Abimanyu Wibisana, pengusaha sukses berusia dua puluh sembilan tahun. Memiliki dua istri cantik bernama Melya Anandha dan Sisilia Renata, pria yang selama ini selalu berlaku adil pada kedua istrinya itu membuat rumah tangganya berjalan dengan baik. Abi selalu memberi hak dan melakukan kewajiban yang sama pada Melya dan Sisil. Pria yang biasa disapa Abi itu juga sudah memiliki dua orang anak dari istri pertamanya Melya, kedua anak Abi yang bernama Azzam Wibisana dan Neina Putri Wibisana.
Bersama Sisil memang Abi belum di karuniai keturunan, karena pernikahannya baru menginjak delapan bulan. Walaupun keduanya tak menunda untuk memiliki anak, tetapi sepertinya Tuhan mau agar mereka jadi lebih sabar lagi.
Hari ini Abi sedang dirumah Sisil, karena seperti biasa, hari kamis hingga sabtu adalah waktunya ia bersama istri keduanya itu. Sisil adalah seorang model majalah muslimah keturunan Sunda-Arab, hidung mancung dan pipi tirus adalah daya tarik yang ia miliki. Wanita itu saat ini sedang menyiapkan sarapan untuk suaminya, seperti biasa wanita itu akan memasak sendiri jika suaminya sedang dirumah.
“Mih, udah selesai masaknya?” Tanya Abi mengampiri istrinya yang masih sibuk dengan peralatan masak. Bahkan wanita cantik itu tak menyadari kehadiran suaminya yang sudah rapi dengan setelan kerja yang sebelumnya sudah ia siapkan dikamar mereka.
“Sebentar lagi, tunggu di meja makan dulu ya, Bi.” Sahut Sisil, baik Melya ataupun Sisil akan memanggil suaminya dengan sebutan Abi, bukan maksud memanggil nama, tetapi kedua wanita itu mengitu panggilan dari Azzam dan Neina.
Sisil melanjutkan kegiatannya menyiapkan sarapan untuk dirinya dan juga suami tercintanya. Disela kegiatannya, wanita itu sesekali melirik suaminya yang sedang sibuk dengan tab ditangannya. Mungkin suaminya itu sedang memeriksa beberapa pekerjaan, itu yang Sisil pikirkan.
Sarapan nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi sudah Sisil hidangkan diatas meja, tak lupa secangkir kopi hitam kesukaan Abi juga sudah tersedia. Wanita itu langsung menuangkan nasi goreng ke atas piring beserta pelengkapnya, dan ia suguhkan untuk Abi. Pria tampan itu tersenyum hangat menerima segala pelayanan yang dilakukan oleh istri cantiknya.
Walaupun Abi menyediakan asisten rumah tangga, baik itu dirumah Melya ataupun dirumah Sisil. Tapi, kedua istrinya adalah wanita yang selalu melayani suami dengan baik. Tidak mengandalkan atau memanfaatkan tenaga orang lain. Selama mereka bisa melakukan untuk menyenangkan Abi, keduanya akan lakukan dengan senang hati.
“Hari ini, ada kerja keluar sayang?” Tanya Abi disela sarapannya.
“Cuma ke tempat Mba Melya aja, Bi. Ada baju rancangan terbaru, mungkin nanti mau fitting terakhir sebelum pemotretan.” Jawab Sisil yang sedang mengupas buah apel kesukaan Abi. Ya, Melya dan Sisil memang betul-betul memiliki hubungan yang sangat dekat, tak hanya Abi yang menjadikan mereka akrab, tetapi juga keterkaitan mereka karena hubungan pekerjaan.
Melya yang merupakan seorang perancang busana, banyak dibantu oleh Sisil yang seorang model profesional. Bentuk tubuh Sisil yang sangat sempurna untuk ukuran wanita Indonesia, menjadikan setiap baju yang dibuat oleh Melya terlihat sempurna.
“Jangan cape-cape, ya. Biar kamu bisa cepet hamil, kalo kamu gak bisa, bilang aja sama Melya. Biar dia cari model lain.” Ucap Abi yang sudah selesai dengan sarapannya, kini pria itu sedang menikmati kopi yang sudah dibuatkan Sisil.
“Aku gak cape kok, Bi. Aku suka bantu Mba Melya, baju buatannya keren banget, aku juga seneng kalo main ke tempat Mba Melya, bisa main sama Azzam, apalagi Neina sekarang udah mulai ceriwis banget.” Sahut Sisil antusias saat menceritakan kedua anak suaminya bersama Melya.
“Iya kalo kamu gak cape, ya gak apa-apa. Kamu akan lebih seneng lagi, kalo udah punya anak sendiri. Makanya aku gak mau kamu kecapean,”
“Iya tenang aja, Bi. Kalo aku cape, pasti aku langsung istirahat. Gak menguras tenaga juga kok kerjaan aku. Ini dimakan dulu apelnya,” Sisil mencoba mengalihkan pembicaraan. Karena akan menjadi hal yang sensitif jika dirinya dan sang suami sudah membahas masalah keturunan. Walaupun dirinya sudah melakukan pemeriksaan menyeluruh mengenai kesehatan kandungannya, dan dokter mengatakan semua baik-baik saja. Hanya perlu menunggu lebih sabar lagi, tetapi Sisil tetaplah seorang wanita biasa. Akan menjadi lebih sensitif saat menyinggung kehamilan.
Abi memakan beberapa potong apel, sedangkan Sisil kini menyantap nasi gorengnya. Sudah menjadi kebiasaan wanita itu, akan makan setelah suaminya selesai, Sisil lebih senang melayani sang suami terlebih dahulu.
Suaminya sudah berangkat kerja, sedangkan Sisil langsung membereskan meja makan dibantu oleh salah satu asisten rumah tangganya. Setelah selesai, Sisil kembali masuk kedalam kamarnya untuk bersiap-siap menuju butik milik Melya.
***
“Mamih, mamih cantik banget deh.” Celoteh Neina dengan pelafalan yang belum begitu jelas di beberapa huruf. Saat ini Sisil memang sudah dibutik Melya, istri pertama dari suaminya itu selalu membawa anak-anaknya saat bekerja. Tetapi dengan bantuan pengasuh, karena Azzam dan Neina saat ini sedang dimasa banyak ingin tahu. Jadi, harus dengan penjagaan ekstra agar tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan.
“Na juga cantik, lebih cantik Na ih. Mamih jadi mau ciumin Na terus,” Goda Sisil pada Neina lalu memberi ciuman bertubi-tubi di pipi chubby bocah kecil yang saat ini ada di pangkuannya.
“Na, sama Mba Anggi dulu ya. Mamih mau cobain baju dulu, ya Na sayang.” Bujuk Melya pada putri bungsu kesayangannya.
Azzam saat ini sedang sekolah, jadi hanya ada Neina bersama mereka. Kedekatan Sisil dengan kedua anak Melya terkadang membuat siapapun yang melihat akan berpikir jika Sisil lah ibu dari kedua bocah itu. Melya pun dekat dengan kedua anaknya, namun pekerjaannya terkadang menuntut Melya lebih sering meninggalkan Azzam dan Neina bersama pengasuh.
“Iya, Umi.” Jawab Neina menggemaskan.
“Ya ampun, Mba Mel. Aku tuh gemes banget kalo liat Neina, aku kapan punya anak ya Mba?” Ucap Sisil sendu.
“Sabar, usaha dan berdoa. Kalo pas kamu lagi masa subur, Abinya anak-anak waktunya dirumah ku. Kamu kabarin aku aja, nanti aku suruh ke tempat mu.”
“Gak gitu dong, Mba. Aku yang gak enak,”
“Kayak ma siapa aja sih, pake gak enak. Lagian Azzam sama Neina kan anak kamu juga, ajak aja mereka nginep dirumah mu. Pasti mereka mau, lagian mereka punya pengasuh sendiri-sendiri, jadi gak akan ngerepotin kamu.” Ucap Melya lagi, kalimat yang selalu menenangkan bagi Sisil. Karena di Jakarta, Melya adalah orang terdekat yang Sisil miliki. Kedua orangtuanya saat ini tinggal di Aceh, karena Ayah Sisil yang sedang bekerja disana.
“Beneran boleh, Mba?” Tanya Sisil antusias disela kegiatannya memakai baju yang masih dalam proses pengerjaan sekitar tujuh puluh persen.
“Boleh lah, masa Mamihnya anak-anak gak boleh bawa anak-anak nginep. Egois itu aku namanya, lumayan kan kalo mereka lagi nginep, aku bisa fokus kerja. Hehehehehe...” Melya benar-benar wanita yang mampu menghangatkan siapa saja yang sedang di dekatnya.
“Aku ajak hari ini, boleh? Besok kan sabtu Azzam libur sekolah.”
“Kamu ajak aja mereka nanti, kalo kita udah selesai fitting.”
“Makasih banyak ya, Mba Mel.”
“Sama-sama, jangan sedih-sedih lagi.”
Melya dan Sisil kembali sibuk dengan kegiatannya, bahkan Sisil sudah tidak tahu berapa banyak baju yang ia ganti sejauh ini. Melya adalah perancang busana terhebat menurutnya, mampu menyelesaikan begitu banyak model terbaru dalam waktu yang bersamaan.
Azzam dan Neina begitu antusias untuk ikut bersama Sisil, sebelumnya baik Sisil atau Melya sudah ijin terlebih dulu pada Abi. Karena bagaimana pun, mengenai anak dan diri mereka, seorang istri harus mendapat ijin suami sebelum mengambil keputusan.
Sisil membawa Neina dalam gendongannya, sedangkan Azzam berjalan disampingnya. Wanita cantik itu ingin menghabiskan banyak waktu bersama dua anak kecil kesayangannya, sehingga tadi ia membujuk Melya agak mengijinkan pengasuk Azzam dan Neina tak ikut bersamanya. Awalnya Melya menolak, karena takut Sisil akan merasa kerepotan mengurus dua anak tanpa bantuan pengasuh. Tetapi, melihat Sisil yang terus memohon, membuat Melya merasa tak tega dan akhirnya memberi ijin walau dengan berat hati.
“Abang Azzam tunggu disini dulu, ya. Nanti kita makan siang, Mamih mau taro Dede Na kekamar dulu. Dedenya bobo,” Ujar Sisil seraya membelai kepala Azzam dengan sayang, dan meminta anak laki-laki itu menunggu diruang makan. Sebelumnya memang Sisil sudah menghubungi Mba Mia yang bekerja dirumahnya untuk menyiapkan makan siang. Jadi, siang ini makanan sudah siap tanpa Sisil harus memasak lebih dulu.
“Iya, Mih.” Jawab Azzam patuh, anak lelaki itu memang tipe anak yang penurut. Walaupun terkadang akan menjadi sangat manja terutama pada Ayahnya yang ia panggil Abi.
Sisil meninggalkan Azzam yang sudah duduk disalah satu kursi yang ada diruang makan, wanita itu juga sudah memanggil Mba Mia agar menemani Azzam terlebih dulu. Karena, ia yang harus ke kamar.
Dengan sabar dan penuh perhatian, Sisil menyuapi Azzam makan. Sebetulnya anak itu sudah dibiasakan untuk makan sendiri, namun kali ini Sisil sangat ingin memanjakan Azzam dan juga Neina. Selesai makan, Sisil menggantikan pakaian Azzam, lalu mengajaknya masuk kedalam kamar untuk tidur siang menyusul Neina yang terlihat begitu pulas.
***
Abi baru saja pulang, Sisil menyambutnya dengan penuh cinta dan kehangatan. Mengambil jas dan tas kerja yang dibawa oleh suaminya. Setelah Abi duduk di sofa ruang tamu, wanita itu tak lupa membukakan sepatu beserta kaos kaki suaminya itu. Hal yang rutin dilakukan oleh Sisil dan juga Melya.
“Azzam sama Neina jadi ikut kesini, Mih?” Pria itu bertanya pada istrinya yang sedang meletakan sepatu miliknya ke rak penyimpanan, beserta tas kerja dan juga jasnya di atas meja kecil yang ada disebelah rak penyimpanan sepatu.
“Jadi, masih pada bobo. Tadi, kesininya kesiangan, mana Neina belom makan lagi. Mau aku bangunin, tapi gak tega.” Jawab Sisil lalu duduk disamping suaminya. Memeluk tubuh suaminya yang selalu harus memabukan, dan dibalas oleh Abi dengan ciuman mesra ke puncak kepala Sisil.
“Seneng banget ya, bisa ajak anak-anak kesini?” Ucap Abi lembut.
“Kok tau sih?”
“Keliatan banget, sayang. Ya udah biarin anak-anak pada bobo, nanti abis maghrib kita ajak jalan-jalan ke Mall sebentar. Mau?” Abi menawarkan hal menarik pada istri tercintanya.
“Serius?” Sisil seakan tak percaya, karena biasanya Abi lebih senang menghabiskan waktu dirumah. Menonton beberapa film kesukaannya, atau masih di sibukan dengan beberapa pekerjaan yang belum selesai dikantor.
“Iya, jadi gak usah masak buat makan malem ya. Nanti kita makan malem diluar sama anak-anak,”
“Makasih ya, Mamih sayang banget sama Abi.” Ujar Sisil dan semakin mengeratkan pelukannya di tubuh suaminya.
***
Malam ini begitu menyenangkan bagi Sisil, jalan-jalan bersama suami tercintanya dan dua anak yang begitu menggemaskan. Neina yang begitu manja padanya, tak pernah mau turun dari gendongan wanita itu. Walaupun ia merasa pegal karena tubuh Neina yang lumayan berisi untuk ukuran anak seusianya, semua itu ia tahan. Karena pengalaman hari ini adalah hal yang sangat jarang terjadi selama usia pernikahannya. Abi sudah menawarkan putrinya untuk berpindah gendongan dari Sisil ke dirinya, tetapi ditolak Neina mentah-mentah. Abi hanya bisa menggelengkan kepala, melihat bagaimana keras kepalanya Neina yang ingin terus bersama Sisil.
“Abi, Na mau balon yang itu,” Neina menunjuk sebuah balon berbentuk kartun kesukaannya, terpajang di sebuah toko yang menjual berbagai macam mainan , anak itu meminta pada ayahnya penuh harap. Sebelumnya ia sudah berbisik pada Sisil agar dibelikan, namun Sisil menggodanya dengan mengatakan jika Sisil tak membawa uang. Akhrinya, mau tak mau Neina mengatakan keinginannya pada Abi.
“Di gendong maunya sama Mamih, beli balon mintanya sama Abi. Gak mau beliin ah,” Goda Abi pada sang putri.
“Abi, gak boleh gitu. Dede Na kan masih kecil,” Ujar Azzam yang mampu membuat Sisil dan Abi membelalakan matanya tak percaya dengan ucapan anak sulung mereka. Lalu keduanya saling tatap, dan pada akhirnya Abi membawa Azzam kedalam gendongannya.
“Abi becanda, sayang. Lagian, masa iya Dede Na cuma minta balon gak Abi beliin sih. Abang juga mau apa aja, pasti Abi beliin kok.” Abi menyesal karena sudah menggoda putrinya yang memancing sang putra sulung menjadi tak suka atas sikapnya.
“Abi gak boleh gitu lagi, ya.” Ucap Azzam penuh peringatan.
“Iya, Abi janji. Sekarang Abang mau beli apa?” Abi mencoba merebut kembali hati putranya.
“Gak mau apa-apa, ayo Abi kita beli balon ya Dede Na mau aja.” Ajak Azzam menunjuk kembali toko yang menjual balon dengan berbagai macam karakter kartun.
Menikmati makan malam bersama, menyuapi Neina yang sedang asik dengan balon yang baru saja dibeli sangatlah menyenangkan. Berbagi tugas untuk saat ini, Abi membantu Azzam untuk menghabiskan makanannya. Neina benar-benar menempel pada Sisil sama seperti ia yang selalu akan terus menempel pada Melya.
Abi sebagai pria merasa sedikit bingung dengan kedekatan Neina dengan Sisil, karena tak akan semua anak dengan mudah dekat dengan orang baru. Sekalipun itu adalah istri dari ayah kandungnya, tetapi kebaikan dan ketulusan hati Sisil sepertinya sangat bisa dirasakan oleh Neina dan juga Azzam. Anak sulung Abi juga sebetulnya anak yang manja, hanya karena dirinya yang sudah lebih paham bahwa ada adiknya yang lebih kecil dari dirinya, anak itu akan lebih banyak mengalah.
Malam ini begitu menyenangkan, sesampainya dirumah Azzam dan Neina sudah tertidur nyenyak. Bahkan wanita itu harus menggantikan baju kedua anak itu dalam kondisi sedang tidur. Karena, Sisil tak akan tega untuk membangunkan anak-anak yang sepertinya lelah setelah bermain.
Tidur bersama kedua anak yang menggemaskan di satu kasur yang biasanya hanya ia tempati berdua saja dengan suaminya. Wajah Sisil terus berseri, merasakan kebahagiaannya saat ini. Ia merasa bersyukur menikah dengan Abi yang sudah memiliki istri, dan istrinya itu adalah Melya. Bagi Sisil, Melya adalah wanita yang sangat luar biasa, ia harus banyak belajar tentang pelajaran hidup dari Melya.