Bab 7 Hari Pertama Di Istana Alexion

1164 Words
Pagi itu, Kiara bangun dengan perasaan lebih tenang, bahkan terlalu tenang. Ia merasa nyaman dan aman. Ia ingat seumur hidupnya, ia tak pernah setenang ini. Ia meletakkan kepalanya bertelekan bantal tinggi yang ia susun sendiri dan menghela napas dengan berat. Walaupun untuk sesaat lalu, ia terlonjak kaget karena teringat harus menyiapkan sarapan pagi dan kopi untuk ayah dan adiknya. Namun demikian, saat ia merasakan aroma wangi bantal dan nyeri di punggung tangannya, ia menyadari, ia tak berada di rumahnya sendiri. Ia tak berada di tempat yang semestinya. ‘Oh, ya Tuhan, baru kali ini aku kebangun nggak pakai terkaget-kaget dan ketakutan,’ pikir Kiara dalam hati seraya menghela napas lega seraya menatap ke sekeliling ruangan itu. Ia menatap jam dinding besar dan cantik yang bertengger di dinding kamar dengan posisinya tepat di hadapannya. ‘Ini bahkan sudah jam tujuh pagi,’ gumam Kiara kembali, ‘Biasanya dari jam lima pagi juga udah ada yang gedor-gedor pintu kamar. Sekarang aku bisa tidur nyenyak begini, apa ini juga karena obat-obatan dalam infus ini? Bisa jadi. Tapi, tempat ini juga yang kayaknya jauh dari mana-mana. Jadi, aku bisa sedikit lebih tenang,’ pikir Kiara mengira-ngira. Ia teringat bagaimana setiap pagi harus mendengarkan suara makian dan amarah ayahnya, jika ia terlambat sedikit memasak sarapan dan bahkan secangkir kopi untuknya. Bagaimana ia yang hampir kena tamparan keras ayahnya setiap hari jika ia terlambat memberinya uang. Lagi-lagi Kiara menghela napas dengan berat mencoba menenangkan pikiran dan hatinya yang terus berkecamuk. Hingga ia kembali menatap punggung tangannya yang tertancap selang infus, dan perban di lengan kirinya yang telah membungkus lukanya. ‘Kenapa orang itu membawaku ke mari? Apa yang ada di pikirannya? Apa rencana orang itu?’ pikir Kiara termenung sejenak dan sesaat kemudian ia terlonjak dari rebahnya. ‘Tunggu, apa dia kenal Aaron? Oh iya, bener! Dia dengerin semua ucapan Aaron di hape waktu itu. Dan... Ya ampun! Aku baru inget! Jelas aja dia kenal Aaron. Secara dia artis terkenal. Tapi, nggak, maksudku bukan itu! Dia ada di studio waktu itu! Jelas aja dia kenal Aaron! Oh, ya ampun!’ Kiara menepuk keningnya beberapa kali. ‘Tapi, kenapa dia semarah itu sampai hapeku di banting, gitu! Oh iya, ngomong-ngomong aku nggak ada hape! Gimana mau hubungi Kak Nadya? Dia pasti kebingungan nyariin aku? Aku harus mencari orang itu,’ pikir Kiara seraya bangkit dari ranjang dengan perlahan dan mendorong tongkat infusnya. Namun demikian, belum sempat ia benar-benar beranjak dari tepian ranjang untuk keluar kamar, tiba-tiba pintu terbuka oleh seorang kepala pelayan laki-laki paruh baya dan dua pelayan wanita. Kiara tertegun untuk sesaat menatap ketiganya yang datang berbondong-bondong dan langsung menunduk hormat padanya. Kiara kembali duduk di tepian ranjang. “Selamat pagi, Nona,” sapa mereka dengan suara sopan dan senyum ramah. “Ah, nggak! Tolong jangan begitu. Iya, se-selamat pagi,” gugu Kiara dengan sikap canggung. “Mohon izin memperkenalkan diri, Nona. Saya Hans, kepala pelayan di sini dan saya yang akan bertanggung jawab atas semua urusan di sini. Dan lalu ....” Hans menggantungkan ucapannya seraya mengarahkan tangannya kepada pelayan pertama yang usianya jauh di bawah Hans, bahkan terlihat seperti anaknya. Perempuan muda itu menyahut, “Mohon izin, Nona. Nama saya Ira,” ucapnya seraya membungkukkan badannya sebentar. Tangan Hans pun beralih pada perempuan muda yang ada di sebelah kirinya yang membawa nampan di tangannya. “Dan saya, Nina, Nona. Izin memperkenalkan diri, Nona,” ucap Nina menutup perkenalan itu yang membuat Kiara ternganga tak percaya. “Ba-baiklah, salam kenal Pak Hans dan Kakak-kakak sekalian, nama saya Kiara,” sahut Kiara dengan sopan dan bangkit dari duduknya, ikut membungkuk dengan sopan membalas perlakuan sopan mereka yang sontak membuat terkejut dan panik kedua pelayan muda itu. “Ah, Nonaaaa. Nona jangan begitu! Nona nggak perlu seperti itu pada kami,” ucap Ira dengan spontan dan langsung mendapat pelotot marah dari Hans yang langsung berdeham. “Ira, jaga sikap dan ucapanmu. Nona kita baru sampai di sini dan beliau pasti belum memahami aturan dan ketentuan yang berlaku di rumah ini. Kau harus minta maaf pada Nona, cepat!” tegur Hans dengan suara berat. “Maafkan atas kelancangan saya, Nona! Mohon maafkan saya!” ucap Ira dengan nada memekik karena tegang dan ketakutan. Ia terdengar bergetar seperti hendak menangis. “Nggak kok, nggak apa-apa. Saya yang harusnya minta maaf, karena sudah merepotkan,” sela Kiara dengan tak enak hati, namun lagi-lagi dibalas oleh anggukan setengah badan sikap mereka yang penuh hormat dan membuat Kiara meringis getir. “Anu, maaf, sebenarnya ada apa ini? Di mana...Tuan?” sela Kiara dengan nada canggung dan bingung harus menyebut Alexion dengan panggilan apa. “Untuk itulah kami kemari, Nona,” ucap Hans seraya menatap Kiara dan beralih pada Nina yang langsung maju atas perintah tangan Hans dan menyodorkan nampan yang berisi ponsel kepada Kiara. “Tuan ingin berbicara pada Nona sejak pagi, tetapi, kami menunggu Nona untuk bangun, karena kami tak berani mengganggu istirahat, Nona ....” “Oh, maaf! Saya, saya kesiangan, karena obatnya ....” sela Kiara dengan canggung sekaligus malu dan segera meraih ponsel yang ada di atas nampan tersebut dengan tangan bergetar. “Tetapi, karena jam sudah menunjukkan jam sarapan pagi, saya menyarankan agar Nona kembali duduk dan kami akan membawakan sarapan pagi ke dalam kamar. Karena satu jam lagi akan ada kunjungan dokter untuk Nona,” papar Hans seraya mengkode Ira dan Nina membantu Kiara untuk kembali duduk di ranjangnya. Sementara itu Ira berlarian keluar kamar dan membawa meja dorong yang penuh dengan makanan. Kiara membeliak terkejut tak percaya. “Banyak banget! Apa kalian ikut makan bersamaku?” tanya Kiara menatap tak percaya pada meja dorong tersebut yang berisikan lima jenis masakan tersaji di sana, beserta puding, buah potong dan salad. “Tidak, Nona. Makanan ini khusus untuk Nona,” sahut Hans tersenyum ramah diikuti oleh Ira dan Nina. “Apa?” pekik Kiara membeliak terkejut bukan main, “Yang bener aja, mana mungkin aku bisa makan semuanya sebanyak itu?” gumam Kiara dengan meringis kebingungan. “Tapi, Nona. Tuan menyuruh saya secara khusus memilih menu makanan ini untuk Nona. Karena Nona butuh banyak nutrisi selama masa penyembuhan. Dan Tuan berpesan Nona harus makan ini,” ucap Hans dengan mengarahkan tangannya pada meja dorong itu. ‘Ini mah bisa buat makan seminggu kalau di rumah! Mana makanannya enak-enak semua! Tapi, mana mungkin ‘kan aku makan sendiri? Ini porsi makan untuk lima orang sekali makan!’ pekik Kiara dalam hati. Tiba-tiba ponsel di tangan Kiara berdering dan membuat Kiara tersentak kaget. Melihat nama Alexion yang terpampang di sana membuat Kiara cepat-cepat membuka saluran pembicaraan itu. “Ha-lo ....” “Kenapa belum makan juga? Apa kau tak suka dengan menu pilihanku?” tegur Alexion bahkan tanpa sapaan basa-basi yang sontak membuat Kiara celingukan memandang ke sekeliling ruangan itu untuk mencari di mana sosok Alexion. ‘Kok dia tahu sih? Memangnya dimana dia?’ pikir Kiara yang kebingungan dan langsung mendapat semburan dari laki-laki yang ada di ujung telepon. “Apalagi yang kau cari? Cepat makan atau aku pecat mereka dan para koki! Karena tak mengerjakan tugas sesuai perintahku!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD