Bab 6 Istana Alexion

1148 Words
Kiara tertegun sekaligus takjub melihat keadaan sekelilingnya. Di hadapannya berdiri sebuah rumah mewah bak istana dengan diapit taman-taman asri yang indah dan sangat terawat. Belum lagi air mancur yang ada di tengah taman yang menampilkan patung-patung malaikat yang terbuat dari batu marmer dengan pahatan yang sempurna. Sungguh, ia tak bisa memperkirakan betapa mewahnya pemandangan yang terpampang di hadapannya. Kiara menelan ludah dengan susah payah, ‘Ini di mana? Apa ini rumah orang itu? Mati aku, siapa dia sebenarnya? Berurusan dengan orang seperti dia rasanya nyawaku bisa lepas sewaktu-waktu,’ pikir Kiara dengan wajah getir. “Ada apa? Kenapa dengan ekspresi wajahmu itu? Apa kau tak suka?” tanya Alexion yang memergoki perubahan wajah Kiara setelah mereka turun dari mobil mewah yang membawa mereka. “Ti-tidak, bukan begitu,” gugu Kiara dengan terbata-bata, “Anu, tapi, ini di mana? Kenapa saya dibawa kesini, Tuan?” sambung Kiara mengalihkan pembicaraan. Alexion menyunggingkan seulas senyum tipis di wajahnya yang tampan, “Selamat datang di rumahku,” ucapnya dengan mengendikan bahunya acuh tak acuh dan melenggang memasuki teras rumah yang jaraknya cukup jauh untuk sampai pada pintu utama. ‘Apa dia bilang? Rumah? Ini istana, dodol! Ups!’ Kiara membekap mulutnya sendiri seolah ia kelepasan bicara seraya menatap ke sekelilingnya, takut-takut ada yang mendengarkan. Padahal itu semua hanya ada di dalam pikirannya. Lebih-lebih di sana berderet pelayan telah siap menunggu dan menunduk hormat menyapa Tuan mereka. Tak ayal hal itu membuat bulu kuduk Kiara meremang seketika. ‘Kenapa rasanya kayak ngelihat Raja yang sedang memasuki istananya dan aku seperti tawanan yang sedang menunggu untuk diadili olehnya. Mati aku, jantungku rasanya nggak karuan banget!’ pikir Kiara yang kembali duduk di kursi roda dengan dipandu oleh seorang pelayan wanita paruh baya. Apalagi wanita itu terlihat sangat sopan memperlakukannya dan membuatnya sangat canggung karenanya. Seolah masih belum cukup dengan pemandangan yang ada di teras rumah, kini Kiara dihadapkan kembali dengan pemandangan ruang tamu yang cukup megah dan sangat elegan. Semua furnitur, lukisan dan hiasan dinding yang terpajang seolah bukanlah tanpa arti dan hanya sekedar hiasan. Namun semua terasa sangat apik dan pas. Hal itu menandakan selera sang pemilik yang sangat elegan. Semua sangat susah dijelaskan satu per satu. Kiara kembali bergidik hingga membuatnya menggelengkan kepalanya tipis-tipis menepis perasaan waswas, gugup, takjub sekaligus takut mendera menjadi satu. Pemandangan semewah dan seindah itu membuat Kiara tak nyaman karenanya. ‘Aduduuuh, apalagi iniii? Rasanya aku bisa mati mendadak kalau begini? Apa salahku sampai aku harus dibawa ke mari?’ pikir Kiara semakin berkecamuk menahan bingung sekaligus waswas. Apalagi saat ia dibawa masuk dalam sebuah kamar tamu yang cukup megah dan luas. Kiara semakin terperangah tak percaya. Ia bahkan bisa melihat kamar itu jauh lebih besar dari rumahnya secara keseluruhan. ‘Ya ampun. Kamarnya aja lebih besar daripada rumahku? Ini orang bener-bener nakutin banget deh!’ pikir Kiara menatap ke sekeliling ruangan itu dengan perasaan waswas dan semakin gugup. Alexion melambaikan tangannya tanda mengusir para pelayannya pergi dari kamar. Lalu ia mendekati Kiara yang masih meringkuk di kursi rodanya. “Kau pasti lelah dengan perjalanan yang cukup jauh tadi. Tetapi, aku sengaja membawamu ke mari demi kesembuhanmu,” ucap Alexion yang kini mendorong kursi roda Kiara menuju jendela besar yang ada di salah satu sisi kamar. “Kau tak perlu takut, semua kebutuhanmu akan diurus oleh para pelayan. Apa pun itu,” ucap Alexion seraya menyandarkan tubuhnya di pinggiran jendela menatap ke arah Kiara yang sontak mengacungkan tangannya. “Of course, kecuali satu. Kau tak bisa meminta untuk pergi dari sini, sebelum aku mengizinkan,” sambung Alexion dengan cepat yang langsung membuat Kiara menarik tangannya kembali dengan ragu-ragu. Alexion menaikkan kedua alisnya yang tebal, seolah bertanya kepada Kiara tanpa perlu berkata. Dan dengan peka, Kiara spontan menjawab tanpa di minta, “Itu...em...Tuan belum menjawab pertanyaan saya,” ucap Kiara dengan berdeham, “Kenapa saya di bawa ke mari?” Kiara mengendikan bahunya dengan pasrah dan bingung. Alexion mencibir santai, “Biar kamu lekas sembuh dan pulih sepenuhnya.” Laki-laki itu memutar tubuh maskulinnya menghadap ke pemandangan yang ada di luar jendela. Terdiam beberapa saat lamanya. Hening. Kiara menunggu dengan perasaan canggung dan waswas. Dan ia baru menyadari bahwa sosok yang sedang berdiri menjulang di hadapannya itu adalah makhluk yang luar biasa tampan. Semakin ia melihat, semakin ia terlihat menyilaukan. ‘Ya ampun. Jantung berisik banget! Please, diem, dieeeemm...!’ jerit Kiara dalam hati seraya meremas piama tidur yang ia kenakan. Dan semua itu tak lekang dari pandangan Alexion yang sontak duduk di hadapannya dan membuat Kiara membeliak terkejut dan sontak beringsut menjauh dari jangkauan Alexion, namun nyatanya ia terjebak di sandaran kursi roda. “Jangan khawatir, selama kamu ada di sini, tugasmu hanya satu. Sembuhkan dirimu dan kau harus cepat sehat, untuk urusan yang lain, aku yang akan ambil alih!” ucap Alexion dengan tatapan tajam pada Kiara yang membeku diam di tempatnya. “Saya, saya sehat kok. Saya nggak sakit ...” Ucapan Kiara tergantung seketika karena tiba-tiba Alexion meletakkan telapak tangannya pada kening Kiara dengan lembut. “Kau masih demam. Dan aku tak mau dituduh sebagai pembunuh, karena ada orang yang meninggal di rumahku karena sakit,” sergah Alexion seraya menjauhkan tangannya dan beringsut menjauh dari Kiara. Lalu laki-laki itu melihat jam tangan elite yang melingkari pergelangan tangan kirinya dan bergumam sesaat seraya mengusap dagunya sepintas lalu. Kiara terpaku dalam tatapannya pada sosok Alexion yang baru ia sadari bahwa laki-laki itu benar-benar luar biasa tampan. Memikirkan hal itu, tiba-tiba ia terlintas kembali bagaimana malam pernikahannya berakhir dengan sentuhan laki-laki seperti itu. Kiara menggelengkan kepalanya tipis-tipis membuang semua bayangannya yang tiba-tiba mencuat begitu saja dan hal itu mengalihkan perhatian Alexion dari ponselnya. “Ada apa? Apa kau pusing dan mau beristirahat?” tanya Alexion menatap Kiara yang memerah malu karenanya. “Enggak, saya nggak apa-apa, Tuan,” sahut Kiara menundukkan wajahnya. Namun demikian, dengan tiba-tiba, Alexion melingkarkan kedua tangannya pada pinggang dan kaki Kiara dan serta merta mengangkatnya, yang sontak membuat Kiara memekik terkejut karenanya dan spontan melingkarkan tangannya di leher kekar Alexion. ‘Apa-apaan sih? Kenapa nggak bilang lebih dulu? Aku ‘kan jadi kaget!’ pekik Kiara dengan menahan malu. Lebih-lebih, saat Alexion meletakkan tubuh Kiara di ranjang, tiba-tiba selang infus yang ada di tangan Kiara melilit leher Alexion dan membuat laki-laki itu tersungkur menindih tubuh Kiara dan membuat Kiara memekik terkejut. “Maaf! Maafkan saya, Tuan!” pekik Kiara dengan menarik tangannya agar lilitan itu segera terurai. Namun demikian, seolah Alexion tak keberatan, laki-laki itu hanya diam tanpa bereaksi apa pun. Ekspresi wajahnya pun tak terbaca. Dan ia bergegas meninggalkan kamar itu setelah terbebas dari Kiara. “Lain kali lebih berhati-hatilah,” tegur Alexion dengan wajah tegang. ‘Bahkan dia nggak noleh lagi saat menutup pintu? Apa dia marah? Ya, mana aku tahu kalau dia terlilit selang infus. Lagian dia sendiri yang seenaknya menggendongku nggak pakai ngomong dulu,’ pikir Kiara dengan tatapan sendu, bahkan mulai berkaca-kaca. ‘Ya udah, yang jelas aku harus cepat sehat untuk bisa keluar dari rumah ini.’
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD