CHAPTER 15

2456 Words
Iqbal dan Priska baru saja tiba di rumah mereka, gadis cantik itu bergegas turun dan berlari untuk segera masuk kedalam kamar pribadinya. Bahkan ia tak menyapa Zizah, kakak iparnya yang sedang duduk diruang tamu. Namun, Zizah tak memiliki pemikiran buruk terhadap adik iparnya itu, yang ada dalam pemikiran Zizah, kemungkinan Priska terburu-buru karena ingin segera ke toilet. Saat masuk kedalam kamarnya, Priska segera mengeluarkan ponsel miliknya beserta kertas yang ia terima dari Abi. Gadis itu sudah tidak sabar ingin mengirimkan pesan, pada pria tampan yang sejak tadi membuat hatinya menjadi tak karuan. Rasanya tak mau menunda, apalagi harus menunggu hari esok, Priska akan segera menghubungi Abi malam ini juga. Bahkan gadis itu tak peduli, saat ini hari sudah semakin larut. Setelah mengirimkan sebuah pesan pada nomor yang tertera dikertas tadi, memberitahukan jika itu nomor ponsel milik dirinya, Priska berlalu pergi meninggalkan ponsel yang sejak tadi ia genggam diatas tempat tidur. Gadis itu masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya, dan berganti pakaian untuk tidur. Gadis itu tak mengetahui, jika tak berselang lama pesan yang ia kirim diterima, ponselnya terus berdering menandakan ada panggilan masuk. Sampai akhirnya gadis itu selesai dengan kegiatannya, ia sangat terkejut melihat banyaknya panggilan tak terjawab dan beberapa pesan yang ada di ponselnya. Gadis itu membaca setiap pesan yang ia terima, mulai dari mengatakan jika itu adalah pria yang tadi ia temui, pesan menanyakan apakah dirinya sudah sampai rumah atau belum, ada juga yang pertanyaan kenapa gadis itu tak menjawab panggilannya, dan yang terakhir sebuah pesan ucapan selamat malam dan selamat istirahat. Saat Priska ingin mengetikan sebuah pesan untuk membalas banyaknya pesan yang ia terima, ponselnya kembali berdering. Nomor ponsel yang belum sempat ia simpan itu, terpampang jelas dilayar. Dengan antusias dan perasaan bahagia, gadis itu segera menerima panggilan itu. “Halo... Ini beneran Mas Abi?” tanya Priska langsung, tanpa basa basi. Gadis itu begitu penasaran, apakah memang yang ia terima itu nomor ponsel Abi atau bukan. Sebetulnya ada sedikit kecemasan dalam hatinya, takut jika Abi hanya mengerjainya dengan memberikan nomor ponsel orang lain. “Assalamualaikum... Iya ini saya, Pris,” jawab Abi dari seberang panggilan sana. “Ehh... Waalaikumsalam, Mas Abi,” ujar Priska gugup, bahkan hanya dengan mendengar suaranya saja membuat jantungnya bertalu dengan kencang. “Dibiasakan ucap salah ya, Pris.” Abi memperingatkan gadis itu dengan nada yang sangat lembut. “Iya, Mas Abi. Maaf ya,” lirih Priska penuh penyesalan dan rasa malu, karena diawal saja, kemungkinan Abi akan menilainya gadis yang buruk. “Gak apa-apa, gak perlu minta maaf. Mungkin memang kamu gak terbiasa, tapi kalau sama saya, kamu usahakan untuk terbiasa ya, mengucapkan salam diawal pembukaan saat ingin berbicara di telpon, atau mungkin saat kita bertemu.” Deg... Jantung Priska semakin tak menentu, hatinya kembali berbunga-bunga mendengar penuturan Abi. Pria itu memintanya untuk membiasakan diri, apakah Abi akan selalu menghubunginya? Tanya Priska dalam hatinya sendiri, bahkan Abi mengatakan jika mereka bertemua. Apakah Abi akan mengajaknya untuk kembali menjalani sebuah pertemuan? Semakin banyak pertanyaan yang berputar dalam pikiran gadis itu. “Pris... Priska... Kamu masih disana apa ketiduran?” suara Abi yang terus memanggil namanya, menyadarkan Sisil dari lamunannya. “Ehh... Iya, Mas Abi. Aku belum tidur kok, jadi ini beneran nomor Mas Abi ya?” gugup Priska, entah mengapa ia bertanya seperti itu. Padahal dirinya sendiri sudah dengan sangat jelan mendengar suara Abi, Pria yang tadi bertemu dengan dirinya. “Iya, Priska. Ini saya, Abimanyu. Kan saya yang tadi kasih nomor ini ke kamu,” jawab Abi santai, pria itu baru saja merebahkan dirinya diatas kasur. “Maaf Mas Abi, tadi Priska sempat takut kalau Abi isengin Priska, kasih nomor orang lain. Makanya Priska meyakinkan lagi, ini beneran Mas Abi atau bukan?” “Udah denger suara saya, masih kurang yakin? Kita ganti video call ya,” ucap Abi mengusulkan pendapatnya, agar dirinya bisa membuat Priska yakin, jika itu memang Abimanyu Wibisana, bukan pria lain. “Oke, Mas.” Priska menyetujui usulan Abi untuk melakukan panggilan video, beberapa detik kemudian panggilan telepon mereka sudah berubah menjadi panggilan video, keduanya saling melempar senyum saat tatapan mereka saling bertemu. Abi sedikit terkejut saat melihat pemandangan didepan matanya, dimana Priska tak memakai penutup kepalanya. Rambut panjangnya berwarna hitam legam terurai dengan indah, rambut yang sedikit basah menandakan gadis itu baru saja selesai membersihkan tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Udah percaya kalau ini saya?” tanya Abi. “Iya, Mas Abi. Maaf ya, Priska sempat berburuk sangka sama Mas Abi,” ujar Priska penuh penyesalan. “Gak apa, Pris. Saya ngerti, kamu pasti punya perasaan ragu dan takut. Saya sadar diri, karena perbedaan usia kita yang terpaut jauh, pasti buat kamu gak yakin kalau saya mau kita bisa berteman.” “Hmm... Gak gitu, Mas Abi. Priska mau kok kalau kita bisa berteman, tapi Priska takut istrinya Mas Abi marah.” “Jangan bahas istri-istri saya ya, kan yang mau berteman kita berdua. Nanti, ada saatnya kamu kenal mereka. Kalau sudah saatnya,” ujar Abi membuat Priska mengerutkan keningnya, mendengar penuturan pria yang sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit Priska mengerti. “Istri-istri? Mereka? Maksudnya gimana ya Mas Abi? Maaf, Priska gak ngerti,” tanya Priska mengulang setiap kata yang membuatnya tak mengerti apa yang Abi maksud. “Memangnya Iqbal gak pernah cerita?” “Gak pernah sih, mungkin menurut A’Iqbal gak penting ceritain kehidupan Mas Abi ke Priska,” “Iya juga sih ya, tapi sekarang masih gak penting? Kalau gak penting, ya saya gak cerita.” “Kalau sekarang penting lah, masa Priska gak boleh tau kehidupan rumah tangga Mas Abi seperti apa, katanya kita mau berteman,” Abi mulai menjelaskan bagaimana kehidupan rumah tangganya pada Priska, tak ada yang pria itu kurangi sedikitpun. Abi mengatakan segalanya, bagaimana ia memiliki dua istri, dua anak dan akan hadir calon anak ketiga dari istri pertamanya. Bahkan ia menceritakan, bagaimana dirinya bersama istri keduanya sedang menjalankan program hamil. Pembagian waktu untuk kedua istrinya, kesibukan dirinya bersama para wanita yang sudah ada dalam hidupnya beberapa tahun ini. Segalanya ia jelaskan pada Priska, dan gadis itu hanya mendengarkan setiap kalimat yang Abi jelaskan. Jujur saja hati Priska terasa sakit bagai di sayat sembilu, harapannya musnah untuk menggapai cinta dan kasih sayang dari pria yang sedang bertatapan dengannya. Sebetulnya ia sangat mengetahui, jika Abi sudah menikah. Tetapi ia tak pernah menyangka, jika pria itu memiliki dua orang istri, dan dengan raut wajah bahagia, Abi menceritakan kedua istrinya. Harapan Priska bisa merebut Abi dari istrinya seketika musnah begitu saja. Karena sejak tadi ia mendengarkan Abi melakukan panggilan video bersama wanita yang bernama Sisil, gadis itu berpikir hanya perlu menyingkirkan Sisil dari kehidupan pria itu. Kenyataan berkata lain, karena Abi memiliki dua orang wanita hebat dalam hidupnya. Wanita yang ikhlas dan rela berbagi cinta dan kasih sayang dari suaminya. Wanita-wanita yang dari segi karir saja sangat jauh dengan dirinya, jangankan berkarir seperti kedua istri Abi, kuliah saja baru gadis itu mulai. Belum lagi melihat bagaimana bahagianya Abi membanggakan kedua istrinya yang hebat itu, membuat Priska semakin terluka, harapan yang sejak beberapa jam lalu sudah melambung tinggi, seketika harus terhempas ke dasar jurang. “Priska, kamu kenapa melamun? Kaget ya dengar semua cerita tentang kehidupan saya?” tanya Abi menyadarkan Priska dari lamunannya. “Hmm... Iya, maaf ya Mas Abi, Priska sedikit terkejut. Gak nyangka ada wanita yang luar biasa hebat, ikhlas berbagi cinta dan kasih sayang dari suaminya. Priska salut banget sama kedua istri Mas Abi, pasti mereka wanita-wanita baik,” ujar Priska memberi pujian untuk dua wanita yang berstatus sebagai istri dari Abimanyu Wibisana, tentu saja pujian itu tak sesuai dengan isi hati gadis itu. “Mereka berdua memang wanita yang sangat luar biasa, saya merasa beruntung bisa memiliki keduanya. Sampai kapanpun, saya gak akan pernah meninggalkan mereka,” “Walaupun ada yang lebih cantik dan lebih hebat dalam karir, dari mereka berdua?” pertanyaan konyol yang entah mengapa meluncur begitu saja, membuat Priska merasa sedikit gugup, karena takut membuat Abi merasa tersinggung. “Bagi saya, cantik dan kehebatan dalam berkarir itu tergantung pribadinya masing-masing. Kecantikan fisik itu bagi saya relatif, karena yang menurut saya cantik, belum tentu cantik dimata lelaki lain. Kalau urusan berkarir, sebetulnya saya tak pernah mempermasalahkan, hanya ibu rumah tangga pun saya tak keberatan, selama wanita itu bisa menjadi istri yang baik untuk saya, dan menjadi ibu yang baik untuk anak-anak saya.” “Jadi, alasan kedua istri Mas Abi tetap bekerja itu untuk apa?” Priska masih penasaran, akan kehidupan kedua wanita yang sudah lebih dulu mengenal Abi. “Melya, istri pertama saya sampai saat ini masih menjalankan butiknya. Saya mengijinkan, dan saya juga yang memberikan hadiah sebuah toko untuk dijadikan butik pribadi miliknya, bukan karena saya tidak mampu menafkahi dan menginginkan istri saya bekerja. Tetapi, karena sejak kami kenal enam tahun lalu, saya sangat mengetahui impian Melya untuk memiliki butik sendiri. Sampai akhirnya kami menikah, dan saya mewujudkan impiannya itu.” Abi menjelaskan dengan raut wajah bahagia, mengingat bagaimana bahagianya Melya saat menerima hadiah sebuah toko, lengkap dengans segala perlengkapannya, agar wanita itu bisa membuka butik sendiri. “Kalau istri kedua Mas Abi? Kenapa tetap memilih untuk menjalankan karirnya sebagai model,” tanya Priska lagi. “Sisil membantu Melya untuk menjadi model pakaian muslim di butiknya, selebihnya ia hanya mengambil pekerjaan untuk menjadi model majalah pakaian muslimah. Tidak lebih dari itu, karena saya tidak mau kalau Sisil terlalu kelelahan dalam bekerja. Apalagi, sekarang kita sedang fokus untuk menjalankan program kehamilan. Lagi pula, kasihan juga kalau harus terus menerus di rumah, pasti akan terasa jenuh. Jadi, saya mengijinkan Sisil untuk melakukan kegiatan yang bisa membuatnya bahagia, selama itu adalah hal positif.” “Ohhh... Luar biasa berwarna ya, kehidupan Mas Abi.” Priska sudah kehabisan kata, ia tak tahu harus mengatakan apalagi. Karena sesungguhnya, ia ingin membahas dirinya dan Abi saja. Tetapi, tadi dirinya juga yang merasa penasaran dengan kehidupan rumah tangga pria itu. Setelah mengetahui segalanya, ia juga yang merasa kesal dan muak dengan keadaan. “Saya sudah banyak cerita, kamu sendiri gimana? Seusia kamu, pasti sudah punya pacar atau teman dekat kan?” tanya Abi, kini pria itu yang merasa penasaran dengan urusan percintaan Priska Ayu Tirani, gadis cantik berusia sembilan belas tahun yang membuatnya merasa penasaran. Karena saat di restoran tadi, Abi beberapa kali memergoki Priska yang sedang mencuri pandang kearahnya, bahkan Abi mengetahui bagaimana Priska mengikutinya ke toilet, tanpa melakukan apapun didalam sana. Jika ada yang bertanya bagaimana Abi bisa mengetahui hal itu, jawabannya karena Abi bukan lagi lelaki yang menuju dewasa. Ia sudah sangat memahami bagaimana gerak gerik seorang gadis, jika menyukai lawan jenisnya. “Priska masih sendiri, Mas. A’Iqbal juga gak kasih ijin buat pacaran, apalagi Priska baru beberapa bulan tinggal di Bandung, belum punya banyak teman. Jadi, ya gini aja deh, kemana mana selalu di temenin A’Iqbal. Kehidupan Priska juga gak ada yang menarik buat di ceritain, setiap hari cuma sibuk kuliah aja.” “Tapi, saya yang merasa tertarik sama kamu, Pris.” Abi memancing gadis itu, agar ia yakin jika dugaannya memang benar, gadis itu mengaguminya sejak pertemuan pertama tadi. “Hah? Yang bener, Mas?” Priska membelalakan matanya, terkejut mendengar ucapan Abi. “Ya bener lah, kalau enggak ngapain saya kasih nomor pribadi supaya kamu bisa hubungin saya.” Setelah mendengar ucapan Abi, akhirnya Priska mengakui segalanya pada pria itu. Bagaimana dirinya memang mengagumi pria yang sepuluh tahun lebih tua darinya itu. Priska jujur atas semua perasaannya, bagaimana jantung dan hatinya terus merasakan debaran yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Tanpa keraguan, Priska juga mengatakan jika dirinya ingin sekali bisa memiliki Abi seutuhnya. Senyum terbit dari kedua sudut bibir Abi, saat Priska mengutarakan segala isi hatinya. Abi merasa senang karena semua dugaannya benar, gadis itu memang begitu mengagumi pesonanya. Sejujurnya Abi juga memiliki perasaan yang sama, ia mengagumi gadis itu. Tetapi, berbeda dengan Priska yang mengatakan jika gadis itu mencintai dirinya, Abi belum bisa mengerti apa yanh hatinya rasakan saat ini. Lagi pula, ini baru pertemuan pertama, bagi Abi sangat sulit menyebut perasaan cinta di pertemuan pertama. Jika dibandingkan dengan kedua istrinya, Priska memang sangat berbeda. Karena gadis itu masih sangat muda dan periang, sedangkan Melya dan Sisil adalah wanita dewasa yang sudah matang dalam berpikir dan mengambil keputusan. Abi juga selalu mengingat, apapun yang terjadi nantinya, ia tak akan meninggalkan kedua istrinya. Jika memang dirinya memiliki keinginan untuk menikah lagi, syarat utamanya adalah, calon istrinya harus bisa mengambil hati dan mendapatkan ijin dari Melya dan Sisil. Itu merupakan syarat mutlak, yang tak akan pernah bisa ditawar. “Ya sudah, Pris. Sudah larut malam, sekarang lebih baik kamu istirahat. Lain kali, kita masih bisa bicara lebih banyak lagi.” Ujar Abi, karena pria itu sudah merasakan kantuk, dan esok hari dirinya masih harus bertemu dengan Iqbal, karena ada yang harus dibahas kembali masalah kotrak kerjasama mereka. “Mas Abi sampai hari apa di Bandung?” tanya Priska, gadis itu sangat ingin sekali bisa kembali bertemu dengan Abi. “Rencananya hari minggu, tapi urusan saya selesai besok siang. Jadi, besok sore saya kembali ke Jakarta. Ada apa?” “Besok kan malem minggu, Mas. Mau gak kita jalan-jalan dulu?” Priska mengajak Abi untuk menghabiskan waktu bersama, dalam hati gadis itu sangat berharap pria itu mengiyakan ajakannya. “Katanya kemana-mana sama Iqbal, memangnya bisa besok malam ijin keluar?” “Bisa kok, Mas Abi. Biasanya A’Iqbal gak mau kalau Priska minta di temenin nonton bioskop, pasti cuma antar sampai mall aja. Jadi, Mas Abi bisa jemput Priska di mall. Gimana?” “Mau banget ya jalan-jalan sama saya?” tanya Abi memancing reaksi gadis yang sedang menunggu jawabannya penuh harap. “Ya kalau Mas Abi gak mau juga gak apa-apa. Priska gak maksa kok,” lirih Priska tersirat akan kekecewaan dari raut wajahnya. “Jangan sedih gitu mukanya, besok kabarin aja mau di jemput dimana, oke...” “Beneran, Mas?” ucap Priska antusias, bahkan hanya dalam hitungan detik saja, raut wajah gadis itu sudah berubah sangat bahagia. “Ya beneran, lah. Sekarang kamu istirahat ya, sampai ketemu besok malam.” “Iya... Mas Abi juga istirahat ya. Good Night...” Priska langsung mematikan sambungan panggilan videonya bersama Abi, gadis itu tak menunggu jawaban Abi, karena sudah tak sabar ingin segera memejamkan mata. Dan berharap hari segera berganti, dirinya tak sabar untuk menghabiskan waktu bersama pria yang ia kagumi. Bak gayung bersambut, Priska merasa perasaan yang ia miliki terbalaskan. Karena Abi mengabulkan permintaannya, bahkan pria itu merasa tak suka saat dirinya memasang wajah sedih. Priska merasa bahagia, karena Abi tak mengutamakan untuk kembali ke Jakarta dan bertemu dengan istri-istrinya, Abi justru memilih bermalam minggu dengannya. Priska segera merebahkan tubuhnya, menutup tubuhnya hingga batas d**a. Gadis itu memejamkan mata, dan segera menyelami alam mimpinya. Berharap kebahagiaan ini bukanlah mimpi, ia bisa mencintai pria yang baru saja ia temui beberapa jam lalu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD