CHAPTER 12

2335 Words
Menikmati sarapan pagi bersama dengan penuh kehangatan, Abi bersama kedua istrinya berbincang ringan disela kesibukan mereka, menghabiskan makanan yang sudah di hidangkan. Melya terlihat sangat bahagia, bisa memakan makanan yang sangat ia inginkan. Tak hanya Melya, Sisil juga nampak bahagia karena ikut merasakan kebahagiaan yang Melya pancarkan. Siapapun yang melihat kebersamaan mereka semua, memang hanya akan nampak sebuah kebahagiaan. Dan hal itulah yang selalu Abi harapkan, kebahagiaan dalam rumah tangganya. Azzam dan Neina lanjut bermain di ruang khusus yang memang Melya sediakan, untuk mereka menghabiskan waktu dihari libur seperti ini. Abi memilih masuk kamar untuk beristirahat, karena pria itu memang kurang tidur tadi malam. Sehingga saat ini, ia merasakan kantuk yang luar biasa. Melya mengajak Sisil untuk berjalan pagi menuju taman dekat rumahnya, karena biasanya akan banyak pedagang disana. Mulai dari penjual sayuran segar hingga camilan akan banyak di jajakan di taman tersebut. Sisil yang belum pernah ke tempat tersebut, dengan antusias ingin segera melihatnya. Karena ia ingin membeli kue jajanan pasar, yang biasa ia beli untuk sarapan dirumahnya. “Sil...” panggil Melya pada wanita yang sedang berjalan disisi kanannya. “Iya, Mba. Kenapa?” tanya Sisil, lalu wanita itu mengaitkan tangannya di pergelangan tangan Melya. Jika dalam posisi seperti ini, keduanya memang akan nampak seperti kakak beradik. Sisil yang cenderung bermanja pada Melya yang jauh lebih dewasa darinya. “Maafin aku ya, Sil.” “Kenapa minta maaf sih, Mba. Mba Mel gak punya salah apa-apa loh sama aku,” “Aku egois banget, padahal kamu udah baik sama aku, Sil. Kamu ajak anak-anak buat main dan lihat pertunjukan, terus kamu ajak nginep di rumah kamu juga. Tapi, aku malah dengan jahatnya, pengen Mas Abi tidur sama aku tadi malam. Padahal, harusnya aku sadar gak harus berbuat seperti itu. Mas Abi kan waktunya sama kamu, itu aja kalian gak bisa habisin waktu berdua, karna ada Abang Azzam sama Kakak Na,” lirih Melya, wanita itu sungguh merasa tak enak hati, dengan apa yang baru saja terjadi tadi malam. Walaupun sebetulnya, memang bukan keinginan dari hatinya untuk selalu bersama sang suami. Namun, entah mengapa matanya sulit terpejam jika tak mencium aroma tubuh suaminya. “Mba Mel, dengerin aku ya. Aku gak pernah merasa Mba tuh egois apalagi jahat, yang Mba alami itu murni karna masa kehamilan Mba. Aku gak pernah keberatan sedikitpun akan hal itu, aku harus bisa mengerti segala situasi. Termasuk dengan apa yang terjadi tadi malam, karna aku sadar Mba bukan orang yang seperti itu kalau tidak dalam kondisi mengandung,” “Ta—“ “Gak ada tapi-tapian, Mba. Aku ajak Abang Azzam sama Kakak Na, ya karna aku sayang sama mereka. Aku gak pernah merasa, waktuku buat berduaan sama Mas Abi jadi terganggu. Aku malah bahagia, karena kebersamaan kita jadi ramai karena kehadiran anak-anak. Mba, tolong jangan pernah memiliki pemikiran seperti itu lagi. Kita sebagai istrinya Mas Abi, harus bisa saling memahami dan keadaan yang sedang terjadi. Dan aku sedang berusaha menjadi istri yang baik, dengan meringankan beban pikiran Mas Abi.” Sisil melanjutkan kalimat panjangnya, memotong ucapan Melya yang sepertinya akan memberikan bantahan, pada apa yang tadi Sisil ucapkan. “Sil, makasih ya. Kamu udah jauh lebih dewasa dari aku, bahkan aku terkadang masih sering mengeluh dengan keadaan kita.” “Gak cuma Mba Mel, akupun terkadang mengeluh disaat aku merasa semua tidak baik-baik saja. Kita hanya manusia biasa, Mba. Tak akan ada manusia yang sempurna dan tak pernah mengeluh dalam hidupnya, bahkan secukup apapun kehidupan seseorang dalam segala aspek, pasti akan ada saatnya dimana orang itu akan mengeluh. Yang terpenting, kita selalu berusaha menjadi manusia yang lebih baik lagi setiap harinya.” “Ingatkan aku, jika suatu hari nanti aku berbuat kesalahan yang membuatmu marah.” “Kita harus selalu saling mengingatkan, Mba.” Perbincangan keduanya terhenti, karena saat ini Melya dan Sisil sudah tiba ditempat yang mereka tuju. Melya langsung menuju ke tempat pedagang sayuran segar, karena memang persediaan di rumah sudah mulai menipis. Dibandingkan berbelanja di pasar swalayan, Melya memang lebih senang berbelanja sayur di pedagang kaki lima seperti ini. Entah mengapa, bahkan sebelum menikah dengan Abi ia selalu menyukai kegiatan berbelanja di pasar tradisional. Namun, untuk menuju pasar tradisional memerlukan waktu yang cukup lama, Melya memutuskan untuk ke tempat terdekat dari rumah. Salah satunya di taman ini, karena para pedagang hanya akan ada di hari minggu, Melya tak akan membuang kesempatan untuk bisa berbelanja ditempat itu. Berbeda dengan Melya yang sibuk memilih berbagai jenis sayuran segar, Sisil lebih sibuk dengan aneka ragam jajanan pasar. Mulai dari kue basah, sampai kue kering wanita itu beli dengan jenis dan jumlah yang cukup banyak. Ia sendiri sampai bingung bagaimana nanti akan menghabiskan semua makanan yang sudah dibeli, namun wanita itu memang tak bisa menentukan pilihan, karena semuanya terlihat sangat enak dan menggoda penglihatannya. Tak hanya membeli berbagai jenis sayuran, melihat ada penjual ayam dan ikan segar, akhirnya Melya juga membeli beberapa untuk persediaan di rumah. Selesai dengan kegiatan berbelanja, mereka menyadari jika keduanya akan merasa kesulitan untuk membawa semua barang belanjaannya. Sisil memutuskan untuk menghubungi Abi, karena Melya tak membawa ponsel. Berharap suaminya itu tak tertidur pulas, dan bisa menjemput mereka di taman. “Gimana, Sil?” tanya Melya, saat melihat Sisil sudah selesai dengan kegiatannya. “Mas Abi mau kesini jemput kita, tapi lagi mau sholat dulu katanya, Mba. Jadi kita disuruh tunggu, tanggung soalnya udah wudhu,” ujar Sisil menjelaskan. “Ya udah gak apa-apa,” “Kita tunggu dimana ya, Mba? Biar nanti Mas Abi gampang kita kasih patokannya,” “Aku laper sih, Sil. Pengen makan ketupat sayur padang yang ada di sebrang sana, mau temenin aku makan gak?” tanya Melya sedikit ragu. Wanita itu sangat memahami, jika Sisil sangat menjaga pola makan karena berat badan wanita itu harus selalu ideal demi tuntutan pekerjaan. “Boleh, Mba. Tapi aku cuma temenin aja ya, tadi makan nasi kuning buatan Mba Mel banyak banget, enak sih masakannya, aku sampai kekenyangan.” “Aku tau banget lah, ini baru jam sepuluh, gak mungkin kamu mau makan lagi. Apalagi kamu udah beli banyak kue sama camilan kan,” “Nah itu dia, Mba. Sayang kan kalau kue yang udah aku beli, nanti malah gak dimakan.” “Iya, aku aja nih bawaannya laper terus. Sebentar lagi bengkak deh nih badan,” “Gak apa-apa, Mba. Yang penting Mba Mel sama dede bayi yang ada didalam perutnya sehat terus. Ya udah yuk, kita kesana, nanti aku kabarin Mas Abi supaya jemput kita disana.” “Tapi, ini belanjaannya gimana, Sil?” tanya Melya yang bingung dengan banyaknya belanjaan mereka. Sedangkan pedagang yang ia maksud, cukup jauh dari tempatnya berdiri saat ini. “Mba Mel kuat jalan gak kesana?” tunjuk Sisil pada pedagang ketupat sayur padang yang Melya inginkan. “Kuat dong, Sil. Tapi kalau sekalian bawa belanjaan, aku gak bisa kayaknya,” “Gak apa-apa, Mba. Kita berdua jalan kesana, aku mau panggil abang becak dulu, supaya bawain belanjaan kita.” “Oh iya, bener juga ya. Ya udah Sil, aku tungguin belanjaan disini, kamu panggil abang becaknya ya,” “Iya, Mba. Mba Mel tunggu disini sebentar ya.” “Iya, Sil.” Sisil berlalu pergi untuk memanggil salah satu pengendara alat transportasi tradisional itu, karena belanjaan Melya yang memang banyak. Maka satu becak akan penuh untuk menampungnya, jadi ia dan Melya nantinya akan berjalan kaki saja. Bukan tidak mau memanggil dua becak untuk mereka tumpangi juga, tetapi memang jarak tempat yang mereka tuju tidak terlalu jauh. Masih bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Lagi pula, keadaan taman masih sangat ramai, menaiki becak hanya akan membuat semakin lama sampai ditujuan. Tak berselang lama, Sisil sudah kembali dengan abang becak yang membuntutinya. Lalu ia meminta abang becak tersebut, untuk menaikan semua belanjaannya keatas becak, dan memberitahu kemana pria paruh baya itu harus mengantarkan belanjaan miliknya. Setelah itu, ia dan Melya berjalan menuju tempat makan yang Melya inginkan. Sebelumnya, Sisil juga sudah mengirimkan pesan pada Abi, kemana pria itu harus menjemput mereka. “Sisil beneran gak mau pesan juga?” tanya Melya pada wanita yang duduk dihadapannya, Sisil sedang asik menikmati salah satu jenis kue basah yang sebelumnya ia beli. “Enggak, Mba. Aku mau makan kue-kue ini aja,” jawab Sisil lalu menunjukan banyaknya macam kue yang sudah ia beli. “Banyak juga kue yang kamu beli, Sil,” “Iya, makanya itu aku gak ikutan makan ketupat sayur padangnya, Mba. Mba Mel mau gak? Ini masih banyak banget loh,” “Nanti aja, Sil. Kalau aku mau, aku minta sama kamu. Sekarang aku gak sabar, mau makan ketupat sayur padang pakai keripik singkong balado.” “Ya udah, makan yang banyak ya, Mba. Biar sehat terus, besok-besok kalau mau makanan apa aja, Mba Mel jangan sungkan bilang sama aku. Kalau aku bisa, pasti aku bantu cariin,” “Makasih banyak ya, Sil.” “Sama-sama, Mba.” “Aku memang lagi menikmati masa kehamilan sekarang, soalnya gak ngalamin mual muntah. Jadi, selama masih bisa makan enak, aku udah gak mau mikirin timbangan sama berat badan,” “Ya iyalah, Mba. Buat apa juga mikirin timbangan sama berat badan, yang terpenting sekarang itu ya kesehatan Mba Mel sama anak yang ada didalam kandungan Mba, masalah berat badan biar jadi urusan nanti aja.” “Silahkan, Mba.” Ucap penjual makanan yang tadi Melya pesan, menghidangkan satu piring ketupat sayur padang, lengkap dengan keripik singkong balado, sesuai dengan yang Melya inginkan. “Terima kasih, Uda.” Jawab Melya ramah. Melya segera menikmati makanan tersebut, tak lupa wanita itu menambahkan sedikit sambal kedalam piringnya. Senyum terbit menghiasi wajah cantik Sisil, saat melihat Melya makan dengan lahap. Sedangkan dirinya masih menikmati beberapa kue yang sudah dibeli. Tak banyak lagi perbincangan antara keduanya, karena sibuk dengan makanan mereka masing-masing. Selain itu, suami mereka juga selalu membiasakan tak perlu banyak berbincang saat makan. Apalagi ditempat umum seperti ini, karena tempat mereka duduk untuk menikmati makanan, harus bergantian dengan pengunjung lain. “Umi... Mamih...” suara Azzam menginterupsi kedua wanita yang sedang asik makan itu. Melya dan Sisil menoleh bersamaan ke asal suara, Azzam bersama Abi dan Neina berdiri tak jauh dari mereka, Azzam langsung menghampiri ke tempat dimana Melya dan Sisil duduk, sedangkan Abi entah sedang berbicara apa dengan penjual ketupat sayur padang itu. Neina tentu saja berada dalam gendongan sang ayah, karena tempat yang lumayan ramai, Abi tak akan membiarkan putri cantiknya itu berjalan sendirian. “Abang mau kue gak?” Sisil menawari putranya yang saat ini duduk disamping Melya, tepat dihadapannya. “Kue apa, Mih?” tanya Azzam lalu memperhatikan beberapa bungkus makanan yang ada dihadapan Sisil. “Ini ada bolu kukus, kue cubit, dadar gulung, kue lumpur, onde-onde, kue pancong, sama serabi. Abang mau yang mana?” ujar Sisil seraya menunjukan satu per satu kue yang sudah ia beli, dan menawarkan pada putra kesayangannya. “Abang mau kue cubit, Mih.” Jawab Azzam antusias menyebutkan salah satu jenis kue, yang sebelumnya Sisil sebutkan. “Ya udah, Abang sini duduknya pindah sebelah Mamih. Nanti biar Abi sama Dedek Na yang duduk sebelah Umi,” ucap Sisil dan Azzam langsung menuruti ucapan mamihnya itu. Anak itu berpindah tempat duduk, sesuai dengan interupsi Sisil. “Assalamualaikum...” ucap Abi setelah berdiri disamping Sisil. “Waalaikumsalam...” jawab Melya dan Sisil bersamaan, lalu kedua wanita itu mencium punggung tangan Abi bergantian, dan seperti biasa dibalas dengan kecupan singkat dikening mereka. Tentu saja adegan itu mencuri perhatian para pengunjung tempat makan tersebut, banyak pasang mata yang heran melihat kejadian itu. Dan tak sedikit pula yang berbisik membicarakan mereka. Namun, Abi dan kedua istrinya memang tipe manusia yang tak mau mempedulikan ucapan orang lain. Selama mereka tak pernah merugikan siapapun, mereka akan menjalani kehidupan rumah tangganya dengan sebaik mungkin. “Dedek Na sini sama Mamih, mam kue bareng Abang Azzam,” sambung Sisil meminta Abi memindahkan Neina keatas pangkuannya. Melya bergeser dari tempat duduknya, agar sang suami lebih mudah untuk duduk disamping dirinya. Wanita itu memang tak banyak berkata, karena sedang menikmati makanan yang sangat ia inginkan. Sisil lebih banyak bertanya pada Abi, ingin memesan makanan atau tidak. Tetapi, suaminya itu sudah lebih dulu memesan, sebelum menghampiri kedua istrinya. Akhirnya, Sisil memilih untuk menyuapi Neina kue yang masih tersisa. Karena Azzam dan Neina tak mungkin makan ketupat sayur padang, yang memiliki cita rasa sedikit pedas. Saat makanan yang Abi pesan datang, Melya sudah lebih dulu menghabiskan makanannya. Namun, wanita itu tetap menerima suapan dari suaminya, entah mengapa nafsu makannya saat ini semakin meningkat. Tetapi, Abi tak pernah mempermasalahkan hal itu. Lagi pula memang dirinya yang menawarkan untuk menyuapi istri pertamanya. Akhirnya satu porsi ketupat sayur padang yang Abi pesan, ia habiskan berdua dengan Melya. Selesai makan, Abi meminta untuk kedua istri dan anak-anaknya lebih dulu masuk kedalam mobil. Sedangkan ia akan membayar makanan dan minuman yang sudah dipesan, walaupun tidak ikut makan bersama. Sisil dan kedua anaknya menikmati es kelapa yang juga dijual oleh pedagang makanan tersebut. Setelah membayar, Abi kembali sibuk memasukan seluruh belanjaan istrinya kedalam bagasi mobil, merasa semuanya sudah selesai dan tak ada yang tertinggal, pria itu baru masuk kedalam mobil dan duduk dibalik kemudi. Melya yang ingin bersama dengan kedua anaknya memilih duduk di kursi belakang, dan Sisil duduk disamping sang suami. Sebelum meninggalkan tempat tersebut, Abi memilih untuk bertanya pada Melya dan Sisil, apakah masih ada yang ingin mereka beli atau tidak. Saat keduanya mengatakan tidak, Abi baru mulai melajukan kendaraannya untuk kembali pulang ke rumah. Hanya butuh waktu lima menit untuk sampai di rumah, namun karena masih banyaknya orang-orang dan kendaraan yang berlalu lalang disekitar tempat tersebut, membuat mereka menghabiskan waktu cukup lama didalam mobil. Sesampainya dirumah, Melya dan anak-anak langsung masuk ke rumah. Sisil membantu suaminya untuk menurunkan belanjaan dan membawanya masuk kedalam rumah. Awalnya Melya ingin ikut membantu, tetapi tak hanya Abi, Sisil juga melarang wanita itu, karena mereka tak ingin Melya mengangkat barang-barang yang berat. Hari minggu ini, mereka semua menghabiskan waktu bersama. Hal yang sangat jarang terjadi, karena biasanya Abi memilih menghabiskan waktu bersama dengan kedua anaknya tanpa Melya dan Sisil. Tetapi, hari ini untuk pertama kalinya, ia bisa menghabiskan waktu dengan kedua istri dan anak-anaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD