Jalanan pagi ini terasa sangat lenggang, Abi bisa menempuh perjalanan lebih cepat dari biasanya. Pria itu menikmati udara sejuk melalui celah jendela mobil yang sedikit terbuka. Rasa syukur ia ucapkan dalam hati, karena bisa Tuhan sangat berbaik hati padanya. Kehidupan yang tak pernah sedikitpun terbersit dalam bayangannya, memiliki dua istri yang cantik, anak-anak yang pintar dan menggemaskan, bisnis yang sampai detik ini selalu berjalan dengan lancar. Semuanya bisa ia dapatkan diusianya yang terbilang masih sangat muda.
Memiliki Melya dan Sisil dalam hidupnya, membuat Abi merasa menjadi lelaki paling beruntung di dunia. Karena, yang ia ketahui melalui kacamata penglihatannya, memiliki dua istri akan sedikit sulit membagi waktu dengan adil. Tetapi, tidak dengan dirinya saat ini. Kedua istrinya selalu saling memahami satu sama lain, bahkan mereka bisa bersahabat dengan baik, walaupun harus berbagi cinta dan kasih sayang dari suami yang sama.
Abi segera memarkirkan mobilnya, saat ia sudah tiba dirumah Sisil. Pria itu turun dari mobil dan melangkahkan kakinya dengan sedikit berlari, karena sudah tidak sabar ingin bertemu istrinya yang cantik jelita. Selain itu, memang ia harus lebih cepat kembali ke rumah Melya, mengingat ia juga harus membeli nasi kuning pesanan istri pertamanya.
“Assalamualaikum...” ucap Abi saat sudah berdiri tepat didepan pintu, pria itu juga mengetuk pintu rumah tersebut.
“Waalaikumsalam, masuk aja, Bi. Pintunya gak dikunci,” terdengar jawaban dari dalam rumah, tentu saja suara Sisil.
Merasa sedikit bingung, karena tak seperti biasanya Sisil seperti ini. Tetapi Abi segera masuk kedalam rumah, pria itu berpikir, mungkin saja Sisil sedang sibuk mengurus Azzam dan Neina.
Benar saja dugaan Abi, Sisil sedang sibuk bersama kedua anaknya. Sepertinya wanita itu baru selesai memakaikan baju setelah mandi. Pria itu mendekati Sisil dan Neina, sedangkan Azzam sedang duduk disofa dengan segelas s**u yang ada di genggamannya.
“Cape ya?” tanya Abi lembut, seraya mengusap puncak kepala Sisil. Wanita itu masih berjongkok, agar sejajar dengan Neina yang sedang ia ikatkan rambutnya.
“Enggak dong, Sayang. Mamih seneng bisa sibuk sama anak-anak,” jawab Sisil lembut, lalu wanita itu berdiri karena sudah selesai dengan kegiatannya.
Tanpa banyak kata, Abi langsung memeluk tubuh Sisil. Memeluka erat dan menyalurkan seluruh perasaan yang ia miliki untuk wanita itu. Sisil sempat merasa bingung, namun selanjutnya ia membalas pelukan sang suami, saat Abi mulai mengatakan beberapa kalimat penuh cinta.
“Mamih belum mandi tau, bau asem nih. Abi peluk-peluk aja,” bisik Sisil masih dalam pelukan suaminya.
“Wanita cantik kesayangan Abi gak pernah bau,” jawab Abi mantap.
“Hmm... Ya udah ah, Mamih mau mandi. Nanti lagi peluk-peluknya, titip Abang Azzam sama Kakak Na ya, Mamih udah buatin s**u buat mereka. Abi tolong temenin, biar mereka abisin susunya,”
“Gak bisa nanti aja ya mandinya, Abi masih mau peluk Mamih,”
“Kita kan harus ke rumah Mba Mel lagi, katanya mau sarapan sama-sama disana,”
“Ya ampun, hampir aja Abi lupa. Ya udah, Mamih mandi ya, biar Abi temenin anak-anak.” Ujar Abi lalu melepaskan pelukan tangannya.
Sisil bergegas masuk kedalam kamarnya, karena ia akan membersihkan tubuhnya. Sedangkan suaminya menemani Azzam dan Neina menghabiskan s**u, yang sudah Sisil siapkan untuk kedua anak itu. Abi sangat bahagia, melihat kedekatan Sisil bersama kedua anaknya dengan Melya. Pria itu berharap, semoga suatu hari nanti, Melya bisa melakukan hal yang sama. Dekat dengan anak dirinya bersama Sisil.
Selesai dengan kegiatannya membersihkan diri, Sisil segera keluar dari kamar. Karena ia tak mau membuang waktu lebih lama, takut hari semakin beranjak siang. Wanita itu nampak cantik dengan pakaian yang selalu menutup seluruh tubuhnya, menggunakan jilbab dengan warna senada, menambah kesempurnaan kecantikan yang Sisil pancarkan.
“Udah siap, Mih?” tanya Abi, saat melihat Sisil sudah berjalan mendekat kearah dirinya duduk bersama Azzam dan Neina.
“Udah, Bi. Yuk berangkat, anak-anak minum susunya udah abis?”
“Udah, Sayang. Abang Azzam sama Kakak Na pinter banget, minum susunya.” Abi memberikan pujian untuk kedua anaknya.
“Anak-anaknya Mamih kan emang hebat.” Sisil ikut memberikan pujian, membuat Azzam dan Neina melompat kegirangan.
Abi berdiri dari tempat duduknya, lalu menggandeng tangan Azzam untuk keluar dari rumah itu. Neina sudah berada dalam gendongan Sisil, dan menyusul langkah Abi untuk ikut keluar dari rumah. Mereka akan pergi ke rumah Melya pagi ini, tetapi sebelumnya akan membelikan makanan yang Melya inginkan. Abi sudah memberitahu Sisil dimana mereka bisa membeli makanan yang Melya inginkan, namun cukup membeli untuk Melya saja. Sebab istri pertamanya sudah memasak menu makanan yang sama, untuk mereka semua sarapan pagi ini.
“Jadi, Mba Mel mau makan nasi kuning yang ada di dekat butik, tapi Mba Mel masak nasi kuning buat kita semua?” ujar Sisil mengulang apa yang Abi jelaskan.
“Iya, Sayang. Gak apa-apa kan, pagi ini kita sarapan nasi kuning di rumah Melya?” tanya Abi, yang sudah siap dengan kemudi dihadapannya, namun ia sedang menunggu sang istri memasang sabuk pengaman dengan benar. Setelah melihat Sisil duduk dengan nyaman, kedua anaknya juga sudah duduk dengan benar dikursi penumpang, Abi mulai melajukan kendaraannya.
“Ya gak apa-apa lah, Bi. Harusnya Mba Mel gak usah masak nasi kuning segala, kan kita bisa beli makanan yang sama.”
“Iya, Sayang. Tapi, Melya memang mau masak pagi ini,”
“Mamih ngerti kok, Bi. Cuma kan takutnya Mba Mel kecapean aja, aku tuh tau banget Mba Mel, kalau lagi mau masak sesuatu gak mau ada yang bantu.”
“Abi juga sempat khawatir, makanya tadi sebelum berangkat buat jemput. Abi bilang ke Melya, kalau ngerasa lelah harus langsung istirahat.”
“Iya, Bi. Mba Mel kan masih hamil muda, usia kandungannya masih rawan. Jadi, agak takut aja kalau kelelahan, tapi Mamih yakin kok, Mba Mel dan anak yang ada dalam kandungannya pasti kuat.”
“Program yang kita jalanin semoga bisa lebih cepat ya, Sayang. Abi berharap kamu bisa menyusul kehamilan Melya, sesuai keinginan kamu.”
“Aamiin, makasih ya, Bi.”
“Sama-sama, Sayang.”
Abi fokus dengan laju kendaraannya, tetapi Sisil sesekali sibuk dengan kedua anak yang ada dibelakang. Karena tak hanya Azzam, Neina juga mulai banyak bertanya tentang banyak hal yang mereka lihat selama perjalanan. Dengan sabar dan penuh kelembutan, Sisil menjawab setiap pertanyaang yang anak-anak itu ajukan. Melihat hal tersebut, senyum menghiasi wajah tampan Abimanyu, dan rasa syukur pria itu ucapkan dalam hati.