CHAPTER 10

1061 Words
Setibanya di rumah Melya, tanpa mengetuk pintu Abi langsung masuk kedalam kamar. Pria itu mendapati istrinya yang sedang bergelung dibalik selimut, sepertinya Melya sudah mencoba untuk terlelap dalam tidurnya. Sebelum bergabung dengan Melya, Abi memilih masuk kedalam kamar mandi sekaligus berganti pakaian. Melya yang menyadari kedatangan suaminya, ia membuka matanya dan memulihkan pandangannya. Rasa bersalah tiba-tiba saja menguasai relung hati wanita itu, selain rasa bersalah pada Sisil, ia juga merasa bersalah pada suaminya. Abi pasti lelah setelah seharian ini dengan berbagai kegiatan diluar rumah, tetapi tengah malam seperti ini, pria itu harus datang ke rumahnya. Abi naik ke tempat tidur dan langsung merebahkan tubuhnya disisi kanan Melya, perlahan pria itu meraih tubuh sang istri agar masuk kedalam pelukannya. Abi sangat mengerti, jika saat ini Melya sedang menangis dalam diam. Tetapi, ia tak mengetahui apa yang membuat istrinya itu menangis. Karena keinginan wanita itu sudah ia penuhi, namun Melya masih saja menangis dalam pelukannya, Melya juga mengeratkan pelukan tangannya. “Kenapa nangis, Sayang? Abi udah disini, bobo ya,” ucap Abi lembut. “Umi jahat ya?” lirih Melya. “Jahat kenapa, Sayang?” “Sisil udah baik banget, ngajak Abang Azzam sama Kakak Na jalan-jalan. Tapi, Umi malah egois mau Abi temenin Umi disini,” “Umi bukan jahat, Umi juga gak egois, ini kan yang mau calon anak kita, gak mau jauh-jauh dari Abinya. Udah ah, sekarang Umi bobo ya.” Abi terus menenangkan istri cantiknya, yang saat ini masih terisak dalam tangis karena rasa bersalahnya pada Sisil. Kalimat-kalimat menenangkan terus Abi ucapkan, ia juga mencoba memberitahu Melya bahwa ini semua bukan salahnya. Sisil juga selalu mengerti kondisi Melya yang sedang hamil dan lebih sensitif, jadi Sisil terus berusaha untuk bisa lebih mengalah. Walaupun Abi sangat mengetahui, jika istri keduanya itu juga akan merasakan kecewa. Dua puluh menit berlalu, Abi masih terjaga menemani Melya yang sedang menangis sejak kedatangan dirinya. Namun, wanita itu kini sudah tertidur lelap, walaupun isakan dari bibir cantiknya sesekali masih terdengar. Tetap memeluk erat tubuh mungil Melya, Abi mencoba meraih ponsel yang sebelumnya ia letakan diatas nakas. Pria itu ingin mengirim pesan pada Sisil, untuk mengatakan terima kasih, karena wanita itu malam ini sudah berbuat hal yang sangat luar biasa. Abi berjanji akan memberikan kebahagiaan yang luar biasa pada wanita itu, Abi akan menghubungin rumah sakit, untuk mempercepat semua program kehamilan yang sedang mereka jalani. Setelah mengirimkan pesan pada Sisil, mengucapkan terima kasih, disertai untaian kalimat penuh cinta dan kasih sayang. Abi meletakan kembali ponsel miliknya diatas nakas, lalu ia memejamkan mata untuk menjemput mimpi bersama istrinya. Hari sudah menjelang pagi, Abi harus bangun lebih awal, karena harus menjemput Sisil dan kedua anaknya nanti. Jadi, ia tak mau membuang waktu, karena tubuhnya pun membutuhkan istirahat. *** Saat Abi terbangun dari tidurnya, Melya sudah tak ada disampingnya. Terkejut akan hal itu, dengan cepat Abi menuruni tempat tidur. Namun, pria itu tersadar jika saat ini masih pukul lima pagi, dirinya tidak terlambat bangun, mungkin memang Melya yang sudah bangun lebih awal. Pria itu keluar dari kamar untuk mencari keberadaan istrinya, seketika Abi terkejut dengan aroma masakan yang menusuk hidungnya. Baik Melya ataupun Sisil memang sangat suka memasak, apapun yang kedua wanita itu hidangkan, Abi akan sangat menyukainya dan menghabiskan makanan tersebut. Abi segera menuju dapur, untuk melihat apa yang sedang dimasak oleh Melya. Karena, dari aromanya saja sudah sangat menggugah selera. Senyum terbit menghiasi wajah tampan Abi, saat melihat Melya sedang sibuk di dapur dan tak mengetahui kedatangannya. Pria itu semakin mendekat dan langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang, melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping Melya, lalu menopangkan dagunya diatas pundak Melya. Tak lupa juga, pria itu mencuri sebuah ciuman dipipi kanan istrinya yang sangat cantik walaupun sedang sibuk memasak. “Assalamualaikum, istri sholeha kesayangan Abi,” ucap Abi lembut tepat disamping telinga Melya. “Waalaikumsalam, suami luar biasanya Umi, udah sholat shubuh, Sayang?” tanya Melya dengan suara yang tak kalah lembut dan mesra, tetapi tetap fokus dengan kegiatan memasaknya. “Abis ini Abi sholat, Sayang. Cuma mau nanya dulu, boleh?” “Boleh dong, Abi mau tanya apa?” “Umi lagi masak apa? Kenapa bangun pagi-pagi sendirian, gak bangunin Abi? Terus kenapa malah masak, katanya mau sarapan nasi kuning yang ada didekat butik,” “Umi lagi masak nasi kuning, Sayang. Tadi Umi kebangun, tapi liat Abi tidurnya nyenyak banget. Abi pasti cape kan, makanya Umi gak mau ngebangunin. Iya sih, Umi mau sarapan nasi kuning yang ada didekat butik, tapi gak tau kenapa, tiba-tiba juga Umi mau masak nasi kuning sendiri,” ucap Melya bingung diakhir kalimatnya. “Jadi, nanti mau tetap beli nasi kuning?” tanya Abi, lalu kembali mencium pipi sang istri mesra. “Jadi lah, Umi mau banget nasi kuning yang ada disana.” “Ya sudah, Abi sholat shubuh dulu ya. Terus Abi ke rumah Sisil, jemput Sisil sama anak-anak. Sekalian beli nasi kuning buat Umi.” “Tapi, ini nasi kuning yang Umi masak gimana, Bi?” “Nanti Abi sama Sisil dan anak-anak yang makan.” Jawab Abi mantap, membuat Melya tersenyum senang. “Makasih ya, Bi. Maaf, Umi selalu ngerepotin,” “Gak pernah, Sayang. Umi gak pernah ngerepotin Abi, yang terpenting itu, Umi dan calon anak kita selalu sehat, apapun akan Abi kabulkan semua keinginan Umi, selama Abi mampu. Udah ah, Umi udah nangis terus, hari ini gak boleh sedih-sedih lagi. Abi ke kamar lagi ya, mau mandi terus sholat.” “Iya, Bi.” “Umi udah sholat kan?” “Udah, Sayang.” “Oke, nanti Abi langsung berangkat ke rumah Sisil ya. Umi jangan cape-cape masaknya, kalau udah ngerasa cape langsung istirahat.” “Iya, Sayang. Udah sana ah, nanti kesiangan.” Abi bergegas kembali menuju kamarnya, untuk melakukan segala kegiatan yang sebelumnya sudah ia jelaskan pada Melya. Sedangkan Melya kembali sibuk dengan kegiatan memasaknya, wanita itu sangat senang melakukan kegiatan tersebut, karena ia akan menyiapkan sarapan untuk orang-orang tercinta. Sesuai dengan yang ia katakan pada Melya, selesai dengan segala kegiatannya pagi ini. Abi segera meninggalkan rumah untuk menjemput Sisil dan kedua anaknya. Pria itu selalu melakukan apapun yang dapat membuat istrinya bahagia, Abi terlihat semangat untuk menjemput Sisil. Karena, ia tadi membaca pesan dari Sisil yang membalas pesannya dengan kalimat yang tak kalah romantis. Pria itu ingin sekali segera tiba di rumah istri keduanya, karena sudah tak sabar untuk memeluk istri tercintanya, wanita yang sangat luar biasa dengan hati mulia dan bijaksana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD