Abi bersama Sisil sudah membawa Azzam dan Neina menuju pusat perbelanjaan yang dimaksud oleh Sisil sebelumnya, pria itu memang akan menuruti apapun yang istrinya minta, selama itu adalah hal yang masih masuk akal. Seperti biasa, Sisil akan selalu menikmati kebersamaannya dengan kedua anak dari Abi dan Melya. Wanita itu sangat mencintai Azzam dan Neina, setiap kali bertemu dengan dua anak menggemaskan itu, Sisil selalu mengucapkan doa dalam hati, semoga Tuhan segera memberikannya keturunan.
Melihat kebahagiaan yang Azzam dan Neina pancarkan, saat menyaksikan pertunjukan yang sedang berlangsung. Sisil ikut merasa bahagia, terutama saat melihat Neina yang duduk di pangkuannya, terkagum-kagum melihat aksi dari beberapa tokoh kartun yang ada di panggung pentas sana.
Abi dapat merasakan kebahagiaan yang Sisil rasakan saat ini, ia berpikir akan berbicara pada Melya untuk memberi satu atau dua hari dalam satu minggu, agar Azzam dan Neina bisa bersama Sisil. Karena kesibukan Sisil yang sudah mulai wanita itu kurangi, semenjak ia ingin mengikuti program hamil, Abi sadar jika Sisil akan sering merasa bosan jika hanya di rumah saja. Mungkin, kehadiran Azzam dan Neina bisa mengisi kebosanan istrinya itu selama tak memiliki kegiatan.
Selesai menyaksikan pertunjukan, Azzam meminta makan di salah satu restoran cepat saji. Dengan senang hati Abi dan Sisil menurutinya, karena Neina juga menginginkan hal yang sama. Bukan hanya menu makanan yang dua anak itu inginkan, tetapi karena ada paket makanan dengan hadiah sebuah mainan, yang sudah lama sekali Azzam dan Neina ijinkan. Biasanya Azzam dan Neina akan mengatakan keinginannya itu pada Melya, ibu mereka. Namun, karena saat ini mereka memiliki kesempatan meminta pada ayahnya, Azzam yang sudah lebih mengerti, akhirnya mengatakan keinginannya itu.
“Abi mau makan apa?” tanya Sisil sebelum ia memesan makanan, untuk makan malam mereka berempat. Wanita itu bertanya pada suaminya, karena ia sudah mengetahui apa yang Azzam dan Neina inginkan. Jadi, ia tak bertanya lagi pada kedua anak itu.
“Apa aja, Sayang. Samain aja sama kamu, lagian disini menu makanannya ayam goreng kan? Ya udah Abi ayam goreng aja yang krispi, minumnya air mineral.”
“Oke, Abi sama anak-anak bisa cari tempat duduk duluan kan? Biar Mamih yang pesan makanannya,” ujar Sisil mengajukan ide. Agar kedua anaknya bisa menunggu dengan nyaman, tak perlu ikut mengantri.
“Siap, Sayang.” Jawab Abi penuh semangat, lalu mengajak Azzam dan Neina untuk mencari tempat duduk di sudut ruangan. Abi memilih disana karena menurutnya lebih nyaman, tak terlalu berdekatan dengan pengunjung lain.
Dua puluh menit Sisil menunggu giliran, akhirnya ia bisa membawa semua makanan yang sudah ia pesan untuk keluarganya. Azzam dan Neina menyambut dengan perasaan senang, karena selain makanan, Sisil membawa mainan yang mereka inginkan.
“Mamih, suapin Dedek Na, Abang Azzam mam sendiri ya, Nak,” ujar Sisil pada putranya. Ia akan selalu menganggap Azzam atau Neina adalah anaknya sendiri. Sisil berjanji, jika dirinya memiliki anak kelak, tak akan pernah membeda-bedakan antara anaknya dengan anak Melya.
“Iya, Mih...” jawab Azzam, lalu menyimpan mainan yang sebelumnya ia pegang di atas meja. Karena ia harus fokus dengan makanan yang sudah Sisil belikan untuknya.
“Abang mau Abi suapin?” Abi menawarkan pada Azzam, namun putranya itu menggelengkan kepalanya cepat.
“Kenapa gak mau?” sambung Abi bertanya pada Azzam.
“Abang kan sudah besar, adiknya Abang sudah mau dua, Dedek Na sama yang ada di perut Umi,” jawab Azzam yang mulai sibuk memakan ayam goreng kesukaannya.
“Ma Sha Allah, pinternya anak Abi. Ya udah, makan yang banyak ya, kalau mau nambah nanti Abang bilang. Abi beliin lagi,” ujar Abi yang merasa sangat bangga pada putra pertamanya.
“Iya, Abi.”
Abi dan Azzam sama-sama sibuk dengan makanan mereka, sedangkan Sisil masih menyuapi Neina. Anak perempuan itu sebetulnya sudah bisa makan sendiri, walaupun akan sedikit berantakan. Namun, karena hari sudah beranjak malam, mereka harus segera pulang ke rumah, Sisil memutuskan untuk menyuapi Neina agar selesai lebih cepat. Selain itu, Sisil memang sangat senang melakukan kegiatan itu, jika di rumah ia pasti akan menyuapi Azzam juga bersamaan dengan Neina. Tetapi, karena saat ini di tempat umum, Azzam memang lebih sering memilih untuk makan sendiri.
Melihat istrinya belum makan, sedangkan ia sudah selesai dengan kegiatan makannya. Abi memutuskan untuk menyuapi Sisil, walaupun istrinya itu sempat menolak, namun Abi adalah suami yang tak bisa menerima penolakan. Apalagi yang ia lakukan untuk membantu wanita yang dicintainya. Azzam sempat menggoda Mamihnya yang di suapi, namun Abi mengatakan jika itu ia lakukan karena Sisil memang membutuhkan bantuan. Tentu saja Abi memberitahu dengan cara yang sangat baik, agar Azzam mudah memahami. Abi bukan seorang Ayah yang mendidik anak dengan cara yang keras, pria itu tak pernah sekalipun memarahi putra putrinya. Bahkan kedua istrinya saja tak pernah ia marahi jika salah, ia akan selalu memilih untuk menegur dengan cara yang baik.
“Mamih ada yang mau dibeli lagi gak?” tanya Abi, memastikan pada istrinya sebelum mereka pulang.
“Mamih gak ada, anak-anak gak tau deh,”
“Abang Azzam sama Kakak Na ada yang mau dibeli gak? Mau mainan, atau mau jajan es krim?” Abi bertanya pada Azzam yang ada di gendongannya, sedangkan Neina dalam gendongan Neina. Sebetulnya tanpa ditanya pun, Abi sudah mengetahui jawabannya. Jika sang anak tak akan meminta apapun lagi, karena keduanya sudah dalam kondisi yang mengantuk setelah selesai makan tadi.
Betul saja, baik Azzam ataupun Neina hanya menggelengkan kepala. Walaupun es krim sangat menggiurkan untuk mereka, namun rasa kantuk membuat keduanya menolak tawaran menarik tersebut. Akhirnya Abi memutuskan untuk segera membawa keluarganya pulang, karena ia juga merasa kasihan pada Sisil jika harus menggendong Neina lebih lama lagi di dalam mall.
“Mih...” ujar Abi yang sedang fokus mengemudi kendaraannya.
“Iya, Mas. Ada apa?” tanya Sisil lembut, wanita itu sedang membenarkan posisi Neina yang tertidur diatas pangkuannya, sedangkan Azzam ditidurkan di kursi penumpang bagian belakang.
“Kamu suka merasa kesepian gak kalau di rumah lagi gak ada aku?”
“Ya pasti lah, Sayang. Tapi aku gak apa-apa kok, semuanya aku jalanin dengan senang hati. Kenapa tanya gitu, Mas?” tanya Sisil bingung, karena suaminya tak pernah bertanya seperti ini sebelumnya.
“Rencananya aku mau bilang ke Melya, buat kasih waktu Azzam sama Neina buat tinggal di rumah kamu. Mungkin dua atau tiga hari dalam seminggu, Melya juga kan lagi hamil, pasti fokusnya terbagi antara anak-anak sama kehamilannya. Kamu mau?”
“Aku mau banget, Bi. Tapi, apa gak kasihan anak-anak?”
“Nanti kita bicarain bertiga sama Melya ya, setidaknya sampai kamu hamil atau anak kita lahir. Aku tau, kamu bahagia banget selama bisa sama anak-anak. Mudah-mudahan Melya mengijinkan ya,”
“Kalau Mba Mel gak kasih ijin, jangan dipaksa ya, Mas. Aku gak enak kalau harus memaksakan keadaan,”
“Iya, Sayang. Makanya nanti kita obrolin ya, aku juga gak akan maksa Melya, kalau emang dia gak mengijinkan. Karena Melya ibunya anak-anak, dia yang lebih mengerti apa yang terbaik untuk Azzam dan Neina.”
“Iya, Mas.”
Bertepatan dengan itu, mobil yang Abi kendarai sudah berhenti tepat di pelataran rumah istri keduanya. Perlahan Abi membantu Sisil untuk turun dengan Neina yang ada di gendongan wanita itu, sedangkan dirinya akan membawa Azzam masuk kedalam rumah.
Hari sudah larut malam, Sisil dibantu Abi mengganti pakaian kedua anaknya. Setelah selesai, keduanya bergantian untuk membersihkan tubuh sebelum beristirahat. Saat Sisil sedang mandi, Abi menyempatkan untuk menghubungi Melya, karena ia yang mengetahui jika istrinya sempat memiliki gangguan susah tidur. Jadi, ia memutuskan untuk bertanya bagaimana dengan malam ini. Apakah Melya masih memiliki kendala yang sama, sulit untuk tertidur jika tak mencium aroma tubuh suaminya.
“Assalamualaikum, Sayang...” ujar Abi, saat panggilannya sudah dijawab oleh sang istri.
“Waalaikumsalam, Abi. Belum bobo?” tanya Melya lembut dari seberang sana.
“Belum, Sayang. Baru selesai mandi, tadi pulangnya kemaleman, soalnya dijalan cukup macet.”
“Mungkin karena malem minggu ya, Bi. Jadi jalanan macet deh,”
“Iya, Sayang. Umi lagi apa?”
“Lagi boboan aja, Bi. Sambil nonton TV,”
“Udah malem, Sayang. Jangan begadang,”
“Belum ngantuk, Bi. Abi bobo duluan aja, pasti cape kan abis ajak anak-anak jalan. Seharian ini, Abi juga sibuk banget. Nanti kalau udah ngantuk, Umi langsung istirahat,” ucap Melya lembut, namun tanpa sepengetahuan Abi, air mata mengalir begitu saja dari kedua sudut mata Melya. Karena lagi lagi, ia kesulitan untuk memejamkan mata. Tetapi, ia tak berani mengatakan hal tersebut, karena ia harus mengerti bagaimana keadaan suaminya saat ini.
“Umi masih susah tidur?”
“Enggak kok, Bi. Emang belum ngantuk aja,”
“Apa ada makanan yang Umi mau?”
“Hmm... Kayaknya enggak deh, tapi besok pagi ada.”
“Kenapa besok pagi?” tanya Abi bingung, karena yang ia ketahui selama kehamilan sebelumnya, saat Melya merasakan ngidam tak bisa ditunda sampai esok hari.
“Ya, soalnya yang Umi mau jualannya besok pagi. Kalau maunya sekarang kan bingung, mau cari kemana coba,”
“Memangnya Umi mau apa? Besok pagi Abi bawain ke rumah,”
“Gak usah, Bi. Umi bisa order lewat aplikasi online aja, gak enak sama Sisil kalau Abi harus anterin makanan kesini pagi-pagi.”
“Sisil pasti bisa ngertiin kok, Umi kan lagi ngidam, Umi hamil anak Abi. Ya, Abi dong yang harus turutin kemauan anak kita,”
“Tapi Umi bisa beli sendiri, Sayang. Udah ya gak usah, Abi besok sarapan bareng Sisil sama anak-anak aja,” lirih Melya, namun diiringi isak tangis yang sudah tak bisa ditahan lagi. Dadanya begitu sesak, karena harus ikhlas jika sang suami tak bisa melayani ngidamnya.
“Umi... Abi gak suka ya, Umi kayak gitu. Umi gak menghargai Abi sebagai suami dan Ayah dari anak yang ada dalam kandungan Umi,” ucap Abi penuh penekanan.
“Maaf, Sayang. Bukan begitu maksudnya, Umi cuma merasa gak enak sama Sisil.”
“Nanti Abi yang bilang sama Sisil, Umi mau sarapan apa besok pagi? Biar Abi yang bawain ke rumah,” ucap Abi tegas tak ingin menerima penolakan apapun lagi.
“Umi mau nasi kuning yang ada di deket butik,”
“Ya udah, besok tungguin ya, Abi bawain ke rumah. Nanti Umi kabarin Abi mau lauknya apa aja,”
“Makasih ya, Sayang.”
“Sama-sama, Sayang. Terus kenapa sekarang nangis?” tanya Abi yang sudah semakin jelas mendengar isak tangis istri pertamanya.
Seperti biasa Melya terus mengelak dan mengatakan jika dirinya tidak menangis, namun Abi tak bisa di bohongi begitu saja. Pria itu terus meminta Melya mengatakan apa yang menyebabkan wanita itu menangis, sampai akhirnya wanita itu mengatakan jika dirinya kesulitan untuk memejamkan mata. Padahal matanya sudah merasakan kantuk, dan tubuhnya merasa lelah. Tetapi, ia tak bisa tertidur, karena menginginkan keberadaan Abi di sisinya.
Abi menghembuskan nafas panjang, ia merasa sedikit bingung dengan kondisi saat ini. Pria itu tak tega kepada istri pertamanya yang sedang hamil, dan membutuhkan dirinya. Tetapi, ia juga tak bisa pergi begitu saja meninggalkan istri keduanya, apalagi dengan keberadaan Azzam dan Neina dirumah itu. Sisil pasti akan merasa kerepotan jika mengurus kedua anak itu sendirian. Apalagi, Sisil belum memiliki pengalaman mengurus anak.
Tanpa sepengetahuan Abi, Sisil sudah keluar dari kamar mandi dan mendengarkan perbincangan dirinya bersama Melya, sejak ia dan istri pertamanya itu membahas makanan yang sedang Melya inginkan. Sisil mendengar bagaimana suaminya mengatakan pada Melya, jika dirinya akan mengerti kondisi Melya yang sedang mengidam saat ini. Mungkin memang hanya itu yang bisa Sisil lakukan saat ini, mengerti bagaimana kondisi Melya yang sedang mengandung buah cinta wanita itu, dengan suami yang sangat ia cintai.
Sisil memilih untuk menghampiri Abi, wanita itu sangat mengerti jika suaminya sedang merasa bingung sekarang. Istri pertamanya tak bisa tidur dan membutuhkan dirinya, tetapi disisi lain, saat ini waktunya ia bersama dengan istri keduanya yang juga sudah merindukan pria itu. Sisil menggenggam tangan Abi, lalu meminta ponsel yang sedang pria itu tempelkan didepan telinganya. Sisil meminta ijin untuk berbicara dengan Melya, walaupun tanpa suara. Akhirnya Abi memberikan ponsel miliknya, dan membiarkan Sisil berbicara dengan Melya. Pria itu sangat yakin, jika kedua istrinya akan memiliki solusi yang tepat untuk dirinya saat ini.
“Assalamualaikum, Mba Mel.” Ucap Sisil lembut, namun di seberang sana Melya sangat terkejut karena mendengar suara istri kedua dari suaminya.
“Waalaikumsalam, Sil.” Jawab Melya sedikit terbata.
“Mba Mel lagi gak bisa tidur ya?”
“Tadi iya, Sil. Tapi sekarang udah ngantuk nih, sebentar lagi mau tidur. Kamu kenapa belum tidur?” tanya Melya, wanita itu berusaha menyembunyikan segala kesedihannya. Ia mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
“Mba jangan bohong sama aku, Mba Mel sekarang lagi nangis karena butuh Mas Abi kan?” tanya Sisil tepat sasaran, bukan ia menebak kondisi Melya, tetapi memang Sisil yang mendengar semua perbincangan suaminya dengan wanita yang saat ini sedang berbincang dengannya.
“Gak gitu kok, Sil. Tadi sih iya, tapi sekarang udah gak lagi kok. Udah malem Sil, mendingan kamu tidur. Cape banget kan pasti abis ajak Azzam sama Neina jalan-jalan,” Melya tetap berusaha keras untuk mengalihkan pembicaraan.
“Mba Mel udah gak anggap aku adiknya Mba lagi ya?” lirih Sisil, membuat Abi yang ada disamping wanita itu semakin mempererat genggaman tangan mereka.
“Bukan begitu, Sil. Kamu selalu jadi adik aku, sampai kapapun gak akan berubah.”
“Terus kenapa bohong, Mba? Mba Mel bisa bilang sama aku, kalau memang butuh Mas Abi disamping Mba Mel, aku gak akan keberatan sedikitpun. Kita sudah janji, gak akan menutupi apapun satu sama lain, tapi Mba menutupi gimana keadaan Mba saat ini,” ucap Sisil mempertegas setiap kalimat yang ia ucapkan.
“Aku gak ada maksud bohong sama kamu, Sil. Bukankah kita harus saling mengerti bagaimana kondisi kita masing-masing, aku harus mengerti kalau malam ini Mas Abi harus di rumah kamu, aku cuma perlu sabar, menunggu waktunya Mas Abi di rumahku.” Jawab Melya semakin terisak.
“Tapi kondisinya berbeda, Mba. Kamu lagi hamil, aku gak mungkin bersikap egois sama kamu, kamu butuh Mas Abi, dan aku harus mengerti itu. Anak dalam kandungan kamu itu anaknya Mas Abi, Mas Abi suamiku juga, berarti itu anakku juga, Mba. Apa kamu mau aku jadi Mamih yang egois dan jahat sama anaknya?” Sisil mengatakan kalimat panjangnya dengan sedikit menggebu-gebu, isak tangis juga mengiringi setiap ucapannya. Abi mencoba menenangkan Sisil, dan meminta kembali ponsel miliknya.
“Maaf, Sil. Jangan marah ya, sungguh aku gak bermaksud seperti itu,”
“Ya sudah, Mba Mel tunggu Mas Abi di rumah. Aku mau siapin baju Mas Abi, biar bisa kesana sekarang,”
“Jangan, Sil. Aku gak apa-apa kok.”
“Aku tidak menerima penolakan, Mba. Besok pagi aku bawa anak-anak kesana, kita sarapan sama-sama.”
Setelah itu Sisil mengembalikan ponsel milik suaminya, tanpa menunggu jawaban apapun dari Melya. Abi semakin bingung dengan kondisi saat ini, namun ia mencoba menyikapinya dengan sebaik-baiknya yang ia bisa. Ia mengakhiri panggilang telepon dengan Melya, setelah mengatakan jika ia akan berbicara dengan Sisil. Lalu pria itu menghampiri istri keduanya yang sedang menyiapkan pakaian. Abi mengatakan tak akan ke rumah Melya, jika Sisil merasa keberatan. Namun, Sisil tetap memaksa suaminya itu untuk segera pergi ke rumah Melya.
“Besok Abi jemput Mamih sama anak-anak, ya. Katanya mau sarapan sama-sama di rumah Melya,” ujar Abi yang sudah siap meninggalkan rumah.
“Iya, Sayang. Abi hati-hati dijalan ya, jangan ngebut bawa mobilnya. Salam buat Mba Mel, sampaikan maafku, tadi sempat marah-marah,”
“Makasih ya, Sayang. Udah ijinin aku ke rumah Melya malam ini.”
“Gak usah makasih, memang itu yang harus Abi lakukan. Yang penting jangan terulang kejadian kayak gini, apapun kenyataannya cukup kasih tau Mamih, dan Mamih akan mengerti semua kondisinya.”
“Ya udah, Abi berangkat ya. Assalamualaikum...”
“Waalaikumsalam...” jawab Sisil lalu memeluk tubuh suaminya, sebelum Abi benar-benar keluar dari rumah.
Abi meninggalkan rumah Sisil dengan mobil miliknya, air mata membasahi kedua pipi Sisil mengiringi kepergian suaminya menuju rumah Melya. Sesak yang Sisil rasakan saat ini, ia selalu di tuntut untuk mengerti segala keadaan yang ada. Namun, ia berharap jika suatu hari nanti, Melya bisa bersikap sama dengannya. Jika dirinya membutuhkan suaminya, dengan ikhlas Melya mengijinkan.
Sisil menutup pintu rumahnya, dan langsung menuju kamar dimana ada Azzam dan Neina yang sudah terlelap. Wanita cantik itu berusaha keras, untuk segera tertidur nyenyak. Berharap kesakitan yang ia rasakan malam ini, akan sirna bersamaan dengan matahari terbit esok hari. Sisil menyadari jika ini adalah konsekuensi atas segala keputusannya, menerima dengan ikhlas di nikahi oleh pria yang sudah memiliki istri.