Dalam kehamilannya kali ini, berbeda dengan dua kehamilan sebelumnya. Karena, di trimester pertama saat ini, Melya tak mengalami gejala kehamilan yang biasanya dialami oleh banyak ibu hamil. Wanita itu masih berkegiatan seperti biasanya, walaupun sudah mengurangi banyak kegiatan yang bisa membuatnya mudah kelelahan. Selain itu juga, suaminya semakin protektif untuk keselamatan istri pertamanya. Abi tak mengijinkan lagi, Melya mengendarai mobilnya sendiri. Kemanapun wanita itu pergi, supir pribadi yang Abi siapkan akan selalu mengantarkan Melya sampai tempat tujuan.
Siang ini Melya memiliki janji untuk bertemu salah satu sahabatnya, di salah satu kafe yang tidak begitu jauh dari butik miliknya. Seperti biasa, wanita itu akan meminta ijin pada suaminya lebih dulu. Karena hari ini Abi sedang di rumah Sisil, jadi Melya belum sempat meminta ijin. Saat mencoba untuk menelpon Abi, tiba-tiba saja wanita itu terkejut, karena suaminya berdiri di ambang pintu butik miliknya.
“Assalamualaikum...” ucap Abi seraya melangkahkan kakinya untuk masuk ke butik, yang sengaja ia siapkan sebagai hadian ulang tahun dirinya dan Melya yang pertama. Karena Abi mengetahui bakat dan impian Melya untuk memiliki butik pribadi, pria itu selalu berusaha untuk mewujudkannya. Dan Abi bersyukur, karena sang istri mampu mengelolanya dengan sangat baik.
“Waalaikumsalam...” jawab Melya lalu berdiri dari tempat duduknya, wanita itu menghampiri Abi dan langsung berhambur memeluk suaminya dengan sangat erat. Sebetulnya, sejak tadi malam Melya tak bisa tertidur dengan nyenyak, karena merindukan aroma tubuh suami tercintanya. Bahkan, wanita itu sampai mencari baju suaminya yang belum dicuci, untuk menemani tidurnya. Benar saja, setelah mencium aroma Abi yang melekat pada baju yang belum dicuci, dengan mudahnya Melya terlelap.
“Wahh... Tumben nih langsung peluk-peluk, kangen ya?”
“Kangen banget, semalem sampai gak bisa tidur,” lirih Melya. Ia tak dapat membendung kesedihannya, mengingat bagaimana tadi malam ia sangat sulit untuk terlelap.
“Kenapa gak telpon, hmm?” tanya Abi sambil melonggarkan pelukan tangan Melya, lalu ia menuntun istrinya untuk duduk disofa yang tak jauh dari tempat mereka berdiri sebelumnya.
“Gak enak sama Sisil lah, Bi. Gimana sih, masa iya Umi telpon malem-malem minta Abi pulang ke rumah,”
“Sisil pasti bisa ngerti, Sayang. Kan biasanya juga gak pernah, itu pasti pengaruh karena lagi hamil,”
“Ya tetap aja gak enak, tapi beruntung sekitar jam satu Umi akhirnya bisa tidur.”
“Malem banget sayang tidurnya?”
“Ya gimana, matanya gak bisa diajak kompromi.”
“Gimana caranya Umi bisa tidur?” tanya Abi penasaran.
“Di keranjang cucian baju kotor, Umi cari baju Abi yang belum dicuci. Ya udah Umi peluk aja bajunya, terus langsung ngantuk.”
“Iihhhh jorok sih, Umi.”
“Biarin aja, yang penting bisa tidur.” Ujar Melya, lalu kembali memeluk erat tubuh suaminya. Beberapa karyawan yang melihat adegan itu, hanya tersenyum canggung, saat Abi mendapati mereka sedang mencuri pandang, untuk melihat sang pemilik butik bermanja pada suaminya.
Melya terkenal sebagai wanita anggun, tegas, berwibawa, namun lemah lembut. Tetapi hari ini, karyawan yang bekerja di butik miliknya, bisa menyaksikan sifat Melya yang lain. Seorang wanita dewasa yang manja, dan selalu ingin menempel pada suaminya. Seluruh karyawan butik mengetahui, mengenai pernikahan Melya dengan suaminya. Semua karyawan terutama karyawan perempuan, merasa bangga pada Melya yang mampu berbagi suami dengan wanita lain. Tak hanya bangga pada Melya, mereka yang sudah sering bertemu dengan Sisil, memiliki kebanggaan yang sama pada istri kedua Abi.
Pesona seorang Abimanyu Wibisana memang tak dapat diuraikan dengan kata-kata, ketampanannya mampu membuat wanita manapun dengan mudah mengaguminya. Selain tampan, sikap Abi yang selalu ramah dan lemah lembut pada kedua istrinya, membuat wanita manapun akan merasa iri dan ingin sekali diperlakukan seperti itu. Karena, bagi yang melihat kehidupan Melya dan Sisil, mereka akan beranggapan kedua wanita itu sudah menjadi ratu ditangan lelaki yang tepat.
“Abi gak kerja?” tanya Melya yang sudah puas memeluk suaminya, menghirup aroma yang sangat dirindukannya sejak tadi malam.
“Ini hari sabtu, Umi. Abi mana pernah kerja hari sabtu, harusnya Abi yang tanya kenapa Umi hari sabtu masih ke butik. Biasanya kan di rumah sama anak-anak,”
“Ya ampun, maaf, Bi. Umi sampai lupa hari, terus kenapa Abi malah kesini? Kan biasanya sama Sisil,”
“Sisil lagi ada acara arisan, tadi Abi cuma antar aja, terus kesini deh. Kangen sama ibu hamil yang manja,”
“Emang gak boleh manja ya?”
“Ya boleh dong,” jawab Abi lalu mengeratkan kedua tangannya dipinggang sang istri.
“Umi tadi mau minta ijin, jam dua mau ketemu Anya. Baru mau telpon, Abi udah dateng.”
“Ketemuan dimana?” tanya Abi, pria itu memang sudah mengenal sosok Anya. Karena Melya sudah beberapa kali bertemu dengan Anya ditemani suaminya.
“Di kafe sebrang kok, gak jauh-jauh.”
“Ya udah, kita makan siang yuk. Nanti selesai makan siang, Umi bisa ketemu Anya. Abi temenin ya,”
“Emangnya Abi gak jemput Sisil?”
“Sisil minta di jemput jam setengah lima, jadi masih lama. Abi bisa temenin Umi dulu, belum makan siang kan?”
“Iya belum,”
“Nah kan, nakal ya jam segini belum makan. Ayo ah kita makan, gak boleh nahan laper gitu, Abi gak suka.”
“Gak nahan laper kok, tapi emang belum laper.”
“Umi...” ujar Abi penuh penekanan, jika sudah begitu Melya sangat memahami, suaminya sudah tak ingin dibantah lagi.
“Iya, ayo kita makan, Sayang.” Melya mencoba merayu suaminya agar tidak marah.
Abi bersama Melya meninggalkan butik, sebelumnya wanita itu memberitahu orang kepercayaannya, jika dirinya akan langsung pulang ke rumah. Karena sebetulnya akhir pekan seperti ini, Melya selalu meliburkan diri. Namun, karena tadi ada pesanan mendesak yang harus ia urus, dengan terpaksa ia datang ke butik dan meninggalkan putra putrinya di rumah.
Abi sangat memanjakan istrinya siang ini, menuruti apapun yang Melya ingin pesan. Walaupun pada akhirnya ia yang akan menghabiskan makanan tersebut. Jika tidak dalam kondisi hamil, Abi akan bertindak tegas, karena tak suka jika istrinya berlebih dalam memesan makanan. Kecuali jika memang Melya sanggup untuk menghabiskan, namun kali ini wanita itu sedang hamil, jadi ada pengecualian.
Selesai makan siang, Abi memesan satu gelas kopi sedangkan Melya memesan satu potong kue coklat dengan potongan buah strawberry diatasnya. Karena mereka masih akan tetap disana, untuk menunggu kedatangan Anya. Abi banyak bertanya pada Melya mengenai kehamilan wanita itu kali ini, karena tak hanya Melya, Abi juga merasa jika kehamilan anak ketiga mereka berbeda dengan yang sebelumnya.
“Umi beneran gak ngidam mau makan apa gitu?” tanya Abi penasaran.
“Enggak, Bi. Kalau mau makan yang aneh-aneh pasti bilang kok, tapi sekarang emang gak ada sih. Di rumah juga apa aja yang ada, ya Umi makan.”
“Beda banget ya, sama waktu hamil Abang Azzam sama Kakak Na.” Ujar Abi.
“Iya, Bi. Yang ini lebih kuat, gak ada drama mual muntah juga. Alhamdulillah deh, dedenya pengertian Uminya masih mau kerja.”
“Padahal Umi gak kerja juga, Abi sanggup kok biayain dan penuhin kebutuhan Umi sama anak-anak.”
“Umi kerja bukan karena uang, Bi. Tapi karena Umi suka sama pekerjaannya, lagian kalau Umi gak kerja, kasian dong karyawan butik, nanti mereka jadi gak ada kerjaan juga.”
“Tapi kalo udah ngerasa gampang cape, kerjanya di rumah aja ya. Minta salah satu anak butik, anter kerjaannya ke rumah. Umi gak harus setiap hari ke butik. Abi gak mau Umi sama calon anak kita kenapa napa.”
“Iya, Bi.” Jawab Melya lalu memasukan sepotong kue menggunakan sendok kecil kedalam mulutnya.
Masih menunggu kedatangan Anya, akhirnya Abi menanyakan pada Melya ada hal penting apa yang akan istrinya itu bahas dengan sahabatnya semasa kuliah dulu. Karena, yang Abi ketahui Anya sudah tidak tinggal di Jakarta, wanita itu ikut dengan suaminya tinggal di salah satu kota yang ada di Kalimantan.
Melya menjelaskan jika sahabatnya itu ingin meminta pendapat mengenai rumah tangganya, karena suami dari Anya baru saja meminta ijin untuk menikah lagi. Anya yang mengetahui jika suami Melya memiliki dua orang istri, jadi wanita itu meminta pendapat kepada wanita yang sudah lebih dulu mengalami, ketika suami meminta ijin untuk kembali menikah dengan wanita lain.
“Kasih tau sepengalaman Umi aja, ya. Karena bagaimanapun, Umi gak bisa menyamaratakan bagaimana perjalanan rumah tangga kita, sama rumah tangga orang lain. Kita juga gak bisa bilang Anya harus mengijinkan, karena rumah tangga kita berjalan baik. Semua harus kembali lagi pada panggilan hati, sebetulnya sebaik-baiknya pendapat, lebih baik jika Anya meminta petunjuk Allah.”
“Iya, Bi. Umi ngerti banget, makanya nanti Umi pasti kasih penjelasan ke Anya begitu. Karena kebetulan dia juga lagi di Jakarta, makanya kita janjian buat ketemua. Biar ngobrolnya lebih enak aja kalau ketemu langsung, beda kalau di telpon. Umi pasti ikutin apa yang Abi bilang, Umi gak akan bilang kalau Anya harus kasih ijin untuk menghindari suaminya berbuat zina, atau menikah lagi secara diam-diam. Karena semuanya mengikuti panggilan hati dan tentu saja atas ijin Allah.”
Bertepatan dengan ita, Abi melihat Anya yang sudah datang dan berjalan mendekat ke arah dimana mereka duduk saat ini. Lalu Abi memberitahu Melya, jika sahabatnya itu sudah datang, akhirnya Abi memutuskan untuk pulang lebih dulu, membiarkan istrinya berbincang dengan lebih nyaman dengan sahabatnya. Abi tak ingin, Anya merasa tidak nyaman karena keberadaan dirinya disana.
“Abi pulang duluan ya, Sayang. Nanti pulangnya hati-hati,”
“Iya, Bi. Abi juga hati-hati, langsung jemput Sisil apa kemana dulu?” tanya Melya, mengingat ini baru jam dua, sedangkan Abi akan menjemput Sisil jam empat sore.
“Mau ke rumah dulu, kangen Abang Azzam sama Dede Na.”
“Oh gitu... Anya udah makan siang?” ucap Melya menanggapi suaminya, lalu bertanya pada Anya yang baru saja duduk di hadapannya.
“Udah, Mel. Tadi sebelum kesini, aku udah makan dulu. Kebetulan nemenin suami makan siang, sambil ketemu sama salah satu rekan kerjanya,” jawab Anya santai.
“Kalau gitu kita pulang aja yuk, ngobrolnya di rumahku. Kamu kesini bawa mobil atau diantar suami?”
“Diantar suami, nanti kalau mau pulang baru minta jemput.”
“Ya udah, ngobrolnya di rumahku aja yuk. Biar lebih santai sama lebih leluasa, sekalian Abinya anak-anak mau ke rumah, biar sekalian. Boleh kan, Bi?” tanya Melya pada Abi yang masih berdiri di sampingnya.
“Boleh lah, Sayang. Kalau Anya gak keberatan, memang lebih baik di rumah.”
“Aku gak keberatan kok, ayo kita ke rumah kamu aja, Mel.”
Akhirnya Abi bersama kedua wanita itu meninggalkan kafe tersebut, tetapi Abi meminta Melya dan Anya untuk menunggu lebih dulu. Karena ia akan mengambil mobil miliknya di parkiran butik milik Melya, tadi saat ke kafe, Abi dan Melya memang lebih memilih jalan kaki, karena jarak yang begitu dekat.
“Hubungan kamu sama Abi adem terus ya, Mel.” Ujar Anya, saat Abi sudah menjauh dari tempat mereka berdiri.
“Alhamdulillah, Nya. Tapi ya tetap aja, ribut kecil dan kesalahpahaman itu pasti ada.”
“Terus, kamu sama istri keduanya suamimu gimana, Mel?” tanya Anya yang memang penasaran. Wanita itu hanya mengetahui, jika suami dari sahabatnya menikah lagi. Namun tak pernah mengetahui, bagaimana kehidupan sehari-hari yang Melya lalui setelah Abi menikah dengan Sisil.
“Aku sama Sisil baik-baik aja, dia udah kayak adik aku sendiri. Sisil juga baik banget sama anak-anak, sama Mas Abi juga baik, Sisil istri yang penurut dan gak pernah macam-macam.”
“Hebat banget sih kamu, Mel. Aku jangankan buat akrab, bayangin suami aku nikah lagi aja, rasanya pengen ngamuk terus.”
“Udah ah, nanti kita bahas di rumahku aja, ya. Tuh mobil Mas Abi udah mau sampai, kita kesana aja yuk.” Melya mengajak Anya untuk berjalan lebih dekat ke pinggir jalan raya, agar suaminya tak harus masuk area kafe.
Melya dan Anya segera masuk kedalam mobil, tak banyak perbincangan selama perjalanan. Melya hanya sesekali menanyakan kegiatan Anya selama ikut suaminya, meninggalkan ibu kota. Anya sedikit bercerita, bagaimana ia harus belajar untuk beradaptasi karena perbedaan suku dan bahasa disana. Namun, Anya menikmati itu semua, karena bagi Anya sangat menyenangkan memiliki kesempatan untuk mengenal sesuatu hal yang baru.
Abi hanya fokus menyetir dan tak banyak menanggapi perbicangan Melya dan Anya, karena bagi Abi itu bukan hal yang harus ia ikut campuri. Wanita berbeda dengan laki-laki, wanita cenderung membutuhkan teman bercerita saat menghadapi suatu masalah. Tetapi laki-laki, lebih memilih untuk menyelesaikan semuanya sendiri mengikuti logika dan pemikirannya.
Sesampainya di rumah, Melya langsung mengajak Anya untuk masuk ke ruang keluarga. Sedangkan Abi langsung menemui kedua putra putrinya yang baru saja bangun tidur, selama Melya berbincang dengan Anya, Abi menikmati waktunya bermain dengan Azzam dan Neina, karena sudah lama ia tak menghabiskan waktu dengan kedua anaknya. Pukul empat sore, Abi berpamitan pulang karena harus menjemput Sisil, tetapi Anya masih asik membalas segala hal dengan sahabatnya yang sudah lama tak bertemu.