CHAPTER 16

1647 Words
Berbeda dengan rencana sebelumnya, Abi memutuskan untuk bertemu Iqbal di kediaman pribadi sahabatnya itu. Dengan alasan agar memiliki ruang lebih santai untuk berbincang mengenai banyak hal, Iqbal dengan senang hati menyetujui, karena dengan begitu ia tak perlu meninggalkan istri dan anaknya yang masih bayi. Pria itu juga tak akan mengantarkan Priska ke luar rumah, karena seperti biasa, di hari sabtu seperti ini, Priska tak memiliki banyak kegiatan. Selama perjalanan menuju rumah Iqbal, Abi sudah mengirimkan pesan pada Priska jika dirinya akan datang. Tentu saja, pria itu menawarkan pada sang gadis, ingin dibawakan makanan apa. Setelah mengetahui apa yang Priska inginkan, Abi segera mencari dimana dirinya bisa membeli makanan tersebut. Agar tak memantik kecurigaan Iqbal, Abi membeli cukup banyak dimsum yang Priska inginkan, pria itu membeli berbagai macam jenis berharap cukup, untuk seluruh anggota keluarga Iqbal yang ada di rumahnya. Setelah membeli makanan tersebut, Abi bergegas menuju rumah Iqbal. Ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan Priska, apalagi saat gadis itu mengatakan jika dirinya sudah merias diri untuk menyambut kedatangannya. Lima belas menit berlalu, akhirnya Abi sampai di rumah Iqbal. Pria itu segera turun, dan membawakan makanan yang sudah ia beli. Tok... Tok... Tok... “Assalamualaikum...” ucap Abi setelah mengetuk pintu rumah itu, Iqbal memang memiliki rumah yang tak terlalu besar, namun terlihat mewah dan elegant. “Waalaikumsalam...” jawab seorang wanita dari dalam rumah, tak lama pintu yang ada dihadapan Abi terbuka dengan sangat lebar. “Mas Abi, silahkan masuk, udah di tunggu A’Iqbal didalam ruangan kerjanya,” ucap wanita itu, bukan Priska melainkan istri Iqbal yang tak kalah cantiknya dari Priska. “Oh iya, terima kasih. Ini ada makanan untuk orang rumah,” ujar Abi seraya memberikan bingkisan makanan yang sejak tadi ia bawa. “Ya ampun, jadi ngerepotin. Mau minum apa, Mas Abi? Biar saya buatkan, ruangan kerja A’Iqbal yang itu ya, langsung masuk aja.” Wanita yang diketahui bernama Fika itu memberitahu dimana ruangan kerja suaminya, setelah mempersilahkan Abi untuk masuk kedalam ruangan itu, ia segera menuju dapur untuk membuatkan minuman. Karena saat dirinya menawari Abi, pria itu mengatakan untuk dibuatkan satu gelas kopi saja. Bertepatan dengan hal itu, Fika memang akan membuatkan kopi untuk suaminya, jadi ia akan membuat dua gelas kopi sekaligus. Abi sudah masuk kedalam ruang kerja Iqbal, tentu saja disambut dengan sangat ramah oleh sahabatnya itu. Keduanya bercengkrama ringan sebelum mereka akan kembali membahas masalah kontrak kerja, karena tadi malam Abi dan Iqbal belum banyak berbincang, mengingat waktu yang sudah semakin larut. Disela kesibukannya berbincang dengan Iqbal, Abi mengirim pesan pada Priska, memberi kabar pada gadis itu, jika dirinya sudah tiba. Ia juga memberitahu Priska, jika makanan yang gadis itu inginkan, sudah ia berikan pada kakak iparnya. “Saya keluar sebentar ya, mau ke toilet,” ucap Iqbal, dan berlalu meninggalkan ruangan itu, saat Abi sudah menjawab dengan menganggukan kepalanya. Merasa memiliki ruang lebih, ia sedang sendirian saat ini. Abi segera menelpon Priska, karena gadis itu tak kunjung membalas pesannya. Panggilan pertama hingga ketiga tak kunjung mendapat jawaban, akhirnya Abi memutuskan untuk kembali mengirimkan pesan, mengatakan jika dirinya sedang sendiri, sedangkan Iqbal ke toilet. Abi tersenyum lebar, saat mengetahui jika semua pesannya sudah dibaca oleh Priska. Berselang beberapa detik saja, gadis itu sudah menelponnya, dengan cepat Abi menjawab panggilan tersebut. “Mas Abi udah dibawah? Kamarku diatas, aku belum tau nih mau ngapain kebawah. Soalnya biasanya aku selalu di kamar kalau lagi libur kuliah,” ucap Priska, ketika mengetahui panggilannya dijawab oleh Abi. “Assalamualaikum...” ujar Abi dengan penuh penekanan, seakan mengingatkan Priska untuk selalu mengawali setiap perbicangan dengan mengucapkan salam. “Hmm... Waalaikumsalam, Mas Abi. Mas Abi dimana?” tanya Priska dengan nada yang malas-malasan, sepertinya gadis itu merasa keberatan, saat Abi selalu memperingatinya perihal pengucapan salam. “Saya di ruang kerjanya Iqbal, kenapa nada bicaranya begitu? Gak suka ya, saya dateng kesini? Ya sudah gak apa-apa, kamu gak usah temuin saya. Saya cuma mau kasih tau, dimsum yang kamu mau, sudah saya kasih ke Fika, istrinya Iqbal,” ujar Abi menjelaskan tujuannya sejak tadi terus mengirim pesan pada gadis itu. “Ya gak gitu, Mas Abi. Priska senang kok, senang banget malah. Tapi, Priska masih bingung, gimana bisa temuin Mas Abi dibawah,” “Handphonenya jangan di tinggal-tinggal, nanti saya kabari kalau sudah keluar dari sini. Jadi, kamu bisa pura-pura turun, dan tanpa sengaja ketemu saya,” “Beneran ya, Mas, langsung kabarin Priska,” “Iya, cantik. Ya udah, nanti kita sambung lagi ya, takut Iqbal masuk.” “Iya, Mas. Makasih dimsumnya ya,” “Sama-sama. Assalamualaikum...” “Waalaikumsalam.” Abi segera memutus panggilan tersebut, karena sesuai dugaannya, Iqbal sudah masuk kedalam ruangan itu dengan membawakan dua gelas kopi. Pria itu meletakan kopi tersebut diatas meja yang ada dihadapan mereka, didalam ruangan tersebut memang ada sofa dan meja kecil. Disanalah mereka saat ini, memang benar yang Abi katakan, jika di rumah, akan terasa lebih santai walaupun akan membahas masalah pekerjaan. Selain itu, Iqbal juga bisa sedikit membantu meringankan kerepotan istrinya. Kedua pria dewasa itu sudah mulai membahas segala urusan yang berkaitan dengan kontrak kerja mereka, mulai dari perencanaan hingga keuntungan yang akan mereka peroleh bersama. Ditempat lain di rumah itu, Fika sedang menata berbagai jenis dimsum yang Abi bawa diatas piring. Wanita itu berencana akan membawakan sebagian makanan itu, untuk suaminya dan Abi. Karena dirinya yang masih sangat sibuk dengan putrinya yang baru lahir, jadi tak bisa menyediakan makanan untuk menjadi pendamping kopi yang sudah Iqbal bawa sebelumnya. “Kak Fika, lagi apa?” tanya Priska yang mendekati kakak iparnya, dan segera duduk di salah satu kursi yang ada di ruang makan itu. “Ini, Mas Abi bawain dimsum banyak banget. Kakak belum masak apa-apa, tadi cuma bikinin kopi aja. Jadi, rencananya mau anterin ini aja, ke ruangan kerjanya A’Iqbal,” jawab Fika menjelaskan rencananya. “Oh gitu, enak banget ya Kak kelihatannya,” “Iya, Dek. Kata A’Iqbal kamu suka banget dimsum, udah Kakak pisahin di meja dapur, kamu tinggal ambil aja kalau mau.” “Iya, Kak. Nanti aku ambil dimsum yang ada di meja dapur, Kak Fika mau anter itu ke ruang kerja A’Iqbal ya?” tanya Priska, saat melihat Fika sudah selesai dengan kegiatannya, dan siap mengantarkan satu piring dimsum untuk suami dan sahabat suaminya itu. Belum sempat Fika menjawab, tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi yang begitu nyaring. Wanita itu langsung meletakan kembali nampan yang sejak tadi dibawanya keatas meja. “Biar aku aja Kak yang anter dimsumnya, ke ruang kerja A’Iqbal kan?” tanya Priska lagi, sebelum Fika berlalu pergi menuju kamarnya. “Iya, Dek. Tapi kamu ganti baju dulu, disana ada Mas Abi. Gak enak diliat kalau kamu pakai baju begitu,” ujar Fika, karena melihat Priska mengenakan pakaian tidur yang tipis dan sangat pendek. Bahkan pakaiannya hampir memperlihatkan sebagian tubuh mulusnya. “Gak apa-apa, Kak. Nanti aku ketuk pintu aja, biar A’Iqbal yang ambil kedepan pintu.” “Oh ya udah kalau gitu, Kakak ke kamar ya.” “Iya, Kak.” Priska yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya, segera berdiri dan meletakan ponsel yang ada dalam genggamananya diatas meja. Lalu gadis itu mengambil nampan berisi satu piring besar dimsum, dan ada dua piring kecil beserta alat makan. Gadis itu segera menuju ruang kerja sang kakak, berharap bisa menemui Abi disana. Karena ia sudah sangat merindukan pria yang sejak tadi pagi, saling berkirim pesan dengannya. Abi datang ke rumah Iqbal memang setelah jam makan siang, karena tidur larut malam, pria itu membutuhkan waktu istirahat lebih tadi pagi. Tok... Tok... Tok... “A’ ini Priska bawain makanan, katanya Kak Fika baru buatin kopi aja tadi. Ini makanannya,” ucap Priska setelah beberapa kali mengetuk pintu ruang kerja Iqbal. “Masuk aja,” terdengar suara Iqbal dari dalam ruangan sebagai jawaban. Senyum terbit dari kedua sudut bibir gadis itu, apa yang ia harapkan terwujud dengan mudahnya. Tanpa harus mencuri pandang, ia akan segera melihat pria yang begitu mempesona dimatanya. Perlahan Priska membuka pintu ruangan tersebut, gadis itu melangkah masuk. Namun dengan sedikit perasaan kecewa, gadis itu tetap mendekati dimana kedua pria sedang duduk saling berhadapan. Priska kecewa, karena posisi duduk Abi yang membelakanginya. Selain tak bisa melihat pria itu, Priska juga kecewa karena tak bisa melihat bagaimana ekspresi Abi, ketika melihatnya dengan pakaian seksi seperti sekarang. “Kamu gak salah, udah siang gini masih pakai baju tidur?” tanya Iqbal heran, melihat adiknya masih mengenakan pakaian tidur yang sangat minim. Pria itu juga merasa tak enak, jika Abi melihatnya nanti. Karena, yang dirinya ketahui, kedua istri Abi sangat tertutup dalam berpakaian jika ditempat umum. “Ya kan hari libur A’, ini taruh dimana?” tanya Priska menyodorkan nampan yang ia bawa. “Bawa sini, taruh diatas meja.” Jawab Iqbal singkat, pria itu menggelengkan kepala melihat penampilan adiknya. Saat Priska berjalan mendekati meja, disitulah Abi baru menolehkan kepalanya untuk melihat gadis cantik yang memang ingin sekali ia temui. Namun rasa terkejut sangat terpancar jelas dari raut wajah yang pria itu tunjukan, Abi tak menyangka jika Priska akan seberani ini untuk bertemu dengannya. Melya dan Sisil saja tak pernah memakai pakaian seterbuka Priska, walaupun mereka akan tidur. Tetapi, yang Priska lakukan saat ini membuat Abi sedikit geram. Bukan tersepona atau merasa tergoda, Abi lebih memilih memalingkan wajahnya dan menghindari pemandangan yang tak ia sukai itu. Abi sangat tidak suka dengan penampilan Priska saat ini, bahkan pria itu tak memiliki keinginan sedikitpun, untuk menyapa gadis itu. Sampai Priska selesai dengan kegiatannya, Iqbal meminta adiknya itu untuk segera keluar dan kembali ke kamarnya. Iqbal juga mengatakan, jika Priska ingin keluar kamar harus dengan pakaian yang lebih sopan. Hingga Priska keluar dari ruangan, tak sedikitpun Abi kembali melirik gadis itu. Tentu saja hal itu membuat Priska merasa kesal, dan menggerutu karena Abi tak meliriknya dan juga tak menatapnya dengan tatapan memuja, yang biasa pria lain tunjukan, jika melihat seorang gadis memperlihatkan kecantikan dan keseksian tubuhnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD