Tanpa basa-basi, Rudy menyeret Kiara masuk ke dalam kamarnya, “Buruan masuk, ganti baju dan dandan!” ucap Rudy seraya mengancam Kiara dengan menunjuk wajah Kiara dengan jari telunjuknya.
“Tapi, Yah, sebenarnya, Kia ....”
Ucapan Kiara tergantung karena gerakan tangan ayahnya yang menempelengnya kuat-kuat. Kiara mundur dengan patuh dan pintu tertutup dengan kasar oleh ayahnya.
Dengan langkah bingung, Kiara mencoba menenangkan diri untuk mencari jalan keluarnya. Hingga ia melihat jendela kamarnya yang sedikit terbuka. Ia meraih kursi yang ada di depan meja dan menaikinya.
Mengabaikan pipinya yang sakit dan bengkak, Kiara berhasil melewati jendela sempit itu dan melompat keluar rumah dan walaupun ia tak terjatuh di belakang rumah. Namun naas, ia tersangkut pagar kawat dan membuat kemeja yang ia kenakan terkoyak hingga melukai lengannya.
“Aw... Aduh!” pekiknya kembali bangkit berlari meninggalkan gang rumahnya seraya memegangi lengannya yang berdarah.
Beberapa tetangga yang melihat kejadian itu tampak terkejut sekaligus kebingungan, bertepatan sebuah mobil hitam berhenti di depan rumahnya. Dan melihat Kiara yang berlarian meninggalkan gang rumah.
Tak ayal Kiara menjadi kejar-kejaran oleh ayahnya dan juga Karin. Namun demikian, Kiara berhasil melarikan diri dengan menaiki taksi yang sedang melintas di seberang jalan.
“Kiaaaa...! Jangan lari kamu!” pekik ayahnya dari ujung jalan, bertepatan Kiara telah memasuki taksi tersebut yang langsung membawanya pergi meninggalkan jalanan rumahnya.
“Oh, Alhamdulillah...” gugunya dengan suara lega sekaligus gugup.
Dengan napas terengah-engah, Kiara memberikan alamat Nadya sebagai tujuan kepergiannya. Dan sesampainya di rumah Nadya, ia memeluk Nadya dan berurai air mata.
“Astaga, Kiaaaa...! Kamu terluka, Sayang!” pekik Nadya saat melepas pelukannya pada Kiara dan mendapati tangannya berlumuran darah yang berasal dari lengan Kiara.
Nadya segera memberikan baju ganti dan mengobati luka di lengan Kiara dengan hati-hati dan saksama.
“Ini hanya bisa mengobati sementara, kau harus ke rumah sakit untuk menjahit lukanya, Kia,” ucap Nadya seraya membersihkan luka di lengan putih Kiara dan membubuhkan obat merah.
“Iya, nanti aku akan ke sana. Aku hanya ingin beristirahat sejenak,” ucap Kiara dengan suara lemah dan pasrah.
“Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dalam sekejap pesta pernikahanmu bisa berubah menjadi pesta pernikahan Karina? Ke mana aja kamu?” cecar Nadya seraya memegang wajah Kiara yang sedang berkaca-kaca.
Dengan terbata-bata, Kiara akhirnya membuka suara setelah terdiam beberapa saat. Dan Nadya meraup wajahnya dengan cemas dan syok setelah mendengar semua penuturan Kiara. Tak ada satu pun yang terlewat olehnya.
“Gila! Ini gila banget tahu nggak sih? Ya Allah, Kia,” gugu Nadya seraya meraih Kiara yang tersedu-sedu ke dalam pelukannya.
“Lalu apa rencanamu selanjutnya?” tanya Nadya setelah Kiara kembali tenang, “Seharusnya kamu jangan lari, harusnya kamu minta pertanggung jawaban laki-laki itu. Karena dia telah menodai kesucianmu, Kia!” keluh Nadya dengan nada penuh penyesalan yang lagi-lagi membuat Kiara kembali terisak tertahan.
“Nggak tahu, Kak. Semalam aku takut banget. Yang aku pikirin cuma pernikahanku dengan Aaron, cuma itu,” gugu Kiara sambil mengusap air mata yang terus meleleh di wajahnya yang cantik.
“Yang jelas aku akan nyari kerjaan baru. Aku nggak mungkin kerja di restoran lagi, sementara aku kabur dari bisnis ayah dan Pak Andrew,” sahut Kiara seraya menghela napas berat.
“Ayahmu bener-bener nggak waras. Bisa-bisanya dia menjual anaknya sendiri pada bosnya yang jelas-jelas sudah beristri dan punya anak! Kenapa bukan Karina aja yang dia jual ....”
“Ya, itu karena aku bukan anak kandung Ayah, Kak. Mama menikah sama Ayah saat aku sudah berumur 3 tahun, Kak. Dan, begitu Mama meninggal, dia bener-bener nggak pernah nganggep aku ini anaknya. Dia cuma nganggep aku alat yang bisa ngehasilin duit sebanyak-banyaknya buat dia.” Kiara menahan isaknya.
“Sekarang bahkan Aaron ternyata begitu, ternyata dia bermain belakang dengan Clarissa!” sambungnya kembali terisak. Nadya menggenggam erat tangan Kiara.
“Aku akan selalu membantumu, Kia. Aku mohon jangan merasa sendirian, ya? Ada aku, Kia,” ucap Nadya yang tak kuasa lagi menahan tangisnya dan mereka saling berpelukan dengan erat.
“Sekarang aku harus ketemu sama Aaron. Aku harus meminta uang royalti lagu-laguku. Dia bisa menjadi penyanyi terkenal karena lagu-laguku. Tapi, selama dua tahun ini dia nggak pernah sekalipun memberikan itu padaku,” ucap Kiara dengan tekat bulat.
“Baiklah, aku akan mengantarmu sekalian aku berangkat kerja. Kebetulan hari ini aku shift malam, jadi, kita akan berangkat nanti malam, sekarang istirahat dulu, ya,” ujar Nadya dengan tatapan bersemangat, “Kau harus mendapatkan hakmu, Kia. Aku akan mendukungmu,” pungkas Nadya menggenggam tangan Kiara.
Dan kini Kiara yang telah sampai pada sebuah stasiun televisi swasta yang merupakan salah satu stasiun televisi ternama di Indonesia itu, berdiri dengan gugup bercampur waswas saat melihat lalu lalang kendaraan keluar masuk tempat yang ternyata dijaga sangat ketat.
Dan dengan prosedur dan mekanisme yang cukup susah dan ketat, akhirnya Kiara bisa melewati penjagaan pos sekuriti dengan mengaku kerabat dan ingin bertemu Ashley, kakak sekaligus manajer Aaron.
Walaupun ia harus mengisi data dan meninggalkan kartu identitasnya, akhirnya Kiara bisa melenggang masuk ke dalam ruang tunggu yang telah ditunjukkan oleh salah satu petugas. Namun demikian, seolah tak ingin bertemu dengannya, Ashley terus mengabaikan panggilan dan pesan yang dikirimkan oleh Kiara.
‘Kami masih kerja. Tunggu dan diam-diam saja, jangan membuat ulah!’
Kiara menghela napas saat membaca pesan balasan dari Ashley. Untuk sesaat ia memutuskan untuk pulang, namun langkahnya terhenti saat ia melihat sosok laki-laki yang menodainya malam itu sedang berjalan ke arahnya dan mereka saling memandang satu sama lain. Bertepatan ponsel milik Kiara berdering tanda panggilan masuk dari Nadya dan menyadarkan kebekuan Kiara.
‘Astagfirullah! Kenapa ada orang itu? Kenapa dia ada di sini? Kenapa dia ada di kantor Aaron? Apa dia artis juga? Oh, ya ampun! Aku harus kabur!’ pekik Kiara dalam hati dengan panik, apalagi perhatiannya terpecah dengan suara dering dari ponselnya.
“Halo, Kak?” sahut Kiara seraya bergegas berlari meninggalkan ruang tunggu tersebut dengan langkah terburu-buru.
“Kia, aku nggak ngerti, tadi ada dua laki-laki yang mencarimu ke rumah. Kata suamiku, mereka mencari seorang wanita yang mencuri sepasang baju laki-laki? Apa jangan-jangan itu baju laki-laki yang kau pakai itu?” papar Nadya yang membuat Kiara membeliak terkejut bukan main.
Lebih-lebih saat ia melihat bayangan laki-laki yang sedang mereka bicarakan itu berjalan memutar arah di mana Kiara telah memutar arah.
“Apa? Apa maksud, Kakak? Gimana orang itu bisa tahu?” gugu Kiara semakin mempercepat langkahnya menyusuri lorong untuk mencari lift.
“Mereka bilang baju orang itu ada chip tertentu yang bisa terlacak jika hilang, aku nggak ngerti ...”
“Oh, ya ampun! Kak, aku tutup, aku harus kabur!” pekik Kiara dengan terburu-buru mematikan ponselnya dan bergegas memasuki lift dan menekan tombol tutup.
Namun tiba-tiba sebuah sepatu pantofel hitam menghentikan laju tertutupnya pintu lift tersebut. Dan laki-laki itu berdiri di dalam lift yang tertutup.
Laki-laki itu menatap tajam pada Kiara yang melekat pada dinding lift, “Kenapa kau melarikan diri dariku? Siapa kau sebenarnya?”