“Jangan ....Ah...apa yang....”
Semua ucapan penolakan Kiara yang terus terlontar membuat laki-laki itu semakin bernafsu untuk memperdalam pagutannya hingga tanpa Kiara sadari laki-laki itu menarik paksa kedua kakinya dan menerobos masuk dan menyatukan diri.
Kiara menggelinjang tak karuan, namun demikian semua jeritannya tertelan oleh pagutan bibir laki-laki itu hingga beberapa saat lamanya.
‘Sakit! Ya Allah ... Apakah aku akan mati? Sakiiiit ....!’
***
Kiara terbangun dari tidurnya dengan tersentak kaget. Belum sempat ia menyadari apa yang terjadi, ia merasakan tubuhnya yang remuk redam hingga membuatnya susah bergerak dan seolah ia tertimpa batu besar di sekujur tubuhnya.
Hingga ia benar-benar membuka mata karena merasakan embusan panas teratur di kulit punggungnya dan suara dengkur halus di telinganya. Kiara membuka selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Dan ia pun memekik tertahan saat melihat sebuah tangan laki-laki kekar yang melingkar di pinggang kecilnya.
Lebih-lebih saat ia melihat bercak darah yang berceceran di beberapa tempat di seprei putih yang ia tiduri, Kiara tak kuasa lagi menahan tangisnya. Seraya mendekap mulutnya untuk menahan isaknya, ia bergegas menuju kamar mandi dan membilas diri.
Ia menangis tersedu-sedu saat akhirnya ia teringat bagaimana laki-laki itu membuka paksa baju pengantin yang ia kenakan saat ia telah lemah tak berdaya. Bagaimana laki-laki itu menciuminya dengan penuh kelembutan sekaligus dalam.
“Aku suka gayamu. Dan kau memang cantik, Nona!” Laki-laki itu menyeringai dengan lembut seraya menatap Kiara lekat-lekat.
Kiara segera membuang semua bayangannya, bergegas membungkus tubuhnya dengan handuk besar dan membuka lemari pakaian yang ada di sisi luar kamar mandi, berharap menemukan baju untuk ia kenakan.
‘Mana mungkin aku memakai gaun pengantin yang telah koyak itu lagi. Dan lagi, aku harus pulang!’ pikir Kiara seraya memilih beberapa baju yang tergantung di sana.
Ia memilih sebuah kemeja hitam milik laki-laki itu yang panjangnya bahkan hampir menutupi lututnya.
‘Ya ampun, gede banget bajunya? Celananya juga pasti melorot kalau aku pakai! Udahlah, bodo amat! Oh, ada ikat pinggangnya!’ pekiknya dalam hati bergegas memakai celana panjang hitam senada.
Dengan langkah tertatih-tatih menahan sakit, Kiara berjalan perlahan-lahan menuju sofa untuk meraih tas tangannya dan sepatu hak tinggi miliknya. Lalu ia bergegas menuju pintu keluar tanpa menoleh sedikit pun pada laki-laki asing yang masih terlelap di atas ranjang.
Ia mengabaikan pandangan setiap orang yang berpapasan dengannya, karena baju yang ia kenakan jelas-jelas terlalu besar di badannya yang ramping, apalagi baju itu terlihat jelas baju laki-laki.
Menyadari beberapa pasang mata pegawai hotel yang mencurigainya, ia pun bergegas memasuki taksi yang ada di lobi hotel dan membuka ponselnya. Dan betapa terkejutnya ia saat memeriksa ponselnya yang penuh dengan panggilan tak terjawab dari beberapa orang termasuk Aaron.
‘Ya Allah, ini sudah pagi? Aaron, Ayah, bahkan Kak Nadya meneleponku sejak semalam. Apa yang terjadi semalam? Apakah pestanya batal? Aku harus menelepon Kak Nad,’ pikir Kiara seraya menekan nomor telepon Nadya.
Dan tak butuh waktu lama, Nadya pun membuka saluran pembicaraan itu dengan nada panik.
“Kia, oh, Kiaaaaa... Kamu ke mana aja? Apa yang terjadi? Di mana kamu sekarang?” cecar Nadya bahkan sebelum Kiara berbicara.
“Kak Nad... Aku ....” pecah sudah tangis Kiara hingga tersedu-sedu.
“Kia, Kia... Di mana kamu sekarang? Biar aku jemput. Kia, jawab, Kia?” desak Nadya dengan suara terburu-buru.
“Aku lagi di taksi, Kak. Aku akan pulang ke rumah dan membatalkan pernikahanku dengan Aaron,” gugu Kiara dengan terisak.
“Ya. Memang pernikahan kalian sudah batal, tapi, berganti dengan pernikahan Aaron dan Karina. Dan entah kenapa semua seolah kelihatan baik-baik aja, bahkan terkesan bahagia banget tahu nggak sih? Itu, seolah itu adalah pesta pernikahan Karina yang sesungguhnya!” pekik Nadya dengan nada emosi.
“Apa?” gugu Kiara tak mengerti. Gadis cantik bermata bulat itu membeliak terkejut bukan main.
“Entah, tapi, itu bukan perasaanku aja. Bahkan suamiku pun berpikir hal yang sama. Dia pikir, Aaron dan Karina beneran kayak pasangan yang saling jatuh cinta, dan itu bukan acting kayak Karina itu sebagai istri penggantimu, Kia! Mereka beneran nikah! Jadi, apa yang sebenarnya terjadi, Kia?” desak Nadya semakin menjadi-jadi, apalagi saat mendengar Kiara semakin terisak.
“Thanks banget atas informasinya, Kak. Nanti aku akan ceritakan semua sama Kakak. Saat ini aku butuh menenangkan diri sebelum pulang. Aku harus pulang dan menyelesaikan semuanya dulu,” papar Kiara di sela isaknya yang tertahan.
Terdengar lenguh pasrah di seberang sana, “Oke, kalau ada apa-apa, cepat kabari aku, ya!” pekik Nadya sebelum akhirnya pembicaraan itu berakhir.
‘Kenapa Aaron malah menikah dengan Karin? Kenapa dia nggak batalin pernikahan kami? Kenapa dia malah menikah dengan adikku? Apa maksudmu, Aaron?’ jerit Kiara dalam hati.
Kini Kiara semakin larut dalam kesedihannya. Seolah hidupnya hancur dalam semalam. Ia tak hanya kehilangan calon suami dan pernikahannya, bahkan ia juga telah kehilangan kesuciannya yang terenggut dengan paksa oleh laki-laki asing yang bahkan sama sekali tak ia kenal.
Namun demikian, seolah belum cukup kehancurannya, kini, sesampainya di rumah, belum sempat ia mengucap salam dan menjelaskan apa yang terjadi, sebuah pelukan hangat dari ayahnya membuat Kiara membeku diam di tempatnya.
‘Kali ini apa lagi?’ pikir Kiara dengan wajah pasrah.
Seumur hidupnya, ia sangat hafal dengan tabiat ayah tirinya. Jika ia diperlakukan sangat baik oleh laki-laki itu, pasti bencana besar akan menantinya. Kiara menelan ludahnya dengan susah payah.
“Kamu baru pulang?” ucap Rudy ayah Kiara yang tersenyum lebar menatap dirinya yang kebingungan.
Ia berpikir ayahnya pasti sangat marah karena telah merusak pesta pernikahannya sendiri. Tapi nyatanya, kini ia melihat ayahnya yang temperamen itu begitu baik padanya. Dan itu hampir tak pernah terjadi di sepanjang ingatannya. Kecuali jika laki-laki itu menginginkan sesuatu darinya.
“Ayah... Sebenarnya Kia memang bermaksud membatalkan pernikahan Kia dengan Aaron, karena Aaron berselingkuh dengan Clarissa, Yah. Semalam Kia ngelihat mereka di hotel, Yah ....”
“Udahlah, toh dia mau bertanggungjawab dengan menikahi adikmu. Bagus kalau gitu. Jadi, sekarang kamu nggak bisa mundur lagi. Kamu tetap seperti rencana awal, yaitu menikah dengan Tuan Andrew!” sahut Rudy seraya menyesap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskan asapnya dengan tenang.
“Apa?” gugu Kiara membeliak terkejut.
‘Apa maksud, Ayah? Jadi, Ayah masih bermaksud menjualku pada Tuan Andrew? Kenapa dia belum puas juga telah mempunyai menantu seperti Aaron? Bahkan setelah mendengar penjelasanku?’ pikir Kiara semakin terperangah tak percaya.
Lebih-lebih saat tatap matanya berserobok pada sosok Karina yang kini menatapnya dengan seringai puas di wajahnya.
“Ayah! Kia nggak mau nikah sama dia, Yah. Dia bahkan sudah punya dua cucu, Yah! Kia ....”
Rudy menggebrak meja dengan keras dan membuat Kiara tersentak kaget, “Diam!” tegur laki-laki itu dengan suara menggeram.
“Sudah, sana. Bersiaplah. Sebentar lagi Tuan Andrew akan datang. Dan kali ini kamu nggak akan bisa kabur dari pernikahan lagi! Setidaknya jadilah anak berbakti untuk Ayah, Kia!” ucap Rudy mendorong pundak Kiara dengan kasar.
“Sekarang kau harus benahi semua kekacauan yang kau buat. Kamu nggak lihat, Karina berkorban untuk menggantikanmu jadi istri rahasia Aaron? Hah?” Tunjuk Rudy di wajah Kiara, “Sekarang kau juga harus menikah dengan Tuan Andrew dan ikut dengannya!”