CHAPTER 4

2386 Words
Waktu bergulir, langit terang berubah menjadi gelap. Matahari bergantikan bulan, badan yang lelah setelah bekerja membutuhkan waktu untuk beristirahat. Itulah yang Abi rasakan saat ini. Namun, ia masih harus bersabar karena macetnya jalanan ibu kota Jakarta. Sudah satu jam pria itu keluar dari kantor tempatnya bekerja, tetapi ia belum juga tiba di kediaman istri pertamanya. Rasa lelah itu sudah menggelayuti tubuhnya, rasa kantuk juga sudah mulai menyiksa matanya. Satu gelas kopi americano menemani perjalannya malam ini, Abi memang tadi memutuskan untuk membeli minuman itu di coffee shop yang berada tepat disamping kantornya. Teguk demi teguk mulai membasahi tenggorokannya, rasa pahit juga membekas dilidahnya. Dan bersyukurnya minuman itu bisa membantu mengurangi rasa kantuknya. Setelah empat puluh menit, akhirnya Abi tiba di rumah pukul delapan malam. Sangat terlambat dari kebiasaannya, walaupun beberapa kali ia pernah pulang malam, tetapi biasanya itu karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Berbeda dengan malam ini yang ia lalui karena macetnya jalanan yang harus Abi lewati. Sepertinya kedua anak lelaki itu sudah masuk kedalam kamar mereka untuk tidur, Abi memutuskan untuk langsung masuk ke dalam kamarnya. Pria itu membuka kamar, nampak sang istri yang sedang sibuk dengan laptop yang ada di pangkuannya. Namun, menyadari kedatangan dirinya, sang istri langsung menyudahi kegiatannya. “Assalamualaikum, Sayang.” Ucap Abi lalu mencium kening Melya, sesaat setelah sang istri mencium punggung tangan dan menjawab salamnya. “Gimana, masih pusing? Kok udah mulai kerja sih,” ucap pria itu lagi. “Udah lebih baik, Sayang. Alhamdulillah, gak kerja kok. Tadi cuma lagi lihat-lihat hasil fotonya Sisil, cantik banget. Mau lihat gak?” ujar Melya dengan raut wajah sumringah, mungkin karena bahagia melihat baju hasil rancangannya, yang terlihat sangat indah melekat ditubuh Sisil yang sangat proposional. “Nanti aja deh, Abi mandi dulu ya. Umi udah makan malam?” “Udah, Abi udah belum? Mau Umi siapin makanan?” “Abi mau buah aja deh, tapi nanti biar Abi ambil sendiri aja selesai mandi.” “Umi ambilin deh kalo gitu,” “Gak usah, Sayang. Udah istirahat aja ya,” ucap Abi lembut, lalu mencuri satu ciuman di pipi sang istri. “Gak apa-apa, udah Abi mandi sana. Umi siapin bajunya,” “Makasih ya, Sayang.” Abi bergegas meninggalkan Melya, dan langsung masuk kedalam kamar mandi. Sedangkan sang istri segera melakukan kegiatannya, menyiapkan pakaian untuk sang suami. Lalu keluar kamar dan menuju dapur, dengan cekatan wanita itu memotong beberapa macam buah, dan menyiapkannya di sebuah piring lengkap dengan garpu untuk alat makannya. Tak lupa, ia juga membawakan satu gelas air minum untuk suaminya. Saat Melya kembali kedalam kamar, Abi sudah selesai memakai pakaian dan sedang menyemprotkan parfum cukup banyak pada pakaiannya. Hal itu sempat membuat Melya mengerutkan keningnya, walaupun memakai parfum sebelum tidur biasa dilakukan oleh suaminya, tetapi tak biasanya Abi menyemprotkan dengan cukup banyak. Bahkan wanginya memenuhi seluruh penjuru kamar, wanita itu segera menghampiri sang suami yang sudah duduk ditepi ranjang. “Wangi banget, mau kemana sih?” tanya Melya, lalu memberikan piring yang sejak tadi ia bawa pada suaminya. Sedangkan satu gelas air, wanita itu letakan diatas nakas yang berada tepat disamping tempat tidur mereka. “Gak kemana-mana, udah pake baju tidur gini, emangnya mau kemana?”  ucap Abi yang sedang mengunyah buah dalam mulutnya. “Biasanya gak sebanyak itu semprot parfumnya,” ujar Melya yang sedang bergelayut manja dilengan kekar Abi. “Sengaja sih, tuh buktinya Umi langsung nempel-nempel,” goda Abi yang direspon dengan pukulan pelan sang istri di pahanya. Sepasang suami istri yang bahagia sangat nampak jelas terlihat, Abi yang begitu mencintai istrinya, dan Melya yang selalu bisa menempatkan posisinya sebagai istri yang baik. Potongan buah Abi nikmati malam itu, dengan sesekali menyuapi istrinya yang masih saja nampak betah bermanja dengannya. Abi tak pernah melayangkan protes, karena ia menyadari Melya juga wanita biasa yang bisa manja dalam satu waktu. Abi juga tak pernah menuntut kedua istrinya harus selalu dewasa dalam segala kondisi, karena bermanjaan seperti ini juga menjadi hal yang menyenangkan. Mengingat kini dirinya yang harus membagi waktu untuk Melya dan Sisil, jadi wajar saja saat ini Melya ingin selalu dekat dengannya. “Umi tiduran aja duluan, Abi mau simpen piring sama gelasnya ke dapur,” ujar Abi, lalu sedikit menggeser posisi tubuh sang istri, agar lebih mudah merebahkan tubuhnya. “Biarin Umi aja,” jawab Melya yang sudah siap mengambil piring dan gelas yang ada diatas nakas. “Abi bisa, Sayang.” Ujar Abi tak ingin dibantah. Lalu pria itu keluar meninggalkan sang istri yang sedang menatapnya dengan rasa syukur. Melya memang selalu bersyukur, karena suaminya tak pernah berubah sedikitpun. Setelah menikah dengan Sisil saja, Abi tetaplah seorang suami yang ia kenal sejak enam tahun lalu. Tak berselang lama, Abi sudah kembali masuk kedalam kamar, tak lupa menutup pintu dan menguncinya. Pria itu melihat sang istri sudah memejamkan matanya, dibalik selimut yang menutup sebagian tubuhnya. Abi segera bergabung dengan Melya, lalu pria itu mengulurkan sebelah tangannya ke bagian belakang kepala sang istri, agar dijadikan bantalan tidur wanitanya tersebut. Melya yang merasakan perlakuan suaminya, segera merubah posisinya untuk melingkarkan satu tangannya dipinggang Abi. Abi juga memeluk pinggang sang istri dengan erat, posisi tidur yang selalu membuat keduanya nyaman. Menyalurkan seluruh rasa cinta dan kasih sayang dalam sebuah pelukan hangat. “Selamat tidur, istriku.” Ucap Abi lalu mencium kening sang istri. “Selamat tidur juga, suamiku.” Jawab Melya dengan suara pelannya, karena rasa kantuk sepertinya sudah menguasai wanita itu. Cinta dan kasih sayang antara mereka memang tak pernah berubah dan berkurang, setiap harinya selalu bertambah seiring bertambahnya usia pernikahan mereka. Abi yang selalu memperlakukan istrinya dengan sangat baik, membuat Melya tak mampu untuk menutut sesuatu yang lebih dari apa yang sudah ia dapatkan. Berbagi suami dengan wanita lain, mungkin bukan hal yang mudah. Berbagi cinta, perhatian, kasih sayang, materi, bahkan berbagi urusan ranjang. Semua bayangan buruk sempat menyelimuti pemikiran Melya, berpikir istri muda suaminya akan egois dan ingin menguasai Abi. Tetapi, satu tahun berlalu, pemikiran itu kini sirna. Karena, wanita yang Abi nikahi adalah Sisil, wanita baik yang juga sangat mengerti jika memang mereka memiliki satu suami yang sama. Berbagi dalam segala aspek, menjadi hal biasa bagi Melya dan Sisil. *** Siang hari, Sisil baru saja pulang setelah menyelesaikan pekerjaannya. Menjadi model untuk salah satu majalah terkenal di Jakarta. Mengendarai mobilnya, wanita itu akan mampir ke rumah Melya. Karena ada hal yang ingin sekali ia ceritakan, dan tak bisa dibicarakan melalui pesan singkat atau panggilan telepon. Sisil juga sudah mengabari Melya, jika dirinya akan datang. Kebetulan memang Melya sudah ada dirumah saat ini. Mungkin, pekerjaannya di butik tidak terlalu banyak, sehingga wanita itu bisa pulang jauh lebih cepat. Seperti biasa, jika Sisil akan berkunjung ke rumah Melya, wanita itu akan mampir ke toko kue kesukaan Azzam dan Neina. Membawakan makanan kesukaan kedua anak itu, adalah hal yang menyenangkan bagi Sisil. Entah kenapa, Sisil begitu mudah menyayangi Azzam dan Neina. Setelah membeli beberapa potong kue, Sisil segera bergegas melanjutkan perjalanannya. Sepuluh menit berlalu, wanita itu sudah tiba dirumah Melya. Sisil juga sudah masuk dan kini sedang di ruang tamu, menunggu Melya yang sedang menjalankan ibadah. Sedangkan, Azzam dan Neina masih tidur siang. “Maaf ya, jadi nunggu lama,” ujar Melya yang baru saja menghampiri Sisil, dan seperti biasa, saat bertemu mereka akan seperti Kakak Adik yang sangat dekat. “Gak apa-apa lah, Mba Mel. Oh iya, ini aku bawa kue buat Abang Azzam sama Dede Na,” ucap Sisil memberikan bungkusan kue yang sudah ia beli sebelumnya. “Repot banget deh, kalo main kesini pasti bawain kue buat anak-anak.” Jawab Melya seraya menerima bungkusan berwarna biru pastel itu. “Gak apa, Mba. Udah kebiasaan, nanti kalo gak bawa kayak waktu itu pas tokonya tutup, anak-anak pada nanya.” “Iya juga ya, makasih ya, Sil.” “Sama-sama, Mba.” “Jadi, kamu mau ngomongin apa? Aku penasaran banget loh,” tanya Melya yang tanpa kebohongan, wanita itu memang sangat penasaran, saat Sisil mengatakan ingin bicara serius dengannya. Akhirnya Sisil menceritakan niatnya untuk mendatangi salah satu rumah sakit, dan akan memeriksakan kondisi kandungannya, dan wanita itu mengatakan, jika ia akan menjalankan program hamil. Ini hari jum’at, dan esok ia bersama Abi akan melakukan pemeriksaan bersama. Namun, ada hal yang mengganjal dihati Sisil, saat Abi mengatakan belum menceritakan perihal niat mereka pada Melya. Jadi, hari ini Sisil mendatangi Melya untuk mengatakan niatnya tersebut. “Ya gak apa-apa dong, Sil. Kok sampai minta ijin sama aku sih?” tanya Melya bingung, entah kenapa Sisil harus meminta ijin padanya, mengenai rencana program hamil yang akan wanita itu dan Abi jalankan. “Aku gak enak aja, Mba. Kalo Mba gak tau, nanti Mba Mel mikirnya aku rahasiain hal sebesar ini ke Mba.” Lirih Sisil. “Gak gitu, Sil. Suami kita satu, tapi saat Mas Abi bersamamu, ya dia milikmu. Rumah tangga kalian, ya menjadi urusan kalian berdua. Aku gak perlu tau apa yang terjadi didalamnya, tapi kalau niat kamu memang ingin aku tau. Aku sangat bersenang hati mendoakan, semoga program hamil yang akan kamu dan Mas Abi jalani berjalan lancar.” “Aamiin, Mba. Terima kasih ya, aku seneng dengernya. Aku gak mau aja, Mba Mel berpikiran macem-macem ke aku.” “Gak pernah, Sil. Aku bahagia kalau kamu dan Mas Abi bahagia. Aku tau kamu sayang sama Azzam dan Neina, tapi kamu pasti mau ada anak yang lahir dari rahim kamu. Aku selalu doakan yang terbaik buat kamu.” “Iya Mba, tapi Mba Mel tenang aja, walaupun nanti aku berhasil punya anak. Aku akan tetap sayang sama Azzam dan Neina. Terus Mba kapan mau kasih Neina adik?” tanya Sisil menggoda wanita yang duduk disampingnya. “Adiknya Neina dari kamu aja lah, Sil.” “Ya beda lah, Mba. Kalo dari aku, mereka gak tinggal satu rumah. Kasih Neina adik, Mba.” Sisil masih betah menggoda Melya. Tiba-tiba Melya sedikit terperanjat, lalu menatap bingung ke arah Sisil. Membuat Sisil juga sedikit kebingungan dengan ekspresi yang Melya berikan, tetapi Sisil tak mau berpikiran yang tidak-tidak, sehingga ia langsung menanyakan ada apa yang terjadi. “Sekarang tanggal berapa ya, Sil?” tanya Melya, setelah Sisil menanyakan apa yang terjadi. “Tanggal dua puluh lima, Mba. Kenapa?” “Serius kamu?” “Iya, Mba. Kenapa sih?” tanya Sisil semakin bingung. “Masa menstruasiku sudah terlambat dua belas hari, Sil.” Lirih Melya. “Beneran Mba?” tanya Sisil antusias. “Kamu seneng banget, aku takut loh.” “Kenapa takut? Mba ada stok tespek? Cek sekarang aja deh, kalo hasilnya positif, besok kita ke rumah sakit bareng.” “Aku belum siap buat hamil lagi, Sil. Neina masih kecil, kan kamu yang mau program, kenapa malah aku yang telat datang bulan?” ujar Melya masih dengan nada frustasi. “Mba Mel, ingat ya, anak itu rejeki loh. Masa dikasih rejeki sedih gitu, aku aja lagi mau berjuang menjemput rejeki, Mba Mel yang siapa tau memang dikasih malah sedih.” “Jadi, aku coba tespek nih?” tanya Melya meyakinkan ucapan Sisil sebelumnya, yang meminta dirinya untuk mencoba memeriksakan dengan alat tes uji kehamilan. “Iya Mba, tespek nya ada?” “Ada, tapi kan biasanya coba buat tes itu pagi, Sil. Pas kita baru bangun tidur,” ujar Melya masih dengan keraguannya. “Gak apa-apa coba sekarang, kalau hasilnya samar atau gak jelas, besok pagi tes lagi.” Sisil masih terus meyakinkan Melya. “Oke deh, kamu ikut ke kamar yuk. Temenin aku,” ajak Melya dan Sisil menganggukan kepalanya. Kedua wanita itu bangun dari tempat duduknya, berjalan bersamaan menuju kamar utama rumah tersebut. Sisil duduk di sofa kecil didalam kamar tersebut, sedangkan Melya segera masuk kedalam kamar mandi. Tak hanya Melya yang merasa tegang menunggu hasilnya, tetapi Sisil juga merasakan hal yang sama. Lima belas menit berlalu, Melya masih belum keluar dari dalam kamar mandi. Membuat Sisil semakin merasa penasaran, dan akhirnya berjalan untuk mendekati pintu kamar mandi, dimana Melya berada didalamnya. “Mba Mel...” ucap Sisil seraya mengetuk pintu kamar mandi tersebut. “Iya, Sil. Kamu masuk sini deh,” jawab Melya dari dalam kamar mandi. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Sisil masuk kedalam kamar mandi. Lalu menghampiri Melya yang masih berdiri tepat didepan wastafel, yang berhadapan langsung dengan cermin. “Gimana hasilnya?” tanya Sisil yang sudah penasaran dengan hasil yang akan ditunjukan, oleh alat uji tes kehamilan tersebut. “Kamu yang liat deh, Sil. Aku takut ah, gak tau perasaan aku campur aduk. Jadi, kamu aja yang tolong liatin.” “Beneran aku nih?” tanya Sisil meyakinkan, dan Melya menganggukan kepalanya. Sisil segera mengambil alat tes tersebut, yang sudah tergeletak disamping wastafel dengan posisi terbalik. Sepertinya Melya memang benar-benar belum melihat hasilnya, perlahan Sisil membalikan alat tersebut, matanya membola, dengan ekspresi yang tak terbaca oleh Melya. Namun, selanjutnya Sisil mendekati Melya dan memeluk tubuh wanita itu. “Alhamdulillah... Hasilnya positif, Mba. Kamu beneran hamil, besok kita ke rumah sakit sama-sama, ya.” Ucap Sisil penuh suka cita, dan masih memeluk erat tubuh Melya. “Kamu beneran, gak becanda kan, Sil?” “Ya enggak dong, Mba. Nih liat makanya,” ujar Sisil yang menunjukan alat tes yang ada dalam genggamannya. Tak terasa, air mata mengalir begitu saja dari kedua mata Melya, membasahi pipi wanita itu. Sisil kembali memeluk tubuh Melya, memberi ketenangan dan terus mengucapkan kata selamat. Tak lupa, ia juga berdoa, semoga kehamilan Melya bisa menular padanya. Setelah Melya merasa lebih tenang, Sisil mengajaknya keluar dari kamar mandi. Melya segera duduk ditepi ranjang, bersamaan dengan Sisil yang ada disampingnya. “Kalau aku hamil, terus kamu mau program hamil. Aku jadi mikirin Mas Abi deh, nanti repot banget pasti harus ngurus dua wanita hamil,” lirih Melya yang memikirkan bagaimana repotnya nanti sang suami. “Mba, percaya deh. Anak-anak kita tuh nantinya calon anak-anak hebat dan luar biasa, mereka gak akan merepotkan Abinya. Sekarang, Mba Mel fokus sama kesehatan dan kehamilan Mba aja, jangan mikir aneh-aneh. Aku mau telpon Mas Abi dulu, minta dia mampir kesini dulu nanti pas pulang.” Tak menjawab ucapan Sisil, Melya memilih merebahkan tubuhnya. Sedangkan Sisil, memilih untuk menelpon sang suami. Meminta pria itu untuk ke rumah Melya lebih dulu, sebelum pulang kerumahnya. Tetapi, Sisil tak memberi tahu Abi perihal kehamilan Melya, karena Sisil ingin, Melya mengatakannya sendiri. Seperti yang Melya katakan sebelumnya, saat bersama Melya ya Abi adalah miliknya. Rumah tangga mereka berdua, akan menjadi urusan berdua saja. Sisil tak akan ikut campur, hanya akan memberikan doa yang terbaik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD