Pagi menjelang, kedua anak Abi baru saja terbangun dari tidurnya. Tak ada siapapun dalam kamar mereka, membuat Neina hampir saja menyemburkan tangisnya. Namun, semuanya terhenti saat melihat Sisil baru saja keluar dari kamar mandi.
“Eh... Anak ganteng sama anak cantiknya Mamih udah bangun, mandi yuk,” ujar wanita cantik yang masih mengeringkan rambutnya dengan sehelai handuk.
“Na laper, Mih,” jawab Neina dengan suaranya yang lucu dan menggemaskan bagi Sisil.
“Iya, mandi dulu, terus nanti kita sarapan. Abi nanti selesai lari pagi pasti laper juga deh, yuk mandi,” ajak Sisil yang sudah menghampiri Neina, dan siap membawa gadis mungil itu ke dalam gendongannya.
“Abang mandinya gantian ya, Mamih mandiin Dede Na dulu,” sambung Sisil pada putranya yang masih duduk memperhatikan interaksi Sisil dengan sang adik.
“Abang mandi sama Mba Mia aja, boleh gak?” tanya Azzam.
“Boleh, sayang. Ya udah yuk, Mamih anterin keluar,”
Azzam segera turun dari ranjang besar tersebut, menyambut uluran tangan Sisil yang terbebas, sedangkan satu tangan lagi menggendong Neina yang sudah melingkarkan kedua tangannya dengan begitu erat.
Setelah mengantarkan Azzam menemui Mba Mia, Sisil kembali masuk kedalam kamar, lalu segera membawa Neina ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh gadis mungil itu. Tak butuh waktu lama, kini Sisil sudah selesai memandikan Neina, bahkan gadis kecil itu sudah nampak cantik dengan pakaian warna merah mudanya. Tak lupa rambutnya yang sudah di ikat dua, membuat Neina tampak sangat cantik.
“Mamih...”
Terdengar suara Azzam dari balik pintu kamar, mungkin anak lelaki itu juga sudah selesai dengan kegiatannya. Sisil bergegas membuka pintu, tak lupa mengajak Neina bersamanya, dan benar saja Azzam sudah berdiri disana.
“Iya, Bang. Abi udah pulang?” tanya Sisil.
“Udah, Mih. Abang disuruh panggil Mamih sama Dede Na, katanya mau sarapan,” jawab Azzam.
“Oke deh, yuk kita sarapan,” ajak Sisil pada kedua buah hati suaminya dengan Melya, tetapi ia sangat menyayangi keduanya seperti putra dan putrinya sendiri.
Hal yang hampir tak pernah terjadi, Sisil bisa merasakan sarapan bersama dengan Azzam dan juga Neina. Selama ini, ia hanya akan sarapan berdua saja dengan suami tercintanya. Sisil selalu memanjatkan doa terbaik untuk rumah tangganya, berharap Allah segera memberikan keturunan untuknya. Walaupun Sisil merasa bahagia dengan kehadiran Azzam dan Neina, tetapi semua akan berbeda jika suatu saat nanti hadir buah hati, yang lahir dari rahimnya sendiri.
Harapan dan doa setiap hari selalu wanita itu panjatkan, namun ia selalu berjanji, semua kasih sayangnya pada Azzam dan Neina tak akan pernah berubah sedikitpun. Karena keduanya sudah memberi kebahagiaan yang tak ternilai harganya.
***
Minggu sore, Sisil bersama Abi akan mengantarkan Azzam dan Neina untuk pulang ke rumah Melya. Karena esok hari, Azzam akan kembali dengan kegiatannya seperti biasa. Sebetulnya Sisil ingin lebih lama Azzam dan Neina tinggal di rumahnya, tetapi ia juga harus mengingat, jika kedua anak itu bukan miliknya sendiri. Ada Melya yang jauh lebih berhak atas Azzam dan Melya.
“Abang, Dede Na ayo kita turun,” ajak Sisil pada kedua anak yang duduk di kursi belakang. Sedangkan dirinya sudah turun lebih dulu, karena sepertinya penjaga rumah Melya tak ada di tempat. Jadi, ia harus membuka gerbang rumah Melya, agar mobil yang di kendarai suaminya bisa masuk kedalam.
Kedua anak itupun turun mengikuti perintah Sisil, sedangkan Abi sibuk menerima panggilan telepon. Memang sejak lima belas menit lalu, ponsel pria itu terus berdering. Tetapi, saat Sisil meminta pria itu untuk menerima panggilannya, Abi mengatakan akan menghubungi kembali jika sudah sampai saja.
“Assalamualaikum,” ucap Sisil saat sudah berdiri tepat didepan daun pintu rumah Melya.
“Waalaikumsalam,” terdengar suara dari dalam, namun itu Sisil yakini bukanlah suara Melya.
Dua daun pintu itu terbuka bersamaan, tak lama muncul sosok wanita yang tersenyum ramah pada Sisil. Betul dugaan Sisil, jika itu bukanlah Melya, melainkan Mba Anggi, pengasuh Neina.
“Bu Sisil, mari masuk, Bu.” Ucap Mba Anggi ramah.
“Dede Na, Mba Anggi kangen deh,” sambung Mba Anggi lagi, lalu membawa Neina ke dalam gendongannya.
Sisil masuk ke dalam rumah besar itu, namun merasakan keanehan karena begitu sepi. Melya tak biasanya hari minggu akan bepergian, karena Sisil sangat mengenal seperti apa sosok istri pertama dari suaminya itu.
“Mba Anggi, Mba Mel kemana?” tanya Sisil tak ingin menunda rasa penasarannya.
“Ada di kamarnya, Bu. Lagi gak enak badan, tadi malam demam cukup tinggi. Mau saya ajak berobat ke rumah sakit, Bu Melya gak mau. Katanya, cuma butuh istirahat aja,” jawab Anggi menjelaskan.
“Loh, Mba Mel sakit kenapa gak ngabarin saya sih Mba? Atau telpon Mas Abi kan bisa,”
“Maaf, Bu. Kata Bu Melya gak usah,” ucap Anggi dengan nada penuh penyesalan.
“Ya udah, saya ijin masuk ke kamar Mba Mel dulu ya, Mba Anggi tolong gantiin baju Azzam sama Neina. Tadi udah mandi di rumah, jadi di lap aja biar gak lengket,” ujar Sisil yang di angguki oleh Anggi. Lalu wanita itu menuntun Azzam dan Neina dalam gendongannya, ke dalam kamar yang sengaja Melya sediakan untuk putra putrinya berganti pakaian. Bukan di dalam kamar masing-masing.
“Assalamualaikum, Mba Mel aku masuk ya,” ujar Sisil yang sudah berdiri di depan pintu kamar. Terdengar suara Melya yang sangat lemah mengijinkannya masuk, tak membuang waktu lama, Sisil segera membuka pintu itu dan masuk ke dalam kamar Melya. Entah kapan waktu yang tepat, ternyata sang suami sudah berdiri di belakangnya, mengikuti dirinya masuk ke dalam kamar dan duduk di tepi ranjang, dimana Melya terbaring dengan wajah yang sangat pucat.
“Mba Mel kenapa gak ngabarin aku atau Mas Abi sih? Jahat banget, ngerasain sakit maunya sendirian,” cecar Sisil yang merasa kesal, karena Melya tak memberikan kabar jika sedang tidak sehat.
“Aku gak apa-apa, cuma kecapean aja. Lagian kan, kalian lagi quality time, masa iya aku ganggu sih. Aku beneran gak apa-apa, pusing sama lemes aja semalem,” jawab Melya dengan suara lemah.
“Umi jangan gitu lagi ya lain kali, dalam kondisi apapun harus kasih kabar.” Ucap Abi tegas.
“Iya, maaf, Bi.” Jawab Melya menyesali perbuatannya.
Hari semakin larut, selesai makan malam bersama, Sisil berpamitan untuk pulang. Sedangkan ia meminta sang suami untuk tetap tinggal di rumah itu, untuk menemani Melya yang sedang sakit. Awalnya Melya menolak, karena merasa khawatir jika Sisil harus pulang sendiri. Tetapi, Sisil tetap memaksa dan Abi hanya bisa menurutinya, lagi pula Abi juga merasa khawatir melihat Melya yang masih lemah, jika harus di tinggalkan. Sisil pulang ke rumahnya membawa mobil sang suami, esok hari Abi bisa mengambilnya jika akan berangkat ke kantor. Setelah mengantar Sisil sampai di mobil, dan mobil itu sudah keluar dari gerbang, Abi kembali masuk ke dalam rumah. Lalu pria itu mendapati istrinya sudah tak ada di ruang keluarga, Abi segera menyusul Melya masuk ke dalam kamar.
Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian, pria itu ikut bersama sang istri untuk segera beristirahat. Membawa tubuh Melya ke dalam pelukannya, lalu memejamkan mata untuk menjemput mimpi bersama.