Di sebuah restoran, wanita cantik baru keluar bersama dengan temannya. Wanita yang sudah satu tahun ini menjadi istri kedua, seorang Abimanyu Wibisana. Model majalah muslimah terkenal, yang dengan semua rasa cintanya, ikhlas menjalani rumah tangga yang tak seperti rumah tangga pada umumnya. Sisil harus rela berbagi waktu, perhatian, cinta dan kasih sayang. Tak hanya ia yang harus berbagi dengan wanita lain, Sisil juga harus ikhlas membaginya dengan anak-anak sang suami, dengan istri pertamanya.
Bertepatan dengan dirinya yang baru keluar dari restoran, sang suami baru saja datang menjemput. Hal itu yang selalu Sisil syukuri dalam kehidupan rumah tangganya, Abi merupakan sosok suami yang luar biasa, selalu berbuat adil dan selalu berusaha untuk menepati janjinya.
Sisil sempat berpikir jika suaminya tak akan menjemput, saat tadi ia mengirim pesan pada Abi, pria itu mengatakan jika dirinya sedang di rumah Melya karena merindukan Azzam dan Neina. Namun, semua terhempas ketika Sisil melihat keberadaan Abi saat ini. Suaminya sudah datang untuk menjemputnya, sesuai dengan janjinya tadi.
Sisil segera masuk kedalam mobil, ssat mobil yang di kendarai sudah berada tepat didepan tempatnya berdiri. Saat sudah masuk, Sisil langsung mencium punggung tangan Abi, dan dibalas oleh suaminya itu ciuman dikening Sisil, dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Abi kembali fokus pada kemudi, lalu mobil itu mulai bergerak meninggalkan restoran. Abi menanyakan bagaimana kegiatan istrinya itu. Sisil menjawab dengan perasaan bahagia, entah mengapa ia merasa sangat senang hari ini. Tak hanya Abi, Sisil juga menanyakan bagaimana kabar Abang Azzam dengan Kakak Na. Sesungguhnya, Sisil juga merindukan dua anak dari Abi dan Melya. Namun, karena hari ini ia ada acara dengan teman-temannya, jadi tak bisa ikut dengan Abi bertemu mereka.
“Mau langsung pulang, Sayang?” tanya Abi lembut.
“Memangnya, Mas mau kemana?” bukan menjawab pertanyaan suaminya, Sisil memilih untuk melontarkan sebuah pertanyaan.
“Mas gak ada tujuan kemana-mana, Mas juga gak ada kegiatan apa-apa hari ini. Jadi, kamu mau kemana aja Mas temenin.”
“Mau ke rumah Mba Melya boleh? Kangen sama anak-anak,” ujar Sisil dengan antusias, wanita itu ingin sekali mengajak Azzam dan Neina pergi ke salah satu pusat perbelanjaan, yang hari ini sedang ada sebuah acara pertunjukan. Sisil sangat yakin, jika kedua anak itu akan menyukai acara pertunjukan tersebut, karena akan menampilkan tokoh kartun yang mereka sukai.
“Gak besok aja, Sayang? Tadinya aku mau berduaan aja sama kamu.”
“Niatnya pengen ajak Abang Azzam sama Kakak Na pertunjukan, yang ada di mall, Mas. Kan hari ini terakhir,”
“Oh gitu, ya udah boleh deh. Tapi, kamu coba telpon Melya dulu. Ijin dulu, boleh gak kita bawa anak-anak.”
“Kita ajak Mba Mel sekalian aja, gimana?”
“Coba kamu hubungin Melya, aku terserah apa kata kamu aja.”
Sisil segera mengambil ponsel miliknya dari dalam tas, ia langsung menghubungi Melya sesuai perintah suaminya. Wanita itu segera menanyakan tujuannya, setelah saling bertanya kabar dengan istri pertama suaminya. Melya mengijinkan jika Sisil dan Abi ingin mengajak kedua anaknya pergi, melihat sebuah pertunjukan yang ada di sebuah pusat perbelanjaan. Namun, dengan lembut ia menolak ajakan Sisil untuk ikut bersama. Bukan tanpa alasan, Melya merasa tidak enak karena sudah seringkali, hadir dalam keseharian Abi, disaat seharusnya Abi menghabiskan waktu bersama Sisil.
Tetapi Melya tak mengatakannya secara langsung, ia beralasan jika dirinya sangat mengantuk sore ini. Karena tadi menghabiskan waktu bersama dengan Anya, ia tak sempat tidur siang. Jadi, ia ingin bisa tidur lebih cepat. Bahkan Melya mengijinkan, jika Sisil ingin mengajak Azzam dan Neina pulang kerumahnya. Dengan sangat antusias, Sisil merasa sangat bahagia. Karena ia bisa kembali membawa kedua anak menggemaskan itu, untuk bermalam dirumahnya.
Walaupun hanya satu malam, hal itu membuat Sisil merasa bahagia. Rumahnya yang biasa sepi, akan kembali ramai karena kedatangan Azzam dan Neina. Setelah mematikan sambungan teleponnya, Sisil mengatakan pada Abi, semua hal yang ia bicarakan dengan Melya. Walaupun sebenarnya, Abi tak perlu mendengar apapun, ia sudah sangat mengerti melalui ekspresi wajah yang Sisil tunjukan. Namun, dengan lembut Abi merasa turut bahagia, dengan kebahagiaan istrinya. Abi menyadari, jika Sisil sudah ingin sekali memiliki keturunan, namun Tuhan menginginkan mereka untuk terus berusaha lebih keras. Yang bisa Abi lakukan saat ini, hanya terus berdoa dan berusaha, selain itu ia akan selalu membuat istri cantiknya merasa bahagia.
Tiga puluh lima menit berlalu, mobil yang Abi kendarai sudah tiba di rumah Melya. Ia mengajak istrinya untuk langsung masuk saja, karena tadi Melya mengirimkan pesan padanya untuk langsung masuk. Melya sedang menyiapkan segala keperluan yang akan ia bawakan untuk Azzam dan Neina, selama menginap di rumah Sisil.
“Bi, kok kita langsung masuk sih?”
“Iya, Sayang. Tadi Melya kirim pesan, katanya kita langsung masuk aja.”
“Oh... gitu!”
Pemikiran buruk kembali terlintas dalam pikiran Sisil, mengingat ia yang menghubungi Melya. Tetapi wanita itu memilih untuk memberi kabar pada suami mereka, ada sedikit perasaan tercubit atas hal yang baru saja terjadi. Namun, ia tak mau menunjukannya pada siapapun, Sisil melangkah cepat saat melihat Azzam dan Neina sedang bermain tak jauh dari tempatnya berdiri.
“Mamiiihhhhh...” sorak riang Azzam dan Neina, keduanya langsung menghentikan kegiatan bermain mereka, dan berhambur memeluk Sisil yang sudah berjongkok untuk mensejajarkan tingginya, dengan kedua anak kecil itu.
“Anak cantik sama gantengnya Mamih, udah pada mandi belum?” tanya Sisil, seraya menciumi pipi kedua anak itu bergantian.
“Udah dong,” jawab keduanya kompak.
“Umi mana, Bang?” tanya Abi yang kini sudah berdiri tepat di belakang tubuh Sisil, mengalihkan perhatian Azzam yang merasa ditanya oleh ayahnya.
“Di kamar Abang,” ujar Azzam.
Setelah itu Abi berpamitan untuk menemui Melya, dan meninggalkan Sisil bersama dengan kedua anaknya. Sisil mengabaikan hal itu, ia tak ingin terus menerus memiliki pemikiran buruk terhadap suaminya. Sisil merasa, jika dirinya saat ini sedang lebih sensitif saja. Selebihnya ia percaya pada suaminya dan juga Melya, dan ia selalu berserah pada Tuhan, jika rumah tangganya akan selalu dalam lindungan-Nya.
Sisil percaya, jika hal yang baik akan hadir karena pemikiran diri sendiri. Jadi, ia sudah tak mau lagi memiliki pemikiran yang buruk terhadap siapapun. Karena, Sisil tak ingin keburukan hadir dalam rumah tangganya bersama Abi.