CHAPTER 5

1837 Words
Pukul lima tiga puluh, Abi baru saja tiba di rumah Melya, sesuai dengan permintaan Sisil. Kedatangan pria itu disambut hangat oleh putra putrinya, yang memang sedang ada di teras rumah. Seperti biasa, rasa lelah tak pernah sedikitpun ia tunjukan pada Azzam dan juga Neina. Bahkan, Abi langsung membawa kedua anaknya kedalam pelukan hangatnya. “Assalamualaikum...” ucap pria itu setelah melepaskan pelukannya pada tubuh kedua anaknya. “Waalaikumsalam, Abi.” Jawab Azzam dan Neina bersamaan, lalu mereka secara bergantian mencium punggung tangan Ayah mereka. “Abang Azzam sama Dede Na ngapain masih diluar? Sebentar lagi maghrib lohhh...” ujar Abi. “Nungguin Abi pulang, kata Umi boleh kok. Tapi, kalau nanti pas adzan maghrib Abi belum dateng, kata Umi kita harus masuk kedalam.” Jawab Azzam menjelaskan, kenapa ia dan adiknya bermain di teras rumah. “Ya udah, karna sekarang Abi udah pulang. Ayo kita masuk,” ajak Abi pada keduanya. “Na mau digendong,” rengek Neina manja, namun sang Ayah tak menolak dan langsung menggendong putri kecilnya. Sedangkan Azzam sudah masuk kedalam rumah lebih dulu. “Assalamualaikum...” ucap Abi saat melihat Sisil sedang sibuk menghidangkan begitu banyak makanan diatas meja. “Waalaikumsalam...” jawab Sisil, wanita itu langsung menghampiri suaminya dan tak lupa seperti biasa, ia akan mencium punggung tangan Abi dan dibalas dengan ciuman hangat di keningnya. “Mami masak sendirian? Uminya anak-anak dimana?” “Ada, Mba Mel di dapur, mau Mami panggil?” “Gak usah, Abi ke kamar deh. Mau mandi dulu, nanti kita sholat sama-sama ya.” “Iya, Dede Na sama Mami yuk.” Ujar Sisil lalu mengambil Neina dari gendongan sang Ayah. Pria itu berlalu meninggalkan sang istri dan masuk ke dalam kamar, ia segera membersihkan tubuhnya. Walaupun dalam benaknya banyak pertanyaan, yang ingin sekali ia tanyakan pada Sisil. Karena, tak biasanya wanita itu meminta dirinya untuk pulang ke rumah Melya, sedangkan saat ini waktunya ia di rumah Sisil pribadi. Bahkan, selama satu tahun ini, sekarang adalah kali pertama kejadian seperti ini dialami. Selain itu, melihat banyaknya makanan yang di hidangkan tadi, seperti akan kedatangan tamu atau ada peringatan menyambut sesuatu. Abi juga bertanya-tanya, kenapa ia harus pulang ke rumah Melya, sedangkan esok hari dirinya bersama Sisil akan berkunjung ke salah satu rumah sakit, untuk menjalani program hamil. Tadi memang pria itu mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih banyak pada Sisil, selain waktu yang sudah semakin mendekati adzan maghrib, tetapi tadi juga ada Neina bersamanya. Jadi, ia memutuskan akan bertanya nanti setelah selesai makan malam. *** Abi bersama kedua istrinya sedang berkumpul di ruang keluarga, sedangkan Azzam dan Neina sudah masuk ke kamar tidur mereka karena hari sudah malam. Menikmati kue yang tadi Sisil bawakan, ditemani secangkir kopi hangat, itulah yang saat ini Abi lakukan. Sedangkan kedua istrinya sedang berbincang ringan membahas kerjasama mereka. “Ini Abi disini cuma buat di cuekin, nih.” Sindir Abi pada kedua wanita yang masih asik berbincang di hadapannya itu, sedangkan dirinya masih menikmati kopi yang sisa setengahnya saja. “Sebentar ya, Mas. Hari senin nanti, aku ada pemotretan baju rancangan Mba Mel lagi. Aku lagi liat-liat dulu, sabar ya.” Sisil menimpali ucapan suaminya. Sedangkan Melya hanya memasang senyum terbaiknya untuk Abi. “Okelah, berarti Abi juga boleh ya ambil laptop di kamar, terus sibuk sama kerjaan. Padahal besok hari sabtu, loh...” “Ya udah, Sil. Kita bahas lagi nanti aja, Pak Bos nanti keluar tanduknya.” Melya meledek suaminya, dan terkikik geli karena perubahan raut wajah Abi, saat Melya menyebut dirinya ‘Pak Bos’. “Hehehe... Iya Mba, suamimu tuh.” Sisil menimpali dengan nada menggoda pada Melya. “Suamimu juga, jangan lupakan itu.” Sahut Melya lalu meninggalkan ruangan itu, untuk menyimpan laptopnya di kamar. Karena ia tak mau, sang suami kembali