Kiara menatap dengan tatapan tak percaya. Ia benar-benar melihat laki-laki itu terlelap begitu saja di sisinya. Ia mencoba menggerakkan tangannya di atas wajah Alexion, namun kelopak mata laki-laki itu tak bergerak mengikuti arah tangannya.
‘Ya ampun! Gimana ini? Dia bener-bener tidur? Bisa-bisanya ....’ pikir Kiara membeku diam tak berani bergerak sedikit pun.
Kiara menutup wajahnya dengan malu saat mendengar dengkuran halus yang terasa tak asing di telinganya. Dan hal itu membuatnya teringat kembali bagaimana malam itu mereka lalui tanpa sengaja. Sebuah insiden sekaligus kekacauan yang terjadi tanpa bisa ia cegah.
Kiara menggelengkan kepalanya berkali-kali untuk menghilangkan semua bayangan itu. Ia malu sekaligus sakit hati karena mau tak mau itu semua terjadi karena Aaron.
Aaron. Laki-laki cinta pertamanya yang ia pikir adalah pelabuhan terakhirnya. Ia bahkan mencurahkan segala perasaan dan cintanya lewat semua lagu-lagu ciptaannya yang melambungkan nama sang kekasih. Nyatanya ia mendapatkan pembalasan sebuah pengkhianatan.
Kiara menghapus leleh air mata yang tiba-tiba mengalir membasahi pipinya, ia menghela napas untuk meredakan kegelisahan hatinya. Namun demikian, ia kembali teringat bagaimana Aaron yang menjanjikan sebuah pernikahan dan rumah untuk tinggal bersama membangun bahtera rumah tangga mereka. Dan bagaimana....
“Apa kau begitu mencintainya?”
Kiara tersentak dan tersadar dari lamunannya saat mendengar suara Alexion yang menyeretnya kembali ke dunia nyata. Ia menoleh pada Alexion yang kini berbaring memiringkan tubuhnya dengan bertumpu pada sikunya. Dan gerakan Kiara itu membuat setetes air mata jatuh di tangan Alexion.
“Oh, maafkan saya,” ucap Kiara seraya mengusap tetesan air mata yang berada di atas punggung tangan Alexion dengan panik.
Alexion menarik tangan Kiara, “Kuulangi sekali lagi, apa kau begitu mencintainya?” tanya Alexion dengan suara berat dan dalam.
Kiara menggumam tak jelas, “Saya...Dia cinta pertama saya. Dan dulu saya sempat menggantungkan harapan saya padanya,” ucap Kiara yang kembali membuang muka untuk menghindari tatapan Alexion.
Alexion kembali merebahkan tubuhnya dengan santai di sisinya dan meraih bantal milik Kiara untuk dipeluknya.
“Dulu... Lalu sekarang?” Kiara menoleh kembali menatap Alexion yang melontarkan kata-kata ambigu.
“Kau bilang, kau dulu menggantungkan harapan padanya? Lalu sekarang apa yang kau inginkan darinya?” desak Alexion dengan tegas.
“Darinya? Tentu saja nggak ada! Aku nggak butuh apa pun lagi darinya! Dia sudah mati dihidupku!” pekik Kiara mulai terisak.
“Jadi, sekarang kau sedang menangisi kematiannya?”
Kali ini pertanyaan Alexion membuat Kiara kesal dan jengkel, ia memukul-mukul d**a Alexion dengan kesal dan serta merta Alexion menangkap tangan Kiara.
“Apa sih maksud, Tuan? Kenapa sejak tadi Tuan terus memancing emosi saya?” sembur Kiara dengan kesal.
“Lagian apa maksud Tuan membawa saya kemari? Untuk apa Tuan menawan saya? Apa salah saya? Apa ....”
Ucapan Kiara terhenti seketika karena tiba-tiba Alexion meraih wajah dan pinggang Kiara dan membenamkan bibirnya pada bibir Kiara. Ciuman itu menghentikan tangisan Kiara seketika berganti dengan lenguh panjang di tenggorokan Kiara. Hingga mereka terengah bersama saat Alexion menyudahi ciumannya.
“Aku bilang tugasmu hanya satu, sehatkan dirimu. Kau tak boleh memikirkan apa pun yang membuatmu sakit dan menangis. Aku tak suka itu,” ucap Alexion dengan suara rendah di bibir Kiara yang bergetar.
“Dan tak ada lagi pertanyaan-pertanyaan apa pun di luar itu. Dan aku tak akan mengulangi perintah atau pun pertanyaan-pertanyaan yang sama. Kau mengerti?” sambung Alexion dengan tatapan tajam pada Kiara yang kini mengangguk dengan patuh.
“Lupakan Aaron! Bunuh dia di hati dan hidupmu! Itu perintahku!” pungkas Alexion dengan tegas dan lalu pergi meninggalkan Kiara yang masih terperangah tak percaya.
Ia mengikuti Alexion dengan pandangan matanya. Ia meraba jantungnya yang ternyata berdebar-debar tak karuan. Ia masih membeku diam dengan segala apa yang diungkapkan oleh laki-laki itu. Laki-laki asing yang tak ia kenal tiba-tiba datang memporak-porandakan hidupnya yang telah hancur dalam semalam dan kini laki-laki itu datang dan mengatakan hal-hal yang ambigu dan mustahil.
‘Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia benci banget sama Aaron? Ada masalah apa mereka?’ pikir Kiara tak habis mengerti.
‘Ya Tuhan! Apa dia sebenarnya pacar Clarissa Lynn? Dan malam itu dia harusnya tidur dengan Clarissa?’ pikir Kiara membekap mulutnya tak percaya.
‘Pantesan dia benci banget sama Aaron! Ya, ya, ya, aku paham sekarang!’ Kiara menepuk tangannya dan mengangguk-anggukkan kepalanya dengan yakin.
‘Makanya dia buru-buru bawa aku ke sini, diumpetin di sini. Ternyata begitu. Mungkin dia ingin balas dendam pada Aaron melalui aku! Ya. Dia ingin merebut aku dari Aaron. Yah, seenggaknya aku juga udah patah hati dari Aaron sih. Mungkin dia memang ingin menyerang Aaron melalui aku. Heemm, boleh juga! Oke! Aku terima tawaranmu, Tuan Alexion! Nanti aku akan bicara padanya!’ Kiara membulatkan tekadnya dengan pasti.
Namun demikian, setelah 3 hari berlalu, sampai infus di tangannya dilepas, Alexion tak menampakkan batang hidungnya sama sekali. Ia hanya melakukan hal-hal yang diantarkan dan dikatakan oleh Hans dan juga Ira atau Nina.
Kiara melakukan semua hal itu tanpa bertanya apa pun, bahkan cenderung penurut seperti anak kecil yang sangat penurut di mata kedua orang tuanya. Hal itu sempat menjadi perbincangan di antara para pelayan.
Seperti halnya malam itu. Kiara yang telah selesai makan malam di kamar, berjalan-jalan di taman samping rumah dengan di temani oleh Ira yang terus mengekor di belakangnya. Kiara yang hendak menuju kembali ke kamarnya, sayup-sayup tanpa sengaja mendengar pembicaraan dua atau tiga orang perempuan di dapur. Kiara berjalan lambat-lambat.
“Non Kiara sepertinya gadis baik-baik, aku jadi kasihan sama dia.”
“Iya, gimana nanti kalau ketemu sama mereka? Aku yakin Tuan besar pasti nggak akan setuju dengan hubungan Tuan muda dan Non Kiara.”
“Padahal aku lebih suka Non Kiara daripada Non Bianca. Lagian, kayaknya Tuan Alex aja nggak suka sama dia tapi seolah nyonya rumah aja. Serasa banget tunangan Tuan muda. Idih amit-amit!”
“Tapi, mereka ‘kan memang udah tunangan ‘kan?”
Kiara terenyak untuk sesaat dan menghentikan langkahnya. Ia ingin mendengarkan lebih lanjut pembicaraan itu, namun demikian Ira yang menyadari kesalahan teman-temannya segera membuat suara-suara gaduh dengan terbatuk-batuk.
Mendengar suara batuk dari luar membuat ketiga pelayan muda itu berhamburan keluar ruangan dan betapa terkejutnya ia saat melihat sosok Kiara yang berdiri mematung di lorong itu. Mereka menyapa dengan panik dan Kiara membalas dengan senyuman manis yang lalu berjalan dengan tergesa-gesa menuju kamarnya kembali.
Kiara mengunci pintu kamar dengan menahan amarah, ‘Ternyata dia bahkan punya tunangan! Lalu apa maksudnya membawaku ke mari? Menciumku dan memperlakukan aku seperti ini? Dia sama saja seperti Aaron!’