Melya dan Sisil baru saja selesai dengan pekerjaan mereka, hari ini memang tak seperti biasanya. Karena kedua wanita itu memiliki pekerjaan yang harus di selesaikan, walaupun tidak memakan waktu yang lama, karena siang ini semua pekerjaan mereka sudah selesai. Sisil yang membawa kendaraan sendiri, memilih untuk menjemput Melya di butiknya. Sebelumnya Sisil sudah menghubungi Melya, dan menanyakan apa wanita itu sudah selesai dengan pekerjaannya atau belum. Saat Melya mengatakan sudah selesai, Sisil mengatakan jika dirinya akan menjemput Melya, dan mereka akan pulang bersama ke rumah Melya.
Sisil selesai melakukan pemotretan untuk salah satu brand pakaian muslimah yang cukup terkenal, dan kebetulan sekali tempatnya tidak jauh dari butik Melya. Itu yang menjadi alasan dirinya ingin menjemput Melya, dan Melya tak keberatan karena memang memiliki arah yang sama. Seandainya Sisil tak menjemput Melya pun, Sisil akan tetap melewati jalanan yang sama.
Hanya butuh waktu sekitar dua puluh menit, Sisil sudah tiba di butik milik Melya. Wanita itu langsung mengirimkan sebuah pesan pada Melya, dana mengatakan jika dirinya sudah menunggu didepan. Bukan tak ingin turun lebih dulu, tetapi itu atas permintaan Melya dan Sisil menurutinya.
“Gimana kerjaan kamu, Sil?” tanya Melya yang baru saja masuk di kursi untuk penumpang, disamping Sisil.
“Alhamdulillah lancar, Mba. Mba Mel sendiri gimana? Butik lagi ramai kayaknya,” ujar Sisil dan balas bertanya. Karena ia melihat kondisi butik yang cukup ramai.
“Alhamdulillah hari ini banyak yang ambil pesanan, makanya ramai. Tapi semuanya udah diurus Adira, jadi aku bisa pulang.”
“Ahhh... Syukurlah, sekarang kita mau langsung pulang? Atau Mba Mel mau kemana dulu gitu,”
“Langsung pulang aja, Sil. Nanti sore kita jalan-jalan lagi, ajak Abang Azzam sama Kakak Na, mau gak?” tanya Melya seraya memang sabuk pengaman untuk dirinya.
“Mau banget lah, Mba. Ajak mereka jalan-jalan sih, aku gak ada bosennya,” jawab Sisil, lalu wanita itu mulai menginjak pedal gas. Mobil yang ia kendarai sudah meninggalkan butik Melya, dan segera menuju ke rumah wanita yang saat ini duduk disampingnya.
Saling bertanya kegiatan yang dilakukan hari ini, kedua wanita itu terlihat sangat akrab. Tak akan ada yang mengira, jika keduanya harus rela dan ikhlas berbagi cinta, kasih sayang dan perhatian dari suami yang sama. Tetapi, baik Melya ataupun Sisil, memang sangat menikmati apa yang sudah menjadi takdir hidup mereka. Semua yang mereka alami saat ini, merupakan takdir Tuhan yang harus mereka jalani dengan perasaan bahagia dan penuh rasa syukur.
Entah mengapa, tiba-tiba saja Melya membahas masalah suaminya dengan Sisil. Wanita itu mengungkapkan pada Sisil, apa yang belum pernah ia ceritakan pada siapapun. Termasuk Abi sekalipun, selama ini ia hanya memendamnya sendiri, karena terlalu takut untuk bercerita. Namun, siang ini selama perjalanan, Melya menceritakan segalanya pada Sisil.
Wanita itu mengatakan, jika dirinya tak mau, jika suatu hari nanti Abi ingin menikah lagi. Bagi Melya, berbagi dengan satu wanita saja sudah cukup. Karena, tak menutup kemungkinan jika Abi menikah lagi, wanita yang baru nanti tak akan sebaik dan seikhlas Sisil menjalani kehidupan rumah tangga mereka.
Merasa Melya sudah membuka percakapan masalah seperti itu, akhirnya Sisil juga mengungkapkan isi hatinya. Sisil juga berharap suaminya tak akan menikah lagi, dalam kehidupan mereka tak akan ada wanita baru yang Abi bawa masuk dalam rumah tangganya. Sisil memiliki pemikiran yang tak jauh berbeda dengan Melya, ia takut jika perhatian Abi akan semakin berkurang, apalagi dirinya yang belum bisa memberikan keturunan, membuat wanita itu merasa khawatir, suaminya akan mencari wanita lain lagi.
“Semoga ketakutan kita gak akan terjadi ya, Sil. Cukup sama kamu saja aku berbagi, aku khawatir ada wanita lain, tapi tidak bisa seakrab sama kamu, aku juga takut wanita yang baru tidak sebaik dan sepengertian kamu,” ujar Melya tulus, memang itulah yang wanita itu rasakan beberapa hari belakangan ini.
“Aamiin... Aku juga berharap hal yang sama, Mba. Aku juga takut, kalau Mas Abi nikah lagi, perhatiannya ke kita berdua dan ke anak-anak semakin berkurang. Terkadang, aku selalu mau bawa Abang Azzam sama Kakak Na kerumahku, pas Mas Abi dirumah. Supaya anak-anak tidak kehilangan dan kekurangan kasih sayang ayahnya,”
“Itu yang selalu aku pikirin, Sil. Perasaan anak-anak buatku jauh lebih penting, daripada perasaanku sendiri. Kalau akhir-akhir ini aku selalu meminta Mas Abi lebih sering ke rumah, mungkin karena pengaruh kehamilanku. Kamu tau sendiri kan, sebelum hamil aku gak pernah sekalipun mempermasalahkan pembagian waktu yang sudah Mas Abi tentukan,”
“Iya, Mba. Aku ngerti banget. Makanya Mba Mel kabarin aku aja, kalau Mba merasa butuh Mas Abi buat nemenin Mba. Walaupun Mas Abi waktunya dirumahku, aku gak apa-apa, Mba. Kejujuran antara kita, In Sha Allah akan membuat semuanya jauh lebih baik lagi.”
“Terima kasih ya, Sil. Memang pilihan hati itu gak pernah salah ya, dari awal ketemu kamu untuk pertama kalinya, aku yakin dan percaya, kalau kamu wanita yang sangat baik. Semuanya terbukti sekarang, kamu gak hanya mencintai Mas Abi, tapi kamu juga mencintai anak-anaknya, dan kamu juga menerima kehadiranku.”
“Harusnya aku yang bilang terima kasih, karena Mba Mel udah percaya dan yakin sama aku. Dengan berbesar hati, Mba Mel menerima kehadiranku dalam rumah tangga kalian.”
“Semuanya sudah menjadi jalan takdir kehidupan kita, Sil. Sekarang, kita Cuma bisa menjalani dengan sebaik-baiknya. Semoga dengan ketulusan dan keikhlasan kita, bisa membuat Mas Abi yakin dan percaya, untuk tidak menghadirkan wanita lain.”
“Aamiin...” ucap keduanya bersamaan.
Bertepatan dengan itu, mobil yang Sisil kendarai sudah tiba didepan rumah Melya. Keduanya turun dan segera masuk kedalam rumah, karena mereka sudah merindukan putra dan putrinya.
“Mba, Abang Azzam sama Kakak Na mana?” tanya Melya pada Anggi, wanita yang Melya percaya untuk menjaga kedua anaknya.
“Lagi bobo siang, Bu. Tadi Kakak Na sempat nangis cariin Umi sama Mamihnya, tapi kelamaan jadi ikut bobo sama Abang Azzam,” ujar Anggi menjelaskan.
“Oh ya udah, kaget kali ya tadi bangun bobo Umi sama Mamihnya gak ada di rumah. Jadinya uring-uringan deh, Mba Anggi istirahat aja, mumpung anak-anak bobo. Nanti sore ikut saya sama Sisil, kita jalan-jalan, ajak anak-anak.”
“Iya, Bu. Ibu sama Bu Sisil udah makan siang?”
“Udah gak usah pikirin, Mba. Nanti kita bisa cari makanan sendiri ke dapur, Mba Anggi pasti cape kan urus anak-anak sendirian, mana Mbok Nah lagi pulang kampung,” Sisil yang menjawab pertanyaan Anggi.
“Kalau gitu, saya permisi ke kamar ya, Bu. Nanti panggil aja kalau Bu Sisil sama Bu Melya butuh bantuan, atau anak-anak bangun bobo,” ujar Anggi seraya pergi meninggalkan Sisil dan Melya, setelah kedua wanita itu menganggukan kepalanya, tanda mengijinkan Anggi untuk menuju kamar tempatnya beristirahat.
Melya berpamitan pada Sisil untuk masuk kedalam kamarnya, karena wanita itu ingin mengganti pakaian. Semenjak hamil, Melya memang mudah merasa gerah. Jadi, selama di rumah saja, wanita itu akan lebih sering mengenakan pakaian yang tak terlalu tebal, namun tetap menutupi seluruh tubuhnya.
Menunggu Melya berganti pakaian, Sisil memilih masuk ke dapur untuk memasak sesuatu. Wanita itu tak merasa lapar, namun ia ingin membuat makanan yang bisa ia nikmati bersama Melya. Sisil memeriksa kulkas dan lemari penyimpanan bahan makanan, untuk mengetahui makanan apa yang bisa ia buat siang ini. Tadi, dirinya juga sempat bertanya pada Melya, wanita itu ingin makan siang apa. Namun, sama dengan dirinya, Melya juga mengatakan jika wanita itu tak merasa lapar, namun ingin memakan camilan tetapi tak tahu ingin makanan apa.
Setelah melihat-lihat bahan masakan, Sisil memutuskan untuk membuat kroket kentang. Camilan berbahan dasar kentang dengan isian daging sapi dan sayuran yang ditumis, tak lupa dengan tambahan berbagai macam bumbu rempah. Camilan yang dimasak dengan cara di goreng ini, menurut Sisil akan cocok untuk ia nikmati bersama Melya siang ini.
Bahan-bahan yang dibutuhkan sudah Sisil siapkan, wanita itu dengan cekatan akan memulai kegiatan memasaknya. Wanita itu sangat serius dengan segala macam bahan makanan yang ada dihadapannya, sampai ia tak menyadari jika Melya masuk ke dapur dan menghampirinya.
“Serius banget sih, Sil,” ujar Melya yang sudah berdiri disamping Sisil yang sedang menumis untuk isian kroketnya nanti.
“Eh, Mba Mel. Aku mau buat kroket, Mba Mel suka gak?” tanya Sisil, karena ia tak mengetahui, Melya menyukai camilan tersebut atau tidak.
“Aku pemakan segala, Sil. Makanan berat atau camilan apa aja, aku suka. Aku bisa bantu apa?”
“Gak usah, Mba. Mba Mel tunggu aja di ruang keluarga, sambil nonton TV. Nanti kalau udah mateng, aku bawain kesana,”
“Yahh... Masa gitu, kamu sibuk, aku malah santai-santai.”
“Gak apa-apa, Mba. Lagian aku udah biasa buat kroket, jadi gak repot ngerjainnya walaupun sendirian. Udah sana, Mba Mel tungguin mateng aja.”
“Beneran nih? Aku emang lagi ngerasa cape banget sih,” Melya mengatakan yang sejujurnya, karena memang tubuhnya menjadi mudah lelah.
“Tuh kan, makanya mendingan Mba Mel istirahat aja. Apalagi nanti sore, kita mau ajak anak-anak pergi. Kalau Mba Mel kelelahan, nanti malah gak bisa pergi.”
“Iya juga ya, Sil. Makasih ya, kamu selalu ngertiin aku.”
“Sama-sama, Mba. Mba Mel tunggu kroketnya mateng aja, nanti kita makan sama-sama.”
“Oke, aku tunggu di ruang keluarga ya!”
“Iya, Mba. Oh iya, Mba Mel telpon Mas Abi deh, minta ijin kalau nanti sore kita mau pergi ajak anak-anak. Aku soalnya belum minta ijin, Mba Mel udah?”
“Aku juga belum, oke deh, aku telpon Mas Abi dulu. Mudah-mudahan gak ganggu, ya.”
“Kalau di telpon gak angkat, Mba Mel kirim pesan aja dulu. Nanti pasti ditelpon balik sama Mas Abi,”
“Iya, Sil.”
Melya meninggalkan dapur, sedangkan Sisil kembali sibuk dengan semua bahan masakannya. Baik Melya ataupun Sisil, keduanya memang sangat menyukai kegiatan di dapur. Namun, semenjak kehamilannya kali ini, Melya menjadi mudah lelah.
Di ruang keluarga, Melya duduk diatas sofa dan menyalakan televisi dengan ukuran besar yang ada dihadapannya. Wanita itu mencari acara hiburan yang disukai, setelah itu ia mencoba untuk menghubungi suaminya. Sebelum ia menelpon Abi, Melya memilih untuk mengirimkan pesan lebih dulu. Bertanya, pria itu sedang sibuk atau tidak, dan mengatakan jika dirinya ingin menelpon. Bukan balasan pesan yang ia dapatkan, tetapi suaminya lebih dulu menelponnya.
“Assalamualaikum, Abi.” Ucap Melya setelah menerima panggilan tersebut, ia memilih untuk menghidupkan pengeras suara yang ada pada ponselnya. Karena tadi dirinya sempat membawa satu piring buah-buahan yang sudah dipotong, dan saat ini ia sedang menikmatinya.
“Waalaikumsalam, istri sholehanya Abi. Kenapa sayang? Gimana pekerjaannya hari ini? Udah pulang kan?” cerocos Abi dengan berbagai pertanyaan.
“Alhamdulillah pekerjaan hari ini selesai tepat waktu, Umi udah di rumah kok. Tadi kebetulan selesainya bareng sama Sisil, jadi bisa pulang bareng deh,”
“Syukurlah kalau gitu, Umi lagi apa? Sisil lagi apa?”
“Umi lagi nonton TV di ruang keluarga, sambil makan buah. Sisil lagi di dapur, Abi lagi apa?”
“Kenapa gak beli makanan aja, Sayang? Biar kalian gak usah repot masak, Mbok Nah kan lagi pulang kampung, Abi lagi di rumah Iqbal, oh iya Iqbal titip salam buat Umi sama Sisil!”
“Waalaikumsalam, sampaikan buat Mas Iqbal dan keluarga. Umi sama Sisil siang ini lagi gak ngerasa laper, Bi. Tapi, Sisil lagi mau buat kroket, tadi Umi mau bantuin, tapi sama Sisil gak boleh,” Melya menjelaskan dengan perasaan tidak enak. Wanita itu takut, jika suaminya akan berpikir buruk tentangnya, karena membuat Sisil sibuk sendirian di dapur. Tetapi dirinya bersantai di ruang keluarga.
“Iya nanti Abi sampaikan ke Iqbal dan keluarganya, ya Umi memang jangan kelelahan. Bilang ke Sisil, dia juga gak boleh terlalu lelah ya.”
“Iya, Bi. Oh iya... Umi mau minta ijin,”
“Minta ijin apa, Sayang?” tanya Abi dengan nada suara yang sangat lembut.
“Umi sama Sisil, nanti sore mau ajak anak-anak pergi. Tapi belum tau sih kemana, ya mau jalan-jalan aja. Boleh gak?”
“Umi obrolin dulu sama Sisil mau pergi kemana, nanti kabarin Abi lagi ya. Abi gak mau kalian jalan-jalan gak punya tujuan, kasian anak-anak, nanti malah kecapean dijalanan. Umi juga kan gak boleh kecapean, kalau bisa pergi pakai supir, jangan Sisil yang nyetir. Soalnya Umi gak boleh nyetir dulu selama hamil,”
“Hmm... Gitu ya? Ya udah deh, nanti Umi bilang ke Sisil. Abi lagi sibuk ya? Maaf ya Bi, kalau Umi ganggu,”
“Gak apa-apa, Sayang. Ya udah, nanti telpon Abi lagi ya, Sayang. Abi lanjut selesain kerjaan dulu sama Iqbal,”
“Iya, Bi. Jangan telat makan sama minum vitaminnya, ya. Assalamualaikum...” ujar Melya memgingatkan suaminya agar selalu mengingat asupan makanan dan vitaminnya.
“Waalaikumsalam, Sayang.” Abi mengakhiri panggilan teleponnya bersama Melya.
Abi kembali berbincang dengan Iqbal, kedua pria itu sempat membahas penampilan Priska yang diluar dugaan. Bahkan Iqbal sempat meminta maaf pada Abi, karena sudah membuat sahabatnya itu merasa tidak nyaman dengan apa yang dilakukan Priska. Iqbal sangat memahami Abi, sahabatnya itu sejak dulu memang tak suka, jika melihat seorang gadis dengan pakaian yang terlalu terbuka.
Di ruang keluarga, Melya dan Sisil sedang menikmati kroket hangat yang baru saja Sisil buat. Kedua wanita itu membahas tujuan mereka pergi sore nanti, setelah itu mereka akan menghubungi Abi kembali, untuk mengetahui pria itu mengijinkan atau tidak. Tak lupa, Sisil ingin bertanya kapan Abi akan pulang. Karena, pria itu sempat mengatakan, jika pekerjaannya bisa selesai hari sabtu siang, maka malam minggu akan langsung pulang ke Jakarta. Jika seperti itu, Sisil akan menunggu kepulangan Abi. Karena ia yakin, Melya pasti akan terlelap lebih dulu.