aldi bersandar. Siswi itu menghela napas panjang, berusaha mengikis gulana hatinya. “Al, entah ini pantas atau tidak untukku melakukannya, aku ingin sekali meminta maaf atas semua yang sudah kulakukan. Aku tahu mungkin aku tidak pantas untuk melakukannya, tidak layak dengan apa yang sudah terjadi di antara kita. Mungkin kamu benci aku dan jijik melihatku. Tapi, tolong maafkan aku,” ujar Ayu. Kalimat itu terdengar seperti sudah dipersiapkan sebelumnya oleh siswi berwajah bulat itu. Aldi menatap sosok di sampingnya. Ayu menunduk, dia tidak menyangka Aldi akan memberikan respons atas kalimatnya, walau hanya sekadar menoleh. “Aku tidak pernah membencimu, tidak pernah sedetikpun,” ujar Aldi. Kalimat itu membuat mata Ayu berbinar, seperti ada secercah harapan di sana. “Al ....” Aldi meletakkan telunjuknya di depan bibir siswi berwajah bulat itu, dia memberi isyarat untuk Ayu supaya tidak memberikan reaksi dulu atas kalimat yang diucapkannya. “Aku tidak pernah membencimu, tapi jangan berharap lebih dari itu. Aku tetap menjagamu dalam hati sebagai sosok yang pernah hadir, sebagai orang yang pernah mengisi hari-hari dengan sangat sempurna.” “Terima kasih, Al. Tolong izinkan aku tetap mengisi hatimu di masa-masa yang akan datang,” ujar Ayu seraya menatap sosok di depannya dengan dalam. Aldi tersenyum getir mendengar permintaan Ayu, dia menggelengkan kepalanya. Dia menelan ludah, berusaha mengendalikanapa yang bergejolak dalam dadanya. “Astaga, si Aldi masih ada di sini. Belum salat lu ya?” Terdengar suara Rifal di lorong tiba-tiba, suara itu mengejutkan mereka. Suara itu sontak membuyarkan sendu di lorong itu. “Sedikit lagi bel, Al. Nanti nggak keburu salat.” Nina menimpali seraya berlalu dengan Rifal, melewati mereka yang terjebak dalam suasana serba salah. Aldi melihat jam tangannya, lima menit lagi bel masuk kembali akan berbunyi, dia terkesiap. “Aku pergi dulu, belum salat Asar,” ujar Aldi seraya membalikkan badannya menuju ke luar lorong. “Al .....” suara Ayu sejenak menahannya, Aldi menoleh. “ Aku chat kamu sepulang sekolah,  boleh ya?” Aldi tidak memberikan tanggapan, dia berlalu meninggalkan Ayu yang menatapnya menjauh keluar dari lorong.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD