Pagi menyapa, sinar mentari mulai memasuki celah jendela kamar. Sepasang suami istri yang masih tertidur lelap mulai terusik, dan perlahan mengerjapkan kedua matanya. Saat mata mereka terbuka sempurna dalam posisi berhadapan, sepasang suami istri itu saling melemparkan senyuman penuh cinta kasih.
Selama perjalanan pernikahan mereka, sangat jarang sekali terjadi pertengkaran. Suami yang begitu menyayangi istrinya, dan juga sang istri yang begitu menghormati dan mecintai suaminya. Sejak awal pernikahan, tak pernah terbayangkan sedikitpun oleh Melya, jika dirinya harus berbagi suami dengan wanita lain. Tetapi, saat semua itu terjadi, Melya tersadar jika sesuatu hal yang dijalankan dengan ikhlas, akan mudah ia lewati.
Sisil adalah wanita baik hati yang datang secara langsung bersama Abi menemui Melya, jujur saja awalnya bukan hal yang mudah bagi wanita itu. Tetapi, melihat lemah lembut sosok Sisil membuat Melya dengan mudah mengijinkan sang suami menikahi Sisil, wanita yang tiga tahun lebih muda darinya.
“Selamat pagi, istriku. Gimana masih pusing?” ucap Abi lembut, dan menanyakan kondisi kesehatan sang istri, seraya menempelkan punggung tangannya di kening Melya.
“Pagi, Abi. Alhamdulillah, sudah lebih baik. Cuma masih agak lemas aja, belum bisa ke butik kayaknya hari ini.” Jawab Melya dengan senyum khas keibuannya.
“Ya udah, dirumah aja gak usah ke butik dulu. Mau periksa ke rumah sakit? Nanti Abi anter ya,”
“Gak usah, istirahat aja di rumah, besok sembuh kok. Abi kerja aja, sekarang mandi dulu, Umi siapin bajunya. Terus kita sarapan bareng sama anak-anak, Abang Azzam nanti Abi yang anter ke sekolah ya, kan udah janji.”
“Udah gak usah siapin baju, nanti Abi ambil sendiri. Umi cuci muka dulu aja, nanti langsung ke meja makan. Abang Azzam sarapannya suka lama kalo gak Umi yang temenin.”
“Beneran? Gak usah Umi siapin bajunya,”
“Iya, Sayang. Udah sana cuci muka sama sikat gigi dulu, mandinya nanti aja agak siangan.”
Melya segera menuruni tempat tidurnya dan menuju kamar mandi, membersihkan wajahnya dan juga menyikat gigi. Satu tahun sudah ia harus ikhlas berbagi kasih sayang suaminya bersama wanita lain, tetapi ia sangat bersyukur karena perhatian dan cinta suaminya tak pernah berubah sedikitpun.
Selesai dengan kegiatannya, Melya segera keluar dari kamar tidurnya untuk menuju ruang makan. Disana sudah ada putra sulungnya dengan satu piring roti panggang di hadapannya, memang seperti biasa, Azzam lebih menyukai menu sarapan yang manis. Walaupun makanan apa saja yang disiapkan, anak lelaki itu akan memakannya dengan lahap. Tetapi, Melya membiasakan asisten rumah tangganya untuk menanyakan apa yang anak-anaknya inginkan. Karena, bagi Melya itu akan menambah semangat kedua anaknya dalam menghabiskan menu makanan.
“Dede Na mana, Bang?” tanya Melya pada putranya yang sedang asik mengunyah makanan yang memenuhi mulutnya.
“Masih mandi, Umi udah sembuh?” tanya Azzam dengan pengucapan yang kurang jelas, karena memang mulutnya penuh dengan roti panggang kesukaannya.
“Udah dong, Abang hari ini dianter Abi ya.”
“Asiiikkkk... Beneran Umi?” ucap Azzam antusias, memang selama ini sang Ayah sangat jarang mengantarkannya sekolah. Bukan tanpa alasan, tetapi memang pria itu disibukan dengan pekerjaannya. Dan waktunya untuk dirumah ini juga, hanya dari senin hingga rabu saja.
“Iya beneran dong, Abang cepetan habisin rotinya, terus susunya diminum ya. Umi mau liat Dede Na dulu,”
“Iya, Umi.”
Melya mengusap puncak kepala putranya dengan sayang, lalu meninggalkan meja makan untuk melihat putri bungsunya. Karena, seperti anak kecil pada umumnya, Neina akan lebih banyak drama jika harus mandi pagi hari. Walaupun Neina adalah anak manis dan menggemaskan, tetapi tetap saja akan ada masa dimana anak itu sedikit membuat Ibunya darah tinggi.
“Abang, Umi mana?” tanya Abi pada putranya yang baru saja menghabiskan gigitan terakhir roti yang menjadi menu sarapannya pagi ini.
“Lagi liat Dede Na.”
“Oh... Ya udah, Abang udah selesai sarapannya?”
“Belum minum susunya, Abi.”
“Pelan-pelan aja minumnya, Abi juga mau sarapan dulu.”
Abi duduk tepat di hadapan sang putra, lalu pria itu mengambil semangkuk bubur ayam yang sudah di siapkan. Tak berselang lama, Melya kembali ke ruangan itu bersama putri mereka yang sudah cantik dengan pakaiannya yang menggemaskan.
Bergabung bersama dengan suami dan juga putranya, Melya sudah mengambilkan sarapan untuk putrinya. Seperti biasa, Melya memilih untuk menyuapi putrinya lebih dulu sebelum ia akan sarapan. Karena, walaupun kesehatannya sedang terganggu, anak-anak dan suami akan selalu menjadi prioritas wanita itu.
“Abi udah sarapannya?” tanya Melya yang melihat mangkuk dihadapannya sudah kosong.
“Udah, Umi kenapa gak sekalian sarapan? Kan biar bisa cepet minum obat,”
“Iya, nanti Umi sarapan. Selesai nyuapin Dede Na, Abi mau berangkat sekarang?”
Tak menjawab pertanyaan Melya, Abi justru asik dengan kegiatannya kembali mengisi mangkuk yang sebelumnya sudah kosong dengan bubur. Sama persis dengan yang sebelumnya ia nikmati, lalu pria itu berpindah tempat duduk menjadi disisi sang istri yang duduk disamping putranya.
“Loh Abi mau ngapain? Ini udah siang loh, nanti Abi telat ke kantor. Mana harus anter Abang Azzam dulu ke sekolah,” ujar Melya bingung melihat apa yang dilakukan suaminya.
“Abi gak mau berangkat kalo Umi belum sarapan, jadi sekarang Umi sarapan dulu, biar Abi yang suapin.”
“Tapi kan, Umi bi –“ ucapan Melya terpotong saat sesendok bubur sudah berada tepat didepan mulutnya, dan jangan lupakan tatapannya yang tak ingin dibantah. Akhirnya Melya hanya bisa menikmati suapan demi suapan bubur hangat, yang suaminya berikan.
Semangkuk bubur akhirnya tandas, bertepatan dengan Neina yang juga sudah menghabiskan sarapannya. Tak lupa, Abi memberikan satu gelas air minum untuk sang istri tercinta.
“Ya udah, Abi sama Abang Azzam berangkat ya.” Pamit Abi pada Melya dan juga putri kecilnya Neina.
“Hati-hati, ya. Nanti pulangnya Abang Azzam biar dijemput Pak Tono aja,” sahut Melya.
“Abang mau dijemput Abi, kan Abi udah janji antar jemput Abang hari ini.” Ujar Azzam merajuk, mengingat janji sang Ayah yang akan mengantarkan dan juga menjemputnya seusai sekolah hari ini.
“Iya, nanti Abi yang jemput. Abang jangan kemana-mana kalau Abi belum dateng ya, tungguin Abi di sekolah.” Jawab Abi pada putranya, seraya membelai puncak kepala Azzam agar tak meneruskan acara merajuknya.
“Beneran?” tanya Azzam dengan wajah berbinar.
“Iya, Sayang. Yuk turun, kita berangkat. Nanti Abang terlambat, pamitan dulu sama Umi sama Dede Na.” Jawab Abi, memang pria itu selalu mengajarkan tata krama dalam rumah tangganya.
“Umi, Abang berangkat sekolah dulu, ya.” Ujar Azzam setelah mencium punggung tangan Melya.
“Iya, Abang belajarnya yang rajin ya. Dengerin apa yang Ibu guru bilang, gak boleh nakal, harus jadi anak pinter.”
“Dede Na, Abang sekolah dulu ya.” Pamit Azzam pada adiknya yang menjawab dengan menganggukan kepalanya, lalu Melya membantu Neina untuk mencium punggung tangan Azzam. Itu hal kecil yang selalu Abi dan Melya ajarkan pada putra putrinya, saling menghormati dan menghargai.
“Abi berangkat ya, Sayang. Dede Na jangan nakal di rumah ya, temenin Umi. Uminya lagi sakit, jadi Dede Na harus pinter ya.” Ucap Abi berpamitan pada istrinya, lalu menciumi wajah putrinya, Neina hanya terkikik karena merasakan geli pada wajahnya, terkena bulu-bulu halus yang tumbuh diwajah sang Ayah.
“Udah ah, Abi berangkat sana. Nanti Abang Azzam terlambat, Dede Na bisa ngompol itu kalo kegelian.” Ujar Melya untuk menghentikan suaminya yang terus menggoda sang putri, bahkan wajah Neina sudah memerah karena tawanya yang tak kunjung reda.
Mendengar ucapan Melya, Abi menghentikan kegiatannya yang sangat menyenangkan. Menggoda Neina, hingga gadis itu mengompol sudah menjadi kesukaan Abi beberapa waktu terakhir. Di usianya yang ke dua tahun ini, Melya memang sudah tak memakaikan Neina popok. Karena, Melya ingin mengajarkan Neina tanggung jawab dan lebih disiplin, begitu juga saat Azzam seusia Neina.
Abi menggandeng putrnya keluar dari rumah, tak berselang lama terdengar suara mobil Melya meninggalkan halaman rumah. Abi memang menggunakan mobil Melya hari ini, mengingat mobilnya tadi malam dibawa oleh Sisil yang harus kembali pulang kerumahnya seorang diri.
Abi sangat bersyukur dengan perjalanan rumah tangganya, kedua istrinya yang begitu damai bahkan saling menyayangi satu sama lain. Diawal ia ingin menikahi Sisil, sempat terbersit bayangan kedua istrinya yang akan terus bertengkar menuntut keadilan. Tetapi, itu semua tak pernah terjadi selama satu tahun ini.
***
Pukul dua belas tiga puluh siang, Abi bersama Azzam baru saja tiba dirumah. Menepati janjinya, Abi menjemput putra sulungnya pulang sekolah. Abi memang tipe pria yang akan selalu menepati janji yang sudah ia ucapkan, baik pada istri atau anak-anaknya. Tak hanya dalam rumah tangga, dalam dunia bisnis pun, pria itu memang orang yang tak bisa diragukan. Terbukti usahanya yang maju pesat, dan sudah memiliki beberapa cabang yang tersebar di beberapa kota besar di Indonesia.
“Assalamualaikum...” ucap Abi seraya masuk kedalam rumah, Azzam berada dalam gendongannya karena tertidur selama perjalanan.
“Waalaikumsalam...” jawab Melya dan Sisil bersamaan, entah sejak kapan Sisil berkunjung kerumah itu. Bahkan Sisil tak menghubungi Abi untuk meminta ijin.
“Mba Anggi, tolong Abang dibawa ke kamar.” Ucap Melya pada pengasuh putrinya, yang sedang menemani Neina bermain.
“Iya, Bu.” Jawab Anggi yang langsung mengambil Azzam dari gendongan sang Ayah.
Abi menghampiri kedua istrinya yang sedang duduk di sofa, tak jauh dari tempatnya berdiri. Melya dan Sisil bergantian mencium punggung tangan suami mereka, tak lupa Melya memanggil Neina untuk mencium punggung tangan Ayahnya. Setelah itu, Abi duduk bersebrangan dengan kedua istrinya, bersama Neina yang ada di pangkuannya.
“Mamih mau kesini gak bilang dulu, emang gak ada kerjaan hari ini?” tanya Abi pada istri keduanya. Sisil hanya memberikan tatapan malas pada suaminya yang sedang asik menggoda Neina.
“Liat coba hpnya, berapa puluh kali Mamih telpon. Liat juga chatnya ada berapa banyak,” ucap Sisil dengan nada sindiran.
Abi segera merogoh ponsel dari dalam sakunya, lalu melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari Sisil. Tak lupa pesan yang berbaris, mengatakan jika Sisil meminta ijin untuk kerumah Melya, ingin menjenguk wanita itu sekaligus mengantarkan mobil milik suaminya itu. Melya hanya tersenyum melihat interaksi antara Sisil dan suaminya.
“Ya ampun, banyak banget ya. Lupa hpnya masih di silent ternyata, maaf ya.” Ujar Abi menyesali pemikirannya, karena tadi ia sempat berpikir, jika Sisil bertindak seenaknya tak menghargai dirinya sebagai suami. Tak seperti biasanya yang selalu meminta ijin saat akan bepergian, tetapi kesalahan ada pada dirinya yang lupa mengaktifkan dering ponselnya.
“Iya gak apa-apa. Abi udah makan siang?” tanya Sisil.
“Belum, kalian udah makan? Kita makan bareng yuk,” ajak Abi pada kedua istrinya.
“Ayo kita makan siang, makanannya juga udah siap.” Melya menanggapi.
Ketiganya meninggalkan ruang tamu dan menuju ruang makan bersama-sama, Neina yang sudah makan lebih dulu diantarkan oleh Melya ke kamar miliknya. Lalu Melya meminta Mba Anggi kembali menemani Neina untuk tidur siang.
Di meja makan Abi bersama kedua istrinya menikmati makan siang bersama, Melya yang memang merasa masih tidak enak badan, membiarkan Sisil yang melayani suami mereka. Tetapi, Abi tetap sesekali memberi perhatian pada Melya. Menanyakan kondisi tubuhnya saat ini, bahkan Abi kembali menanyakan pada Melya ingin memeriksakan ke rumah sakit atau tidak. Namun, Melya kembali menolak, karena merasa tubuhnya sudah jauh lebih baik.
Selesai makan siang, Abi berpamitan karena harus kembali ke kantor. Masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan, sebelum itu Abi menawarkan Sisil untuk diantarkan pulang. Mengingat Sisil datang untuk mengantarkan mobil miliknya, maka wanita itu harus pulang kerumah dengan kendaraan umum. Jadi, Abi lebih memilih untuk mengantarkan Sisil pulang lebih dulu sebelum kembali ke kantornya.
Abi dan Sisil meninggalkan rumah Melya, jarak rumah Melya dan Sisil memang tak terlalu jauh. Itu sebabnya Abi tidak keberatan jika harus mengantarkan Sisil pulang lebih dulu.
“Abi,” ucap Sisil mengalihkan fokus sang suami yang sedang mengendarai mobilnya, membelah jalanan ibu kota Jakarta.
“Apa, Sayang?” tanya Abi tanpa mengalihkan pandangannya, tetapi tangan pria itu meraih salah satu tangan sang istri dan membawa kedalam genggaman tangannya.
“Aku mau ikut program hamil, boleh?” tanya Sisil sedikit ragu. Karena pembahasan kehamilan memang hal yang sangat sensitif, tak hanya untuknya tetapi juga untuk suaminya. Tetapi, satu tahun rasanya sudah cukup untuk dirinya hanya menanti kehamilan itu datang padanya. Sisil meyakini jika Tuhan ingin ia dan suaminya lebih berusaha lagi.
“Nanti hari sabtu kita ke rumah sakit ya, kita cari dokter kandungan terbaik.”
“Beneran, Sayang?”
“Iya bener dong, apapun hasilnya kita gak boleh berkecil hati ya. Allah pasti udah siapin waktu yang tepat buat kita berdua. Kamu harus yakin, waktu itu akan datang secepatnya, Sayang.”
“Aamiin, terima kasih, Sayang.”
“Sama-sama.”
Tak ada pembicaraan lebih lanjut, karena mobil yang Abi kendarai sudah tiba didepan rumah Sisil. Wanita itu segera turun, setelah sebelumnya mencium punggung tangan Abi, yang dibalas pria itu dengan mencium kening istrinya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Mobil yang dikendarai Abi sudah meninggalkan rumah itu, dan Sisil segera masuk kedalam rumahnya.