Kiara sontak terbangun seketika dari tidurnya. Dan gerakan itu membuat wajahnya dan wajah Alexion saling berbenturan karenanya dan membuat mereka memekik tertahan karena sakit dan terkejut secara bersamaan.
“Aaa... Maafkan saya! Saya nggak sengaja! Aw...!” pekik Kiara spontan bergerak maju hendak menolong Alexion yang tampak kesakitan memegangi keningnya, namun demikian ia pun lebih kesakitan karena luka di lengannya.
Kini Alexion menatap Kiara yang terlihat kesakitan memegangi lengannya dengan meringis dan menggigit bibirnya.
“Lihat saja kondisimu sendiri sebelum menolong orang lain,” tegur Alexion seraya mengulurkan tangannya ke wajah Kiara yang sontak membuat Kiara meringkuk menjauh dari jangkauan tangan Alexion.
“Aku hanya ingin memeriksa demammu,” sambung Alexion meletakkan telapak tangannya pada kening Kiara yang kini hanya diam dan pasrah.
“Sekarang katakan bagaimana kau bisa mendapatkan luka itu? Apa benar kau sedang dirampok?” tanya Alexion dengan tatapan menyelidik.
“Ah, bukan. Aku lebih penasaran dengan...Apa yang kau lakukan di kantor itu tadi? Siapa yang kau cari? Dan ....”
Tiba-tiba terdengar dering ponsel yang berasal dari telepon genggam Kiara dan panggilan itu berasal dari Aaron yang terlihat jelas di mata Alexion. Apalagi saat melihat reaksi Kiara yang terlihat terkejut sekaligus marah.
‘Kenapa lagi dia? Apa yang terjadi sampai dia telepon aku, tumben banget!’ pikir Kiara seraya menatap ponselnya dengan mengerutkan bibirnya tanpa sadar.
“Kau tak mengangkatnya? Sini, biar aku yang membukanya untukmu,” ucap Alexion sambil merebut ponsel itu dari tangan Kiara, walau pun Kiara berusaha merebutnya kembali cepat-cepat, namun demikian karena pergerakan itu malah membuat tertekan tanda terima.
“Halo? Kia?” sapa Aaron dengan suara terburu-buru.
Dengan pandangan kesal bukan main pada Alexion, Kiara terpaksa menjawab panggilan Aaron di hadapan Alexion yang memegangi ponsel Kiara dengan memperbesar suaranya.
“Iya, kenapa?” sahut Kiara dengan malas.
“Apanya yang kenapa? Bisa-bisanya kamu tanya kenapa?” omel Aaron dengan menggeram marah.
“Berani banget kamu datang ke studio? Kalau semua orang tahu gimana? Pakai otakmu sedikit dong! Semua orang nggak ada yang tahu tentang kamu! Kalau semua orang tahu tentang kamu, bisa-bisa aku ditendang dari sini! Kamu mau hancurin karierku, hah?” sambung Aaron tanpa henti.
“Lagian itu salahmu sendiri, kenapa kamu nggak nungguin aku di rumah saat malam pernikahan. Harusnya kita sudah nikah, walaupun itu pernikahan diam-diam, seharusnya kamu seneng punya suami artis kayak aku! Gara-gara kamu kabur, aku dipaksa ayahmu nikahin adikmu! Adikmu bisa apa? Emang dia bisa nyiptain lagu kayak kamu? Kalau dia cuma bisa ditidurin doang tanpa bisa ngasilin duit buat aku, ya, buat apa? Mending aku sama Clarissa atau Nyonya Jane. Seenggaknya mereka bisa mendongkrak popularitasku di dunia entertainment!”
Alexion mengeratkan gerahamnya menahan emosi seraya menatap Kiara dengan tatapan tajam, yang hanya diam seribu bahasa dan mengalihkan wajahnya karena menahan air matanya.
“Lagian, aku nikahin kamu karena balas budi lagu-lagumu itu aja. Seenggaknya kamu bisa bangga ‘kan punya suami artis kayak aku? Dan kamu juga bangga lagu-lagumu jadi terkenal karena aku? Ayolah, Kia, jawab aku! Sekarang kau ada di mana? Kita perlu bicara dan aku akan bayar royaltimu. Itu pun kalau kamu ....”
Dengan penuh emosi, Alexion melemparkan ponsel Kiara ke dinding rumah sakit hingga hancur berkeping-keping dan membuat Kiara terlonjak kaget bukan main.
Lebih-lebih saat ia melihat Alexion yang tampak menahan kesal bukan main seraya berjalan hilir mudik di dalam ruangan itu. Kiara sama sekali tak bisa berkata apa-apa, bahkan napasnya pun terasa berat untuk menahan segala isaknya.
Entah karena sakit hati dengan ucapan Aaron atau karena saking takutnya ia melihat reaksi Alexion yang terlihat sangat emosi.
“Apa itu Aaron Cole?” tanya Alexion dengan suara berat dan dalam.
Kiara mengangguk dan menggumam sebagai jawabannya. Bahkan ia memandang takut-takut pada Alexion yang kini berkacak pinggang seraya mengelus rahangnya sepintas lalu.
“Kau datang ke sana untuk menemuinya?” lanjut Alexion dengan intonasi yang sama namun sorot matanya lebih tajam dari sebelumnya.
Lagi-lagi Kiara mengangguk sebagai jawabannya, hingga ponsel Alexion berdering tanda panggilan masuk. Laki-laki berwajah tampan itu segera merogoh saku celananya dan membuka saluran pembicaraan.
“Katakan, Roy,” bukanya tanpa basa-basi.
“Tuan, wanita itu bernama Kiara Angelica, dan saat malam kejadian dia memergoki Aaron Cole yang tidur dengan Clarissa Lynn di hotel itu, Tuan. Dan nona Kiara mendapatkan informasi itu dari adiknya yang bernama Karina.”
Kiara membekap mulutnya mendengar sayup-sayup suara yang terdengar dari ponsel Alexion. Kini, ia tak kuasa lagi menahan tangisnya.
“Roy, kau tahu apa yang harus kau lakukan. Aaron Cole tak pantas ada di sana! Dia harus dicoret dari jajaran nama artis di bumi mana pun!” perintah Alexion dengan mendesis tajam.
“Jangan! Tunggu, saya mohon Tuan!” sela Kiara beringsut mendekat pada Alexion dan menghentikan ucapan Alexion.
“Nanti kita bicarakan lagi, Roy,” ucap Alexion sebelum menutup ponselnya.
“Apalagi? Kenapa kau masih membela dia?” Alexion kembali duduk di sisi ranjang.
Kiara menggelengkan kepalanya tipis-tipis, “Saya bukan bermaksud membela dia, tetapi, sekarang dia adalah suami adik saya. Adik saya masih belum selesai kuliah dan ayah saya, ayah saya ti-tidak bekerja, maksud saya ...sedang sakit ....”
“Kau yakin Aaron akan membiayai hidup mereka?” desak Alexion yang membuat Kiara tergugu tanpa bisa menjawab.
“Kau tak mendengar ucapannya barusan di telepon?” sambung Alexion menaikkan sebelah alisnya seolah tak percaya.
“Atau...kau memang ingin menjadi istri simpanan bosmu demi menjadi anak berbakti ayahmu?” pungkas Alexion yang membuat Kiara terkejut bukan main.
‘Kenapa...kenapa dia tahu semua itu? Siapa sebenarnya laki-laki ini? Gimana dia bisa tahu tentang semua itu?’ pikir Kiara tanpa sadar bergetar hebat menahan takut.
‘Oh iya, tadi juga. Orang tadi juga tahu dari mana tentang Karina yang memberitahuku tentang perselingkuhan Aaron? Oh, iya! Tadi dia juga sempat menyebut Kak Nadya!’ Kiara menelan ludah dengan susah payah.
“Jangan menatapku seperti itu. Seharusnya kau tak perlu melarikan diri malam itu. Bahkan kau mencuri pakaianku. Kalau kau tak melarikan diri malam itu, semua tak akan seperti ini. Kau juga tak akan terluka seperti ini,” ucap Alexion lebih kepada khawatir daripada mengomel menyalahkan Kiara.
Kiara mengernyit menahan sedih, namun ia menatap pandangan mata Alexion yang menatap penuh perhatian pada lengan kiri Kiara yang diperban.
“Tetapi, ada bagusnya kau melarikan diri... Dengan begitu aku bisa mengetahui semuanya tanpa terkecuali,” pungkas Alexion dengan menyunggingkan senyumnya membingkai wajahnya yang luar biasa tampan.
“Si-siapa Tuan sebenarnya....” gugu Kiara menggantungkan ucapannya karena takut untuk melanjutkan dan takut untuk menebak.
Alexion menyunggingkan senyum miring, “Ikut aku dan kau akan tahu siapa aku yang sebenarnya,” ucapnya seraya bangkit berdiri dan membuka pintu.
Dan saat itu beberapa orang berbondong-bondong masuk dan menunduk memberi salam hormat pada Alexion dan juga Kiara.
“Tuan, semua sudah siap sesuai perintah Tuan,” ucap laki-laki berbadan besar seraya membawa sebuah kursi roda di hadapannya.
Alexion mengangguk tipis-tipis dan menatap Kiara yang terlihat kebingungan. Lalu ia mengangguk kepada para ajudannya yang langsung mengemasi selang infus dan Kiara sekaligus dalam gendongan dan meletakkannya di kursi roda mengikuti langkah Alexion yang tampak tegap dan penuh percaya diri.
‘Ya Allah, mau di bawa ke mana aku?’