“Apa, apa maksudmu?” gugu Kiara merapatkan dirinya di dinding lift.
“Kau adalah gadis pengantin semalam, benar ‘kan? Dan kau pasti sedang ingin membuat ancaman untukku karena perbuatanku semalam?” tuduh laki-laki itu dengan suara mendesis tajam.
Kiara menggelengkan kepalanya berkali-kali, seolah menolak fakta yang diucapkan laki-laki itu.
“Saya, saya nggak tahu maksud, Tuan,” sahut Kiara cepat-cepat untuk menutupi ketakutan dan gugupnya.
“Lalu kenapa kau melarikan diri dariku?” desak laki-laki itu mendekat pada Kiara setelah menekan tombol tanda berhenti pada lift tersebut.
Kiara yang melihat perbuatan laki-laki itu semakin membulatkan matanya dengan panik, “Itu, nggak, bukan! Saya, sedang buru-buru! Tolong. Saya mau bertemu kerabat saya...”
Laki-laki itu memperpendek jarak keduanya dan mengungkung Kiara di dinding lift, “Kalau kau memang bukan gadis pengantin semalam, seharusnya kau tak perlu setakut itu, ‘kan?” ucap laki-laki itu menyunggingkan senyum miring di wajahnya yang ternyata luar biasa tampan.
“Anu, anu... Saya, saya, fobia, fobia tempat kecil ....” gugu Kiara terlihat beralasan di hadapan laki-laki itu yang kini semakin menyunggingkan senyumnya dan menyentuh wajah cantik Kiara dengan jari-jarinya.
“Jika memang kau fobia tempat sempit, seharusnya kau tidak berada di dalam lift. Lalu kenapa kau malah berlari memasuki lift? Yang jelas-jelas ini adalah ruangan yang cukup sempit dan kecil,” sindir laki-laki itu seraya masih membelai pipi Kiara dan kening Kiara yang mulai berkeringat.
Kiara memejamkan matanya rapat-rapat karena menahan gejolak tak karuan yang tiba-tiba muncul, bahkan kepalanya mulai berkunang-kunang.
“Tolong, saya nggak berbuat apa-apa, saya, saya, nggak tahu apa-apa ....”
Suara Kiara terhenti seketika saat tiba-tiba lampu lift padam setelah terdapat guncangan untuk sesaat. Sontak membuat Kiara memekik ketakutan. Ia semakin panik dan cemas.
“Oh, kenapa? Kenapa mati, Ya Allah, tolong ....” gugunya mulai terengah-engah dan terduduk dengan lemas.
Melihat hal itu, laki-laki itu pun ikut duduk bersama Kiara dan menyentuh tangan serta pundak Kiara yang gemetar bukan main.
“Hei, kau kenapa? Apa kau baik-baik saja?” tanya laki-laki itu seraya menepuk ringan pundak Kiara yang semakin menggigil.
“Hei ....”
Kini laki-laki itu menyadari bahwa Kiara tak hanya sekedar ketakutan, namun demam tinggi sekaligus terkena serangan gangguan kecemasan.
“Astaga! Apa yang terjadi padamu?” gugunya seraya meraih Kiara dalam pelukannya, dan ia semakin terkejut saat merasakan tubuh Kiara gemetaran tak karuan, bahkan ia mulai meracau.
Laki-laki itu merogoh ponsel dari saku celananya dan berusaha menelepon seseorang.
“Roy, ada gangguan lift di basement depan. Ada orang yang butuh pertolongan dokter. Cepat buka paksa!” perintahnya dengan tegas dan dalam.
“Tidak, ampun, ampuni aku, kumohon, A-yah ....” gugu Kiara berulang-ulang sampai akhirnya ia menggumam tak jelas sebagai reaksi saat laki-laki itu menepuk-nepuk ringan pipinya.
Hingga akhirnya Kiara benar-benar tak sadarkan diri dalam pelukan laki-laki itu.
***
Kiara terengah-engah saat laki-laki itu menyudahi lumatan di bibirnya yang ranum dan indah. Mereka saling menatap dalam-dalam, sebelum akhirnya laki-laki itu kembali memagut bibir Kiara lebih dalam dan intens. Hingga tangan laki-laki itu menyentuh gundukan yang terbungkus kain renda dan membuat Kiara memekik terkejut bukan main.
“Oh! Ya ampun!” pekik Kiara tersentak dari tidurnya.
‘Cuma mimpi, tapi rasanya nyata banget!’ keluh Kiara dalam hati meraup wajahnya dengan gugup bercampur malu.
Ia meringis menahan sakit di punggung tangan kirinya yang terasa berat, serta luka di lengan kirinya juga terasa semakin berat dan aneh.
‘Loh? Rumah sakit? Kenapa aku ada di sini?’ pikir Kiara setelah menyadari sekeliling ruangan yang serba putih dan berbau desinfektan. Apalagi saat ia menyadari kenapa punggung tangannya terasa berat, karena selang infus tertancap di sana. Dan juga perban yang melingkari lengannya.
‘Apa yang terjadi? Siapa yang membawaku ke mari? Aku ....’
Terdengar langkah kaki dan pembicaraan beberapa orang yang mendekat, membuat segala kecamuk Kiara terhenti karenanya dan kembali memejamkan kedua matanya, berpura-pura tidur kembali.
‘Laki-laki? Kenapa suaranya laki-laki semua?’ pikir Kiara dalam hati saat beberapa orang itu membuka pintu kamar dan memasukinya.
“Hanya itu?” tanya seorang laki-laki bersuara berat dan dalam.
‘Itu suara laki-laki yang tadi! Laki-laki yang semalam itu!’ jerit Kiara dalam hati, ‘Mati aku! Ada apa ini?’
“Tuan Winter, ini bukan sekedar ‘hanya itu’ saja. Nona ini hampir kehilangan nyawanya jika saja Tuan terlambat sedikit membawanya kemari. Karena lukanya itu hampir mengalami tetanus. Saya yakin itu terluka oleh benda tajam berkarat,” papar suara laki-laki yang terdengar berusia lebih tua dan tenang.
“Apakah dia mengalami perampokan sebelumnya?” imbuhnya lagi dan membuat suasana menjadi hening sejenak.
“Entah, Dokter. Yang jelas, masalah ini, hanya Dokter yang tahu, saya tidak ingin orang lain tahu. Roy sedang menyelidiki siapa dia dan siapa yang mengirimnya.”
Dokter itu tertawa kecil, “Sepertinya Anda terjebak masalah, Tuan Mudaku, Alexion. Tak biasa-biasanya ada terjebak ‘paket’ seperti ini. Bukankah sejak dulu Anda tak pernah mau menerima ‘paket’ dalam bentuk...wanita?”
Kali ini Alexion tertawa dengan keras, “Ya, paman benar. Tolong jangan menyindirku. Kali ini aku seperti Tupai yang sedang terjatuh dan terperangkap. Sekarang aku harus mencari tahu siapa dalang dibalik perangkap ini,” ujarnya seraya melemparkan dirinya di sebuah sofa.
“Saya rasa ini bukan perangkap. Entahlah, orang tua ini hanya berpikir, mungkin semesta sedang bekerja dengan caranya sendiri,” sahut laki-laki itu kembali terkekeh.
“Maksud, Paman?” sela Alexion dengan suara lebih serius.
Laki-laki paruh baya itu mencebik, “Dia masih perawan saat kamu menyentuhnya, dan dia melarikan diri. Itu berarti kalian bertemu di waktu yang salah. Bukankah dari hasil pemeriksaan sampel darahmu, saat itu kau dalam pengaruh obat perangsang dosis tinggi? Dan...yah... Semua terjadi begitu saja ...”
“Sial! Itu karena Fred bilang mengirimkan paket hadiah untukku dan aku akan mengenali paket itu karena terlalu mencolok! Dan ya, aku benar-benar sial. Paket mencolok itu ternyata sebuah mobil ....”
“Ferrari yang berwarna biru itu?” sela Dokter itu yang kembali terkekeh karenanya, dan terdengar umpatan kesal yang terlontar dari mulut Alexion.
“Berarti... Gadis ini bernilai sama dengan mobil itu, atau mungkin saja bisa melebihinya. Pikirkan baik-baik, Alex. Aku bicara seperti ini karena kau satu-satunya keponakanku. Masalah Papamu, jangan khawatirkan dia, kau sudah sangat dewasa untuk menentukan hidupmu.”
Sepeninggal Dokter itu, Alexion menghela napas panjang, hingga tatap matanya berserobok pada wajah Kiara yang mengernyit diam-diam.
“Kau pikir aku tak tahu kau berpura-pura tidur? Baiklah, sekarang bangun dan katakan padaku kau dikirim oleh siapa. Jika tidak, aku akan mengirimmu ke penjara!” desis Alexion di wajah Kiara, “Oh, bukan. Temanmu Nadya dan anaknya ....”
“JANGAN!”