menyindirnya yang terus sibuk dengan pekerjaan. Padahal, waktu seperti sangatlah jarang terjadi. Semenjak Abi menikah dengan Sisil, memang sangat sulit bagi Melya mendapatkan waktu bersama suaminya di akhir pekan. Tetapi, ia tak pernah mempermasalahkan hal itu sedikitpun, selama Abi tetap bersama kedua buah hatinya di hari minggu. *** Melya sudah kembali ke ruang keluarga, Sisil juga baru masuk kedalam ruangan itu dengan membawa sepiring buah-buahan yang sudah di potong. Sepertinya sang suami yang meminta itu. “Mba, udah dibawa hasil tespeknya?” bisik Sisil. “Udah, duh aku bingung. Dulu waktu hamil Azzam sama Neina gak setegang ini ngasih tau Mas Abi, kenapa sekarang deg-degan banget ya?” tanya Melya yang juga dengan suara berbisik. “Kalian bisik-bisik apa? Dosa loh ghibahin suami,” ucap Abi yang melihat kedua istrinya saling berbisik, namun tak kunjung mendekat untuk duduk bersamanya. Melya dan Sisil berjalan mendekat dimana Abi duduk, lalu keduanya duduk disisi kanan dan kiri suami mereka. Sisil memberikan piring buah yang sudah ia bawa, sedangkan Melya memberikan sebuah kotak kecil pada suaminya, membuat Abi mengernyitkan keningnya karena bingung. Pria itu bahkan sempat berpikir sejenak, sebelum menerima kotak itu, tetapi ia tetap tak mengingat apakah ada peringatan spesial hari ini atau tidak. “Apa ini?” tanya Abi pada Melya. “Aku ke kamar Azzam sama Neina ya, biar Mas Abi sama Mba Mel punya waktu berdua.” Pamit Sisil, dan membuat Abi semakin dilanda kebingungan. “Gak apa-apa, Sil. Kamu disini aja,” ujar Melya. “Gak enak lah, Mba. Nanti aku kesini lagi.” Sisil pun pergi meninggalkan Abi berdua saja dengan Melya, sebelum Abi membuka kotak yang diberikan oleh istri pertamanya itu. Ia meletakan piring buah yang sejak tadi berada di pangkuannya, ke atas meja yang tak jauh dari tempatnya duduk. “Ini boleh Abi buka?” “Iya buka dong, tapi jangan kaget liat apa isinya ya.” “Tapi, Abi mau nanya dulu.” “Apa?” “Abi gak lupa sesuatu kan? Hari ini gak ada peringatan spesial yang Abi lupain kan?” “Gak ada, Sayang. Umi cuma berharap, nanti setelah Abi buka. Isi didalam kotak itu, bisa buat Abi merasa jauh lebih bahagia.” “Duh, jadi penasaran sama isinya.” “Ya udah, makanya dibuka.” Perlahan Abi membuka kotak kecil yang ada dalam genggaman tangannya, namun selanjutnya pria itu memberi tatapan menyelidik pada sang istri. Karena, melihat isi kotak tersebut adalah sebuah kotak dengan ukuran yang lebih kecil dari sebelumnya. Melya hanya tersenyum melihat perubahan raut wajah suaminya, namun ia mengatakan pada suaminya untuk membuka kembali kotak yang lebih kecil itu. Saat Abi membuka kotak yang lebih kecil, senyum terbit menghiasi wajah tampannya. Tak terduga, setetes air mata mengalir begitu saja dari kedua sudut matanya. Pria itu mengambil benda kecil yang ada didalam kotak, dengan tangan sedikit bergetar pandangannya terus fokus pada dua garis merah, yang ada dalam alat tes uji kehamilan itu. “Umi, ini beneran?” tanya Abi dengan suara yang sedikit bergetar. “Iya, Sayang. Umi hamil lagi, adiknya Azzam sama Neina.” Lirih Melya lalu berhambur kedalam pelukan suaminya, karena posisi Abi yang sudah merentangkan kedua tangannya. Sepasang suami istri itu, tak berhenti mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan. Berkali-kali Abi menghujami ciuman di wajah sang istri, yang sudah basah oleh air mata kebahagiaan. Melya begitu bahagia, karena Abi menyambut kehamilannya dengan rasa syukur dan bahagia yang luar biasa. Tak jauh dari tempat mereka, seorang wanita turut merasakan kebahagiaan yang sedang sepasang suami istri itu rasakan. Tak bisa di pungkiri, air matanya pun ikut mengalir membasahi kedua pipinya, namun dengan cepat wanita itu segera menghapusnya. Lalu, wanita itu terus mengusap perutnya yang masih rata, sambil melafalkan doa dalam hatinya, berharap kehamilan dapat segera ia rasakan. Dari tempatnya duduk dan sedang memeluk Melya dalam pelukan hangat, Abi melihat Sisil yang sedang berdiri dan menatap kearahnya. Sisil yang menyadari jika Abi melihat posisinya saat ini, menyunggingkan senyum lalu mengucapkan kata selamat tanpa suara. Abi mengurai pelukannya pada tubuh Melya, lalu ia mencium kening sang istri dengan penuh cinta dan kasih sayang. Pria itu bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan menghampiri Sisil dan membawa sang istri kedalam pelukan hangatnya. Abi sangat menyadari, jika ini bukanlah hal yang mudah untuk istri keduanya itu. Karena, ia yang sedang mendambakan kehamilan, tetapi Melya yang kini lebih dulu diberikan rejeki kehamilan oleh Tuhan. “Besok kita jadi ke rumah sakit kan?” tanya Abi yang masih memeluk Sisil, Abi sangat memahami jika istrinya itu sedang menahan tangis. “Iya, jadi dong. Bareng sama Mba Mel periksa kehamilannya, ya.” Jawab Sisil dengan suara berat, karena wanita itu masih terus berusaha untuk tidak menangis. Dari tempatnya duduk, Melya hanya memperhatikan interaksi Abi dan Sisil. Entah kenapa, ada satu perasaan yang ia tak mengerti, apa perasaan itu. Disatu ia merasa bahagia atas kehamilannya, namun ada juga perasaan dimana ia ikut sedih karena Sisil yang sedang menantikan kehamilan. Dan Melya merasakan hatinya sedikit tercubit, melihat bagaimana sang suami memeluk erat wanita lain. Ini bukan hal pertama, tetapi Melya tak mengerti dengan perasaan yang ada dihatinya. Malam ini begitu menyakitkan, atau memang dirinya yang menjadi jauh lebih sensitif karena kehamilannya. Abi mengajak Sisil untuk kembali ke sofa, dimana Melya masih duduk disana. Sama seperti sebelumnya, Sisil duduk disisi kanan Abi, sedangkan Melya disisi kiri pria itu. “Abi, Mba Mel selamat ya.” Ucap Sisil dengan tulus lalu mengusap perut Melya, dan selanjutnya mengusapkan pada perutnya sendiri. “Terima kasih, semoga nular ke kamu ya, Sil.” Jawab Melya dengan senyum menghiasi wajah cantiknya. “Wahh... Nanti Abi dapat anak dua sekaligus dong,” Abi menimpali. “Aamiin...” ujar Melya dan Sisil bersamaan. Setelah itu ketiganya berbincang bersama, membahas rencana mereka untuk esok ke rumah sakit bersama. Melya menyetujui saja usul Sisil, agar dirinya memeriksakan kehamilannya, bersama dengan Sisil dan Abi yang akan menjalani program hamil. Abi juga tidak merasa keberatan dengan usul istri keduanya. Hari sudah semakin larut malam, Abi segera meminta kedua istrinya beristirahat. Karena, esok mereka akan ke rumah sakit pukul sembilan pagi. Ya, pria itu meminta kedua istrinya untuk tidur bersama di kamar utama. Sedangkan ia akan tidur di kamar tamu, karena tak mungkin baginya untuk memilih salah satu diantara kedua istrinya. Awalnya Sisil menolak, wanita itu merasa tidak enak harus tidur di kamar Abi dan Melya. Tetapi, apa bisa seorang istri membantah ucapan suaminya sendiri. Akhirnya, kedua wanita itu hanya bisa menuruti perintah sang suami. “Istirahat, ya. Jangan pada ngerumpi, apalagi bahas pekerjaan. Besok kita berangkat pagi,” Abi memperingati untuk terakhir kalinya, sebelum ia menutup pintu kamar, dimana kedua istrinya sudah berbaring diatas kasur yang sama. “Iya...” jawab Melya, sedangkan Sisil hanya tersenyum pada suaminya. Lalu pintu kamar ditutup, dan Abi segera menuju kamar tamu untuk beristirahat dengan segera. Bahagia dan sedih ia rasakan disaat yang bersamaan, bahagia menyambut kehamilan istri pertamanya, sedih karena istri keduanya tak kunjung mendapatkan titipan rejeki keturunan dari Tuhan. Tetapi, Abi percaya jika semua yang terjadi dalam rumah tangganya adalah sebuah takdir yang sudah Tuhan tentukan. Ia dan kedua istrinya hanya perlu berusaha dan terus berdoa, Abi terus berdoa agar Sisil bisa segera mengandung buah cinta mereka. Abi segera menjemput mimpinya, sesaat setelah merebahkan tubuhnya diatas kasur yang ada didalam kamar tamu. Pria itu kembali berdoa, berharap esok hari akan ada lagi kebahagiaan untuknya, terutama untuk istri keduanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD