Sebuah Fakta
Tubuh Elena menegang, jantungnya serasa berdetak tiga kali lebih cepat dari biasanya, nafasnya tercekat di tenggorokan, dan seluruh otot kakinya terasa kaku dari arah dia berdiri.
Bagaimana tidak, Ozan... Laki-laki yang sangat dia cintai, dan sudah menikahinya lebih dari satu tahun ini justru mengatakan sesuatu yang membuat seluruh keyakinannya runtuh dan hancur berkeping-keping.
Laki-laki yang membuat Elena merasakan kehangatan setelah begitu banyak ketidakadilan yang dia dapatkan dari keluarganya , ayah dan ketiga saudaranya.
Laki-laki yang membuat Elena percaya jika akan ada pelangi setelah badai.
Laki-laki yang selalu meyakinkan Elena bahwasanya dirinya special, dan layak mendapatkan cinta.
Laki-laki yang selalu bersikap lembut, penuh cinta, dan selalu mengusahakan yang terbaik untuknya.
Laki-laki yang sudah menikahinya, dan meyakinkan dirinya untuk melahirkan keturunannya.
Laki-laki yang selalu mendekapnya hangat , menjaga nyenyak tidurnya, dan membuatnya merasa di lindungi dari kerasnya hidup ini. Namun malam ini Elena mendapatkan fakta bahwasanya semua kehangatan, kenyamanan, perhatian, cinta dan perlindungan itu hanya sebuah sandiwara belaka.
Iya... Semua itu hanya sebuah kepura-puraan, bukan karena rasa cinta, iba, atau sebagainya... tapi demi seseorang yang selalu menjadi berlian berharga di keluarganya. Gracia. Kakak perempuan Elena sendiri.
"Berapa lama lagi kamu akan mempertahankan sandiwara ini, Ozan?" ucapnya yang justru terdengar ambigu di telinga Elena.
Jantung Elena berdegup pelan. "Sandiwara? Apa maksud ucapan kak Arlon?" Batin Elena sambil meremas sisi gaun tidur yang dia gunakan.
Elena menyadarkan bahunya di sisi dinding samping pintu, dan tanpa sadar, jemarinya juga menggenggam nampan kopi itu lebih erat, seolah nampan itu bisa dia gunakan sebagai pegangan untuk menguatkan dirinya.
Tubuhnya masih membeku di tempatnya. Kalimat yang baru saja keluar dari mulut suaminya, Ozan seolah berubah menjadi ribuan jarum yang menusuk dadanya secara bertubi-tubi dan tanpa ampun.
"Aku tidak punya pilihan," jawab Ozan.
Suara laki-laki itu terdengar berat. Sangat berat, dan dari nada suaranya Ozan terdengar begitu lemah dan pasrah.
"Apa kamu tahu, Gracia akan semakin tertekan melihatmu hidup bersama Elena? Kau tahu dia sangat mencintaimu sejak dulu, tapi melihat kemesraan kamu dan Elena, bisa saja menjadi racun tidak kasat mata untuk Gracia sendiri!" ucap Arlon setelahnya.
Elena langsung membeku. Darahnya terasa berhenti mengalir. "Gracia...? Mencintai Ozan?" ucap Elena dengan sangat lirih dan nyaris seperti bisikan. Elina benar-benar tidak percaya apa yang baru saja dia dengar. Bagaimana mungkin Gracia selama ini mencintai Ozan tapi dirinya bahkan tidak tahu. Lalu... Apa hubungannya semua itu dengan dirinya?
"Aku tahu," jawab Ozan terdengar lirih. "Tapi semuanya sudah terlambat. Aku benar-benar tidak punya pilihan, dan kamu juga tahu itu!" sambung Ozan terdengar lemah.
"Terlambat?" Arlon tertawa sinis.
"Kalau bukan demi menyelamatkan Gracia, aku bahkan tidak akan pernah melirik Elena," ucap Ozan lagi.
Nampan di tangan Elena bergetar. Cangkir kopi di atas nampan itu berdenting pelan. Beruntung suara itu tertutup oleh percakapan di dalam ruangan itu.
Elena merasa telinganya berdengung. Dia ingin pergi. Dia ingin berlari. Namun kakinya seakan tertancap kuat di lantai. Dia tidak mampu bergerak sedikit pun.
"Kamu bahkan tahu jika aku tidak pernah mencintai Elena," ucap Ozan lagi, yang mana kata-kata itu bagai sayatan pedang di bilik hati Elena.
Kalimat itu keluar begitu saja. Datar, dan tanpa keraguan. Tidak ada rasa sesal dari nada suaranya, seolah kalimat itu sudah sangat lama dia pendam dan tahan agar tidak keluar... dan tepat saat itulah dunia Elena runtuh.
Iya... Dunia Elena seketika runtuh. Air matanya langsung memenuhi pelupuk mata. Napasnya tercekat. Dadanya terasa diremas sesuatu yang tidak terlihat.
Kalimat itu terdengar sangat jelas. 'Tidak pernah mencintainya...!'
Lalu selama ini apa? Semua perhatian itu. Pelukan hangat dan tatapan penuh kasih itu. Semua janji bahwa dia akan selalu melindunginya? Apa semua itu adalah kebohongan semata?
"Aku hanya menjalankan rencana yang sudah kita sepakati sejak awal. Jadi tolong jangan membahas ini dulu sampai Elena benar-benar melahirkan bayi itu," lanjut Ozan.
Elena menggigit bibirnya keras-keras hingga terasa perih. Setiap kata yang keluar dari mulut laki-laki itu terasa seperti pisau yang terus mengoyak luka di dalam dadanya.
Arlon menghela napas panjang. "Bagaimanapun juga, aku kasihan pada Elena," ucap Arlon, tiba-tiba, dan Elena semakin menajamkan indera pendengarannya.
"Kasihan?" Ozan terkekeh, dan nada suaranya terdengar dingin, dan acuh. "Bukankah kamu dan Aldo yang merencanakan menjadikan Elena donor untuk Gracia. Ini semua adalah rencana kalian. Kalian yang memintaku untuk menikahi Elena dan menghamili Elena agar bayi di kandungan Elena bisa kalian gunakan untuk menyelamatkan Gracia?" ucap Ozan lagi, dan Elena semakin membeku dari arah berdirinya.
Donor.
Kata itu membuat Elena mengernyit. 'Donor? Donor apa?'
Jantung Elena kembali berdegup kencang.
"Aku tahu. Aku tidak akan lupa itu. Lagi pula aku hanya minta agar kamu tidak terlalu bersikap lembut pada Elena... Terutama ketika di hadapan Gracia, karena itu akan menyakiti hati Gracia!" ucap Arlon lagi.
Lagi-lagi hanya Gracia yang mereka jaga perasaannya, sementara Elena sendiri... Dia harus memaklumi apapun yang dilakukan oleh ayah juga ketika saudaranya.
Elena belum mengetahui keseluruhan kebenaran itu. Dia hanya melihat wajah Ozan yang tampak berbeda dari biasanya. Dingin. Kaku. Tidak ada kelembutan dan kehangatan yang selama ini Ozan selalu berikan kepadanya.
Malam itu, Elena berniat membawakan secangkir kopi hangat ke ruang kerja suaminya, Ozan yang baru pulang dari rumah sakit setelah menemani pemeriksaan rutin Gracia, kakak perempuan Elena yang sedang sakit , dan harus menjalani rawat jalan dalam waktu yang tidak bisa di pastikan.
Tentu saja. Gracia selalu menjadi pusat perhatian semua orang. Terutama keluarga Elena. Ayahnya. Kedua kakak laki-lakinya. Bahkan Ozan, suami Elena sendiri ikut memberi perhatian lebih pada Gracia yang di diagnosa menginap penyakit kanker darah, atau Leokimia. Namun sungguh, Elena benar-benar tidak pernah menyangka jika dia akan mendapati fakta ini. Fakta jika Ozan tidak pernah mencintainya, tapi justru mencintai Gracia, kakak Elena, dan sepertinya perasaan itu di sambut baik oleh Gracia.
"Kondisi Gracia semakin buruk," ujar Arlon lagi. "Dokter sudah mengatakan, kemungkinan terbaiknya adalah transplantasi dari keluarga sedarah," Ozan tidak menjawab, dan Arlon melanjutkan. "Dan bayi yang dikandung Elena memiliki kemungkinan kecocokan yang jauh lebih tinggi, dari kami semua, termasuk Elena sendiri!" sambung Arlon lagi.
Tubuh Elena langsung limbung. Matanya membesar. Seluruh darah di wajahnya menghilang, dan seketika wajahnya menjadi pucat.
Bayi...?
Bayi yang dikandungannya? Mereka sedang membicarakan bayinya? Anak dia dan Ozan. Namun belum selesai rasa kecewa dan syok yang Elena rasakan, kalimat berikutnya jauh lebih menyakitkan lagi
"Bukankah itu alasan utama kamu menikahi Elena? Demi menyelamatkan Gracia?" tanya Arlon.
Piyaaar.....
Suasana berubah sunyi. Beberapa detik yang terasa seperti keabadian. Lalu terdengar suara Ozan lagi. Suara yang menghancurkan sisa hidup Elena.
"Ya."
Hanya satu kata. Satu kata sederhana. Namun cukup untuk menghancurkan seluruh keyakinan dan dunia Elena.
"Sejak awal aku menikahi Elena memang demi Gracia. Hanya demi Gracia!" ucap Ozan dengan sangat lantang dan mantap. Tidak ada keraguan sedikitpun demi Graciadari nada suaranya, tapi percayalah Elena sudah seperti gelas kaca yang jatuh lalu pecah berkeping-keping, hingga akhirnya...
Brak....!