CHAPTER 6

1283 Words
Setiap insan yang berpasangan, akan selalu menantikan hadirnya buah hati dalam rumah tangga mereka. Begitulah yang sedang Abi dan Sisil rasakan saat ini, walaupun Abi sudah memiliki dua anak, dan akan menyambut kehadiran anak ketiganya. Tetapi, ia tetap memiliki perasaan yang sama dengan Sisil, menantikan hadirnya buah cinta di tengah-tengah rumah tangga mereka, yang sudah terjalin selama satu tahun ini. Sesungguhnya ada sedikit rasa tidak percaya diri yang Sisil rasakan, melihat bagaimana Melya dengan mudahnya memiliki keturunan. Wanita itu beranggapan jika dirinya lah yang bermasalah, bukan suaminya. Namun, Abi selalu mengatakan jika Tuhan masih ingin mereka menikmati pernikahan mereka yang masih seumur jagung ini. Pria itu juga selalu meyakinkan istrinya, jika ia akan selalu mendampingi Sisil dalam setiap proses program hamil yang akan dijalankan. Disinilah mereka saat ini, di salah satu rumah sakit ibu dan anak yang cukup terkenal dengan fasilitas terbaiknya. Selesai sarapan tadi, Abi bersama kedua istrinya memang langsung memutuskan untuk segera berangkat. Karena mengingat sudah membuat janji jam sembilan pagi, Abi tak ingin ia datang terlambat. Pria itu memang termasuk orang yang selalu disiplin dan tepat waktu. “Umi nanti mau tunggu disini apa ikut masuk?” tanya Abi pada Melya, karena istri pertamanya daftar mendadak, jadi tak mendapatkan jadwal sepagi Sisil yang sudah mendaftarkan jauh-jauh hari. “Tunggu disini aja, Abi sama Sisil berdua aja yang masuk.” Jawab Melya. “Mba Mel beneran mau tunggu disini? Gak ikut masuk aja sama kita,” ujar Sisil. “Iya, Sil. Aku tunggu disini aja, aku doain semoga semuanya berjalan lancar ya. Kamu sehat, Mas Abi juga sehat.” “Mas Abi udah jelas sehat, gak tau deh hasil pemeriksaan aku nanti gimana,” lirih Sisil, akhirnya wanita itu menunjukan kecemasan yang sejak tadi dirasakan. “Sssttt... Gak boleh gitu, semuanya pasti baik-baik aja. Kamu harus percaya sama aku ya,” Melya menguatkan Sisil dan memeluk wanita yang duduk disisi kanannya. Sedangkan Abi mengulas senyum melihat kedekatan kedua istrinya. “Nyonya Sisilia Renata...” terdengar seorang suster menyebutkan nama Sisil. “Iya, Sus.” Abi yang menjawab. “Silahkan masuk, Pak, Bu.” Ujar perawat tersebut dengan senyum ramah pada Abi, Sisil dan Melya yang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri. Abi segera berdiri bersamaan dengan Sisil. “Abi masuk dulu ya, Umi tunggu disini jangan kemana-mana.” Ucap Abi seraya membelai puncak kepala istrinya. “Iya, Sayang. Umi gak kemana-mana, semangat ya kalian. Kamu jangan pikirin yang enggak-enggak ya, Sil. Harus optimis, biar kita bisa hamil sama-sama.” Ujar Melya dengan sangat antusias. “Iya, Mba. Doain aku terus ya,” “Pasti, Sil. Udah sana masuk, udah ditungguin tuh.” Abi dan Sisil segera masuk kedalam satu ruangan, yang sebelumnya ditunjukan oleh perawat tadi. Dengan perasaan yang berkecamuk dalam hati, Sisil terus meyakinkan diri jika semua hasilnya akan menunjukan hasil yang baik. Karena ia yakin, jika Tuhan menyayanginya, dan akan memberikan apa yang ia harapkan disaat yang tepat. Berbagai rangkaian pemeriksaan sudah dijalani, Sisil juga banyak berkonsultasi dengan dokter cantik yang duduk dihadapannya, hanya terhalang sebuah meja. Walaupun masih ada beberapa tahapan yang harus dijalani, setidaknya Abi dan Sisil merasa cukup lega dengan hasil hari ini, karena semuanya menunjukan hasil yang baik. Sudah satu jam berlalu, Abi dan Sisil sudah selesai untuk rangkaian pemeriksaan hari ini. Sedangkan program bayi tabung yang akan mereka jalani, segala prosedur yang harus dijalani akan dikabari lebih lanjut oleh dr. Rika. Ya, keputusan bayi tabung adalah pilihan paling tepat yang dokter sarankan untuk Abi dan Sisil, pasangan suami istri itupun tak keberatan. Bahkan urusan biaya, keduanya tak mempermasalahkan sedikitpun. Dengan perasaan lega dan sedikit bahagia, pasangan suami istri itu keluar dari ruangan dimana mereka berkonsultasi dengan dr. Rika tadi. Sisil berjalan cepat mendahului suaminya, wanita itu menghampiri Melya dan mendekap hangat tubuh wanita yang terus menampilkan senyum cantiknya. “Baik kan hasilnya?” tanya Melya seraya membalas pelukan Sisil. “Alhamdulillah, Mba. Aku sama Mas Abi bisa jalanin program bayi tabung, doain terus ya Mba.” “Pasti dong aku doain, tapi kenapa harus bayi tabung?” selidik Melya. “Nanti kita ceritain di rumah, sebentar lagi waktunya Umi yang periksa loh.” Abi menimpali sesaat setelah duduk tepat disisi kiri istri pertamanya. “Abi, Umi haus.” “Mau minum apa, Sayang?” “Apa aja, tapi jangan yang dingin.” “Ya udah, tunggu disini dulu ya. Abi ke kantin beliin minuman, Mami mau minum apa?” tanya Abi yang tentu saja tak melupakan keberadaan istri keduanya. “Samain aja kayak Mba Mel.” “Oke.” Abi segera berlalu menuju kantin, membelikan minuman untuk kedua wanita yang ia cintai. Wanita yang sama-sama sedang berjuang untuk menghadirkan keturunannya, wanita yang selama ini telah menguasai relung hatinya yang terdalam. Selama Abi pergi, Sisil dan Melya berbincang membahas indahnya kehamilan. Lebih tepatnya Sisil banyak bertanya, bagaimana nikmatnya menjalani kehamilan. Wanita itu juga bertanya, apakah Melya sudah merasakan gejala awal kehamilan. Dan masih banyak lagi yang mereka bicarakan, selama menunggu suaminya kembali, mereka juga masih menunggu giliran Melya memeriksakan kehamilannya, lebih tepatnya memastikan hasil yang di tunjukan oleh alat tes uji kehamilan kemarin. *** Hari sudah siang, Melya juga sudah selesai memeriksakan kehamilannya. Tentu saja bersama sang suami yang terus setia menemani. Hasilnya memang benar, wanita itu kini mengandung buah cintanya dengan Abi. Anak ketiga yang akan lahir dari rahimnya, kehadirannya yang akan disambut dengan limpahan cinta dan kasih sayang. “Mau makan siang dimana?” tanya Abi menatap Melya yang duduk disampingnya, lalu menolehkan kepalanya menatap Sisil yang duduk dibelakang, kursi bagian penumpang. Saat ini memang mereka sedang dalam perjalanan menuju pulang ke rumah, namun waktu sudah menunjukan waktunya untuk makan siang. “Aku terserah Mba Mel aja lah mau makan dimana, kali aja kan bumil lagi pengen makan di mana gitu,” jawab Sisil ringan. “Mau makan dimana, Sayang?” tanya Abi sekali lagi, seraya membelai perut Melya yang masih rata. Menyaksikan hal tersebut, ada sedikit rasa sakit yang mencubit hati Sisil. Namun, wanita itu segera memalingkan wajahnya, menatap kearah luar jendela, melihat jalanan yang mereka lalui. “Lagi pengen makan pizza sih, tapi makan di rumah aja.” “Kenapa di rumah?” “Pengen makan bareng sama Abang Azzam sama Dede Na.” “Kakak Na kali, Mba. Kayaknya harus mulai biasain panggil Neina dengan sebutan Kakak deh.” Sisil menimpali. “Iya, Sayang. Abi setuju tuh, putri kecil kita udah mau jadi Kakak. Jadi, harus kita biasain dia dengan sebutan yang baru. Nanti, pas adiknya lahir gak kaget deh.” Abi menyetujui ucapan Sisil. “Umi juga setuju, ya ampun si cengeng udah mau jadi Kakak. Gak nyangka ya, waktu berputar dengan begitu cepat.” “Iya, Sayang.” Mobil yang dikendarai Abi segera menuju salah satu restoran yang menjual aneka ragam pizza, dengan sangat antusias Melya segera turun bersama dengan Sisil. Sedangkan Abi, memilih untuk menunggu di area parkiran. Karena, di akhir pekan seperti ini tempat parkir pun sangat penuh. Abi berpikir takut nanti mobilnya sulit keluar karena terhalang kendaraan lain, lebih baik ia menunggu saja didalam mobil. Lagi pula Melya tak sendiri, Sisil ada menemani wanita yang sedang mengandung anaknya itu. Cukup lama Abi menunggu kedua istrinya, akhirnya Melya dan Sisil sudah berjalan kearah dimana mobilnya parkir. Setelah Melya dan Sisil masuk, Abi segera melajukan kendaraannya, meninggalkan tempat tersebut. Sesampainya di rumah, Melya langsung mengajak kedua anaknya untuk menikmati makanan yang sudah ia beli sebelumnya. Tentu saja dengan Sisil dan Abi yang juga bersama dengan mereka. Abi menceritakan pada Azzam dan Neina, jika mereka akan memiliki adik. Tentu saja memberi tahu dengan cara yang sesuai dengan pemahaman kedua anak mereka. Melya sangat bersyukur, karena Azzam dan Neina sangat antusias menanti kelahiran adik mereka. Sisil kembali menyelipkan doa, agar dirinya juga bisa memberi adik untuk Azzam dan Neina.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD