“Oke, baik. Saya akan makan sekarang,” ucap Kiara segera mematikan ponselnya bahkan tanpa menunggu jawaban Alexion.
Dan kini, Kiara duduk di meja yang ada di salah satu sisi kamar itu. Kiara makan dengan lambat-lambat seraya melirik ke sana ke mari untuk mencari di mana letak CCTV yang memata-matainya. Dengan cara diam-diam atau terang-terangan pun ponsel itu tak lagi berbunyi.
‘Berarti di kamar ini nggak ada CCTV, bisa jadi dia asal tebak. Oke. Berarti dia nggak akan tahu kalau aku nggak makan semuanya,’ pikir Kiara dengan senyum simpul di wajahnya yang cantik, lalu menatap pada Ira dan Nina yang berdiri tak jauh darinya dan membelakanginya.
“Ira, Nina,” bisik Kiara memanggil keduanya yang langsung menoleh dengan terkejut dan wajah bingung.
Kiara melambaikan tangannya pada keduanya untuk mendekat, “Sini, sini,” bisik Kiara dengan penuh semangat.
“Ada apa, Nona?”
“Ada yang bisa kami bantu?”
Ucap Nina dan Ira saling bersahutan dan langsung mendapat teguran berbisik dari Kiara.
“Sssstt... Jangan kenceng-kenceng, sini, cepetan!” bisik Kiara sambil celingukan menatap ke arah pintu kamar yang tertutup.
“Kalian berdua sedang nggak tugas lagi, ‘kan?” tanya Kiara memastikan pada keduanya yang langsung saling berpandangan.
“Kami sedang bertugas menjaga Nona makan. Memastikan Nona makan dengan baik,” papar Ira dengan tenang dan tegas yang langsung mendapat anggukan dari Nina.
“Bagus! Kalau begitu! Kalian sekarang duduk di sini dan temani aku makan!” ucap Kiara sambil menepuk tangannya dengan berbinar.
Kedua perempuan muda itu saling berpandangan terkejut dan panik, tapi mereka pun bergegas duduk dengan canggung karena paksaan Kiara.
Dan tak butuh waktu lama, kini mereka makan dengan lahap di sela pembicaraan yang sering dilontarkan secara sepihak oleh Kiara. Secara bergantian Nina dan Ira pun menjawab semua pertanyaan Kiara yang hanya seputar kehidupan pribadi mereka secara umum.
‘Kalau aku bertanya tentang Alexion pada mereka, apakah mereka akan bingung? Secara aku adalah tamu dia, dan mereka nggak tahu-menahu tentang hubungan kami?’ pikir Kiara dalam hati dan kemudian ia sadar akan sesuatu.
‘Hubungan?’ Kiara tercenung.
‘Hubungan apa yang bisa dijalin dan diharapkan dari orang seperti dia? Ini bisa jadi hanya kompensasi karena dia telah menodaiku tanpa sengaja karena kesalahannya. Atau mungkin saja, dia ingin membungkamku dengan cara yang paling halus dan paling mujarab, agar aib itu nggak terkuak ke permukaan,’ pikir Kiara yang kini termenung diam tanpa sepatah kata pun terlontar dari mulutnya.
Ira dan Nina saling melirik dan ikut menghentikan makan mereka, karena menatap Kiara yang tiba-tiba terdiam dan larut dalam pikirannya.
‘Ya, aku rasa kalau diingat-ingat, wajahnya kayak nggak asing. Mungkin dia memang salah satu artis. Oh, ya ampun! Mana aku tahu, aku nggak pernah memantau dunia entertainment sejak dulu. Kalau aku nggak kenal Aaron, aku juga nggak akan kenal dunia begituan!’ Kiara menghela napas berat dan meletakkan sendoknya dengan kesal.
Hal itu membuat Ira dan Nina spontan berdiri dan menunduk hormat dan membuat Kiara membeliak terkejut, “Ada apa?”
“Maafkan kami, Nona. Jika ada perkataan kami yang membuat Nona tersinggung,” ucap Nina dengan suara gemetar.
“Astaga! Enggak, bukan! Ini bukan tentang kalian. Aku sedang kepikiran sesuatu. Ayo, makan lagi, sebelum dia datang kembali,” ajak Kiara buru-buru dan kembali melahap makanan yang ada di piringnya. Dan kali ini ia melahap puding buah itu dengan wajah penuh sukacita.
Hingga tibalah waktu kunjungan dokter, Kiara telah bersiap di kamarnya setelah ia berganti baju dan dilap oleh kedua pelayan muda itu. Dokter paruh baya itu menatapnya dengan penuh perhatian pada luka di lengan Kiara.
“Hmmm... Kenapa belum ada perkembangan sama sekali? Seharusnya obat yang saya berikan bisa mengurangi radang dan infeksinya. Tetapi, tetap saja jika, penderita tak bisa menjaga makan akan tetap lama sembuhnya,” gumam laki-laki itu seraya memegang kacamatanya untuk meneliti luka di lengan Kiara.
Mendengar ucapan dokter itu, Kiara menjadi tak enak hati, “Maaf, Dokter, apakah saya butuh waktu yang lama untuk sembuh?”
Dokter itu menarik kacamata lebih dekat ke mata dan beralih ke wajah Kiara yang tersenyum getir, “Kenapa? Apa Nona ada rencana untuk pergi dari sini?” tanya dokter itu dengan santai.
Kiara terperangah tak percaya, tentu saja dia harus pergi dari sini, ‘kan? Tak mungkin dia berlama-lama tinggal di rumah orang. Apalagi rumah semewah itu.
“Bukankah dia memperlakukanmu dengan baik? Aku rasa dia akan memberimu banyak anak dan untuk kekayaan, Nona sudah bisa melihat sendiri bagaimana rumah dan seisinya, ‘kan?” sambung dokter itu membubuhkan obat luka berupa salep pada lengan Kiara dan melirik Kiara sepintas lalu yang menunjukkan wajah yang luar biasa kaget.
“Em-mak-maksud, Dokter, apa?” gugu Kiara dengan terbata-bata. Otaknya seolah tumpul mendadak.
Dokter itu menyelesaikan memasang perban di luka Kiara. Dan menatap Kiara seraya tersenyum dengan pandangan menilai, “Nona betah ‘kan di sini?”
“Hah?” kali ini Kiara melontarkan kata-kata yang sejak tadi menggelitik pikirannya.
“Ya ampun, Dokter! Yang bener aja, Pak Dokter. Mana mungkin saya betah di sini? Saya takut dan serem di sini,” sahut Kiara dengan bersungut-sungut.
Kali ini dokter paruh baya itu menaikkan alisnya tanda tak mengerti, “Loh? Bukannya di sini enak dan mewah?” desaknya pada Kiara yang langsung menggelengkan kepalanya berkali-kali.
Kiara mendekatkan wajahnya pada dokter itu dan menutupi mulutnya untuk berbisik pada laki-laki paruh baya itu.
“Di sini seperti di istana, banyak banget pelayan dan saya selalu merasa diawasi, Dokter. Saya ngerasa serem. Biasanya tawanan perang kalau sudah lengah dengan barang-barang mewah dia nggak akan terasa kalau dia akan dibunuh atau dipancung diam-diam!” bisik Kiara dengan wajah bersungguh-sungguh.
Mendengar celoteh Kiara yang begitu serius, Dokter itu pun ikut celingukan menatap ke sekeliling ruangan sebelum akhirnya membalas ucapan Kiara.
“Jadi, Anda sudah tahu siapa beliau?” tanyanya dengan berbisik dan membuat Kiara menggelengkan kepalanya berkali-kali.
“Sebaiknya mulai malam ini Anda berhati-hati, Nona. Jangan sampai pintu itu tidak terkunci. Ingat, pesan saya. Yang saya takutkan dia akan menerkam Anda, Nona,” sambung laki-laki paruh baya itu seraya berdiri menjauh dari Kiara.
Kiara mengernyit ketakutan, “Dokter, tunggu. Kenapa, Dokter tidak membawa saya pergi? Dokter, Dokter satu-satunya harapan saya agar bisa keluar dari sini, Dok. Tolong saya, saya mohon ....”
Pintu terbuka dengan tiba-tiba dan menelan semua ucapan Kiara yang bersungut-sungut. Apalagi sosok yang sedang mereka bicarakan tiba-tiba muncul dan berjalan ke arah mereka dengan tampang serius.
“Permisi, saya harus pamit,” ucap Dokter itu menunduk sepintas lalu pada Alexion dan mengedipkan sebelah matanya pada Kiara yang terbata-bata memanggilnya.
Kiara mengikuti kepergian dokter itu dengan tatapannya yang terlihat putus asa. Dan kini tatap matanya berserobok pada sorot mata Alexion yang tajam yang kini dengan seenaknya merebahkan dirinya di ranjang di sisi Kiara.
“Se-selamat pagi, Tuan,” sapa Kiara berbasa-basi. Walaupun ia mulai merasa deg-degan luar biasa.
Alexion tak menjawab sapaan Kiara, namun ia malah memejamkan matanya dan tak lama kemudian terdengarlah dengkur halusnya.
‘Mati aku! Kenapa orang ini malah tidur di sini? Ini ‘kan masih pagi? Apa dia nggak kerja? Mati aku, gimana iniiii...? Pak Dokter juga kenapa malah pergiiii...!'