CHAPTER 13

1057 Words
“Umi...” “Iya, Bi.” Sepasang suami istri yang saling mencinta, saling memeluk dalam kehangatan dibalik selimut tebal diatas tempat tidur ternyamannya. Semenjak kehamilan ketiganya saat ini, Melya memang menjadi lebih manja, dan selalu ingin menempel dengan suaminya. Abi dengan senang hati selalu menuruti setiap keinginan Melya, karena pria itu menyadari, jika perubahan yang terjadi pada istrinya karena wanita itu sedang mengandung buah cinta mereka. “Hari jum’at sampai minggu, Abi ada urusan kerjaan di Bandung. Sisil juga ada kerjaan, jadi gak bisa temenin Abi. Umi juga kan lagi hamil muda, gak mungkin Abi ajak pergi jauh-jauh,” ucap Abi seraya mengeratkan pelukannya. Sekarang Melya menjadi wanita yang jauh lebih sensitif, jadi Abi harus memikirkan setiap kalimat yang akan ia ucapkan, agar istrinya itu bisa menerima dengan baik. “Terus Abi sendirian dong?” tanya Melya lalu menengadahkan kepalanya, agar bisa menatap Abi. “Abi gak apa-apa pergi sendirian, tapi Umi gimana kalau harus jauh dari Abi?” “Umi gak apa-apa juga, anak kita pasti ngerti kalau Abinya pergi karena ada pekerjaan.” “Besok sama hari kamis, Abi di rumah Sisil ya, Mi.” “Oh ya udah iya, Bi. Kan Abi udah disini dua hari, nanti di rumah Sisil dua hari. Tapi, hari jum’at sebelum berangkat ke Bandung, Abi kesini dulu ya,” “Iya, Sayang. Abi pasti kesini, Umi mau Sisil temenin disini gak? Selama Abi di Bandung,” “Gak usah, Bi. Kan tadi Abi bilang kalau Sisil ada kerjaan, kalau disini kasian Sisil, pasti sibuk sama anak-anak.” “Apa mau tambah pekerja buat jagain anak-anak?” tanya Abi memberikan penawaran. Karena selama ini, di rumah Melya hanya ada satu perawat anak-anak, dan satu satu asisten rumah tangga yang setiap hari bekerja. “Umi belum perlu, Bi. Mungkin nanti aja, kalau anak ketiga kita udah lahir. Umi butuh tambahan pengasuh,” “Ya udah, kapanpun itu, Umi langsung bilang sama Abi ya.” “Iya, Bi.” Hari sudah larut malam, sepasang suami istri itu akhirnya terlelap dalam tidur yang nyaman. Berbagi waktu dengan wanita lain, sudah menjadi hal biasa bagi Melya. Tetapi wanita itu hanyalah Sisil, Melya sudah seringkali mengatakan pada Abi, jika ia hanya akan mengijinkan suaminya menikah dan memiliki dua orang istri. Melya tak mau, jika harus ada wanita lain lagi yang akan hadir dalam kehidupan rumah tangganya. *** Pagi ini, Abi akan berangkat ke Bandung sesuai dengan jadwal yang sudah direncanakan. Sesuai dengan janjinya, Abi menemui Melya lebih dulu, tentu saja ia juga menemui kedua anaknya. Sesibuk apapun dirinya, Abi akan selalu berusaha menjadi suami dan ayah yang baik.  Setelah menemui Melya dan kedua anaknya untuk melepaskan kerinduan, karena sudah dua hari tak bertemu, selama ia di rumah Sisil. Abi pergi sendiri untuk bertemu dengan rekan kerjanya, karena ada kontrak kerja yang harus ditandatangani oleh dirinya dan Iqbal. Iqbal adalah rekan kerja Abi yang sudah lama menjalin kerjasama, biasanya Iqbal yang akan mengunjungi Abi ke Jakarta. Namun, kali ini Abi yang harus bertolak ke Bandung, karena Iqbal tak bisa meninggalkan istrinya yang baru saja melahirkan. Malam nanti Abi akan langsung bertemu dengan Iqbal, ia memang tak ingin menunda waktu. Jika bisa menyelesaikan pekerjaan lebih cepat, semuanya akan Abi lakukan. Agar bisa lebih cepat kembali ke rumah, dan berkumpul bersama keluarga tercinta. Ditempat lain, hari sudah siang, Melya sedang sibuk pekerjaannya di butik. Wanita itu menikmati kegiatannya hari ini, karena tadi sang suami sudah menemui dirinya sebelum berangkat ke Bandung. Abi juga berjanji akan membawakan makanan kesukaan dirinya, beberapa camilan yang menjadi ciri khas kota Bandung. “Mba Mel, ada yang cariin didepan,” ujar Adira, salah satu pegawai yang bekerja di butik  milik Melya. “Siapa, Ra?” tanya Melya sedikit bingung, karena hari ini ia merasa tak memiliki janji dengan siapapun. “Mba Sisil, sama anak-anak, Mba.” “Oh ya udah, suruh masuk kesini aja deh, aku masih ada sedikit lagi kerjaan.” “Oke, Mba.” Adira keluar dari ruangan Melya, gadis itu akan mempersilahkan Sisil bersama anak-anak Melya masuk. Sedangkan Melya segera menyelesaikan pekerjaannya, agar ia bisa menemani Sisil, Azzam dan Neina. Walaupun ia belum mengetahui, tujuan Sisil datang siang ini untuk apa. Karena yang Melya ketahui, hari ini Sisil ada pekerjaan hingga sore hari. “Assalamualaikum...” ucap Sisil bersamaan dengan Azzam dan Neina. Lalu ketiganya masuk kedalam ruangan khusus untuk Melya, menyelesaikan segala jenis pekerjaannya. “Waalaikumsalam Mamih, Abang Azzam, Kakak Na,” jawab Melya ramah, lalu meninggalkan pekerjaannya. Wanita itu berdiri dari tempat duduknya, dan menghampiri ketiga orang yang saat ini sudah duduk disofa. “Lagi sibuk, Mba? Kita ganggu gak?” ujar Sisil, wanita itu takut mengganggu waktu bekerja Melya. Karena, ia datang bersama anak-anak tanpa memberi kabar lebih dulu. “Enggak kok, cuma tinggal sedikit lagi selesai. Tapi bisa dilanjut besok, orang yang pesan juga gak terburu-buru. Ada apa, Sil? Tumben dateng kesini gak kasih kabar dulu, ajak anak-anak juga lagi,” “Pengen ngajak Mba Mel ngemall sih sama anak-anak juga, mau gak? Kita jalan-jalan yuk,” “Wahh... Senangnya diajak jalan-jalan, tapi kita makan siang dulu ya, kamu belum makan kan?” ucap Melya antusias. “Iya belum, Mba. Anak-anak juga belum, tadi aku tanya Abang Azzam, katanya mau makan bakmie ayam. Mba Mel gimana?” “Abang Azzam mau mam bakmie ayam?” tanya Melya kepada putranya, sedangkan Neina sedang asik dengan boneka yang ada dipangkuannya. “Iya, Umi. Bakmie ayam yang ada jamurnya itu, yang pernah kita makan sama Abi.” Jawab  Azzam sambil mengingat menu makanan yang pernah ia makan bersama ayah bundanya. “Ohh... Ya udah, kita kesana yuk.” Ajak Melya pada putranya, lalu memberika isyarat pada Sisil agar mereka pergi menuju tempat yang dimaksud. Sisil membawa Neina dalam gendongannya, sedangkan Melya sudah berjalan lebih dulu dengan menggandeng tangan putranya. Siang ini, mereka akan pergi dengan kendaraan milik Sisil, wanita itu juga yang akan mengendarai mobilnya sendiri. Salah satu pusat perbelanjaan terkenal di ibu kota, menjadi tempat tujuan Sisil dan Melya. Kedua wanita itu akan menghabiskan waktu bersama, dengan kedua putra putri mereka. Karena suami mereka sedang ada pekerjaan diluar kota, alangkah baiknya jika mereka bisa menghabiskan waktu bersama. Seperti saat ini, mengikuti keinginan Azzam, menikmati makanan yang anak lelaki itu inginkan. Kebetulan juga, Melya sedang tak memiliki keingianan untuk memakan makanan tertentu. Jadi, ia bisa mengikuti makanan yang putra sulungnya mau nikmati siang ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD